Bab 6 – Sepasang Merpati (Mati Rasa dalam Pelukan Tanpa Nama)

"Hah, Pak Orion mau nikah sama kakaknya Karina? Ipar adalah maut dong."

Aku tersenyum tipis walaupun hatiku teriris. Bisa-bisanya Dimas bercanda seperti itu. Takut juga kalau hal itu terjadi. Mengingat aku suka Pak Orion dan ikut pindah ke rumahnya. Apalagi Pak Orion guru sedangkan aku muridnya.

Merasa panas di kelas, aku keluar. Ponsel bergetar, pesan Pak Orion menggantung di atas.

‘Karina, kamu sudah pulang? Bapak ke kelasmu mumpung sejalur dan sekalian ke halte.’

Menoleh, kulihat Pak Orion berjalan di lorong. Matanya tertuju padaku kala senyumnya mengembang. Sungguh, aku merasa terperangkap di sarang.

Tak terasa, hari pernikahannya pun tiba. Aku jadi pengiring pengantin. Kak Ara yang menikah, tapi aku yang jantungan.

Pernikahan sederhana. Hanya dihadiri tetangga dekat dan anak les sebagai peri. Kak Ara tampak lebih bahagia, tangannya mengalung gugup. Matanya berkaca-kaca.

Hingga sang mempelai pria datang dengan bunga di tangan. Kami bersitatap. Dunia terasa melambat. Kala musik mengiringi derap langkahku di altar, di bawah lampu-lampu kuning terhias bunga. Menatap wajah teduhnya disinari cahaya wibawa. Setelan jas putih dipadu mawar. Senada dengan gaun putih selututku. Sekeliling memburam terbius waktu. Mengundang senyumku menjadi tawa. Ia ikut tertawa, aku pun tersadar.

Kak Ara menunduk, terlalu gugup untuk menatap Pak Orion. Sedangkan Pak Orion malah menatap mataku. Kenapa malah aku yang jadi pengantin?

Nyatanya bukan kala mereka bertukar cincin. Bunga terlempar, sepasang merpati beterbangan. Perayaan mati rasa terhebat yang pernah kurasakan. Apalagi, bunga malah terjatuh ke tanganku.

Gelar namanya seharusnya berubah menjadi kakak. Namun, aku tetap memanggilnya bapak. Aku terbiasa dari kecil. Berulang kali aku mencoba berubah. Namun, kebiasaan sulit dilenyapkan.

Ikut tinggal bersama mereka, beberapa adegan romantis tertangkap mata. Salah satunya pembicaraan hangat mereka di lorong.

“Kamu sudah minum susu almondnya?” tanya Pak Orion pada Kak Ara di malam hari. Aku tak sengaja melihat mereka saat pergi ke dapur.

“Udah, jangan khawatir. Aku minum setiap hari,” balas Kak Ara dengan senyum mengembang.

“Kamu harus jaga kondisimu. Jangan kerja terlalu keras.”

“Tenang saja, aku tahu kondisi, Orion.” Kak Ara memegang lengan Pak Orion. Menoleh, mata Pak Orion bersitatap denganku. Terkesiap, aku balik ke kamar.

Kak Ara menghabiskan waktu lebih banyak di rumah sakit daripada di rumah. Hampir dua puluh empat per tujuh tanpa henti. Sedangkan aku menghabiskan dua puluh empatku bertemu Pak Orion. Rumah, halte, sekolah, tempat les, bus, kebun, rumah. Semakin lama menit berlalu, semakin larut aku ke dalamnya.

“Kenapa belum tidur?” tanyanya di malam hari yang sejuk. Aku terduduk di teras. Menikam penat sembari menatap bintang.

Terkekeh, aku memeluk jaketku. “Ya karena enggak bisa tidur,” jawabku dengan nada jenaka. Ia tertawa dan ikut duduk di sampingku.

Atau saat,

“Apa PR-nya sulit?” tanyanya sepulang dari mengajar les. Ibu sudah tidur di kamar, sedangkan aku masih saja mengerjakan tugas sekolah.

Tersenyum, aku mengangkat bukuku yang kosong. Kutunjukkan padanya belum terisi jawaban.

“Sini bapak bantu meski bapak enggak terlalu paham matematika,” ujarnya sembari ikut terduduk di lantai, ia pun memakai pulpenku.

Dan ketika,

“Kenapa belum masuk kelas?” tanyanya kala bel berdering keras. Aku terduduk di depan perpustakaan. Mencari Wi-Fi untuk mengunduh video pembelajaran. Juga sekadar cuci mata melihat lalu-lalang murid di sekolah.

“Gurunya enggak ngajar, Pak. Katanya sakit,” balasku. Dia balas ber-oh ria.

Beberapa menit kemudian, ia terduduk di sebelahku. “Kayaknya bapak mau duduk di sini saja, sambil nunggu bel jam mata pelajaran bapak,” ucapnya lalu mengeluarkan buku matematika dari tasnya.

Tiga bulan berikutnya kabar bahagia datang. Kakak hamil. Wajah mereka diliputi rasa syukur saat memberitahu. Namun, kabar duka datang bersamaan. Bu Dewi meninggal setelah seminggu kabar baik itu terdengar. Kondisi fisiknya sudah melemah, dan kami baru tahu kalau Bu Dewi menyembunyikan penyakit kanker payudaranya.

Hiruk pikuk kesedihan mencuat lagi. Renggang mulai terisi, dan sulitnya komunikasi mulai membebani. Hingga Kak Ara berhenti kerja. Mulai menutup foto wisuda, mematikan televisi kalau ada kecelakaan, dan menghindari tempat yang memercikkan api.

“Kamu mau ngapain?” tanya Kak Ara yang menatap Pak Orion tepat di mata.

“Mau nyalain api unggun biar hangat. Kasihan anak kita kedinginan di perutmu.” Pak Orion tersenyum, menggigil di halaman yang dingin. Kayu-kayu dipeluk erat tangannya.

“Enggak. Enggak usah. Aku enggak mau cium baunya,” ujar Kak Ara dengan nada serius. Tak menatap Pak Orion, Kak Ara pergi masuk ke dalam.

Tak terasa delapan bulan berlalu, hari kelulusan pun tiba. Aku juara dua umum, dan Maya juara satu di sekolah. Guru-guru memeluk kami. Perasaan senang bercampur haru menguasai.

Pak Orion terduduk di kejauhan, di barisan siswa kelas dua belas. Terekam jelas di memoriku kala sorak sorai memenuhi telinga. Tawa bangganya menyulut mataku berkaca-kaca. Hingga air mataku tumpah, aku kebingungan. Guru-guru sampai tertawa dan menawariku tisu. Memicu air mataku semakin deras.

Di antara hadirin yang terduduk, ia berdiri. Menyibak keramaian yang asyik menonton tak dapat kursi. Derap langkahnya mengalun keras di telinga. Sepatu hitamnya, kemeja putihnya, senyuman semringahnya. Kala mendekati podium, tak sabaran ia menaiki tangga. Hingga tiba saatnya, ia buru-buru memelukku karena saking bahagia.

“Oh, ini toh biang keroknya,” celetuk kepala sekolah dengan mikrofon. Menyulut ricuh tawa hadirin, pun tepuk tangan riuh guru-guru di podium. “Sampai di rumah tolong dibelikan adiknya hadiah. Sedus besar, terbungkus rapi. Saat dibuka isinya cuma gulungan tisu.”

Garing kriuk, anehnya hadirin tergelak. Namun, tidak dengan kami. Senyumku luntur kala tangannya memeluk erat punggungku. Napasmu memelan saat daguku bersandar di pundaknya. Air mata terasa berhenti. Aku tak tahu, aku merasa hampa di dekatnya. Kusadari, aku mati rasa dalam pelukan tanpa nama.

Pelukan terurai. Wajahku tak berekspresi di antara wajah penuh warna. Pelukan tak berarti ditutup tepukan meriah. Ia tak tersenyum. Matanya menatapku lekat. Napasnya sama pelannya dengan napasku.

Kami hening selama perjalanan di bus. Setiba di rumah, aku memberitahu kakak.

“Selamat, Dik. Kakak bangga sama kamu....” Kakak memelukku erat. Mengurai pelukan, ia mencium pipiku berkali-kali. Dijawil gemas hingga terkekeh geli. “Kamu mau cari jurusan apa … kamu mau jadi apa, Dik?” tanya kakak penasaran.

“Aku dapat di universitas luar negeri, Kak. Neurosains … aku mau jadi psikiater seperti kakak.”

Terkejut, Kak Ara mengacak rambutku keras. Pun pukulan pelan bertubi-tubi di punggung. Kak Ara menepuk pelan pipiku sambil berkata, “Ayah dan ibu di surga pasti bangga melihatmu, Dik … kamu enggak pernah mengecewakan mereka.”

Napasmu memelan dibungkus rasa pilu. Kak Ara dengan perut besarnya balik ke sofa kesusahan. Baru kusadari, mata Pak Orion berkaca-kaca menatapku lekat. Simpulnya kian mengembang tak bisa disembunyikan. Tubuhnya seperti ragu ingin memelukku atau mengucapkan selamat. Namun, ia tetap diam di tempat. Terharu, aku mengedarkan pandangan. Kulihat Kak Ara, bibirnya terangkat tipis, tersenyum canggung.

Malamnya, aku bertemu Pak Orion di lorong kamar.

“Selamat.”

“Selamat untuk apa, Pak?”

“Selamat untuk kelulusanmu....” Pak Orion mengulurkan tangannya di udara. “Maaf … bapak enggak mengucapkan dengan bersungguh-sungguh di sekolah,” jelasnya penuh penekanan.

Aku terkekeh. “Kenapa enggak bersungguh-sungguh, Pak? Tadi saya sudah terharu,” candaku. Namun, ia tidak tertawa. Kujabat tangannya yang menganggur dengan keras.

“Seharusnya semua semudah ini. Tanpa melibatkan perasaan. Maaf semua jadi rumit karena bapak … Selamat ya, Karina.” Dia menatapku erat. Napasmu tercekat, goyangan tanganku memelan.

Kala tangan mengurai jabatan, kami menoleh bersamaan. Kak Ara melihat kami dengan segaris senyuman.

“Bukannya bermaksud merendahkan, tapi sebaiknya kamu enggak memberi adikku perhatian berlebih. Dia bisa salah arti nanti.”

Samar-samar kudengar suara pelan Kak Ara di kamar. Tak sengaja aku menguping kala terduduk belajar di kasur. Buku di pangkuanku terjatuh kala kakiku menyentuh lantai.

“Kapan aku memberi perhatian berlebih?”

“Kamu menatapnya begitu lekat sampai-sampai dia terbawa suasana.”

“Itu tidak berlebihan.”

“Kamu bertindak aneh di dekatnya.”

“Mungkin tindakan anehku adalah sikap normalku padanya.”

Kak Ara mengembuskan napas. “Kamu enggak boleh suka sama dia. Itu bisa jadi masalah. Rentang usia kalian jauh. Kamu guru dan dia muridmu. Ada kesenjangan dan kuasa di situ. Kamu punya kuasa.”

“Aku enggak suka lebih dari itu.”

Kak Ara berdesis pelan. Kudengar Pak Orion bergumam menenangkannya.

“Aku tahu kamu suka sama adikku. Makanya aku menikahimu, Orion … aku enggak mau adikku terluka, tapi ibumu malah mengajak adikku tinggal di sini. Dua puluh empat jam bertemu denganmu. Itu jadi masalah besar.”

Hening. Pak Orion tak menjawab, kakak pun tak bicara.

“Jauhi adikku seperti guru biasa pada muridnya, seperti kakak ipar biasa pada adiknya.”

Kak Ara berdesis keras, Pak Orion menenangkannya lagi, “Aku menyayangimu sama seperti aku menyayangangi adikmu. Aku enggak bisa lepas dia sendirian.”

“Ah, perutku sakit!” teriak Kak Ara.

Cepat, aku bangkit dari kasur. Mengambil ponsel, kutelepon dokter.

“Karina, tolong bantu, Karina!” Pak Orion berteriak memanggilku.

Keluar kamar, kulihat Pak Orion sudah menggendong kakak di lorong. Lekas kuambil kunci mobil. Kubuka pintu cepat, Pak Orion membawa kakak ke mobil. Buru-buru kukunci rumah, aku pun masuk ke mobil.

Setiba di rumah sakit, tak ada yang bisa dibicarakan. Aku menunggu di luar. Jari kugigit hingga berdarah. Menatap ke atas, mataku berkaca-kaca.

“Orion, mana bayiku?”

Tangis kakak kian berderai. Berkali-kali kalimat itu ditanyakan. Namun, kian tak terjawab. Hanya desisan Pak Orion yang mencoba menenangkan. Tak kuat mendengar apa yang terjadi, aku pun meninggalkan rumah sakit.

Tubuhku berdiri hampa di halte rumah sakit. Semuanya bergerak pesat, mataku memandangi lalu-lalang orang melintas. Terisak. Langit membiru di antara gumpalan awan mendung. Aku melihat ke atas, “Ayah dan ibu di surga. Maaf, aku telah mengecewakan kakak.”

Bab Sebelumnya.... 

Bab Selanjutnya....

Comments

Popular Posts