Metafora Diam-diam Mencintai Itu Sama Saja Seperti Stalker 3
Ah! Anak haram. Anak broken home. Anak tak diharapkan. Kenapa hatiku merasa tercubit mendengar kata itu. Kala kaki kursi patah. Jendela pecah belah. Pun pintu terbanting keras. Ayah dan ibu terduduk kelelahan di sofa. Usai pertengkaran hebat mereka. Aku hanya bisa berangkat kerja.
Pukul 5 pagi. Matahari baru saja bangun dari tidurnya. Aku harus menggantung tanganku di hanger. Di antara ketiak-ketiak bau keringat. Desak-desakan. Peluh bercucuran. Aku menggantung mimpiku tinggi-tinggi. Bahwa suatu saat nanti aku ingin menjadi seorang yang teladan. Teladan akuntan publik.
Tak peduli dari mana hidupku berasal. Tak peduli siapa ayah nan ibuku. Tak peduli apa aku ini anak haram atau tidak. Toh. Aku tidak pernah berharap sejak aku dilahirkan.
Kala pipi ini terasa memanas. Pun air mata kian menumpuk di pelupuk. Aku menelan pahitnya sampai ke tenggorokan. Beberapa orang menatapku aneh. Mungkin aku terlihat seperti orang nahan sakit perut di kereta.
Aku enggak dapat duduk. Senggol-menyenggol bagiku sudah biasa saja. Pun tubruk menubruk di kereta. Namun, sesuatu yang tampak asing nan jarang. Saat seseorang berdiri menawarkan kursinya. Kepada perempuan muda sepertiku, yang terlihat lemah. Kurus kering pun tak terawat.
Ah! Aku enggak mau duduk. Masih banyak orang yang lebih tua daripada aku untuk dikasihi. Tapi saat aku tatap mata elangnya yang begitu tajam. Rambut keriwil-keriwilnya yang seperti mi begitu berantakan. Seorang pria berseragam batik, yang sering kulihat di kereta, bertas besar sama sepertiku, ya dia pria itu. Pria yang buatku mulai berharap. Aku pun terduduk lemas.
Di hari-hari berikutnya. Satu piring yang terlempar. Dua gelas yang pecah belah. Ah! Aku bosan dengan keseharianku. Kenapa tidak sekalian pukul aku saja? Kubur aku hidup-hidup. Kenapa mereka berdua tidak bercerai. Kenapa ada manusia yang mempertahankan rumah tangga pecah belahnya. Di saat anaknya sendiri harus memegang pecahannya.
Aku bangkit dari tidurku lagi. Berjalan ke kamar mandi lagi. Bergosok gigi lagi. Mendengar suara pecah belah ditambah makian-makian itu lagi. Lalu bangkit dari kasur berkali-kali. Menutup pintu berangkat kerja lagi.
Di antara desak-desakan napas sesak. Terkikisnya ruang udara di paru-paru. Titik-titik air mata menggumul. Bulir-bulir keringat menghiasi. Duduk di kursi jingga yang sama. Berhadapan dengan pria batik itu lagi.
Aku pernah berbicara pada pria batik itu sekali. Di warung lalapan tepatnya. Entah kenapa aku bisa berani, bahkan mengingat itu, aku ingin ketawa sendiri. Saat aku bilang ingin bunuh diri, ke siapa pun aku tak pernah berucap. Bahkan ke ibu dan ayahku yang kerjanya jajanan di luar.
Ah. Tahi memang.
Berlarut-larut hujan luntur di jendela kereta. Kugambari gambar aneh bin abstrak tak bisa dimengerti. Diam-diam, aku menatap pria batik itu dalam. Tahukah dia bahwa aku sangat menyukainya.
Tak pernah merasa jatuh cinta. Tak pernah merasakan rasanya memiliki. Perasaan ini sungguh membuatku menggila. Kala aroma alkohol dari tubuhnya menguar ke seluruh penjuru kereta. Begitu memabukkan. Bibirnya yang merah merona menyihir mata. Ah. Aku tahu aku mabuk karenanya. Padahal tidak minum. Aku tahu aku jatuh ke dalamnya. Padahal itu menyakitkan. Aku merasa kebas.
Pria itu tak pernah menatapku. Tak sekali pun ia memandangku, melirikku, menginginkanku. Apa yang akan ada di dalam pikirannya kala tahu aku memerhatikannya. Kala aku menyukainya. Kala aku berhalusinasi tentangnya. Jijik, sudah pasti. Najis, aku yakin.
Kesadaranku kian menipis. Kala senyap malam di antara bising suara kereta. Daun kian berjatuhan. Hujan kian menetes. Aku yang terkantuk-kantuk mulai mengikutinya lagi.
Ah. Aku tidak bisa menghilangkan kebiasaanku ini. Aku terus mengikutinya setiap malam. Bukankah itu menyeramkan saat seseorang mulai memendam perasaan diam-diam. Ah seolah mabuk hilang akal. Menyimpan semua rasa.
Diam-diam menyimpan semua fotonya di kepala. Mengikutinya. Memimpikannya. Berhalusinasi tentangnya. Lama-lama menjadi seperti seorang stalker. Apa yang akan dipikirkannya?
Kala kakiku menginjak lagi di dataran halaman rumahnya. Uh. Pahit terasa di tenggorokan. Hujan-hujan luruh jatuh di jendela. Pun daun kian berjatuhan diterbang angin. Suara binatang aneh, jangkrik pun desahan rubah. Ah. Berpikir-pikir seharusnya aku tak kemari.
Dia punya istri. Dan mengesalkannya dia tetap menyayangi istrinya. Yang menyedihkannya padahal istrinya selingkuh darinya. Tapi, kenapa ia balik lagi ke istrinya? Apa ia mencoba mempertahankan rumah tangganya yang tidak baik-baik saja. Kian mengikis luka pura-pura tak apa-apa?
Aku pulang ke rumah lagi. Melewati lampu-lampu jalan yang kian menyesakkan. Kesibukan kendaraan yang berpacu cepat. Di antara aku yang berjalan lambat. Hidungku berair. Bola mataku rasanya pedih mau pecah.
Kala aku masuk rumah lagi. Denting piring pun aroma alkohol memabukkan. Ayah dan ibu mulai menyanyikan lagu selamat malamnya. Penuh kata sampah nan makian. Aku tertidur di balik bantal. Basah menggumpal hidung tersumbat. Kuhalusinasikan dirinya untuk mencari tenang. Ia memelukku. Merengkuhku dan mengusap pundakku. Menenangkan tidurku dari malam yang gelap.
Comments
Post a Comment