Metafora Diam-Diam Tuhan Menitipkan Manusia Bodoh Sepertiku Untuk Ditertawai 3

"Ini sepertinya bukti palsu. Saya sudah konfirmasi ke pemasok roti. Perusahaan belum ada membayar utang persediaan roti." Auditor itu memegang bukti transfer bank. Matanya menelisik angka per angka di komputer. “Tapi di jurnal sudah tercatat adanya pembayaran utang dari perusahaan ke pemasok roti.”

“Selain itu saya juga sudah konfirmasi ke pemasok lainnya. Untuk stok yang kedaluwarsa. Perusahaan hanya setengah mengembalikan stok-stoknya,” imbuh auditor itu lagi. Tangannya sibuk membolak-balik buku besar.

“Coba untuk stok hadiah pelanggan. Saya minta daftar pengambilan hadiah oleh pelanggan. Saya mau telepon satu-satu pelanggannya. Apa benar hadiah sudah diterima langsung tangan mereka?” Auditor itu menutup buku. Tapak tangannya terulur. Menagih sesuatu. Sedangkan tatapan elangnya lurus menjurus ke para akunting.

Tim akunting menunduk resah. Sedangkan aku. Aku masih bisa berekspresi datar. Perlahan, aku keluar dari wilayah meja akunting. Mendekat ke meja customer service, setumpuk berkas tahun lalu kuambil dari laci. Balik lagi ke meja akunting. Pelan-pelan, tanganku terulur menyerahkan tumpukan kertas itu.

Tangannya terulur, mengambil berkas di tanganku. Lamun, mata auditor itu tak menatapku sedikit pun. Seolah pura-pura sibuk, netranya tak sedikit pun melepas layar. Sibuk berkutat memandangi angka yang bergeming di Excel.

Sadar diri kehadiranku tak dianggap. Perlahan. Sepatu putihku melangkah mundur. Keluar dari meja akunting. Melangkah pelan menuju meja customer service. Masuk ke wilayah tangga. Tapak sepatu putih semakin kencang. Menuruni setiap anak tangga. Melompati satu per satu lantai keramik berkotak. Tembus ke ruang sempit penuh kardus. Tanganku dengan cepat membuka loker. Tas hitam besar menggantung di punggung lekas. Tak peduli dengan keramaian sekitar. Sepatu putih berlari di sepanjang rak.

Keluar dari pintu kaca raksasa. Mengambil kunci dari saku. Buru-buru masuk ke mobil tua bangka. Menutup pintu keras. Kunci terputar di lubang beringas. Menginjak kopling. Perseneling R. Melepas kopling. Menekan gas. Banting setir. Mengatrek. Mobil keluar dari parkiran.

Menyusuri jalanan padat merayap. Berbelok memasuki kelokan. Jalanan panjang luas mentari silau menusuk mata. Pepohonan yang sama terus terlalui. Hingga tiba di rumah kotor. Mobil terparkir sembarang. Cabut kunci tas tergendong.

Sepatu putih buru-buru masuk ke rumah. Langkah tak karuan. Mata menengok ke segala penjuru. Laci di ruang keluarga jadi tujuan.

Menunduk. Tangan sibuk mengobrak-abrik kertas di laci. Segepok uang masuk ke dalam tas. Uang dari pinjaman online baru. Jaga-jaga jika audit curiga. Cepat-cepat, sepatu putih menapak keluar rumah. Masuk ke mobil lagi. Menginjak gas keras.

Lampu merah. Siang yang panas. Macet penuh polusi dan suara. Keringat bercucuran di pelipis. AC tak bisa nyala. Dalam mobil terasa pengap. Tak bisa bernapas. Bau mesin mobil tak karuan. Lalu, tiba-tiba saja, mesin mobil mati mendadak. Deru mesinnya melenyap.

Tangan sibuk memutar kunci keras. Tak kunjung bersuara. Tak kunjung berderu mesinnya. Sepatu putih keluar dari mobil cepat. Menggaruk kepala kesal. Stres. Pintu terbanting keras. Panas sang surya membakar kepala. Ricuh suara knalpot membisingkan telinga. Sorot mata pengendara memusingkan mata.

Mau mencari bantuan, tiba-tiba saja mata menangkap seseorang. Seseorang yang teramat dibenci dan tak ingin ditemui. Sedang bermesra-mesraan dengan istri barunya. Seseorang itu adalah ayah.

Kekesalan sudah memuncak di kepala. Tangan mencabut kunci dari pintu. Berjalan ke belakang mobil. Bagasi terbuka beringas.

Botol miras lama, milik ayah, masih ada di bagasi. Mata sudah dibutakan amarah. Dada sudah terbakar emosi. Perlahan, tangan mengambil botol itu. Trauma kembali menggentayangi kepala, ayah yang melempar botol keras.

Emosi, sepatu putih memijak tak karuan. Botol miras tergenggam erat di tangan. Dengan keras. Terbanting. Dinding kaca botol menubruk bagasi. Pecah belah. Cairan keunguan mengalir. Merembes ke pergelangan tangan. Bertitik-titik. Bercampur dengan keruhnya aspal.

Sepatu putih menghadap ke mobil ayah. Mata seolah berapi. Memandang dua insan mesra di dalam mobil. Jendelanya terbuka lebar. Argh. Rasanya kepala mau meledak. Ayah kurang diajar! Apa ayah tak lihat anaknya sedang menggila? Tak lihat atau sedang pura-pura?!

Dengan kesal. Sepatu putih menghentak mendekati mobil ayah. Tepat di tengah-tengah kemacetan jalan raya. Panas. Tak peduli dengan para pengendara yang memandang risau. Tubuh menunduk, sepatu putih menghentikan langkah.

Berjongkok, tepat di depan ban mobil ayah. Sepatu putih bersiap-siap. Genggaman tangan di pecahan botol mengerat. Dengan keras. Ujung tajam beling, terbang lepas landas menancap ban mobil ayah. Pecahannya juga menusuk tapak tangan. Cairan merah mengalir cepat.

Cepat-cepat, sepatu putih menapak gelisah. Netra ayah yang penuh kebencian menangkap. Lampu hijau menyala terang. Sorot mata pengendara memandang kasihan. Bunyi klakson mendengingkan telinga. Roda dua tetap melaju pesat. Dua mobil terhenti di jalan raya. Sepatu putihku berlari. Menghilang cepat dari sana.

Terengah-engah. Sepatu putihku memijak di keramaian market. Rak-rak tinggi seolah menyapa. Beberapa troli berbaris di kasir. Sorot mata pelanggan memandang aneh. Sepatu putih tetap melangkah tak peduli.

Masuk ke lorong ruang sempit. Menaiki anak tangga. Sebuah kalimat terdengar.

“Setelah saya hubungi beberapa pelanggan, hanya beberapa dari mereka yang menerima hadiah. Itu artinya, stok hadiah pelanggan juga ada yang menghilang ….” Kalimat itu terhenti seketika. Saat menyadari sepatu putih menapak di meja customer service. Auditor itu menatapku tepat di mata.

Tercenung. Sepatu putihku berhenti melangkah. Semua sorot mata memandangku kebingungan. Tetap berekspresi datar, aku biasa saja memasuki wilayah akunting. Tas punggung kutaruh pelan di meja.

“Saya pencurinya,” ucapku tenang. Mataku yang terbuka lebar rasanya sudah lelah untuk sekadar melihat. “Saya yang mencuri semuanya.”

Perlahan-lahan. Walau tanganku rasanya mati rasa. Cairan merah tak henti mengalir. Tanganku menarik ritsleting tas. Segepok uang pun terlihat di tas. “Saya yang mencuri kas perusahaan. Saya yang mencuri stok-stok yang hilang. Saya yang memalsukan bukti transfer dan tanda tangan pelanggan,” suaraku terasa tersekat di tenggorokan. Dadaku terasa perih teriris pisau. Lamun, tetap suaraku bersuara.

“Saya siap menerima semua hukuman. Entah ditendang keluar dari perusahaan ini. Atau dilempar ke dalam jeruji besi. Atau bahkan diperbudak untuk kerja mati-matian di sini. Saya siap melakukan semuanya.”

Setetes air mataku tertelan di tenggorokan. Pahit dan sakitnya mengumpul di mata. Mereka semua tak bersuara. Namun, pelan-pelan kusadari, ada sorot kasihan terpantul di mata mereka. Bahkan yang membenciku, yang biasanya tertampak api di bola matanya, tiba-tiba memandangku datar. Dia. Auditor itu memandangku lamat. Tatapan elangnya seolah sirna.

Dengan cepat. Tangannya terulur mengambil kotak tisu. Dicabut cepat dan rakus tisu itu. Tanpa minta izin, tangan kanannya meraih pergelangan tanganku. Sedangkan tangan kirinya mengusap-usap tisu, perlahan pada luka tanganku.

Tisu menumpuk di telapak tangan. Warna putihnya meresapi merah kelam. Air mata tak henti tertelan di tenggorokan. Hidung rasanya tersumbat, saat aku menatap kelopak mata sayunya, yang tak henti memandang tapak tanganku.

“Bersihkan di air mengalir. Jangan menghitung uang dulu. Biar lukanya tak terkena debu,” sepatah kalimat terlontar dari bibir merah menggumpalnya.

Pria berkemeja batik itu menjauh dari meja akunting. Berhenti selangkah, auditor itu bicara, “Proses audit masih panjang. Akan saya sampaikan dengan manajemen terlebih dahulu.”

Kupandangi sepatu biru usangnya. Auditor itu menuruni tangga.

Episode Sebelumnya....

Episode Selanjutnya....


Comments

Popular Posts