Metafora Diam-diam Mencintai Itu Sama Saja Seperti Stalker 4
Segelas kopi terhidang di atas meja lagi. Uapnya kian meluap-luap nan melebar. Semangkok sambal pedas bersanding potongan ayam dada yang telah digoreng. Penuh minyak jelantah. Penuh bumbu kunyit. Merasuk ke tubuhnya kala ia lahap sadis. Dengan segumpal asap yang ia sedot dari rokoknya.
Bibir merah menggumpalnya kian memerah seperti kebakaran. Aku ingin bertanya padanya. Berapa banyak cobaan yang ia tahan mati-matian? Sampai ia merasa kebas. Dan melahap semua pedas, ingin merasakan banyak panas emosi nan luka. Yang tak bisa ia rasakan lagi.
Aku terduduk lagi di warung lalapan itu. Bersamanya. Bukan, bukan! Tepatnya di depannya. Aku yang duduk langsung sendiri. Ah. Aku merancau lagi seperti pemabuk.
Ia tak menatapku. Matanya sibuk menguliti daging ayam. Tangan kirinya sibuk mencolek sambal. Dan bibirnya sibuk tersedot api sigaret. Kian mengepul-mengepul di tengah temaram lampu jalan. Diterbangkan angin malam dari tenda lalapan. Mengikuti panas api membakar penggorengan. Para pedagang sibuk menikam ayam. Pria batik itu sibuk membakar paru-parunya dengan sebatang nikotin yang menenangkannya.
"Aku dimarah bosku lagi," aku mulai bercerita lagi.
Dia masih tetap sama. Tak tertarik obrolanku. Mata sayunya kian terkejap pelan menatap sambal. Syukur. Ia masih mau menyahut. "Terus?" begitu ucapannya.
"Ah. Aku jadi kacau," buihku merancau. Tanganku berkepak-kepak menjelaskan di hadapan mukanya. "Tahu rasanya leher digantung di tengah langit? Pakai kabel listrik. Menatap burung tetap beterbangan indah. Padahal hujan mulai menetes. Begitulah perasaanku," aku berbuih. Ludahku sudah seperti busa sabun yang terbuang sia-sia di kloset. Tidak diambil lagi. Tidak dipedulikan.
Dia diam. Tak melirikku.
Aku mencoba lagi. "Laporan keuangannya salah ... padahal aku sudah janji akan perbaiki di rumah. Tapi bosku tetap marah."
Uap kopi kian beterbangan. Sekeliling, pelanggan lahap berbicara. Sedangkan meja bertaplak merah ini, lambat bertukar kata.
"Di mana salahnya?" Akhirnya. Ia menyahut lagi.
Tangannya menjambak siwir-siwir ayam. Membentuk bola nasi bercampur sambal. Tangan kiri memerahnya menghadap mulutnya. Sedang tangan kanannya tetap tersemat rokok memercikkan apinya. Titik apinya kian jatuh ke tanah.
Bertopang dagu, kutatap siluet mata sayunya yang membosankan. "Salah saji nilai mata uang. Perusahaan luar. Operasinya pakai US Dollar. Penyajiannya pakai Rupiah. Ah. Aku malah kebalik." Aku merutuki nasibku.
Dia masih diam. Masih sibuk dengan api rokok yang membakar pernapasan-nya. Kala mata sayunya menatapku malas. Mulut merah bercampur sambalnya menguap, "Berapa umurmu?"
"18 Tahun."
"Kau kerja?" Sarkas suaranya.
"Kerja magang."
"Di mana?"
"KAP."
"Adjustment saja." Dia bergumam. Malas suaranya. Aku kian termenung menatapnya.
Lama. Kian dalam. Dalam sekali aku menatap netranya. Tampaknya ia paham accounting. Membuatku semakin ingin tahu tentangnya.
Ah. Aku ingin sekali bertanya tentangnya. Kenapa ia diam saja saat istrinya berselingkuh? Kenapa ia masih mencintai istrinya yang brengsek itu. Namun, mulutku tak kunjung berucap. Netraku tak kunjung terpejam.
Kala ia bangkit dari kursi plastik merah. Merogoh selembar kertas dan logam dari saku celana kumuhnya. Menamparkan uang receh itu pada meja penuh isi kompor api menyala. Aku terus memandangnya dari kejauhan.
Ia balik. Menyeruput nikmat kopi panasnya. Sekali teguk habis cepat. Benar-benar sadis. Benar-benar kebas.
Ragu-ragu, aku mendekat padanya. "Boleh aku menginap ... Bermalaman di rumahmu?" tanyaku tanpa arah.
Tak! Pantat gelas kopi menghantam meja keras. Lumuran hitam pekat membasahi taplak. Kian bercucur gelapnya ke tanah. Alis hitam tebalnya kian menukik. Netranya menatapku nyalang.
"Pulang! Bocah ingusan sepertimu harusnya di rumah. Bukannya keluyuran, bertemu pria dewasa, malam-malam berlalu-lalang!"
Semua mata menyorot kami. Tak ada yang bergerak sedikit pun. Ayam di meja kian tak tersentuh. Api di kompor pun kian beruap-uap. Seolah terengah-engah. Raut wajah mereka tampak terkejut akan percakapan kami.
Dia merenggut tas. Tak dipedulikan kopinya yang mengotori meja lalapan. Sebatang rokoknya pun tergeletak di tanah. Titik apinya kian memadam bertemu tetesan kopi. Bersentak. Kian sepatu keruhnya menapak cepat nan keras di trotoar. Seolah tak ingin berjumpa denganku lagi.
Lamun. Aku tetap diam-diam mengikutinya. Caranya ia menyentakkan gelas di hadapanku, terekam jelas di kepala. Benar-benar mengesalkan. Apa awalnya ia mau melempar gelas ke arahku? Seperti yang ayah dan ibu sering lakukan? Uh. Apakah aku salah kata. Apa masalahnya jika aku menginap semalaman di rumahnya? Kini perasaan kagumku berubah seketika. Aku benar-benar membencinya sekarang!
Di antara jalan becek tergenang air. Kumuh kelokan gang perumahan. Memasuki lahan luas rumput tinggi-tinggi. Tak berpagar. Tak tergorden. Aku menjinjit di dekat jendela rumahnya.
Jendela berdebu usang nan retak. Di bawah pepohonan berdaun kering. Batangnya kian urak-urakan. Aku mengintip. Menutup setengah wajah dan mataku. Agar bisa melihat ke dalamnya. Jendelanya begitu gelap. Awalnya hanya gelap nan suara asing yang kulihat. Lalu, mataku menyipit. Semakin menyipit. Menajamkan indra penglihatan. Dan, aku menyaksikan dia dan istrinya.
Ah. Mataku ternodai. Tak seharusnya aku ke sini. Rasa benciku kian membeludak berapi-api. Kini menyatu dengan sedih gundah gulana. Aku merasa sepi. Dinginnya angin malam terasa mencabik kulitku. Aku pun lalu berlari seiring daun berguguran, hujan beruntuhan.
Basah-basahan. Sudah biasa bagiku. Sesak mengumpul di dada. Jangan ditanya lagi. Aku sudah muak dengan semua perasaan ini. Kalau bisa dibakar, inginku bakar habis-habisan tangisku. Deraiku hingga tak bersisa.
Membuka pintu rumah. Hal pertama yang kusaksikan adalah ayah dan ibu. Mereka terduduk lelah. Dengan keadaan rumah hancur berantakan. Botol minuman keras tergenggam di masing-masing tangan.
"Pernikahan kita tidak sehat," ayah berucap napasnya menderu-deru kehabisan. Aku menatap mereka, penuh embun menggerayangi mata.
"Benar ... kasihan juga Mirna ...." ucap ibu sama lelahnya. Aku menahan isak, kala wanita tua itu kembali berbicara, "Kalau begitu. Kau yang bawa Mirna pergi. Pergi jauh-jauh dan jangan kembali."
"Kenapa mesti aku? Mirna kan bukan anakku. Mirna itu anakmu."
"Jelas-jelas ...."
Perdebatan mereka mulai lagi. Membuat napas-ku semakin memberat. Kerongkongan terasa gatal. Butuh air untuk disiram. Tenggorokanku semakin sakit, ingin berteriak tapi tak bisa.
Aku menutup pintu kamar. Mengunci rapat-rapat. Napas-ku tersengal pun hidung rasanya tak bisa bernapas. Air mata tertahan di kelopak. Merebahkan badan di kasur. Aku menangis di dalam tidurku. Berharap. Tetesan-tetesan air menyumbat pernapasan-ku. Dan, besok lebih baik aku tak bertemu dia lagi.
***
Comments
Post a Comment