Bab 9 — Hidup Lebih Baik Untuknya (Remang Bulan di Angkasa)
“Aku sakit, Angkasa... Ibu mana yang enggak sakit
lihat anaknya meninggal di depan mata? Mungkin aku sudah gila. Makanya aku
minta kita bercerai dan jangan rujuk lagi.” Kalimat Dara terngiang di kepala
Angkasa.
Ucapan Chandra mengganggu pikirannya. “Selingkuh itu
sama seperti kecanduan obat. Awalnya meredakan sakit lalu dosisnya bertambah
dan lepas kendali. Ketergantungan. Sekali hisap, mudah untuk hisap lagi...
Selingkuh itu penyakit, Angkasa. Jika kamu diselingkuhi Dara, jangan kembali
padanya.”
"Bapak pasti menyesal jadi orang baik. Kebaikan
Bapak adalah hukuman untuk Bapak sendiri," ucapan Bulan menghantui benak
Angkasa.
“Semua akan baik-baik saja.” Ketikan pesan Bulan saat
Angkasa tahu Dara berselingkuh lagi.
“Ada seseorang yang mengenaliku....” Angkasa
menghembuskan napas di hiruk-pikuk POLDA. “Dia seperti tahu kehidupanku.”
”Kau senang?” Baskara menyeluk saku seragam polisinya.
Sahabatnya itu tersenyum menatap Angkasa.
“Tidak, aku merasa pedih....” Angkasa menatap letih
kerumunan jalan. “Dia tahu kehidupanku.”
“Dia tahu kehidupanku.” Ponsel Angkasa yang tersadap
tersambung ke ponsel dan earphone di telinga Bulan.
Mentari menyinari Bulan yang termenung di terminal
GOR. Hiruk-pikuk halte bergerak pesat. Matanya lelahnya terbuka lebar. Tubuhnya
kurus kering terbalut jaket lusuh. Ia menguping percakapan Angkasa.
“Aku mau kerja dulu... aku duluan, Bas.”
“Hati-hati, Angkasa!”
Tuk...tuk, ketukan sepatu bersanding ributnya lalu
lintas.
“Laras... Ayah ingin bertemu denganmu, Nak.” Napas
Angkasa berderu seolah menahan isak.
Klakson berdenging keras, lalu lalang kendaraan
terdengar begitu kencang.
Tin! Bruk!
Berisik keramaian memenuhi telinga Bulan. Namun suara
Angkasa tak terdengar.
Alis Bulan terkerut. Tiba-tiba ia berlari lekas
menuruni halte. Earphone terlepas dari telinganya. Napasnya tersengal,
jantungnya seperti diremas. Sepatunya menapak di jalan rusak terminal GOR.
”Woi, kalau naik motor yang benar!” teriak pengendara
Vario yang ditabrak Scoopy oleng.
Angkasa menoleh melihat Bulan panik keluar GOR. Kepala
cabang itu berdiri menyilang di perempatan Polda, melihat Bulan memandang
sekeliling lekas memakai earphone. Bersamaan Scoopy ngegas kabur.
Woosh!
Bulan menoleh ke arah Scoopy menjauh. Angkasa juga
melihat Scoopy itu. Bulan melihat sekeliling mencari Angkasa. Mereka
bersitatap. Napas Bulan berderu, Angkasa menyeberang menghampirinya.
“Kamu... kenapa panik?” Suara bass Angkasa terdengar
khawatir beradu bisingnya lalu lintas.
Bulan melepas earphone sembari menunduk. Napasnya
memelan. Keringat memenuhi keningnya.
“Bapak... Bapak mau antar ibu saya ke RS?”
☾ ☾ ☾
“Hati-hati.” Suara bass Angkasa mengalun pelan.
Bulan membantu ibunya digendong di punggung Angkasa.
Selimut tergulung di tangan Bulan. Sekuat tenaga Angkasa menggendong ibu,
menuruni tangga kosan. Bulan mengikuti dari belakang.
Tuk... tuk...
Angkasa mendudukkan ibu di belakang. Bulan masuk duduk
sebelah ibu. Angkasa menatap selimut keruh di tangan Bulan. Lekas kepala cabang
itu masuk ke mobilnya lalu menyetir. Bersamaan ponsel berdering.
“Bapak di mana, Pak?” Feri menelpon Angkasa.
“Saya mau ke RS, Fer... Ada apa?”
“Bapak harus ke cabang... ada berita serius, Pak.”
“Saya siangan ke sana, Fer.”
Mobil melaju di jalan lurus. Ibu tersenyum menatap
jendela. Bulan menatap ibunya. Angkasa menatap Bulan melalui spion. Setiba di
RS, Angkasa bantu Bulan mengurusi rawat inap ibu dengan BPJS PBI.
“Kamu punya hubungan yang baik dengannya. Kamu harus
hidup lebih baik untuk dia.” Ibu tersenyum sambil menggerakkan tangan pelan.
“Ibu jangan khawatir... Bulan sayang Ibu,” balas Bulan
dengan bahasa isyarat, bibirnya getar untuk sekadar tersenyum.
Angkasa yang berdiri di bibir pintu menunduk ditatap
Bulan dan ibunya. Kepala cabang itu keluar kamar. Setelah ibu tertidur, Bulan
dan Angkasa berangkat ke cabang. Bulan duduk di belakang menatap jendela.
“Apa yang dibilang ibumu?” tanya Angkasa sembari
menyetir.
“Terima kasih Bapak sudah membantu ibu.”
Angkasa melihat spion, Bulan kian termenung menatap
jendela.
“Bapak, bisa turunkan saya di Indomaret? Saya jalan
kaki ke cabang.”
“Enggak apa, saya tunggu di Indomaret.”
“Bapak duluan saja ke cabang. Saya mau belanja.”
Angkasa termenung. Bulan bersikeras minta jalan kaki
ke cabang.
☾ ☾ ☾
“Pak Kendra katanya dinonaktifkan dari jabatan deputi,
Rat.”
“Serius? Gara-gara rekaman itu, Fer?”
Mentari memanas. Ramai berita Kendra menyebar di
cabang. Dada Angkasa memberat mendengar itu. Kepala cabang itu ke pusat. Kendra
duduk di ruangannya dengan wajah merah menahan marah.
“Ada yang menjebak saya,” geramnya. Angkasa menatap
rekaman yang diputar di laptop.
“Ah! Setelah memecat Bara atas dasar politik
gratifikasi, saya tak sabar jalan-jalan ke Hawaii.”
Angkasa mengernyit. “Bukannya Bapak bilang itu waktu
kita bicara berdua?”
“Saya tidak tahu siapa yang merekam!” Kendra mendesah
kesal. “Yang jelas kamu harus jadi deputi gantikan saya kalau saya dicopot. Dan
kamu harus pastikan Bara tidak kembali.”
Kepala Angkasa memberat. Matanya berkilat letih. Ia
dipanggil ke kantor wilayah. Ruang rapat mendingin. Pimpinan wilayah duduk
bersama dua orang dari kantor pusat.
“Pak Angkasa...,” ujar salah satu dari mereka, “untuk
sementara posisi Deputi Bisnis Wilayah kosong karena Pak Kendra dinonaktifkan.”
Angkasa menunduk.
“Kami membutuhkan pelaksana tugas sampai investigasi
selesai. Berdasarkan kinerja cabang dan rekomendasi wilayah, kami menunjuk
Bapak sebagai Plt Deputi.”
Angkasa terdiam. “Baik, Pak,” jawabnya.
Angkasa balik ke cabang. Feri bersorak gembira, staf
dan anak magang menyalaminya. Angkasa melihat Bulan sibuk menawari gadai BPKB
lewat WA. Earphone tersumpal di telinganya. Angkasa berkernyit.
”Saya ragu orang akan mau berteman jika tahu saya
seorang pembunuh,” ucapan Bulan terngiang di kepala Angkasa.
Semua kalimat aneh Bulan terlintas di kepalanya.
“Apa Bapak mau saya membunuh Bara... Saya akan benci
semua orang yang Bapak tak suka.”
"Bapak pasti menyesal jadi orang baik. Kebaikan
Bapak adalah hukuman untuk Bapak sendiri."
“Andai semua akan baik-baik saja,” ucap Angkasa saat
tahu Dara berselingkuh lagi.
Tiba-tiba Bulan mengirim pesan. “Semua akan baik-baik
saja.”
“Berapa... hutangmu?” tanya Angkasa sehari setelah
Bayu memukulnya terkait hutang.
“Sudah lunas,” jawab Bulan.
“Kamu... baru pulang?” Setelah Angkasa keluar warung
tiba-tiba Bulan muncul ngos-ngosan lalu melepas earphone.
“Kamu... kenapa panik?” tanya Angkasa kala Bulan
mendadak muncul tepat kecelakaan terjadi di dekatnya, Bulan juga melepas
earphone.
“Telepon.” Tiba-tiba Bulan memberikan ponsel ke
Angkasa padahal sebelumnya tidak pernah.
Angkasa menggeleng. Sedangkan Bulan menerima WA dari
Bara di ponsel barunya.
“Kerja bagus. Kendra dinonaktifkan. Terus lakukan
kerjamu.”
Jam memutar di angka empat. Cabang sudah tutup.
Angkasa mengajak anggota cabang makan ke yakiniku. Penghargaan pegawai sudah
bekerja keras. Semua bersorak, tiba-tiba Angkasa menoleh ke Bulan.
”Bulan, kamu ikutlah... kamu juga anak magang di
sini.”
Semua staf dan anak magang terdiam menatap Bulan
membisu.
☾ ☾ ☾
Setiba di yakiniku, api membakar sosis dan daging.
Selada membalut sosis masuk ke mulut. Feri mengunyah sambil tersenyum lebar.
Bulan terdiam di hadapan Ratna. Meja mereka kejauhan.
“Ini... oper ke meja Ratna.” Angkasa menyodorkan
piring dengan daging terbakar matang.
Piring itu berjalan dari tangan ke tangan tiba di meja
Bulan. Tanpa berterima kasih, Bulan menyumpit sosis pun daging. Sayur dan air
tak ia sentuh sedikit pun.
”Terima kasih banyak traktirannya, Pak... semoga Bapak
jadi pinwil biar kita makin kenyang!” Feri selebrasi membuat Angkasa sedikit
tersenyum walau dadanya berat akibat penonaktifan Kendra.
Langit gelap gulita saat anggota cabang pulang dari
tempat yakiniku. Hujan membasahi memicu wiper berderit menghapus bulir dari
kaca buram. Angkasa mengirim pesan ke Dara sembari menyetir.
“Aku ditunjuk jadi Plt Deputi, Dara.”
“Selamat untukmu, Angkasa... Aku sudah dengar di
cabangku.”
“Terima kasih banyak, Dara.”
Angkasa menatap plastik jingga di dashboard berisi
yakiniku untuk Dara-mantan istrinya. Angkasa mengirim pesan pada ibunya.
“Ibu, Angkasa jadi Plt Deputi.”
“Wow... Ini Kak Chandra. Ibu lagi masak. Selamat, Dik.
Jangan lupa traktiran.”
“Terima kasih, Kak... ingatkan aku untuk
traktirannya.”
Angkasa menarik napas sembari tersenyum pelan. Matanya
memincing saat melihat jendelanya yang buram. Terlihat Bulan jalan kaki. Hujan
kian lebat pun kilat mengoyak langit. Angkasa membuka jendela.
”Bulan!” panggil Angkasa.
Bulan tetap berjalan memicu Angkasa memarkirkan
mobilnya di pinggir jalan. Payung tersemat kala pintu terbuka. Angkasa mengejar
Bulan dengan payung. Jaket Bulan basah kuyup. Wajahnya mendingin.
“Saya antar.”
“Bapak jangan baik sama saya... saya punya banyak
keburukan yang bapak belum dengar.”
“Saya akan pura-pura tak mendengar.”
Petir menyambar langit beradu penerangan jalan
meredup, seiring hujan berjatuhan ke kaca mobil, hening tanpa kata mengisi
segala sisi penjuru mobil, hanya AC dan deru mesin yang memenuhi.
Tak!
Mobil terparkir di depan kosan. Angkasa menyematkan
payung. Sepatu menaiki tangga kosan. Payung tertutup seiring plastik hijau
tersodor ke Bulan. Angkasa benarkan selempang tas depan kamar Bulan.
“Jaga... kesehatanmu.”
“Bapak harus jadi deputi.”
Langkah Angkasa terhenti, ia berbalik menatap Bulan.
“Bapak harus pecat sampah itu.”
Angkasa tak menjawab.
“Apa saya boleh memeluk bapak sekali... saya hanya
ingin memberi semangat.”
Angkasa terdiam sejenak. ”Tidak perlu... saya sudah
semangat.”
Angkasa membenarkan selempang tas lalu menuruni tangga
kosan. Perlahan mobilnya meninggalkan kelokan gang. Bulan memutar kunci
kamarnya. Ia meletakkan tas di meja lalu membuat kopi tak peduli.
“Ternyata dia mengantarmu pulang sampai depan kamar?”
Bara melipat tangan di kursi.
Bulan kian meneguk kopi sembari mengunggah logbook
magang lewat ponselnya.
Bara bangkit menghampirinya. “Apa aku perlu melihatnya
mengantarmu sampai masuk kamar?”
Bulan tak menjawab memicu Bara mengambil gelasnya.
Byur!
Kopi dingin membasahi wajah Bulan. Matanya berkilat
dengki.
“Paman enyahlah. Manusia purba seperti paman tak
pantas hidup di muka bumi... sebentar lagi Pak Angkasa akan memecat Paman.”
Bara tersenyum sinis. “Pecat dasar apa? Emas
gratifikasinya sudah di tanganmu. Angkasa tak bisa memecatku karena
perselingkuhan. Di kantor, selingkuh bukanlah kejahatan. Aku tinggal bilang tak
mengenalmu soal emas itu.”
Bulan memutar rekaman di ponsel. “Buat saja
kepala cabangmu mengantarmu pulang. Nanti paman suruh orang foto dari belakang.
Hanya rumor kepala cabang mengantar anak magang. Itu saja, tak lebih.”
“Kau merekamnya?”
“Paman pikir tidak?”
“Dasar kau lintah!”
“Bukannya Paman yang mengajari?”
Bara melempar gelas plastik ke Bulan.
“Menghilanglah baik-baik selagi Pak Angkasa jadi yang
terbaik... aku sudah kirim rekamannya ke rekan kerjasamaku.”
“Kau yang harusnya menghilang!” Bara menunjuk Bulan.
“Asal kau tahu Kendra tak akan diam posisinya dinonaktifkan. Usiamu sudah legal
masuk penjara. Angkasa pasti membencimu karena kau menyadap ponselnya.”
Bulan menatapnya dingin. “Paman pikir aku tak akan
menghilang? Menghilang adalah keahlianku, Paman... Putuslah dengan bibi tua,
jangan sampai nama Pak Angkasa tercemar sampah seperti kalian.”
Bara geram, tangannya mengepal di udara.
“Atau Paman ingin aku masuk penjara?” Bulan menatap
pisau di meja.
Pintu terbanting keras. Bara lekas menuruni tangga
kosan. Mobilnya meninggalkan kelokan gang.
Remang bintang bersinar samar. Mata Bulan basah dan
bergetar.
☾ ☾ ☾
Comments
Post a Comment