Metafora Diam-diam Mencintai Itu Sama Saja Seperti Stalker 2
Aku mencintai seorang pria. Ah! Dia sudah beristri tampaknya. Bagaimana bisa aku mencintainya? Saat di kepalanya hanya ada wanitanya.
Seminggu yang lalu, aku bertemu dengannya di kereta. Entah dapat keberanian dari mana, hari ini aku mengikutinya.
Terduduk di salah satu warung lalapan. Langit hitam pekat. Hanya seberkas temaram lampu jalan. Dia memejamkan mata. Mengilhami tiap embusan. Saat asap rokoknya terbakar. Sebuah ayam berlumuran sambal. Terhidang di atas meja.
"Aku dimarah bosku," aku memulai cerita. Duduk di kursi plastik merah. Kusaksikan alis hitamnya berkerut. Saat dia menyesap nikotin. Yang membakar paru-parunya. Lambat waktu berjalan, ia tak kunjung menyahut.
"Terus?" Dan, satu kata terlepas dari bibir merahnya. Kelopak mata sayunya terbuka lemas. Mata hitamnya. Yang seperti elang. Menatapku tajam.
"Aku jadinya pengen bunuh diri." Seperti pemabuk, aku merancau.
Kopi panas terhidang di atas meja. Uapnya berkeliaran. Saat pedagang sibuk memasak, asapnya apinya wanginya kian menyeruak.
Dia terdiam.
"Ah! Bukan karena kerjaan sih .... banyak faktor pendukungnya," seperti pemimpi, aku mengigau.
Berlarut-larut gerimis hujan jatuh. Menetes di antara tenda warung. Tampias membuat rambutnya sedikit basah. Pengendara motor terparkir dengan jas hujan.
"Kenapa dimarah bos?" dia akhirnya bertanya. Mata sayunya sibuk menatap rokok. Yang berasap. Menguar-nguar. Tersemat di antara jemari manisnya, yang tersemat cincin emas. Agh, Dia sudah beristri.
"Seharusnya PSAK 115. Ah! Aku malah pakai PSAK 72." Kering rambutku diterbangkan angin. Anginnya meliuk di antara pelanggan bercengkerama. Riuh tawa mereka menyebar, kala ayam di meja tergigit lapar.
"Tidak wajar," ungkapannya sungguh membuatku berkerut alis. Bukannya bilang salah atau tidak benar. Dia malah bilang tidak wajar. Seolah tahu arah perbincangan ke mana. Membuatku semakin tertarik dengannya.
Tak ada kata.
Aku mengikuti diam-diam ia pulang ke rumah.
Malam semakin menggelap. Anginnya semakin mendingin. Tiap mobil bergerak pesat. Meninggalkan pengendara motor bergerak lambat.
Aku mengikutinya. Terus kuikuti langkah sepatunya. Pria tinggi berbatik nan bertas besar. Entah dia tahu atau tidak aku mengikutinya. Yang jelas semua terasa amat lambat saat aku mengikutinya. Terkadang aku merasa seperti penjahat. Hanya karena rasa suka, aku terus mengikutinya.
Dia masuk kelokan gang. Kumuh. Rumput tumbuh tinggi. Hamparan sawah tak terawat. Sedikit ada perumahan. Hingga kakinya berbelok ke rumah berbentuk gudang. Luas nan bertingkat. Namun, dindingnya lumutan. Keruh seperti tak terurus.
Tak berpagar. Penuh pepohonan. Ia masuk dengan tas besarnya. Mengunci pintu rapat. Tanpa ia sadari, rumahnya berjendela retak. Ada suara keras terlempar pecah belah. Kalimat-kalimat tak senonoh penuh makian.
Di antara rumput-rumput tinggi. Aku mengintipnya. Kakiku kian berjinjit, mataku menelisik jendela.
Terlihat. Pria berbatik itu duduk di sofa jingga. Rokok tetap tersemat di bibirnya. Kala matanya berbinar menatap wanita di hadapannya. Ah! Tatapannya. Dia sangat mencintai wanita itu.
Wanita itu cantik. Lebih cantik dari wajahku. Dengan pelukan mesra, tangan putih cantik itu memeluk lelaki berjas. Jarinya tersemat cincin emas. Tak dilepaskan sedikit pun lelaki berjas itu di dalam pelukannya.
Pria batik itu terkekeh kecil. Merebut atensi si wanita yang sibuk berpelukan. Botol minuman keras terlempar pada pria batik itu. Satu makian, dua kata kasar terlontar. Meminum minuman keras. Melempar botol lagi. Oh. Si wanita sedang mabuk keras tampaknya.
Ada daun berjatuhan. Di ujung jendela yang retak. Air hujan kian menetes membasahi. Pipiku kian basah. Hingga aku tersadar. Oh, aku terjatuh ke bawah.
Aku beranjak pulang. Membawa semua air mataku pergi. Dengan tas berat membebani punggungku. Melewati malam penuh kesibukan kerja. Penuh kelap-kelip lampu jalan. Yang menyedihkan.
Aku menutup pintu kamar menangis histeris. Suara botol pecah belah. Vas bunga terlempar. Ibu Ayah bertengkar mengikis pita suara. Aku menangis histeris merangkul lutut. Kulihat jendela berdebu ada daun kecoklatan. Daun itu jatuh begitu diterbangkan angin. Jatuh dalam tak tahu arah. Aku jatuh ke dalam gelap mata elangnya sama sepertinya.
Comments
Post a Comment