Bab 7 — Semua Akan Baik-Baik Saja (Remang Bulan di Angkasa)
“Astaga, Angkasa! Bulan membunuh saat masih SMA,
kenapa kamu kenal orang seperti dia?” Dara terisak, disusul suara kertas
dibalik yang mengalun ke earphone Bulan.
Mata Bulan memerah, tangannya penuh busa mencuci
piring prasmanan.
“Dia anak magang di cabangku....” Ngebass Angkasa
mengalun lirih. “Dia... orang baik. Dia hanya melindungi ibunya. Ibunya disiksa
rentenir dan hampir meninggal saat itu.”
Tangan Bulan terhenti menggosok piring. Mata merahnya
mengembun. Tak ada kata bersahutan, hanya ada isakan Dara yang tertahan.
“Kenapa kamu cari riwayat kepolisiannya, Angkasa?”
Hening lagi, hanya suara televisi yang samar memenuhi.
“Ada yang menjebakku dengan gratifikasi emas. Bulan
mengambilnya dan besoknya dikembalikan saat aku dipanggil Tim Area. Dia
menolongku....” Angkasa mendesah pelan. “Aku cek di sistem gadai, emas itu
logistik cabangmu yang diotorisasi Bara.”
Dara hening tak menjawab.
“Setelah itu Bayu memukulku dan bilang emas itu dicuri
Bulan untuk bayar utang, tapi Bulan kabur saat ketahuan mencuri... Kutanyakan
Komang, Bulan disiksa dari kecil karena tak bisa bayar utang. Dari situ aku
kasihan dan mencari tahu tentangnya,” lirih Angkasa.
Dara kian terisak tertahan.
“Harusnya kamu jauhi dia setelah kamu tahu riwayat
kepolisiannya... kamu tak akan dipukuli rentenir dan lebam separah ini,” ucap
Dara serak disusul suara kursi berderit.
Angkasa meringis kesakitan. “Enggak apa-apa, aku sudah
terbiasa terluka.”
Bulan menaruh piring bersih ke kotak besar, lalu
mencabut rice cooker. Alat masak itu diletakkan di sebelah ibu yang
duduk terisak di kasur tipis. Di sampingnya ada kotak ikan, botol air, dan
obat. Bulan mengambil plastik biru.
'Ibu, Bulan pamit magang.' Tangan Bulan bergerak pelan
memberi isyarat.
'Ibu kasihan lihat kamu luka... kamu enggak apa-apa,
Nak?' tanya ibunya dengan bahasa isyarat.
'Ibu jangan khawatir.'
Mentari merangkak naik di khatulistiwa. Bulan
mengendarai motor pelan hingga terparkir di trotoar. Bulan melepas tali yang
mengikat kotak, membawanya masuk ke catering, lalu mengembalikan kunci
motor pada pemiliknya.
“Beruntung kamu enggak luka parah, Nak... ini uang
untuk kamu, terima kasih sudah mau bantu Ibu.” Pemilik catering
memberinya uang.
Bulan berjalan kaki ke terminal GOR. Ia membuka mobile
banking dan membayar lunas utangnya ke Bayu. Plastik biru mengerat di
genggamannya. Ia termenung menunggu bus Sarbagita di hiruk-pikuk halte.
'Dia... orang baik,' suara Angkasa terngiang di
kepalanya.
“Kamu... baik-baik saja?”
Bulan menoleh. Angkasa berdiri di sebelahnya sembari
membenarkan selempang tas. Bibirnya terluka, dagunya pun lebam. Bulan
mengulurkan plastik biru itu kepada Angkasa.
“BPJS Ibu.”
Ragu-ragu, Angkasa menerima plastik itu. “Berapa...
utangmu?”
“Sudah lunas.”
“Kamu serius?”
“Tanya Bayu.” Bulan menatap tanaman terulak yang tak
kunjung mekar.
Angkasa menatap tangan Bulan yang berdarah. “Kalau
kamu dipukul sama dia lagi, lapor ke POLDA. Cari Baskara, dia teman saya.”
Bulan tak menjawab.
Woosh!
Bus tiba di hadapan mereka. Satu per satu penumpang masuk. Angkasa berdiri di
sebelah Bulan, tangannya memegang erat handle bus. Hening selama
perjalanan. Mereka turun di seberang BI.
‘Menyalakan cahaya harapan untuk generasi emas
Indonesia.’ Bulan menatap baliho BRI saat berjalan menuju tempat gadai.
“Pagi, Pak...,” sapa Feri saat Angkasa dan Bulan
memasuki cabang. "Astaga, Pak! Bapak kenapa lebam?"
“Cuma kesandung dan jatuh. Saya enggak kenapa-apa...
HPS sama HDE sama kayak kemarin, Fer.”
“Siap, Pak... tapi saya kasihan sama Bapak. Saya juga
pernah kesandung lihat kuning emas, eh taunya kuning sapi. Injak tahi pertanda
bagus lho, Pak. Besoknya saya kesandung dan jatuh hati lihat cewek cantik.”
Krik dar!
Feri nyengir kuda, sedangkan Angkasa tidak fokus. Matanya berkerut letih.
Angkasa dan Bulan masuk ke lorong loker. Bulan menuju
bilik pelayanan, sementara Angkasa membuka plastik biru yang berisi sepatu
baru. Angkasa menunduk melihat sepatu usang pemberian Dara. Loker tertutup
sempurna.
“Kok EDC-nya enggak mau hidup ya?”
Bulan menghampiri Feri, mengetuk EDC itu dengan keras
ke meja hingga Feri risih. Seketika layar menyala.
“Eh, kok hidup sih?” Feri menggaruk tengkuk, menatap
Bulan yang pergi ke belakang.
Bulan mengambil surat gadai nomor 3919, 1919, dan 3939
di lemari. Karcis yang ditemukan di mobil Bara keluar dari sakunya. Bersamaan
dengan itu, Angkasa ke bilik pelayanan mengambil berkas KPI, lalu masuk ke
ruangannya.
‘3919, 1919, 3939. 3 September, 1 September, 3
September.’ Tanggal karcis dan surat gadai itu sama.
Angkasa termenung melihat surat gadai di mejanya,
bersanding dengan karcis restoran dan struk rumah makan atas nama Bara dan
Dara. Angkasa meneguk ludah lalu mengangkat ponselnya yang berdering.
“Iya, saya ke sana, Pak,” ucap Angkasa lalu meletakkan
ponselnya untuk mengisi daya.
Bulan melihat Angkasa keluar tempat gadai. Lekas Bulan
menelepon ponsel Angkasa dari ponsel barunya sebanyak tiga kali. Ia berjalan ke
bilik Angkasa, mencabut charger, lalu berlari menghampiri sang manajer.
“Telepon.” Bulan menyerahkan ponsel tersebut.
Angkasa menatap layarnya; ada tiga panggilan tak
terjawab dari nomor asing. Ia menatap sejenak Bulan yang masuk kembali ke
cabang, sebelum akhirnya berangkat ke Kantor Area.
☾ ☾ ☾
Mentari bersinar terik. Lapangan Renon membludak
karena ada festival. Selagi anak magang lain menyebar brosur, Bulan memasang earphone
di telinganya. Ia menaruh brosur di tiap stan sambil menguping.
“Sehabis cek logistik, logam mulia itu benar atas
suruhan Bara,” ucap Kendra, Deputi Bisnis kedua.
Bulan menguping percakapan Angkasa dan Kendra melalui
sambungan ponsel yang tersadap.
“Ah! Setelah memecat Bara atas dasar politik
gratifikasi, saya tak sabar jalan-jalan ke Hawaii. Sudah sebulan lebih saya tak
ke sana....” Bariton Kendra menggema. “Kau harus jadi Deputi gantikan Bara.”
Bulan terhenti sejenak, melihat baterai ponselnya sisa
5%. Ia menyambungkan powerbank di sakunya.
Lama tak ada jawaban. “Saya cukup jadi Kepala Cabang
saja, Pak,” tutur Angkasa pelan.
“Dasar kamu, selalu begitu. Kalau kamu mau membasmi
tikus, kamu harus ada di atas. Kalau kepala lurus, ekor pasti lurus... Saya mau
ketemu Pinwil sekarang. Kamu hati-hati, awas ada yang mengikuti,” tegas Kendra.
Angkasa hanya mendesah pelan.
Lekas Bulan menyimpan percakapan mereka, memotong
durasi rekaman, lalu membagikannya ke WhatsApp Bara.
‘Ah! Setelah memecat Bara atas dasar politik
gratifikasi, saya tak sabar jalan-jalan ke Hawaii.’
'Aku sudah melakukan pekerjaanku,' ketik Bulan
singkat.
Bulan balik ke cabang bersama anak magang dan tim CRO,
memasuki bilik tim mikro. Ia mengirim pesan syarat gadai mikro. Daftar calon
nasabahnya penuh, didapat dari pengunjung Lapangan Renon tadi.
Tuk... tuk. Ketukan sepatu terdengar disusul pintu berderit terbuka.
“Pak Angkasa, ada apa... kenapa ke Cabang Kreneng?” tanya
seorang petugas perempuan.
“Saya mau lihat gadaian dari UPC Kreneng. Nomor
surat 3919, 1919, dan 3939.” Ngebass Angkasa terdengar.
“Sebentar ya, Pak... saya carikan.”
Di cabang, Bulan berjalan ke lemari belakang,
memfotokan surat gadai sesuai permintaan nasabah melalui pesan. Ia lalu ke
bilik pelayanan, mengunggah monev sembari mengurutkan surat gadai dan menulis
nomor surat di buku besar.
“Ini dia gadaiannya, Pak.”
Di seberang sana, terdengar suara plastik tergesek di
meja disusul hembusan napas berat dari Angkasa.
Tut... tut. Suara panggilan terhubung.
“Dara... cincin nikah, kalung, dan anting kamu di
mana?”
Lama jawaban tak terdengar. “Maaf, Angkasa... aku
gadaikan lewat temanku karena butuh uang.” Napas Dara seperti menahan isak.
“Aku tebus ya, aku transfer ke rekeningmu juga...
Dara, kamu tanggal 1 September ada ke resto?”
“Maafkan aku, Angkasa... Aku menemui Bara perihal
kerja.“
"Jaga kesehatanmu... jangan sampai kelelahan,
Dara.“
Panggilan tertutup. Terdengar langkah kaki memelan
beradu hembusan napas yang kian memberat. “Andai semua akan baik-baik saja.”
Bulan termenung di mejanya. Jarinya ragu, lalu
mengetik pesan ke ponsel Angkasa.
'Semua akan baik-baik saja.'
Dering singkat terdengar dari ponsel Angkasa di
kejauhan, disusul suara tarikan layar yang dibuka. Hening sejenak.
“Terima kasih... Bulan.” Suara ngebass Angkasa
terdengar pelan melalui sadapan, diikuti ketukan sepatu yang kembali berjalan
menjauh.
Berangsur-angsur mentari tenggelam di barat. Trauma masa lalu berputar kembali, membuat Bulan berkeringat dingin di tengah keheningan.
☾ ☾ ☾
Comments
Post a Comment