Metafora Diam-diam Mencintai Itu Sama Saja Seperti Stalker 1

Siang yang panas. Kala matahari merangkak naik di atas langit. Aku baru pulang dari kantor akuntan publik. Dompet kosong. Keringatan. Mata berair. Kupandang lesu daun-daun pohon-pohon tertiup angin. Angin meliuk-liuk di antara hiruk-pikuk kesibukan orang. Pergi pagi pulang malam mencari nafkah. Hanya demi sesuap nasi. Menggantung nasib di tengah asa. Pura-pura bodoh soal mati bisa datang kapan saja.

Kaki kesemutan berdiri di peron. Celingak-celinguk ke sekeliling wajah. Muka capek. Masam. Lelah. Bosan. Sama bosannya. Menunggu kereta yang tak kunjung-kunjung datang. Hingga bunyi decitan roda rel mengilukan gigi. Pun klakson mendengingkan telinga. Nan remang lampu menusuk mata. Dan aroma polusi merusak paru-paru.

Tas menggantung berat di punggung. Selempang talinya kupegang erat. Kala sepatu memasuki gerbong. Senggol-menyenggol wajah tertekuk keras. Segala bau menyeruak di sekeliling penjuru. Bulir-bulir keringat kian menitik di pelipis. Segumpal napas menyatu bersama angin. Mengikuti arus commuter, berdesakan-desakan.

Tidak dapat duduk. Berdiri memegang hanger. Lemah. Kurus kering. Tak berdaya. Terbawa arus terombang-ambing pun pasrah. Hingga pria batik berkemeja. Tinggi menjulang rambut urak-urakan. Tas sama besarnya berkulit sawo matang. Berdiri dari dudukannya kursi berwarna jingga.

Tanpa sepatah kata. Tangannya merangkul hanger menggantung. Mata elangnya menusuk membius ke tulangku. Berkali-kali ia pandangi aku dan kursi bergantian. Entah apa yang ada di kepalanya. Terasa meliuk-liuk seperti rambut uring-uringannya.

Kaki terasa kebas. Pun menopang tidak kuat. Limbung kanan-kiri kala orang bersenggolan. Kutubruk pundaknya. Mengerutkan keningnya. Alis tebal menukik bibir merah marah. Cepat-cepat aku duduk di kursinya. Memeluk erat tas. Menghirup aromanya. Wangi alkohol kian menyeruak. Menyihir mata mengamatinya.

Aku ingin mabuk. Aku ingin menghirup alkohol. Bukan karena nakal atau ingin keren. Hanya saja gelap mata kepala terasa pecah. Sering salah pun hilang akal. Kebas luka ingin duka lebih dalam. Merasa kuat, hanya ingin luruh ke bawah. Jatuh jatuh jauh jauh.

Sebentar lagi tiba di stasiun. Orang sibuk bergesek berhimpit. Masinis mengumumkan segera turun. Kulihat jendela ada daun jatuh. Kala ia turun. Daun berguguran kering.

Jarinya menyelinap ke jeans. Diam-diam mencekal bungkusan kardus kecil pun pemantik. Satu batang terselip di sela bibir. Menyulut pemantik memercikkan api. Asap terkepul menyeruak di bibir merah menggumpal.

Daun itu jatuh. Jemariku menyentuh jendela. Mengikis debu di antara basah. Percikan apinya mengikis tembakau. Menyesap mengilhami. Menghembuskan segumpal asap tebal. Bertiup angin resah lelah. Jatuh bersamaan daun di antara rintik hujan.

Malam yang dingin. Kala bulan merangkak naik di atas langit. Aku baru pulang dari kantor akuntan publik. Tersedu-sedu entah tangisi apa. Terduduk di kursi jingga yang sama. Hujan kian berjatuhan. Air mata runtuh tak tahu malu. Aku menatap jendela. Menyentuh debu dari jendela usang.

Basahnya membasahi pipiku. Kala daun jatuh mengering di luar jendela. Terbayang-bayang. Menghirup aroma tubuhnya. Seperti alkohol memabukkan. Daun itu jatuh. Aku membayangkannya.

Turun pulang mengikutiku. Di antara gelapnya kemilau lampu jalan. Pun berisik trotoar menggema. Polusi kian tercium pernapasan. Aku masuk kamar dan aku tertidur.

Hingga jam memutar di angka 3 subuh. Aku terbangun dan terbangun lagi. Berputar di angka yang sama. Hingga aku bertemu dengannya lagi.

Siang yang panas. Kala matahari merangkak naik di atas langit. Aku baru pulang dari kantor akuntan publik. Tas terpegang erat. Jantungku kian berdetak. Kursi jingga yang sama. Jendela yang sama. Posisi serupa. Pria berambut uring-uringan. Berkemeja tinggi nan berkerah. Berdiri dengan segala candunya.

Aku duduk tak menolak. Kuresapi aroma tubuhnya. Bersatu padu keringat menyeruak menitik. Hingga daun itu jatuh lagi. Di antara gelapnya malam. Hujan membasahi jendela. Kutulis di jendela basah sesuatu tak terbaca.

Masinis mengumumkan segera turun. Aku turun di belakang pria itu. Waktu terasa kian melambat. Langkah kaki entah ke mana. Mobil-mobil bergerak pesat. Jalanan raya gelap penuh lampu terang.

Dia tak tahu aku mengikutinya. Sebatang benda itu lagi terselip di bibirnya. Merah merona bagaimana bisa? Setelah paru-paru rusak terbakar. Gumpalan asap menyumbat pernapasan.

Kelokan gang. Dia masuk kelokan gang kumuh. Jalannya tak terarah seperti mabuk. Ya aku memang mabuk. Mengikutinya hingga ke rumah. Aku mabuk karenanya dan karena gelisah.

Botol-botol kian terlempar pecah. Dia terduduk lemah di sofanya. Menyumbat bibirnya dengan beberapa isapan. Cincin menggantung di jari manisnya. Oh! Dia sudah beristri. Wanita cantik di hadapannya. Yang tengah memeluk kekasih lainnya. Kulihat dari jendela usang. Yang daunnya jatuh turun ke bawah.

Botol-botol kian terlempar ke arahnya. Ia tetap duduk di sofa. Menyesap tiap kadar asap dari sebatang benda itu.

Jendela debu nan usang. Kereta jalan di antara kerikil-kerikil rel. Terduduk di kursi jingga yang sama. Aku merenung tak melihat kehadirannya. Di antara terangnya pagi. Aku melamun membayangkannya.

Mengikutiku sepanjang jalan ke rumah. Pintu terbuka menampilkan tiga orang. Melangkahkan kaki tidak peduli. Tas kutaruh di meja. Lemparan botol dari wanita berseberang. Bercincin. Sama cincinnya dengan sang lelaki. Lelaki yang tengah memeluk wanita lainnya.

Aku berjalan ke kamar. Kunci pintu rapat selimut terlempar berantakan. Terduduk di kasur dengan nada resah. Aku mengingatnya. Aku membayangkannya. Mengelus pundakku dalam tidur. Menenangkan tidurku yang sesak. Aku jatuh ke dalamnya. Seperti daun yang jatuh begitu saja. Aku jatuh ke matanya yang kian menggelap.

Menggelap di antara malam di kereta. Aku baru pulang kerja. Sepatu terasa sakit mengeras di kakiku. Tas begitu berat di pundakku. Terduduk lagi di kursi jingga yang sama. Dengan daun jatuh menguning ke bawah jendela.

Dari puluhan orang-orang berlalu-lalang. Memutar desak-desakan. Aku tak menemukannya. Hilang entah di antara hilir mudik. Mengikuti kuatnya arus commuter. Di antara peluh-peluh kening berkeringat.

Aku terjatuh begitu dalam. Tak tahu ke mana arah angin akan membawa. Yang kutahu aku seolah mabuk. Memikirkan mata memerah sedihnya. Melihat jemari terbakarnya. Menyaksikan paru-parunya perlahan terusak. Dan, aku diam saja.

Turun dari kereta. Berjalan jauh memasuki kelokan gang. Gang kumuh rumah yang sama. Sepi. Tak ada apa-apa. Hanya beberapa botol nan asbak abunya. Pun pecahan kaca entah dari mana.

Aku terduduk di sofa jingga. Menyentuh jendela usang. Kulihat daun kering berguguran di luar. Kala ayah dan ibu bertengkar memecahkan telinga. Aroma itu. Bibir itu. Jari kecilku menyentuh serpihan di jendela. Melukai dan terus terluka. Sesaat kutilik daun yang jatuh di luar. Aku jatuh jauh dalam sepertinya.

Episode Selanjutnya....

 

Comments

Popular Posts