Bab 8 – Langit Biru Terang (Mati Rasa dalam Pelukan Tanpa Nama)

"Ibu, Ayah, aku sudah lulus dan sekarang sarjana neurosains.” Aku memeluk pusara ayah dan ibu.

Dimas mengusap air mata yang menetes di pipiku, menepuk pundakku pelan, tak melepaskan sedikit pun.

“Maafkan aku yang terlambat menempuh kedokteran, Ibu. Semoga Ibu dan Ayah tetap tenang di surga.”

Berangsur-angsur awan berembus bersama mentari. Menyejukkan lili yang tersimpul tergeletak manis. Bersanding sempurna dengan mawar merah pun melati. Tanah cokelat memeluk sendu rerumputan. Aku menyentuh nisan, menatap ke atas. Langit berwarna kesukaan. Ah. Biru terang.

Mobil melaju pelan meninggalkan kuburan. Kutatap sepatuku, keruh bercampur tanah kecokelatan. Dimas menyetir tenang, sedangkan aku melihat jendela. Kuhitung satu per satu mobil yang terlewati. Begitu pesat, kuharap hariku berlalu cepat tak berarti.

Setiba di rumah, koper-koper pun dikeluarkan dari bagasi. Aku mengetuk pintu pelan, menyiapkan hatiku untuk bertemu kakak. Termasuk Pak Orion. Jantungku berdetak. Napasmu bergejolak. Tangan terasa basah, pun bibir berkedut tak karuan. Hingga pintu terbuka, spontan senyumku mengembang.

“Adik!” Kak Ara terkejut, matanya berbinar.

Pelukan langsung berhamburan dalam sekali tatap. Sudah empat tahun lamanya tak bertemu. Terakhir bertemu saat usiaku delapan belas, sekarang aku dua puluh dua, aku sudah dewasa.

“Kakak rindu banget sama adik.” Peluk kakak begitu erat. Mataku perjam di pelukannya.

“Aku juga rindu kakak.” Napasmu memberat.

Pelukan terurai, aku menatap kakak lekat. Tiba-tiba suara ketukan sepatu, terburu-buru menuruni tangga, mencuri atensiku. Napasmu terasa memelan. Tanganku memegang pundak kakak erat.

Pak Orion. Sosok guru sekaligus kakak ipar yang menemani masa remajaku, matanya membulat kala bersitatap denganku. Menyulut bibirnya terangkat begitu sempurna. Membumbung rasa haru dan bahagia tak bisa bersembunyi. Terbius waktu yang terlewati, jatuh tak terucap dalam sunyi saling tatap.

Tak ada yang berubah dari dirinya. Sepatu hitam, kemeja putih, pun celana hitam yang sama terpadu sempurna dengan rambut comma-nya. Wajah teduh tersinar cahaya wibawa. Hanya garis-garis yang mempertegas wajahnya. Sama sepertiku, rambutku masih pendek seperti dulu, hanya tinggiku saja yang berubah.

“Karina?” satu kata mencelos dari bibirnya. “Apa kabar?” Dia masih bisa menyapa hangat.

Gugup, entah kenapa bibirku terasa bergetar. “Baik, Pak.”

Dia tak mendekat, sepatu hitamnya terhenti tepat di depan tangga. Spontan, sepatu keruhku mundur selangkah.

Ragu untuk berucap lagi, bibir kian tertutup sempurna. Tak perlu berpelukan, kami terasa saling merengkuh hanya dengan menatap mata. Sungguh, ini terasa menyakitkan.

“Kamu kapan pulangnya, Dik? Kenapa enggak bilang, kan kakak jemput di bandara?” sela kakak, menghentikan adegan saling tatap yang tak berarti.

Aku kikuk. “Kemarin, Kak.”

“Loh, kamu menginap di rumah siapa?”

“Di rumah Dimas, ada keluarganya.”

Nama yang tersebut langsung unjuk gigi, dan salim meminta restu. Padahal kami tak ada tembak-tembakan atau teman tapi mesra. Kenapa bocah petakilan itu tumben sopan sekali?

Cangkir teh panas menemani roti dingin di meja. Serbet sebagai andalan jika ada yang tumpah. Kami terduduk di ruang tamu, membicarakan tahun-tahun yang sudah lama tak dibagi.

“Kamu jurusan apa, Dimas? Kakak selalu lupa tanya itu,” tanya kakak sekadar basa-basi dengan pria yang memberiku tumpangan.

“Dimas lulusan chemistry, kalau sekarang masuk medical school sama kayak Karina. Spring ini sudah mulai kuliah lagi,” sahut Dimas sambil cengir kuda. Entah ada apa dengannya. Apa dia suka kakakku?

“Oh, berarti dorm kalian deketan lagi ya?”

“Iya, hehe.”

Obrolan mengalir di antara kakak dan Dimas. Cangkir kakak dan Dimas masih penuh. Sedangkan cangkirku dan Pak Orion tandas. Padahal tehnya hangat, apa cuaca terasa panas? Kenapa kami kehausan?

Kelap-kelip bintang menyelimuti rembulan. Dibasuh manja kesiur angin berembusan. Burung-burung gereja saling merengkuh di pepohonan. Mengicaukan pesan nostalgia dan kerinduan.

Sekolah mengadakan acara tahun baru dan Natal bersamaan. Setelah makan-makan bersama di aula, acara dilanjutkan ke pantai. Banyak sandal tercecer di lantai. Untung sandalku tak hilang. Aku memakai sandal lalu mencari Maya.

“Naik, Na!” ajak Maya dengan Scoopy-nya. Perempuan berkacamata itu membenarkan helm bogo-nya.

Tiba-tiba saat aku mau naik, tubuhku didorong. Dion, si tersangka buru-buru naik dengan kaki nyeker. Sepasang sandal tergenggam tangannya.

“Jalan, May. Cepat!” Dion menepuk-nepuk pundak Maya.

“Apa-apaan, aku kan bonceng Karina,” Maya nyolot.

Perempuan berbadan ramping itu menggoyang-goyangkan Scoopy-nya, agar Dion turun. Namun, pria kerbau itu malah menarik gas, hingga motornya loncat dan melaju kencang. Disusul Vespa Dimas yang melompat datang. Wajahnya merah padam, seperti mau meledak.

“Dion anying! Ngapain nyuri sandalku!” teriaknya, memanggil Scoopy yang ngebut oleng di jalan lurus. Sandal jepit di kakinya sanglir.

Tak sengaja, aku ngakak. Kututup mulutku, hidungku kembang-kempis menahan tawa.

“Terus kamu pakai sandal siapa?” tanyaku penasaran.

“Ya nyurilah! Cepat naik, sebelum aku ditangkap polisi.”

Helm Pororo dipakaikan paksa ke kepalaku, tak bisa mengendarai motor, mau tak mau aku boncengan dengannya.

Gemerlap lampu pertokoan, biru-keunguan memantul di sepanjang pelataran. Berpadu indah dengan lampu jalan, kemuning-jingga yang mengisi malam. Angin berembus kencang, rasanya aku ingin terbang. Mobil-mobil bergerak begitu pesat, membuatku ingin terpejam erat.

“Satu. Dua. Tiga. Selamat tahun baru dan hari Natal!”

Warna-warni kembang api memenuhi langit, senada pohon Natal berkelip indah. Berhamburan puing-puing tawa di sela angin menari, menerbangkan helaian rambutku, pun mata berbinar senang. Tiba-tiba lengan Dimas mengalung di pundakku disusul interupsi telepon berdering.

Aku menjauh, mengecek siapa yang menelepon.

“Selamat tahun baru, Dik.”

“Apa, Kak? Enggak kedengaran.”

“Selamat tahun baru, Dik,” kakak berteriak, aku tertawa.

“Iya, Kak. Selamat tahun baru juga buat kakak.”

“Hati-hati ya pulangnya.”

“Iya, Kak. Kakak jangan begadang juga di RS.”

“Kakak tutup dulu ya, ada pasien.”

Aku mengangguk, meskipun tak dilihat.

“Siapa?” tanya Dimas, memandangku dengan penuh tawa.

“Kakak.”

“Hah?” Alisnya terkerut sempurna.

Aku berteriak di telinganya. “Kakakku!”

Dia cengir kuda.

Ponselku bergetar. Sebuah pesan menggantung di layar.

‘Selamat tahun baru... Karina.’

Mata memicing, membaca pengirim. Pak Orion.

Jantungku meledak seperti petasan.

Bab Sebelumnya.... 

Bab Selanjutnya....

Comments

Popular Posts