Metafora Diam-Diam Tuhan Menitipkan Manusia Bodoh Sepertiku Untuk Ditertawai 4

Malam berlalu dengan gelap kelam. Remang bintang seolah berkaca-kaca. Pagi berlalu tanpa berarti. Kuning sang mentari hanya bisa tersenyum lesu.

Bolak-balik berjalan di perusahaan. Mengikuti prosedur yang amat panjang. Pemeriksaan. Interogasi. Serasa seperti tahanan. Ruangan kedap suara. Seolah tampak menggelap. Tatapan asing. Seolah menikam. Tumpukan berkas menghentak meja. Mondar-mandir. Dokumen penting pun bukti-bukti berlalu. Tangan ke tangan. Orang sibuk berseliweran.

“Kenapa kamu mencuri kas perusahaan?”

“Pinjaman online. Tunggakan biaya sekolah yang belum lunas. Untuk makan, minum, sekadar bernapas. Saya tak bisa menghidupi kehidupan saya sendiri. Dengan itu, saya harus mencuri.”

Ribuan suara. Ribuan kertas berlalu-lalang di depan mata. Berhadap-hadapan dengan manajemen. Pun audit eksternal. Rekomendasi auditor kepada manajemen terdengar. Management letter terbuat. Menandatangani surat pemutusan kerja. Aku menyelesaikan sisa-sisa hari bekerja. Sepatu putihku terus menapak letih. Malamku berlalu cepat tanpa emosi.

Pagi memancarkan sinar biasanya. Sepatu putih menapak lesu memasuki pintu kaca. Meja kasir menyapa di muka ruang. Seberkas kertas tertanda tangan basah. Tangan penuh perban. Kram hanya sekadar menggenggam pena.

Mengambil tumpukan berkas dari laci kasir. Melewati rak per rak yang berbaris rapi. Memasuki ruang sempit. Menaruh tas sebentar di loker. Menaiki tangga. Bertemu dengan keramaian orang sibuk bekerja.

Merapikan kas. Melakukan pengecekan buku besar. Merapikan Excel. Membantu merapikan troli. Mendorong-dorong troli menaruh stok. Bolak-balik mengangkat galon. Pagi yang biasa berlarut menjadi siang yang panas. Bolak-balik lagi merapikan troli. Hingga sore yang lelah menyapa. Menjurnal-jurnal lagi. Gemintang redup menampilkan pendar malamnya. Melakukan cash opname. Lalu periksa buku besar. Lalu menutup buku.

Sepatu putih menapakkan jejak keruhnya di tiap anak tangga. Masuk ke ruang sempit membuka loker. Tas tergantung pasrah di punggung. Berjalan lemah di antara rak-rak berbaris tinggi. Beberapa karyawan menunggu di muka kasir. Sekadar berpelukan dan berucap terima kasih. Tak luput air menetes dari netra mereka. Sepatu putih berada di ujung pintu besar. Tangan melambai. Menghapus pilu, sepatu putih menapak keluar dari perusahaan.

Malam yang kelam. Beberapa kendaraan melaju pesat. Lemah sinar sang rembulan tertutup awan hitam. Sepatu putih melangkah di trotoar amat lambat. Air mata tak kunjung menetes ke pipi. Bibir seolah lelah untuk sekadar menyunggingkan tawa. Tak punya siapa. Bahkan tak punya kerjaan. Sendirian. Rasanya empati dan emosi sudah perlahan musnah. Tak tahu esok pagi akan menjadi apa. Tak peduli esok hari tubuh akan bersisa apa.

Berjalan di pinggir jalan luas besar yang semakin sepi. Kebutan di raya semakin pesat melenyap. Lampu kota kian menerang di gelapnya malam. Pohon besar terus terlewati. Gedung tinggi juga berlalu begitu saja. Bising knalpot meninggalkan hening di telinga. Hingga suara tapak sepatu lainnya terdengar. Sepatu putih yang lelah berhenti sebentar. Sekadar mengecek walau hati sudah tak peduli. Menengok lesu ke belakang. Sepi tak ada siapa yang mengikuti. Hanya ada pohon dan juga gedung-gedung tinggi.

Tetap melangkah. Sepatu putih kian menapak lemah. Sepanjang trotoar merah menggelap tampak menakutkan. Lamun, nampaknya, takdir kehidupan lebih menakutkan dari itu semua. Terus melangkah, hingga bayangan hitam terlihat di aspal jalanan. Bayangannya terpantul keras cahaya lampu kota. Bayangan hitam itu. Tampak mengikuti. Terus mengikuti. Seperti penjahat. Siap menggerogoti. Seperti pembunuh. Siap menikam. Rasanya seperti ada stalker yang mengikuti. Apa benar stalker nyata? Untuk apa stalker membuntuti manusia pengangguran. Apa stalker bosan dengan kehidupannya, ingin bosan yang lebih banyak, dengan mengikuti manusia bosan lainnya?

Ah. Lucu. Ah, kepala gila rasanya.

Sepatu putih terus melangkah. Tak berhenti sedikit pun. Tak menengok sedikit pun. Dengan cepat dan dadakan. Sepatu putihku memutar balik. Kepalaku menengok ke belakang. Terkejut. Aku terdiam.

Sepatu biru usang ada di hadapan. Dia. Auditor itu. Pria berkemeja batik itu. Dengan tas hitamnya yang sama beratnya. Pria itu mengikutiku sedari tadi. Wajahnya tampak datar biasa saja. Matanya memandang ke bawah. Lamun, sepatunya berhenti tepat di hadapanku. Sepatuku juga berhenti tepat di hadapannya.

Aku balik lagi. Kakiku melangkah lagi. Setiap tapak sepatuku bersuara. Tapak sepatunya juga ikut bersuara. Bayangannya masih tertampak di hitamnya aspal. Ia terus membuntutiku. Entah apa tujuannya.

Hingga tapak sepatu putih menginjak peron. Sepatu biru usang tetap berdiri di sekitar.

Celingak-celinguk. Serasa deja vu. Muka capek. Masam. Lelah. Bosan. Sama bosannya. Wajah-wajah para penunggu kereta, yang tak kunjung-kunjung datang. Hingga bunyi decitan roda rel mengilukan gigi. Pun klakson mendengingkan telinga. Nan remang lampu menusuk mata. Dan aroma polusi merusak paru-paru.

Tas menggantung berat di punggung. Selempang tali tas kupegang erat. Kala sepatu putih memasuki gerbong. Tubuh tinggi semampainya berada di belakang. Senggol-menyenggol wajah para manusia tertekuk keras. Segala bau menyeruak di sekeliling penjuru. Bulir-bulir keringat kian menitik di pelipis. Segumpal napas menyatu bersama angin. Mengikuti arus commuter, berdesakan-desakan.

Tidak dapat duduk. Berdiri memegang hanger. Lemah. Kurus kering. Tak berdaya. Terbawa arus terombang-ambing pun pasrah. Hingga pria batik berkemeja. Tinggi menjulang rambut urak-urakan. Tas sama besarnya berkulit sawo matang. Ya. Auditor itu. Dia. Berdiri spontan di sampingku. Saat tubuhku tak sengaja menubruk manusia lain.

Tanpa sepatah kata. Tangannya merangkul hanger menggantung. Mata elangnya tak memandangku. Entah apa yang ada di kepalanya. Terasa meliuk-liuk seperti rambut uring-uringannya.

Kaki terasa kebas. Pun menopang tidak kuat. Limbung kanan-kiri kala orang bersenggolan. Kutubruk pundaknya. Tak seperti dulu. Alisnya tak berkerut marah. Cepat-cepat kubenarkan posisi berdiri. Agak jaga jarak dari tubuh tinggi dominannya. Kepalaku serasa melayang-layang. Seperti mabuk. Deja vu. Menghirup aromanya. Wangi alkohol kian menyeruak dari tubuhnya. Menyihir mata mengamatinya.

Saat beberapa manusia bangkit dari dudukan. Ada kursi kosong. Aku terduduk. Dia juga duduk di hadapanku. Hadap-hadapan. Aku mengamatinya. Setiap pergerakannya. Pandangan matanya yang selalu menghindar. Wangi tubuhnya yang menempel di indra. Ah. Rancau. Rasanya aku mabuk. Rasanya aku menggila.

Entah apa yang ada di kepalanya. Kenapa dia mengikutiku? Apa dia mencoba menjadi stalker? Apa dia mencoba meniru kebiasaan anehku dulu. Diam-diam mencintainya yang sama saja seperti stalker.

Ah. Tampaknya aku sudah menggila. Bodohnya diriku masih mengharapkannya. Pikiranku sudah tidak normal. Sudah tak punya apa. Kerjaan pun tak ada. Nyawa pun rasanya sudah tiada. Masih saja aku mengharapkan perhatiannya.

Kala mataku menatap cincinnya. Masih tersemat begitu mengkilap di jemari kirinya. Saat itu, aku menyadari. Tuhan memang menciptakan manusia bodoh sepertiku untuk ditertawai.

Kulihat jendela usang di belakangnya. Ada daun kering yang berguguran. Terjatuh begitu saja meliuk-liuk diterbangkan angin. Aku seperti daun itu. Aku terus terjatuh. Terjatuh ke dalamnya. Entah dirinya merasakan atau tidak. Matanya terus saja menghindar.

End-

Episode Sebelumnya....

Comments

Popular Posts