Bab 9 – Jaga Kesehatanmu (Mati Rasa dalam Pelukan Tanpa Nama)
“Ayah dan Ibu di surga. Umur Ara sekarang tiga puluh tujuh tahun. Terima kasih sudah memberikan Ara umur panjang.” Kakak berdoa di hadapan foto Ayah dan Ibu.
Dua potong kue terhidang di depan foto. Kak Ara
menyuapiku, mengelap krim putih yang menempel di bibirku. Saat Kakak mundur,
mataku langsung bertemu Pak Orion. Tak hanya menyuapiku, Kak Ara menyuapi mesra
suaminya. Tawa Pak Orion menari-nari kala krim tumpah ke kemejanya. Mengelap
satu jari lantas dijilat.
Segaris senyum terplester di wajahku.
Beberapa hari lagi aku akan berangkat ke Amerika.
Semuanya terasa dekat dan hangat. Namun, tatapan itu tak pernah lenyap.
Bagaimana cara menghapusnya? Andai saja ada mesin penghapus memori, aku yang
akan pertama membeli.
“Gimana rasanya kuliah di luar negeri?” Suara bariton
mengalun di telinga, mengundang leherku tertekuk untuk bersitatap dengan
matanya.
“Ya rasanya kayak kuliah,” sahutku dengan nada jenaka.
Tanganku saling menggosok di dalam saku, mencari kehangatan.
Pak Orion terduduk di sampingku, di sebelah pot-pot
bunga yang menghiasi teras. Senyumannya mengembang teduh, tersisir angin yang
menyibak poninya. Menyulut garis-garis di bibirku mesam-mesem sendiri. Ah! Aku
sudah dewasa. Namun, aku tetap tak bisa menahannya.
“Neurosains belajar tentang apa saja?” tanyanya
penasaran, kala matanya menatap lekat bintang di langit. Titik kecil putih,
tapi sangat indah saat berhamburan di antara hitam. Kenapa bisa begitu?
Aku membenarkan posisi duduk. “Tentang otak,
neurosains molekuler dan seluler, kognitif, perilaku, klinis,... farmakologi
saraf.” Aku menyebut semua yang bisa kusebut. Tak bisa berhenti, apa aku
terlalu happy?
“Kamu paling suka tentang apa?”
Aku paling suka pertanyaan ini. “Karina paling suka
tentang neurosains molekuler dan seluler.” Aku menatap matanya, antusias
memberitahunya tentang otak.
“Saat dekat dengan orang yang disuka, dopamin membuat
berdebar, norepinefrin menajamkan siaga, dan oksitosin memberi rasa hangat
tanpa izin logika. Karina suka saja cari tahu tentang kenapa manusia bisa
senang, sedih, maupun bergairah.” Tersenyum gigi menatap binar matanya yang
lekat, aku tersadar aku terlalu oversharing.
Kutatap pepohonan di depan lalu tersenyum kikuk.
“Kamu sudah tahu kesukaanmu sekarang ya, enggak
seperti dulu kamu jawabnya enggak tahu.”
Aku hening, tak bergerak. Dia masih mengingat ucapan
bocah tujuh belas tahun. Kini usiaku dua puluh dua. Sudah berapa tahun itu? Ah.
Lima tahun.
“Berarti sebelas dua belas dong sama biologi?”
tanyanya membuatku mengangguk, mengiyakan.
Tangannya memegang lantai teras. Matanya terus menatap
bintang di atas. Ia mengembuskan napas. “Kalau kita buat tim untuk lomba, pasti
kita menang.”
Menoleh, mata kami bersitatap. Tak sengaja, mataku
menatap bibirnya. Tercekat, napasmu memberat. Aku meneguk ludah, kala ia
membenarkan posisi duduk. Bahunya sempat bergerak ragu. Matanya menatap
bibirku. Jakunnya naik-turun. Dadanya juga, pun dengan dadaku.
“Kalian belum tidur?”
Terkejut, seperti tertangkap basah melakukan
kejahatan, aku berdiri. Pak Orion juga. Ia mengusap-usap tangan dan wajah.
Bibirnya beberapa kali terjilati ludah. Seolah bibir itu kering mencari
kelembapan.
“Kenapa kalian belum tidur?” tanya Kak Ara ulang,
menatapku dan Pak Orion secara bergantian.
“Nungguin Kakak,” sahutku tenang, walau seinci tubuhku
membeku seperti terhantam angin.
“Oh....” Kakak tersenyum masih menatapku dan Pak
Orion. “Kalian seharusnya tidur, nanti kalian masuk angin.” Kak Ara menaiki
tangga teras, melewatiku yang masih membeku, pun Pak Orion yang garuk-garuk
kepala, entah apa ada yang gatal?
Aku mengekori Kak Ara, diikuti Pak Orion di belakang.
Sepatu terlepas dari kakinya. Ransel Kakak begitu
berat menggantung di punggung. Jaket tebal membalut tubuhnya dari koyakan
angin. Kak Ara menaruh ransel di sofa, disusul jaket bludrunya terlampir di
atas. Berjalan ke dapur mengambil air, Kak Ara minum masih menatapku dan Pak
Orion bergantian.
“Kalian tidur saja, kenapa masih di sini?” tanya Kakak
kala hentakan gelasnya menyentuh meja. Namun, aku dan Pak Orion tetap berdiri
canggung di ruang tamu.
Kak Ara masuk ke lorong. Langkahan kakinya menaiki
tangga terdengar. Aku dan Pak Orion saling tatap. Entah apa isi pikirannya. Tak
ada suara selain langkahan kaki Kakak memenuhi ruangan. Disusul suara gesek di
lantai lalu diakhiri dengan gedebruk.
Spontan aku dan Pak Orion berlari ke lorong. Terkejut,
aku langsung menelepon dokter. Pak Orion panik menggendong Kakak.
⋆。 ゚ ☁︎。 ⋆。⚛︎ ゚ ☾ ゚ 。 ⋆
Kak Ara terpleset dan terjatuh di tangga. Tubuhnya
bergulir cepat, berhenti di anak tangga terakhir. Dokter telah memeriksa Kakak
dan Kakak tak sadarkan diri. Kepalanya mengalami cedera. Pak Orion termangu di
luar kamar RS, pun denganku.
Aku menggigit jari. Seharusnya aku tak pernah pulang
dan kembali. Aku telah mengecewakan berkali-kali, dan kini kuulangi lagi. Aku
bahkan merasa tak pantas hidup di muka bumi.
Seharian kami menunggu, hingga Kakak meraih
kesadarannya. Kepala Kakak diperban. Matanya termenung menatap jendela. Pak
Orion masuk ke kamar dengan wajah pucat. Aku menunggu di luar, menatap lewat
celah pintu.
“Kamu baik-baik saja?” Pasi wajah Pak Orion walau
bibirnya tersenyum, mencoba menenangkan.
Menarik matanya dari jendela, Kakak tersenyum, menatap
Pak Orion. “Iya, aku baik-baik saja.”
“Rekan psikiatermu datang tadi, membawakan bingkisan
dan bunga.”
Kakak mengangguk. Berdiri, Pak Orion menatap lekat
Kakak. Kakak menunduk.
Bersitatap, Kakak bicara, “Mari kita hentikan.”
Pak Orion termenung.
“Kita akhiri sampai di sini.”
Mereka saling memandang.
⋆。 ゚ ☁︎。 ⋆。⚛︎ ゚ ☾ ゚ 。 ⋆
“Ini surat perceraian. Aku sudah tanda tangan. Sisanya
giliranmu,” ucap Kak Ara di ruang tamu. Aku terisak di kamar mendengar mereka.
Terdengar suara kertas tergesek di meja.
“Aku menyayangi adikku sama seperti aku menyayangimu.
Aku tidak bisa menahanmu sendirian...,” suara Kakak terdengar bergetar. “Kita
sama-sama menghukum diri kita sendiri dengan berpura-pura bahagia.”
Terdengar suara kursi berderit. Diikuti langkahan
kaki.
“Sungguh, aku hanya ingin dirimu baik-baik saja,” ujar
Pak Orion pelan.
“Sungguh, aku baik-baik saja.” Kakak menutup pintu
perlahan.
⋆。 ゚ ☁︎。 ⋆。⚛︎ ゚ ☾ ゚ 。 ⋆
Pelukan Kakak terurai kala hiruk pikuk bandara
memadati. Kakak menatap mataku lekat, tangannya mengusap lembut poniku.
“Maafkan Kakak, Dik. Kakak enggak bisa menjadi kakak
yang terbaik.” Kakak mencium keningku.
Perlahan, aku menjauh. Menjauh hanya mengisi kertas
dengan lem kerinduan. Menarik benang semakin lengket bahkan tak mampu
terlepaskan. Pilihannya hanya dua, membiarkan kertas itu menempel dan merusak
benang, atau menggunting ikatan tali sampai ke seratnya. Begitulah hubunganku
dengan Pak Orion. Aku harus melepaskannya.
Tangan melambai di antara sekeliling bergerak pesat.
Ayah dan Ibu di surga, maafkan aku. Aku tak sempat mampir ke pusara untuk yang
terakhir kalinya.
⋆。 ゚ ☁︎。 ⋆。⚛︎ ゚ ☾ ゚ 。 ⋆
Tiga bulan berlalu....
Malam sedang gelap-gelapnya. Bulan bersinar terang di
jendela. Aku rebahan di kasur kala teman sedormku memutuskan untuk jalan-jalan.
Ponselku bergetar, ada telepon dari Kakak.
“Kak? Kakak di mana?” tanyaku mendengar suara angin
kencang di telepon.
“Kakak lagi di jalan, Dik. Dekat pantai... gimana
kabarmu di Amerika?”
“Baik, Kak. Kakak gimana?” Aku bangkit, mengambil earphone,
mencolok di ponsel lalu memeluk erat bantal.
“Kakak rindu sama semuanya, Dik.”
“Iya, Karina juga.”
Kudengar langkah kakinya berhenti, kala suara ombak
memenuhi telinga. “Sebentar, Dik. Kakak putus teleponnya ya, Kakak lihat
seseorang.”
Aku mengangguk walau tak dilihat. Aku mengembuskan
napas, merebahkan badan di kasur, menatap langit-langit kamar.
“Apa kabar?”
Terenyuh, aku terkejut. Suara bariton yang kukenal
menyapa lewat telepon. Pak Orion.
“Baik, bagaimana denganmu?” tanya Kakak, sepertinya
Kakak lupa menutup teleponnya.
“Baik.”
Suara langkahan kaki melangkah disusul desiran air
mengeras.
“Menurutmu... Apakah kita akan baik-baik saja jika
kita tak bertemu?” tanya Kakak pelan.
Pak Orion tak menjawab.
“Aku rasa tidak,” sahut Kakak.
Suara gemericik hujan membasahi terdengar.
“Aku tidak menyesal pernah hidup bersamamu,” gumam
Kakak.
Hening sejenak, Pak Orion pun berbicara, “Sungguh, aku
bersyukur... kuharap kamu mengingat yang baik saja.”
“Selamat tinggal.”
“Jaga kesehatanmu, Ara.”
⋆。 ゚ ☁︎。 ⋆。⚛︎ ゚ ☾ ゚ 。 ⋆
Comments
Post a Comment