Epilog
Setahun kemudian....
Malam yang hitam, ruko-ruko Chinese terjejer rapi. Semburat cahaya kuning menyala terang. Salju berjatuhan disusul angin terbawa taksi kencang. Aku datang ke rumah duka temanku. Keramaian dengan pakaian hitam memenuhi.
Satu di antara puluhan orang, tak sengaja mataku bertemu dengan seseorang. Dia menatapku di antara orang-orang yang berpelukan mengucapkan duka. Pak Orion, dengan baju tebal hitam-hitam, berdiri terdiam menatapku, sama sepertiku.
Kami berjalan di jalanan sepi. Jembatan di sebelah sungai. Langkah kami bersisian pun terhenti.
“Bapak kenapa di China?” tanyaku membuka percakapan.
“Bapak kuliah neurosains sama sepertimu. Mengejar cita-cita belum terlambat, bukan?” ungkapnya, bibirnya tersenyum di balik balutan syal hitam yang menghangatkan pipinya. Napasnya kian terembus terekam memoriku.
“Sebenarnya ada banyak kata dan maaf yang Bapak ingin ucapkan,” ucap Pak Orion memandang mataku.
Aku memeluk saku, mencari kehangatan.
“Bapak menyukaimu. Bukan perasaan cinta karena Bapak sadar Bapak tidak boleh memiliki.”
Aku tergugu.
“Bapak menyukaimu saat menghabiskan waktu terduduk dan bicara denganmu, saat terduduk dan melihat bintang denganmu, saat niat baikmu menenangkan Bapak di hari meninggalnya Ayah.”
Aku mengembuskan napas.
“Bapak hanya berharap saat ada yang berduka, kamu tetap menelepon. Begitu pun sebaliknya, Bapak harap kamu tetap membantu Bapak di saat berduka, seperti dulu.”
Aku meneguk ludah.
“Bapak minta maaf jika Bapak pernah melewati batas dan membuatmu tidak nyaman.”
Aku mengeluarkan tangan dari saku. Sarung tanganku kian terkepal erat. “Pak... apa boleh Karina memeluk Bapak untuk yang terakhir kali?”
Ia terdiam. Sepatu hitamnya tetap di tempat. Sepatu hitamku mengikis jarak.
Langit hitam terpenuhi bintang. Terang pertokoan tinggi bercahaya kuning bersinar. Salju berjatuhan kala tanganku menyentuh punggungnya. Terbalut jaket tebal bludru mengikat hangat. Kesiur angin dibawa taksi seolah mencabik-cabik kulit, mengirim dingin tak terobati. Daguku terbenam di pundaknya. Meresapi detik demi detik yang terhabisi. Perlahan, tangannya menepuk punggungku. Mataku terpejam di pelukannya.
"Selamat tinggal."
"Jaga kesehatanmu... Karina."
Mengurai pelukan, kami saling berpisah tanpa menoleh ke belakang. Ternyata berdamai dengan diri sendiri tidak harus dengan cara mengekang.
Ponselku bergetar, sebait pesan menggantung di layar.
‘Jadi kita bebek-bebekan?’
Mata memicing, melihat pengirim, Dimas.
Kutekan lama pesan, kuberi emoji suka.
⋆。 ゚ ☁︎。 ⋆。⚛︎ ゚ ☾ ゚ 。 ⋆
Season lanjutan novel ini dihapus karena akan dicetak. Ditunggu ya bukunya<3 Terimakasih banyak sudah membaca, mohon saran dan dukungannya di kolom komentar, kalau suka boleh dishare link ceritanya ya, semangat selalu semuanya<3
Comments
Post a Comment