Bab 7 – Sepiring Nasi Terabaikan (Mati Rasa dalam Pelukan Tanpa Nama)
“Ara, bayi kita sudah tiada. Jangan menyakiti dirimu
sendiri.”
Pak Orion menyentuh Kak Ara yang terkapar kaku di
lantai. Tangan kakak memegang keranjang hampa. Memeluk erat boneka yang tak
bersuara.
“Kamu belum makan dari malam. Aku mohon, sesuap saja.
Tubuhmu bisa sakit,” pinta Pak Orion memegang erat tangan istrinya.
Piring nasi tak tersentuh kian terabaikan. Uapnya
lenyap mendingin. Buih air mata seolah menitik di nasi.
“Bayiku saja tidak makan selama-lamanya, bagaimana
bisa aku mengisi perutku? Semua rasa akan hambar selamanya,” lirih suara kakak
menggema di telinga. Matanya kian menatap hampa keranjang.
Bernapas begitu sesak, Pak Orion menahan tangisnya
keras. Tangannya berkali-kali mencoba membangunkan kakak dari lantai. Namun,
tubuh itu seolah tak mau bergeser sedikit pun.
“Bayimu akan menangis jika melihatmu seperti ini.”
Terbangun, kakak menatap Pak Orion tepat di mata.
“Tidakkah kamu seharusnya menggila sepertiku? Apakah kamu tidak sakit?” Mata
merahnya berkaca-kaca, seolah menuntut jawaban dari suaminya.
“Jangan seperti itu, Ara.”
“Kamu tak merasakan detak jantungnya di perutmu. Kamu
tak menggendongnya saat sembilan bulan ia bernapas … Kamu tahu bagaimana
rasanya menahan sakit dan bahagia saat berusaha melahirkannya? Dan saat ia
terlahir ia tak menangis seperti bayi lainnya,” suara kakak kian bergetar,
tangan kakak mencengkeram keras lengan Pak Orion.
“Kenapa bayi kita yang diambil, kenapa tidak aku
saja?” Kakak terisak keras. Pak Orion merengkuh tubuh kakak begitu erat.
Mataku bergetar, tak tahu harus bagaimana. Tanganku
getir memegang pintu yang terbuka. Aku terisak di balik dinding. Cepat, kubalik
ke kamarku.
⋆。 ゚ ☁︎。 ⋆。⚛︎ ゚ ☾ ゚ 。 ⋆
Hari kian terlewati. Hujan deras terus membasahi.
Petir menyambar, angin bertiup kasar. Pintu terombang-ambing terbuka. Derai
berlinang merembes dari jendela. Nyatanya bukan satu orang saja yang terluka.
Namun, rumah ini yang terisak duka.
“Ara, kamu mau ke mana?” tanya Pak Orion pada kakak
yang melewatinya.
“Aku mau istirahat.” Kak Ara menutup pintu. Tak
dibiarkan siapa pun mengetuk pintunya.
Kak Ara berhenti kerja total. Berhari-hari tak keluar
kamar. Tak mau bangkit dari kasur sedikit pun. Wajahnya pucat dan membengkak
tersembunyi di balik selimut. Sedangkan Pak Orion selalu termenung di sofa. Tak
makan, tak minum, bahkan menyentuh sendok pun ia tak sanggup. Hingga kakak
mengamuk saat dipaksa keluar oleh Pak Orion.
“Aku enggak mau. Aku bilang aku enggak mau keluar!”
Tangan Kak Ara memukul-mukul Pak Orion kala tubuhnya diangkat paksa dari balik
selimut.
Saat akan dimasukkan ke mobil, Kak Ara menggigit
tangan Pak Orion, pun mendorong tubuhnya hingga jatuh tersungkur. Seperti
ketakutan bercampur lelah, Kak Ara berlari ke kamarnya.
Aku dan Pak Orion pun memutuskan ke psikiater. Butuh
waktu berminggu-minggu untuk mendapatkan hasilnya.
“Setelah kecelakaan, ayah dan ibu meninggal, kakak
selalu menyalahkan dirinya. Karina pernah lihat kakak kejang sekali. Kakak juga
menghindari foto keluarga, berita kecelakaan, maupun tempat yang memercikkan
api. Emosi kakak juga mudah berubah dan setelah bayinya meninggal, kakak
mengurung diri,” jelasku pada psikiater.
“Kecurigaan mengarah pada Ara yang mengalami CPTSD
atau Complex Post Traumatic Stress Disorder dan NPAS atau Non-Epileptic
Attack Disorder. Rasa bersalah, trauma yang besar membuat Ara merasa takut
saat bertemu dengan hal yang mengingatkan pada trauma.”
Kami pun mendatangkan rekan psikiater Kak Ara ke
rumah.
“Aku enggak sakit. Aku sehat. Aku seorang psikiater,
aku yang menyembuhkan.” Berkali-kali Kak Ara menggeleng, menolak untuk
diperiksa. Tangannya terkepal erat saat digenggam psikiater.
“Tidak, Ara. Kamu tidak sakit. Kita di sini hanya
ingin membuatmu merasa lebih baik,” ujar psikiater menenangkan Kak Ara.
“Aku sudah lebih baik. Tidakkah kalian lihat? Aku
hanya ingin istirahat?” Mata cekungnya memelas. Memohon agar ia dilepaskan.
Mengamuk. Terpaksa, Kak Ara diberi obat bius untuk
menenangkan.
⋆。 ゚ ☁︎。 ⋆。⚛︎ ゚ ☾ ゚ 。 ⋆
Tiga bulan berlalu, Kak Ara rutin berobat ke
psikiater. Kondisinya mulai membaik walaupun tetap harus rutin terapi dan minum
obat. Kondisi rumah juga mulai menghangat walaupun ada perasaan canggung, entah
mungkin bagiku saja. Seminggu lagi aku akan berangkat ke Amerika, untuk
menempuh kuliah dan mendapatkan beasiswa. Aku sudah mempersiapkan semuanya,
mengepak semua pakaianku, pun milik pribadiku. Meninggalkan rumah, kakak, dan
semua kenangan yang kupunya. Termasuk Pak Orion.
Tak terasa, hari lomba pramuka pun tiba. Aku bersama
teman-temanku mewakili sekolah. Peluit ditiup, morse pramuka dimulai. Semua
mata menatapku. Memegang bendera tanpa diiringi musik. Menghentakkan kanan-kiri
serentak dengan detak jantungku. Napasku terkikis, bibirku bergetar. Kusamarkan
suara getirku di irama teman. Hingga tongkatku terjatuh, teman menoleh sekilas.
Lekas kuambil bendera, leceknya terpaksa berkibar.
Juara pun diumumkan di lapangan. Mendebarkan hati yang
berkeringat, pun tangan-tangan saling memeluk dengan mata terpejam. Hingga tiba
saat toa berkumandang.
“Juara satu dan duanya adalah ….” Jantungku berdegup
kencang. “Gugus SMA 1 dan SMA 3.”
Sorak-sorai menyulut tawa bahagia. Pelukan erat
membumbung haru ke atas langit. Walaupun juara dua, perjuangan tetap harus
dirayakan. Namun, mataku membiru kala bersitatap dengan Pak Orion. Dia tak
berekspresi apa-apa.
Pun saat bertemu di halte, kami asing, tak berani
bersitatap sedikit pun. Sungguh, aku tak pernah berharap seperti ini. Kuasa
yang tak pernah diminta. Perasaan yang masuk tanpa suatu izin. Mati rasa hanya
cara untuk bertahan. Kasih yang tumbuh dari celah memupuk trauma. Tak terasakan
lebih besar dari cinta.
Kami seperti pacar yang putus karena miskomunikasi.
Tak ada romansa pun cinta, dari mana sajak itu berasal, aku mengada-ngada ini
hanya kagumku yang bertepuk sebelah tangan.
Aku pun menangis tersedu-sedu di kamar. Kukemas semua
barangku ke koper. Termasuk air mataku.
“Dik, kakak boleh masuk?”
Aku berdiri, menghapus air mata lalu kubuka pintu,
membiarkan kakak masuk.
Kakak terduduk di sebelahku. Bibirnya terlihat ragu
untuk mengatakan sesuatu.
“Dik, kenapa kamu tidak berpacaran dengan Dimas? Dia
sepertinya baik padamu,” tanya kakak, matanya memandangku lekat.
Aku terdiam, bingung harus berucap apa.
“Tentang Orion... jarak kalian terlalu jauh, akan ada
konflik karena berusaha menutupi celah....” Kak Ara menatap mataku. Terisak,
kakak memeluk tubuhku erat. “Jika hubungan kalian terbawa semakin jauh. Itu
akan tak berarah dan akan ada yang melukai maupun terluka... jangan mendekat,
jauhi dia, Dik.”
Emosiku benar-benar pecah. Bukan masalah aku menyukai
Orion. Bukan. Namun, jika aku harus menjauhi Pak Orion itu artinya aku harus
berpisah dengan Kak Ara. Semua ingatanku hanya akan menjadi kenangan.
Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Keramaian bandara
meledak ketika kami berpelukan. Aku tak melepaskan tubuh kakak sedikit pun.
Kakak terisak deras di pundakku, begitu pun dengan diriku. Sekeliling terasa
bergerak cepat, suara pun tak terdengar di telinga. Hingga kami mengurai
pelukan, kakak mengacak rambutku.
“Kejar citamu setinggi langit. Kamu harus buat ayah
dan ibu di surga bangga, Dik.”
Aku mengangguk. Kakak memeluk tubuhku sekali lagi.
“Jaga Karina baik-baik, Dimas.”
Dimas mengangguk sembari tersenyum.
Tangan melambai di antara hiruk pikuk bergerak pesat. Ia tak datang. Aku tahu aku akan melupakannya meskipun terlambat.
⋆。 ゚ ☁︎。 ⋆。⚛︎ ゚ ☾ ゚ 。 ⋆
Comments
Post a Comment