Bab 8 — Menjadi Baik tak Pernah Salah

Darah mengalir di ombak menghantam. Bibir pantai rusak, terumbu karang pecah. Asin keringat berlinang di arus. Bulan dibekap di kasur. Perempuan SMA itu tenggelam ke lautan membiru gelap.

“Bayar hutang ayahmu,” ucap Merta parau di atasnya.

“Ayah, jangan siksa Bulan!” Bayu menarik Merta menjauh dari Bulan.

Satu sikuan keras. Bayu tersungkur ke lantai. Ibu Bulan menarik kaki Merta. Rambut ibunya diacak, tubuhnya luka di lantai. Semua buram, cepat. Bulan melihat sekitar. Matanya menatap pisau di meja.

Sukk! Srett!

Tak beriak. Ombak serasa menghantam dada. Darah memenuhi wajah Ibu. Merta terengah memegang leher, berbalik untuk menatap Bulan. Bulan melangkah mundur dengan tangan bergetar. Pisau bersimbah merah terjatuh dari tangannya.

Bruk!

Merta terjatuh dengan mata terbuka. Ibu terisak di lantai tak bisa bangun. Tangis Bayu silih berganti menjadi dengki. Ayahnya mati di tangan perempuan yang ia sukai.

Siurrr!

Lamunan Bulan pecah, darahnya berdesir. Sudah bertahun-tahun kejadian itu berlalu. Naas, bayangnya kian menghantui. Bulan termenung saat mencuci ikan. Lekas ia bangkit menaruh ikan di keranjang.

“Kamu hati-hati di jalan,” tutur Ibu pemilik catering, memberi kunci motor pada Bulan.

Keranjang terikat di belakang motor. Bulan mengendarai motor di antara bisingnya kendaraan. Terparkir di trotoar. Bulan membawa keranjang masuk ke toko pelanggan. Ia kerja paruh dari sore ke malam.

Tuk... tuk... langkah sepatu terdengar memelan dari ponsel Angkasa yang tersadap tersambung ke ponsel dan earphone yang terpasang di telinga Bulan.

“Kamu di mana, Angkasa?” tanya ibu Angkasa di sambungan telepon Angkasa.

Angkasa mendesah pelan. “Depan rumah, Bu.”

“Dara ada di rumah?”

“Ada, Bu... mobilnya di parkiran.”

“Kamu jaga kesehatan, jangan sampai kecapekan, Angkasa.”

“Terima kasih, Ibu... jaga kesehatan Ibu juga.” Angkasa mendesah saat telepon ditutup.

Bulan mengangkat keranjang ke luar toko, mengikat tali di keranjang dan motor. Lanjut perempuan itu mengendarai motor di turunan tajam menikung, tempat kecelakaannya terjadi.

Pintu berderit pelan.

”Kamu baru pulang, Angkasa?”

”Iya, tadi habis dari kanwil, Dara.”

“Kamu enggak kecapekan, Angkasa?”

”Enggak....” Angkasa menghembuskan napas berat. ”Seharusnya kamu bilang kalau kamu ketemu Bara lagi. Anak kita udah meninggal karena kalian selingkuh. Aku percaya penuh sama kamu, Dara... sekali pun kamu bilang urusan kerja walaupun kalian di hotel, aku akan percaya.”

Dara terisak, napas Angkasa terdengar samar memburu.

“Maafkan aku, Angkasa.”

“Laras udah meninggal bertahun-tahun lalu, apa kamu enggak sakit lihat anakmu menangis saat kecelakaan?”

“Aku sakit, Angkasa... Ibu mana yang enggak sakit lihat anaknya meninggal di depan mata? Mungkin aku sudah gila. Makanya aku minta kita bercerai dan jangan rujuk lagi.”

“Seharusnya kamu bilang kalau kamu terluka.”

“Gimana caranya aku bilang, kamu rapuh seperti tak bernyawa. Kita akan hancur sehancur-hancurnya... Aku ingin mempertahankan pernikahan sepertimu, Angkasa. Aku tetap tegar di sampingmu, menghiburmu, dan itu kesalahanku membiarkan Bara yang membuatku tegar.”

“Kenapa kamu harus berselingkuh dengan Bara? Dia yang menjatuhkanku... Kenapa harus dia?!” teriak Angkasa disusul tangisnya yang pecah.

Isakan Angkasa menggema beradu tangisan Dara mengeras.

“Itu sama saja kamu menertawakan ragaku yang sudah mati.” Suara bass Angkasa mengalun pedih disusul dentuman tubuhnya ambruk ke lantai.

“Aku sungguh menyanyangimu... Tak ada kata maaf untukku, Angkasa. Aku bahkan merasa lebih dari sampah.” Napas Dara tersengal sama terlukanya.

Langit hitam menggumpal. Bulan memarkirkan motor di trotoar, membawa keranjang masuk ke catering, mengembalikan kunci motor. Bulan lekas pamit.

“Kamu enggak apa, Nak... wajahmu terlihat pucat.”

Bulan tak menjawab.

“Ini untukmu... saya lebihkan untuk ibumu berobat.” Ibu pemilik catering memberi Bulan uang.

Tak berucap terima kasih, Bulan mengantongi uang dan lekas pergi. Sepatunya terseok-seok di kerumunan jalan. Lampu jalan meredup, bintang malam meremang sepanjang perjalanannya hampanya.

“Maaf, Dara. Aku tak ingin menyakiti siapa pun... Aku mau bertemu ibu. Kalau kamu menemui ibumu, ingat pulanglah. Kamar anakmu dingin merindukan ibu yang melahirkannya," ucap Angkasa berderu dengan isak tertahan.

Hhhhhh... terdengar napas Angkasa begitu sesak disusul pintu berderit pun ketukan sepatu menuruni tangga, membawa langkahnya ke bisingnya jalan, diikuti pintu berderit pun keramaian membludak.

“Kamu kenapa ke warung, Angkasa?” tanya ibu terdengar khawatir.

“Angkasa... Angkasa khawatir sama Ibu.” Suara bass Angkasa mengalun lirih beradu derit kursi tergeser.

Langkahan kaki terdengar mendekat.

“Kamu rindu sama kakak ya, Angkasa?” tanya Chandra—kakaknya bersamaan suara kursi berderit, denting piring dan gelas mengetuk meja.

“Iya... Kak.”

Sepatu keruh Bulan terus berpijak di jalanan rusak. Tangannya menyeluk jaket lusuh, menghindari dingin yang seolah mencabik.

Tuk-tuk! Hentakan gelas kian mengetuk meja. Suara cairan tertuang memenuhi gelas. Kian terteguk beradu denting sendok diikuti gertakan gigi mengunyah.

“Terlalu baik dihantui kesedihan, terlalu jahat dihantui rasa bersalah, di tengah pun berasa digantung... Aku pikir selingkuh hanya terjadi di novel. Ah! Ternyata terjadi di hidupku. Apa kakak terlalu baik makanya diselingkuhi, Angkasa?”

“Menjadi baik tak pernah salah... Orang jahat juga berasal dari orang baik yang gelisah, Kak.”

“Selingkuh itu sama seperti kecanduan obat. Awalnya meredakan sakit lalu dosisnya bertambah dan lepas kendali. Ketergantungan. Sekali hisap, mudah untuk hisap lagi... Selingkuh itu penyakit, Angkasa. Jika kamu diselingkuhi Dara, jangan kembali padanya.”

Angkasa tak menjawab.

“Mana anak magang yang sering pulang malam itu, Angkasa?”

Langkah Bulan terhenti.

“Dia... kerja paruh waktu.” Suara bass Angkasa mengalun letih.

“Dia kelihatan suka padamu, Angkasa... wajahnya dingin sekali, kakak selalu merinding melihatnya.”

Angkasa menghembuskan napas. “Aku melihatnya seperti Laras. Mereka dingin karena menahan air luruh dari mata mereka... Ah! aku merindukan Laras, aku tak tenang jika dia kedinginan di surga.”

Sepersekian detik Bulan mematung di hingar-bingar kendaraan melaju. Langkah Bulan berlari di trotoar.

“Terima kasih makanannya, Bu... maaf, Angkasa selalu merepotkan, jaga kesehatan Ibu.”

“Kamu rukun dengan Dara ya.”

“Iya... Ibu.”

Tuk... tuk, langkah sepatu menggema disusul pintu berderit pelan, langkah sepatu itu terhenti.

Hening di antara bising kendaraan melaju.

“Kamu... baru pulang?” Suara bass Angkasa mengalun sesak.

Langkah Bulan terhenti ngos-ngosan. Bulan melepaskan earphone menghampiri Angkasa depan warung chinese, tak berucap apa pun, matanya menatap Angkasa sembari mengatur dada yang bergejolak mengatur napas.

“Untukmu dan untuk ibumu.”

Plastik biru tersodor ke Bulan. Dua bungkus capcay memicu napas Bulan memelan. Sedangkan plastik merah tergenggam erat tangan Angkasa; fuyunghai untuk Dara-mantan istrinya. Angkasa membenarkan selempang tas. Kepala cabang itu berjalan mendahului, Bulan kian menyamai langkahnya.

“Bayu... memukulmu lagi?”

Bulan menggeleng.

Hening membumbung ke langit, beradu angin kencang mengoyak kulit, diterpa termaram rembulan, redupnya menerangi jalan rusak menanjak, memicu langkah terseok, seseorang mengikuti dari belakang.

“Hiduplah seperti remaja seusiamu... tersenyumlah, bicara dengan teman magangmu, kamu pantas mendapatkan hidup layak.”

Bulan kian melangkah.

“Jika kamu memendam perasaanmu... seseorang tak akan tahu apa yang kamu rasakan.” Napas sesak dihembuskan Angkasa.

“Jika mereka berempati seharusnya mereka sadar dari psikologis wajah orang itu... Saya ragu orang akan mau berteman jika tahu saya seorang pembunnuh.”

Angkasa menoleh, untuk pertama kalinya Bulan berbicara panjang. ”Jika kamu melupakannya, orang lain tak akan peduli dengan itu.”

“Apa Bapak mau saya membunuh Bara?”

Langkah Angkasa terhenti. Matanya membulat keruh memandang Bulan.

“Jangan berkata seperti itu... sesama manusia harus memperlakukan selayaknya manusia. Dia bukan hewan, yang boleh dissembelih begitu saja.” Angkasa lanjut melangkah.

Bulan mengikuti langkahnya. “Dia bahkan tak pantas disebut hewan. Hewan masih bisa menolong saat sejenisnya terluka.”

Angkasa menyeluk saku mantel, dingin menyusup kulitnya. “Kenapa kamu membencinya? Padahal kamu belum pernah bicara dengannya.”

“Itu karena Bapak tak suka dengannya.”

Sepatu Angkasa terhenti.

“Saya akan benci semua orang yang Bapak tak suka.”

Angkasa menatap Bulan. Dia membenarkan selempang tas.

“Jangan, jangan membenci orang. Tak ada yang berubah jika kamu membenci seseorang... fokus ke cita-citamu saja, apa cita-citamu?” Angkasa melangkah lekas di depan.

Bulan menyeluk saku jaket, menyamai langkah. “Jika saya terlahir kembali... saya harap saya menjadi batu. Setidaknya batu tak merasa jika ditendang atau dihancurkan.”

Angkasa terdiam mendengar itu.

“Dan jika saya dipaksa harus memiliki cita-cita... saya ingin jatuh tenggelam ke lautan. Hanya menyatu dan tenggelam, tak perlu melakukan apa pun.” Bulan menghembuskan napas, napasnya beradu dengan dinginnya angin.

Angkasa kian menyeluk saku menghangatkan tangan. “Jadi seperti pohon saja. Terus tumbuh, akarmu kuat... Saya dulu juga tak punya cita-cita. Hanya giat dan berdoa pada Tuhan. Siapa tahu saya jadi kepala cabang.”

Bulan kian mengejar langkahnya yang terasa cepat. “Saya pikir saya dan ibu akan mati saat saya berusia 18. Sialnya saya masih di sini... saya benci angka 19, terasa digantung antara remaja dan dewasa. Dipaksa dewasa tanpa ayah, padahal saya masih remaja butuh sosoknya. Saya ingin cepat tua.”

“Saya juga dulu seperti itu... saat saya tua, saya mulai merindukan masa remaja dewasa saya, dan nanti kamu pasti mengingat dan menyukai angka 19 itu. Hiduplah untuk ibumu.” Angkasa terhenti di depan kelokan gang.

"Bapak pasti menyesal jadi orang baik. Kebaikan Bapak adalah hukuman untuk Bapak sendiri."

Angkasa tercenung mendengar itu.

“Masuklah, ibumu membutuhkanmu... saya tak menyesalinya.” Angkasa membenarkan selempang tas.

Cekrek!

Angkasa lanjut berjalan lurus. Sedangkan Bulan masuk ke kelokan gang kosannya.

Rembulan bersinar redup di antara bintang. Seseorang bersembunyi dengan kamera di balik dinding.

   

Bab Sebelumnya....

Bab Selanjutnya....

Comments

Popular Posts