Metafora Diam-Diam Tuhan Menitipkan Manusia Bodoh Sepertiku Untuk Ditertawai 2
"Sudah benar Cash Opname dan SO tutup bukunya?" (SO = Stock opname, hitung stok)
"Sudah, Pak."
"Saya diminta manajemen untuk menyampaikan saja ke akuntan. Kas tunai berbeda dengan pencatatan.“ Auditor itu menunjuk buku besar. Uratnya menonjol di leher. Kemeja batiknya lecak. Tatapan elangnya seolah menusuk. Tegas. Namun, suaranya masih bisa pelan. "Jurnal juga banyak salah catat. Stok-stok fisik banyak yang hilang."
Tangan auditor itu masih terkontrol, tak menyentak meja akunting. Lamun, tim akunting menunduk merasa bersalah. Sedangkan aku. Aku menatap datar mereka dari meja customer service. Rak-rak tinggi menutupiku. Troli-troli dan tumpukan keranjang merah menyembunyikan ragaku.
“Nanti saya beri rekomendasi lagi ke pihak manajemen terkait pengadaan audit internal untuk membantu setiap anggota perusahaan dalam melaksanakan tanggung jawab secara efektif. Sehingga ada yang memeriksa SOP, CCTV ataupun karyawannya,” ujar auditor itu lagi.
Perlahan-lahan dan diam-diam, tanganku mengambil segulung kopi hadiah pelanggan. Roti-roti stok clearance. Juga dua air botol tanggung kedaluwarsa. Kumasukkan semua ke ransel besarku. Tak lupa, kububuhi tanda tangan palsu di meja customer service, untuk mengisi pengambilan hadiah oleh pelanggan. (Clearance = mendekati kedaluwarsa).
Sudah larut malam. Pekerjaanku sebagai akunting sudah selesai. Tanpa menoleh ke belakang. Kutinggalkan mereka semua. Kuambil kunci mobil tua bangka. Sepatu putihku pulang ke rumah antah berantah.
Pintu rumah tertutup rapat. Sepatu putih memijak ruang keluarga. Terduduk. Kaki bersila di sudut lantai. Sebelah kursi patah. Botol-botol pecah. Kayu pintu terbelah. Hasil mahakarya KDRT ibu dan ayah. Tak punya siapa-siapa. Sepatu putih sendirian kesepian.
Lampu mati total. Tagihan listrik belum terbayar. Pun air dan makanan tak sanggup membeli. Gaji habis membayar utang. Mau tak mau harus mencuri. Mencuri jadi satu-satunya cara bertahan hidup.
Roti tawar keluar dari ransel besar. Tersobek kecil-kecil pinggiran keringnya. Mengirim aroma mocca ke irung. Memanggil keroncongan meremas perut. Jemari gemetar memegang sobekan roti. Potongan kecil masuk ke bibir. Terhisap begitu menyesakkan. Tercap rasanya di lidah. Bukan rasa moccanya. Namun, rasa bersalah yang menimbun di kepala. Dosa mencuri. Memberatkan pikiran. Mendesak mata untuk meneteskan sesal. Basahnya jatuh ke pipi. Menyumbat hidung. Tertelan di kerongkongan. Pahitnya bergumul di tenggorokan.
Jam dinding kian bergeming. Lidah masih menghisap hambarnya roti. Jarum panjang kian berputar cepat. Gigi tak henti mengunyah lambat. Hingga jarum pendek menunjuk angka dua belas teng. Malam semakin menggelap kelam. Bintang memancarkan remang menyedihkan. Terpantul ke jendela kayu usang. Tertangkap mata pendar suramnya. Seolah berbisik binar redupnya. Sayup-sayup. Lembut sang angin menenangkan telinga. Mendamaikan dada yang bergemuruh. Menidurkan mata yang tersedu rapuh.
Mata terbuka lebar. Jarum jam berdetak di angka tiga. Rasa kantuk lenyap seketika. Lamun, lelah terus menggentayangi raga. Membuka laptop. Pun berkas-berkas keuangan. Film klasik dan sebotol kopi di lantai. Mencatat jurnal-jurnal yang salah. Pun akun-akun yang tidak sesuai.
Hingga tak sadar. Jam berdetak di angka enam. Bangkit dari dudukan. Mengambil seragam dan handuk. Masuk ke kamar mandi lalu keluar kamar mandi. Sepatu putih sudah terpakai. Jam menggantung di tangan kiri. Masuk ke mobil keluar dari mobil. Bertemu beberapa pelanggan. Mendorong-dorong troli. Mengangkat galon bolak-balik. Menjurnal-jurnal lagi. Melakukan cash opname. Mencuri makanan lagi. Sampai larut sore. Sampai esok malam. Esok dan keesok-esokannya lagi. Hidup penuh bosan. Berada di lingkaran setan. Tak ada kemajuan. Tak ada kebahagiaan. Mencuri makanan. Melakukan cash opname. Menjurnal-jurnal lagi. Mengangkat galon bolak-balik. Mendorong-dorong troli. Sampai mampus. Sampai rasanya tak bisa bernapas.
Troli-troli merah terdorong malas. Rodanya berbaris rapi di muka market. Pintu kaca besar terbuka lebar. Ingin balik ke dalam, sepatu putih menapak malas di hitamnya keset raksasa. Hening.
Jantung mendadak berdetak. Tepat di samping troli-troli merah yang bergeming. Pintu kaca yang terus terdiam. Keset raksasa yang tak kunjung bergerak. Sepatu putihku berhadapan lagi dengannya. Hari ketujuh, aku bertemu lagi dengannya.
Dia. Auditor itu. Pria berkemeja batik itu. Pria yang dulu pernah kuncintai. Lamun, kebencian telah menguasai.
Dia. Terlihat tenang dengan mata terpejam. Celana hitamnya berdiri tegak. Tangan kanannya berada di saku. Sedang jemari kirinya terselip sebatang sigaret. Ujungnya kian membara. Terhisap gulungan filternya. Terbakar tembakaunya. Menyaring kadar nikotin mengilhami kepala. Segumpal asap menyeruak dari mulutnya. Menyuplai sepaket gas beracun ke relung dadanya. Membakar habis beban pikirannya. Dia. Tampak nikmat menikam penat paru-parunya. Secara perlahan-perlahan dia akan membunuh raganya.
Aku menikmati pergerakannya yang tenang. Setiap inci pahatan keras wajahnya. Kurekam dengan memori mata dan kepala. Setiap kali berhadapan dengannya. Irama jantung bergejolak memenuhi telinga. Entah detak jantungnya atau detak jantungku. Aku larut ke dalamnya. Keramaian sekitar mendadak tanpa suara. Lalu-lalang pelanggan yang keluar masuk. Terasa bergerak pesat dan memburam. Waktu terasa berputar cepat hanya karenanya. Tiap-tiap kiriman paket nikotinnya, kuresapi perlahan-perlahan.
Sebatang sigaret. Terlepas dari tangannya. Apinya kian padam bertemu kerasnya keramik. Maniknya terbuka lesu. Tak mempedulikanku. Badannya membalik. Sepatu biru usangnya masuk ke dalam pintu yang terbuka lebar.
Sadar diri tak dianggap. Mataku tercenung. Menghadap ke parkiran. Lembut sang surya mengirimi sepaket silau ke netra. Rindangnya pemandangan pohon seolah tertawa dengan daun melambai-lambai. Beberapa kendaraan mewah terparkir seolah tersenyum sombong menghina.
Aku tercenung menatap itu semua. Tepat di hadapan mataku. Aku sadar. Bahwa ragaku hanyalah butiran pasir yang tak terlihat. Atau kotoran menjengkelkan di tanah. Tak ada kelebihannya. Selalu membuat manusia lain geram. Selalu membuat manusia lain kesal. Atau aku hanyalah sebatang lelucon yang diciptakan Tuhan. Fungsiku hanyalah untuk ditertawai. Kebodohanku atau kesialan nasibku ataupun kecerobohan tindakanku hanyalah hiburan untuk manusia lainnya.
Atau mungkin aku yang diciptakan serendah-rendahnya oleh Tuhan. Mungkin adalah sebuah penghargaan untuk manusia lainnya. Setidaknya, membuat mereka semua merasa beruntung lahir di dunia. Setidaknya, di dunia ini, ada yang lebih sulit daripada mereka.
Mungkin Tuhan juga sedang bosan. Dengan itu, maka Tuhan menitipkanku di muka bumi.
Ah. Memang paling benar harusnya aku lahir jadi batu saja. Agar tak punya pikiran. Agar tak bisa merasa. Agar tak punya emosi. Lebih baik aku mati tertusuk pecahan gelas ayahku. Atau lebih baik aku mati tertikam keras teriakan ibuku. Kenapa aku masih dibiarkan hidup kalau nyatanya aku sudah tak merasa bernyawa?
Mengambil beberapa keranjang merah. Menaruh beberapa keranjang di tempat. Menyusun rapi. Setinggi mungkin. Jangan sampai terjatuh. Lalu, sepatu putihku bergerak pelan ke dalam.
Bertemu keramaian yang begitu menyesakkan. Berhadapan ribuan suara yang terdengar sibuk. Menelisik angka per angka barang per barang. Bibirku kian membisu tak bicara. Mataku tak henti mengamati sekitar. Tanganku terus bergerak. Keringat kian bercucuran. Telapak tangan mendingin memohon istirahat. Hingga malam berganti ke siang lalu berganti ke malam. Esok dan keesokannya lagi. Berlalu tanpa berarti. Tertidur dan terbangun lagi. Mencuri dan memakan lagi. Sendirian dan tersedu lagi. Bekerja pulang dan bekerja. Aku sudah merasa bosan. Lamun, anehnya, sepatu putihku tetap melangkah.
Comments
Post a Comment