Bab 10 — Saya Merasa Diperlakukan Seperti Manusia (Remang Bulan di Angkasa)

“Katanya kepala cabang antar anak magang pulang ke kosnya.”

“Ih, kok bisa sedeket itu?”

“Pacaran kali.”

Rumor Angkasa dan Bulan sampai ke kantor wilayah. Setelah evaluasi kerja dan rapat beberapa minggu, Kendra dicopot dari posisi deputi karena desakan deputi berkontra. Angkasa dicalonkan mengganti Kendra, ia dipanggil deputi temannya Kendra.

“Kita akan mendukungmu walau kamu ada main sama anak magang itu,” tutur deputi operasional berdiri depan Angkasa.

Angkasa mendesah mendengar ucapan itu. Ia duduk di kursi di ruang tertutup bersama deputi yang mendukungnya untuk persiapan rapat.

“Apa salahnya kepala cabang kita baik... Angkasa menganggap Bulan seperti anaknya dan mengantarnya sampai kos agar aman,” bela deputi operasional dengan logikanya sendiri.

“Hei, mana ada anak tanpa ikatan darah... Pasti ada sesuatu di antara mereka,” koreksi deputi HR.

“Kita bilang saja Bulan kelainan tak suka pria,” lanjut deputi operasional.

Angkasa duduk tak tersenyum.

“Hei, jangan pasang wajah seperti itu, nanti Pinwil mengira kau menyukainya.” Deputi HR menunjuk Angkasa.

Deputi operasional melihat CV Bulan yang berisi foto. “Untung saja dia tak cantik, kalau cantik bisa jadi masalah.”

Siang hari, deputi ke ruang rapat bersama Angkasa. Rumor kedekatan Angkasa dengan anak magang ikut diseret dalam rapat itu. Untuk klarifikasi, Bulan dipanggil masuk ke ruang rapat oleh Pinwil.

“Bulan Purnama... apa benar kamu ada hubungan dengan Angkasa?” tanya Deputi Logistik di sebelah Bara. Mereka ingin menjatuhkan Angkasa.

“Iya...,” ucap Bulan. “Saya menyukai Pak Angkasa.”

Wajah Deputi HR dan operasional panik sedangkan Angkasa terlihat khawatir menatap Bulan.

Deputi logistik tersenyum. “Apa saja yang dilakukan Angkasa padamu?”

Pinwil menatap serius Bulan.

Bulan mendekat pada mikrofon. “Pak Angkasa mengajak saya makan bersama staf lainnya... di saat yang lain tak menganggap keberadaan saya, untuk pertama kali, saya merasa diperlakukan seperti manusia.”

Pinwil mendengarnya seksama sedangkan Bara wajahnya tertekuk keras. Deputi operasional dan HR lega mendengar itu.

“Apa benar Angkasa Putra mengantarmu sampai kosan?” serang deputi logistik lagi.

“Iya memang benar...,” tutur Bulan memicu Deputi HR jantungan. “Kami tinggal di jalan yang sama,” lanjut Bulan membuat jantung Deputi HR memelan.

“Selama enam bulan magang, saya bersyukur magang di sini. Usia saya menginjak dua puluh. Berkat Pak Angkasa, saya tak membenci angka 19 lagi. Saya akan tersenyum setiap melihat logo perusahaan gadai ini... Saya menyukai Pak Angkasa sebagai atasan yang memperlakukan orang dengan baik.”

Usai rapat, Pinwil bangkit dan tersenyum memandang Angkasa. Deputi operasional dan HR tersimpul lebar. Wajah Bara merah padam melihat Pinwil menyalami Angkasa.

“Orang baik akan selalu menjadi terbaik... Saya ingin mengajakmu makan sepulang jam kerja,” tawar Pinwil memandang Angkasa.

Angkasa memandang Bulan yang keluar ruang rapat. “Maaf, Pak... saya ada urusan,” tolak Angkasa.

“Orang baik memang selalu bekerja keras.” Pinwil tersenyum lalu meninggalkan ruang.

Bintang bersinar mengaduk adiwarna malam dengan kelap-kelipnya, bersanding sempurna lampu jalan menerangi kota, menyulap kesibukan kota dengan sejuknya angin di bawah temaram sang rembulan.

Tuk...tuk... Ketukan sepatu Angkasa terdengar dari ponselnya yang tersadap terhubung ke earphone di telinga Bulan.

Bulan memarkirkan motor di trotoar, mengangkat keranjang ikan masuk ke tempat katering. Bulan mengembalikan kunci motor. Ibu katering memberinya uang lalu Bulan berjalan kaki di trotoar.

“Dara, aku dicalonkan jadi deputi.” Angkasa menghembuskan napas menelpon Dara.

“Selamat untukmu... aku turut bahagia, Angkasa.” Suara Dara bercampur serak dan bahagia.

“Jaga kesehatanmu, Dara... pulanglah ke rumah.”

Bermenit-menit mereka bicara tentang kerja lalu panggilan pun ditutup.

Tuk... tuk... Langkah sepatu terdengar memelan di hingar bingar lalu lintas disusul suara pintu berderit, keramaian membludak diiringi denting sendok dan hentakan gelas di meja, beradu berisik cengkerama.

“Ibu... Angkasa dicalonkan jadi deputi.”

“Ibu bangga padamu, Nak... ibu dengar dari Kak Chandra kamu berkonflik lagi dengan Dara ya?”

Angkasa tak menjawab.

“Jika hubungan kalian sudah retak, jangan dipaksakan lagi... itu sama seperti merekatkan kaca pecah sampai tangan terluka. Kalian berdua akan saling tersakiti tanpa ada suara. Ibu tak akan sedih saat kalian berpisah.”

Tak ada suara dari Angkasa, hanya hentakan gelas di meja, beradu denting sendok dan suara mengunyah. Angkasa mendesah pelan disusul hentakan gelas mengetuk meja.

“Ibu lihat anak magang yang sering pulang malam lewat sini?”

Langkah Bulan terhenti mendengar itu.

“Anak magang yang mana, Angkasa?”

“Anak magang yang pakaiannya berantakan... yang wajahnya cantik.” Suara bass Angkasa mengalun letih ke telinga Bulan.

Sepersekian detik Bulan mematung di hiruk-pikuk lalu lintas, lekas Bulan berlari di sepanjang trotoar.

Tuk...tuk, suara ketukan sepatu disusul pintu berderit pelan, membawa langkah bertemu bising kendaraan.

“Jaga kesehatanmu, jangan sampai kelelahan, Angkasa.”

“Terima kasih makanannya, Bu... jaga kesehatan ibu juga. Maaf Angkasa selalu merepotkan.”

“Oh, itu dia, Angkasa... anak magang yang wajahnya cantik.”

Langkah Bulan terhenti dengan napas berderu.

"Ibu mau lanjut masak... kamu hati-hati di jalan, Angkasa.” Suara ibu mengalun teduh disusul pintu berderit.

Dada Bulan bergejolak mengatur napas.

Hening di antara bising lalu lintas.

Angkasa menoleh bersitatap dengan Bulan yang terengah-engah.

“Kamu... baru pulang?” Suara bass Angkasa merambat lelah di telinga Bulan.

Bulan melepas earphone menghampirinya. Plastik kuning tersodor ke Bulan berisi capcay. Plastik kuning lain digenggam Angkasa berisi fuyung hai untuk Dara—mantan istrinya. Angkasa berjalan mendahului.

“Kamu pintar bicara... Saya tak sebaik dirimu dalam bicara.” Angkasa melangkah pelan, menunduk menatap plastik kuning di tangannya.

Bulan berjalan di sebelahnya. “Setidaknya Bapak adalah orang baik... Sungguh. Bapak orang baik.” Suara Bulan mengalun pelan.

Langkah Angkasa terhenti. Bibirnya tersenyum. Matanya menatap Bulan sejenak. Ia mengalihkan pandangan saat matanya berkaca-kaca.

“Saya bersungguh-sungguh....” Bulan memegang erat plastik kuning. “Untuk pertama kali dalam seumur hidup, saya merasa diperlakukan seperti manusia. Berkat Bapak saya menyukai umur 19 saya... Jika saya terlahir kembali, saya harap menjadi pohon yang bisa tumbuh tinggi seperti ucapan Bapak.”

Langkah mereka memelan menaiki tanjakan rusak, memasuki kelokan ke kelokan, di antara tiang lampu jalan bersinar indah, cahayanya seolah menyatu dengan rembulan yang tampak begitu besar.

Bulan menoleh melihat langkah Angkasa yang terasa pelan. “Kenapa Bapak jalannya lambat, tak seperti biasanya?”

“Karena tak dingin.”

Bulan melihat plastik kuningnya. “Saya kira Bapak jalan lambat karena mulai nyaman dengan saya.”

Langkah Angkasa terhenti. Ia menatap Bulan di mata, lekas ia membenarkan selempang tas dan melangkah lebih cepat, Bulan kembali menyusul langkahnya yang cepat.

“Terima kasih... kamu pantas mendapat ucapan terima kasih.” Angkasa menghembuskan napas setiba di depan kelokan gang.

Bulan tersenyum getar, matanya berkaca-kaca. “Dulu... Bayu sering gendong ibu saya saat dipukuli ayahnya. Setelah saya menikkam ayahnya, Bayu mulai menyiksa saya. Matanya berkilat dengki karena tak bisa meredam rasa suka bercampur amarah.”

Angkasa terdiam mendengar itu.

“Bapak orang pertama yang menolong saya berkali-kali.... Apa saya boleh memeluk Bapak untuk terakhir kali? Untuk memberi dukungan.”

Hening. Plastik kuning di tangan Angkasa mengerat.

“Jangan... saya sudah merasa terdukung....” Angkasa membenarkan selempang tas. “Jaga... kesehatanmu.”

Angkasa berjalan lurus. Sedangkan Bulan memasuki kelokan gang, masuk ke rumah kosannya, menaiki tangga, langkah Bulan terhenti saat bertemu Bayu dengan kamera.

“Kau tak kerja? Kenapa anak magang sibuk romansa dengan kepala cabang?” Bayu tersenyum dengki menunjukkan foto-foto Bulan berjalan bersama Angkasa. “Apa aku harus mengirim bukti ke cabangmu?”

Bulan lanjut menaiki tangga. “Hutangku sudah lunas, pasti kau tak punya pelanggan lain untuk ditagihi utang.”

“Aku ke sini untuk bertemu denganmu....” Bayu mengikuti Bulan di belakang. “Tangga kosanmu mengingatkanku saat aku harus menggendong ibumu, menaiki tangga gang rumahmu dulu.”

Langkah Bulan terhenti mendengar itu.

“Saat kabur dari ayahku yang terus menyiksa ibumu... saat itu aku bingung antara harus membunuh diriku atau ayahku sendiri untuk menghentikan penderitaanmu.”

Sepersekian detik Bulan mematung mendengar itu, ia lanjut menaiki tangga.

“Enyahlah... aku sudah tak punya hutang denganmu.”

Bintang bersinar terang di langit hitam. Bulan masuk ke kamarnya sedangkan Bayu mematung di tangga dengan dengki beradu isakan teredam.

  

Bab Sebelumnya....

Bab Selanjutnya....

Comments

Popular Posts