Metafora Diam-diam Tuhan Menitipkan Manusia Bodoh Sepertiku Untuk Ditertawai 1
Ah. Aku benci semuanya. Anggap saja aku sudah terbakar habis. Menjadi arang. Hidup hancur berantakan. Sama berantakannya. Rumah kacau antah berantah yang kupijaki.
365 hari sudah berlalu. Masih ada gelas pecah belah di sudut ruang. Kaki kursi yang patah. Kayu pintu terbelah. Tak pernah dibersihkan. Kubiarkan jejak kelam menggentayangi rumah ini.
Agar suatu saat nanti. Saat ayah dan ibu kembali. Mereka bisa lihat sendiri. Rumah tangga yang sempat mereka junjung tinggi. Berakhir kandas penuh gelapnya memori. Pecah belah. Bahkan pecahannya mengukir trauma di kepala.
Ah! Persetan orang tua seperti mereka. Kerjanya buat anak tapi tidak tanggung jawab. Apa aku anak haram? Apa aku anak tidak harapkan? Apa aku anak pungut? Bermalapetaka? Salah apa aku? Tak pernah berharap dilahirkan. Lebih baik aku jadi sampah atau batu sekalian!
Lihatlah! Sudah 19 tahun, aku tak punya apa-apa. Hanya sakit di kepala karena mereka berdua. Argh!
Kala pintu kamar tertutup keras. Sepatu putihku menghentak lantai. Terduduk di kursi kesal. Setumpuk kertas menyentak meja. Jarum jam berdetak cepat di angka tiga. Segelas kopi hitam pekat. Uapnya melebar-lebar di bibir gelas. Sesusah apa pun hidup. Tak pernah minum minuman keras. Karena nyatanya sudah merasa mabuk. Mabuk mengikuti alur hidup yang keras.
Jaket parka hitam masih membalut tubuh. Jemari kurus menyelinap ke saku. Mencekal bungkusan kardus kecil. Pun pemantik. Diam-diam. Mata menengok ke segala penjuru. Sepatu putih merasa gelisah. Rambut panjang terurai resah. Terselip sebatang silinder di tangan kiri. Jempol kanan menyulut pemantik. Memercikkan api biru kemerahan. Terbakar. Ah. Napas kian terembus. Dada semakin berderu. Menelan ludah. Tak harusnya begini.
Sigaret terlepas dari tangan. Terjatuh apinya ke meja. Jempol menekan keras ujung bara. Panas. Bahkan jari kebal tak bisa merasa.
Termangu. Mata terus memerhatikan jam bergeming di dinding. Jarum panjang terus berputar. Uap kopi kian meluap. Hingga berputar di angka empat. Tubuh masih membisu tak melakukan apa.
Tangan menarik tas tipis. Laptop keluar dari bludru terzipper. Layar terbuka terbelah. Bercahaya. Mata menatap sang sinar yang terus menusuk indra.
Film klasik sampai jam lima pagi. Mata tak memohon tidur. Dada tak henti berdetak. Uap dari kopi sudah lenyap. Gelas penuh hitam pekat. Tergenggam kedua tangan erat. Mengirim aroma pahit tercium. Sekadar memeriksa indra. Masihkah berfungsi? Atau sudah mati?
Huh. Ternyata masih berfungsi.
Meneguk kopi pelan. Kala garis biru di layar mendekat. Menghampiri durasi detik terakhir. Pahitnya menggerogoti tenggorokan. Adegan berakhir tragis. Menyisihkan layar hitam menggelap. Dengan segitiga biru di tengah. Mata termangu lagi. Hingga tak sadar. Jarum pendek sudah di angka enam.
Mengecek ponsel. Notif aplikasi hijau menggantung di layar. Menggulir. Tak sengaja kontak ibu terlewati. Ragu-ragu. Jemari bergetar masuk ke obrolan pesan. Hampa. Tak berisi satu pun kalimat menggantung. Penasaran. Lingkaran foto buram memicu penyakit. Kala telunjuk memperbesar layar. Ibu dengan keluarga barunya. Bayi kecil mungil. Tersenyum bahagia menyisihkan gelisah di sepatu putih.
Makin gelisah. Buru-buru jemari mengetik nama ayah di pencarian. Tergantung paling atas. Ruang pesan kosong melompong. Hampa memupuk pilu. Pilu membakar dada.
Jempol mengetuk profil. Ah. Lebih sakit dari dugaan. Senyuman ayah tampak mewah. Bersama istri dan anak tirinya. Bergaun. Berlatar belakang rumput hijau. Penuh balon-balon besar. Setumpuk kue sweet seventeenth. Diiringi gelas-gelas ramping.
Emh. Bibir tergigit. Bangkit dari dudukan. Laptop tertutup pelan. Mata terpejam erat. Ponsel tergeletak di meja. Membuka mata perlahan. Mendekat ke cermin. Sepatu putih kian mengaca.
Keruh sol karetnya. Celana panjang hitam kusut tak tersetrika. Jaket parka lusuh jarang tercuci. Wajah kumuh sering lupa terbasuh.
Jari menyentuh pelan pipi. Menarik ke bawah untuk sekadar mengecek. Bola mata yang semakin menjorok ke dalam. Memicu gumpalan kantong bergaris hitam. Tampak lelah tak tidur berabad-abad. Bibir yang sama gelap. Pecah-pecah. Pun rambut panjang hitam kering kerontang. Pula lengan pucat tak berisi lemak.
Sepatu putih balik ke meja. Tangan mengecek cepat tumpukan kertas. Telunjuk terus menyibak kitir. Hingga mencuat nota biru. Dengan nominal besar. Pinjaman kredit online. Pun tagihan listrik. Tak lupa tagihan air.
Kepala menunduk. Punggung tangan menekan mata tertutup. Agar tak ada air menetes. Lamun, menitik juga. Kertas biru mengarah ke mata. Mengelap keras hingga embun tak bersisa. Meremas. Kertas itu terlempar. Tepat sasaran. Masuk ke tong sampah.
Mengambil handuk dan seragam. Masuk ke kamar mandi. Lalu keluar lagi. Jam putih menggantung di tangan kiri. Sepatu putih menyelimuti kaki. Tas hitam menggantung di punggung. Mengambil kunci mobil. Melepas kopling pelan pun menginjak gas. Pintu mobil tertutup keras.
Satu-satunya yang masih bisa disyukuri. Setidaknya mereka berdua meninggalkan mobil tua bangka di rumah.
Masuk ke dalam. Ruangan luas tersusun rak-rak besar. Panas. Kipas turbo tak mampu melenyapkan keringat bercucuran. Berjalan-jalan mendorong troli. Bolak-balik mengangkat galon. Mencatat jurnal harian. Melakukan cash opname harian. Melamar di bagian akunting. Perusahaan ritel besar. Bekerja rangkap. Gaji tak sesuai. Penuh nyinyiran. Terus mondar-mandir hingga larut malam.
Mata menelisik sekitar saat berada di meja customer service. Sepi. Beberapa hadiah pelanggan tak terambil. Tercecer rapi di meja. Jemari mengambil gulungan kopi sachet melingkar. Memasukkan ke tas. Sepatu putih pulang ke rumah.
Terlelap tiga jam. Terbangun di jam tiga lagi. Jarum pendek berputar di angka enam. Masuk ke kamar mandi lalu keluar. Jam menggantung di tangan kiri. Mengambil kunci mobil. Keluar mobil lagi. Bertemu lalu-lalang penuh kesibukan. Mondar-mandir lagi. Menjurnal. Mengambil gulungan kopi sachet, memasukkan ke tas. Pulang ke rumah lagi.
Kehidupan monoton. Tak berwarna. Hitam putih seperti tembok datar atau pun arang tak bernyawa. Melingkar-lingkar di satu lingkaran yang sama. Tak menggiurkan. Membosankan.
Hingga datang seorang auditor akan melakukan pemeriksaan. Bibir merah menggumpal rambut uring-uringan. Kulit sawo matang leher berurat keras. Batik berkemeja tinggi semampai. Kelopak mata sayu tatapan elang. Keramaian market seolah berputar cepat. Sepatu putih berhenti mendadak. Mata tak melepas pandang sedikit pun. Troli tak terdorong. Jantung berdetak kencang. Lalu-lalang pelanggan terus berjalan. Tak peduli dua pasang bibir membisu mata beku bersipandang.
Sepatu putih keruhku bersitatap lagi dengannya. Pria yang menolakku mentah-mentah saat aku membutuhkannya. Satu-satunya orang yang pernah kucintai. Satu-satunya orang yang sadis mengusirku dengan sarkas. Mengataiku bocah ingusan saat aku ingin mengakhiri hidup. Satu-satunya orang yang menyadarkanku. Bahwa kehadiranku di dunia tak berarti apa-apa.
Jemari manis kirinya. Masih terselipi cincin. Lengannya dipeluk mesra seorang wanita. Wanita yang sama seperti dulu. Amat cantik dan sangat ia sayangi. Istrinya yang suka berselingkuh itu. Istrinya yang amat aku benci itu.
Seolah sadar. Tatapannya terlepas dari mataku. Pria berbatik itu menghadap ke rak. Entah ia lupa atau pura-pura tak mengenal.
Aku baru sadar sepertinya Tuhan gemar sekali menertawakan hidupku. Mempertemukan aku yang bodoh ini dengan orang-orang yang membenciku.
Menunduk. Jemarinya menunjuk tempelan harga di rak kopi. Kulihat sepatunya. Ia bersepatu biru tua usang.
Comments
Post a Comment