Bab 5 – Insomnia (Mati Rasa dalam Pelukan Tanpa Nama)

“Tolong! Ambil saya saja. Jangan keluarga saya!” Jeritan histeris terus menghantui. Petir menggelegar di gelap yang sunyi. Mendengingkan telinga setengah mati. Malam yang mencekik.

Tubuhku seperti dibekuk, dadaku digetok. Kakiku tertarik keras sampai terperosok. Berteriak, aku terbangun dari mimpi buruk.

“To—tolong!” Kakakku menjerit. Ini bukan mimpi.

Berlari cepat keluar kamar. Nyaris terjatuh di lorong. Kakiku melompati tangga. Memasuki kamar, aku terkejut melihat kakak kejang di kasur. Bibirnya mengeluarkan busa, sama seperti ibu.

“Kak Ara, bangun!” teriakku menepuk-nepuk pipinya.

Rambutnya basah keringat. Tubuhnya bergerak cepat. Wajahnya pucat pasi. Aku mengambil ponsel. Menelepon Pak Orion, nomornya mati. Terduduk di kasur, aku terisak. Tanganku kian menepuk lengannya.

“Kak, aku mohon. Bangun, Kak.” Tak tahan, kutumpahkan semua emosi. Wajahku hancur, hujan deras membasahi.

Napasnya yang tersengal perlahan beraturan. Aku menatap lekat wajahnya. Larut dalam hening, matanya mulai terbuka.

“Kak? Kakak kenapa?” Aku mengusap air mata. Tak ingin membuatnya hancur melihat tangisku.

Kak Ara menatap langit kamar. Terbangun, ia mengusap wajahnya. “Kakak baik-baik saja, Dik.”

Berdiri, Kak Ara mengambil obat dan botol di meja. Obat ditelan, Kak Ara terduduk di kursi.

“Kak Ara punya epilepsi?” tanyaku dengan napas bergejolak. Melihatnya hampa menatap botol.

“Enggak, Dik. Kakak cuma kejang biasa.”

Tanganku meraih obatnya. Tertulis obat insomnia. Kupandangi wajah kakak yang termenung. Aku takut Kak Ara punya PTSD, seperti yang diajarkan Pak Orion di sekolah.

“Kakak mimpi. Ada makhluk hitam seret keluarga kita. Kakak enggak lihat siapa yang disiksa. Seperti ada yang meninggal...,” tutur Kak Ara. Binar matanya memancarkan kekhawatiran. “Apa mungkin Bu Dewi?” Kak Ara menatap mataku lekat.

Gumpalan awan gelap menyelimuti mentari. Meramu petir yang melahap bumi. Kala rinai tak menetes gelisah. Mengepakkan burung di kencangnya angin resah.

Aku berlari. Bersama kakak menuju rumah Bu Dewi. Tubuhku menggigil dicabik dingin. Kala sepatu menanjak hampir terpeleset. Kakak merengkuh di tengah badai.

Setiba di sana, kami terkejut melihat Bu Dewi. Kakak tersenyum getir menatap Bu Dewi, yang baik-baik saja.

“Ara, ada apa?” tanya Bu Dewi dengan kening berkerut. Beliau terduduk di kursi roda, di dekat api unggun yang berkilat.

Aku mengikuti kakak. Raut cemasnya terbentang jelas walau senyum kian terplester. Berkali-kali mengusap wajah dengan mata menelisik sekitar.

“Ara... Ara hanya rindu sama ibu,” suara tipis mencelos dari bibir. Kakak menghampiri Bu Dewi. Jiwanya terlihat kosong saat lengannya merengkuh beliau.

“Siapa yang datang, Bu?”

Menoleh ke belakang, aku membeku menatap Pak Orion. Setelah pertemuan agak aneh kemarin, kami bersitatap lagi. Kayu besar tergenggam kaku di tangannya. Matanya menatapku tanpa suara. Canggung membubung tinggi ke atas langit. Segaris senyum kikuk terplester di wajahku.

“Karina... kamu sudah makan?” tanyanya kala melewatiku dengan senyum hangat.

Kemarin... Romantis? Mungkin hanya bagiku saja.

Terduduk di dekat api unggun. Kayu tersusun rapi di antara arang. Memercikkan cahaya merah yang menguap menjadi hangat. Sisi jagung menghitam kala terbakar bara. Anehnya, jagung yang terbakar tapi hatiku yang panas, saat melihat Pak Orion menatap Kak Ara, yang takzim bertukar hati bersama Bu Dewi.

Aku tak menyukai Pak Orion lebih dari itu. Hanya kagum seorang siswi pada gurunya yang bijak. Satu sisi aku senang jika Pak Orion bersama Kak Ara, sisi lainnya aku buncah.

Apa ini yang namanya cemburu? Cemburu yang dirasakan bocah berusia tujuh belas tahun sepertiku? Tidak. Cemburu sebelas dua belas dengan iri. Iri garisnya tipis dengan kagum. Aku kagum pada Kak Ara. Aku ingin sepertinya.

“Ini... untukmu.”

Sebatang jagung diberikan Pak Orion padaku. Semuanya terasa melambat. Kupandangi dirinya di antara kobaran api yang memercik. Tangannya lihai memutar jagung di bara.

"Pak... Bapak suka Kak Ara?"

Matanya menatap mataku lama. Alisnya sedikit berkerut kala bibirnya terbuka, "Kenapa bertanya?"

Membenarkan posisi duduk, kututup wajahku dengan jagung. "Enggak, nanya aja."

Tak menjawab, alih-alih tangannya bertopang di pundakku, kala ia bangkit dan berjalan ke kebun.

"Bapak mau ambil jagung dulu," ucapnya. Kutatap punggungnya dipenuhi debu nan kotoran.

"Kak...."

Berjalan mendekati Kak Ara, aku berbisik. “Kakak suka Pak Orion?”

“Kamu suka sama dia, Dik?” suaranya terdengar lemah. Matanya tak lepas dari kobaran api.

“Enggak...,” sahutku tanpa ekspresi. “Karina lihat kayaknya Pak Orion suka kakak. Tadi pas bakar jagung tatapan Pak Orion takzim ke kakak.”

Bara api kian menguar di tengah hening. Hening dilahap angin, angin dihirup burung. Entah apa yang sedang kulakukan. Kubungkam bibir dengan menggigit si jagung.

“Kakak enggak pantas buat Orion. Orion terlalu baik buat kakak.”

Bersamaan, aku dan Bu Dewi menengok ke kakak. Matanya menatap nanar api unggun. Ia menggulung lengan sweternya untuk pertama kalinya. Aku baru sadar Kak Ara punya bekas luka bakar di pergelangan.

“Kalau bukan karena kakak, kita semua mungkin enggak sesakit ini, Dik....” Kak Ara menatapku pucat. “Ayah meninggal di hari kelulusan kakak.”

Aku terkejut. Jagung langsung terlepas dari tanganku. Belum siap mendengar fakta meninggalnya ayah, aku menutup mulut.

“Kecelakaan hebat. Saat perjalanan ke sekolah. Kakak terlalu senang karena juara satu umum, sampai-sampai kakak mengajak semuanya, termasuk keluarga Orion dan kamu dalam kandungan. Ayah yang menyetir. Saat mobil menyeberang perempatan, tiba-tiba saja truk melintas kencang.”

Mataku berkaca-kaca, mulutku tak bisa berkata-kata. Tatapan kosong kakak membiru setiap suaranya melemah mengingat ulang kejadian.

“Sisi mobil hancur parah. Mesin mobil kian berasap, hingga kami meraih kesadaran. Namun, satu-satunya yang tak sadar adalah ayah. Kakak terlalu panik untuk menyelamatkan diri, tanpa tahu diri telah mengorbankan semuanya. Tak terhitung waktu, mobil meledak dan terbakar. Kakak adalah penyebab semuanya. Ayah meninggal, ibu sakit, Bu Dewi tak bisa berjalan—“

“Nak, sini, Nak.”

Bu Dewi memeluk Kak Ara, menghentikan ingatan pahit yang meluap. Tangangnya mengusap-usap punggung kakak. Aku tergugu hancur. Mataku perih seolah terbakar api.

Pak Orion datang dengan mata terkejap. Meletakkan jagung di sampingku, Pak Orion mendekati Kak Ara. Menenangkan napas yang sempat bergejolak.

Mengurai pelukan, Bu Dewi menatap Pak Orion di mata.

“Orion... kamu mau ya menikah dengan Ara.” Tangan Bu Dewi memegang erat tangannya.

Tanpa ekspresi, Pak Orion menatapku dan kakak bergantian. Menunduk, aku tak tahu harus berkata apa.

“Ya, Bu. Orion bersedia.”

Duniaku serasa runtuh sepihak.

Kemarin... Andai saja memori bisa dihapus.

Siang yang panas. Sehabis dihajar morse pramuka, kantin jadi tempat blusukan ketiak basah. Aku balik kelas, menghidupkan kipas turbo. Teringat sesuatu, kurogoh jaket di kolong meja. Menoleh kanan-kiri, jari mengikis bungkusan kecil pemberian Pak Orion.

Sampul terkelupas rapi, aku tersenyum gigi. Kilauan bintang berpadu laut menghiasi cover. Biology Dictionary. Ide siapa, jenius sekali? Buku raksasa dipadatkan menjadi kamus mini, sungguh, aku terkesima.

Membuka halaman pertama, Edisi Rasi Bintang, kesukaanku. Dari mana Pak Orion tahu?

Tiap halaman terisi gambar dengan judul di atasnya. Nama familiar langsung mencuri perhatian. Ara 'Kakakmu XD'. Aku terkekeh membaca catatan kecil. Iseng mencari huruf C, senyumku mengembang.

Carina ‘Sang Pemberi Kasih Sayang.’

Mencari halaman tengah, kutatap rasi bintang Orion. Sungguh indah.

"Woi!"

Terkejut, spontan aku memegang perut, nyaris jantungku copot. Dimas, si tersangka malah terpingkal-pingkal di bibir pintu.

"Lagi baca komik porno ya?" tanyanya dengan komuk petakilan.

"Mana ada komik porno sekecil ini." Aku tersenyum gigi.

Dimas duduk di depan mejaku. Mengintip, matanya membulat.

"Naksir Pak Orion ya?"

"Enggak," sahutku tanpa ekspresi.

Bibirnya membeo, entah memikirkan apa. "Oh, Orion itu artinya rasi bintang ya? Bukannya Orion artinya bawang?"

"Onion."

"Oh iya lupa...." Ia terdiam sejenak, sedetik kemudian ia kumat lagi. "Loh kok serasi. Karina kan rasi bintang juga? Jodoh ya?"

Aku tak menjawab. Keluar kelas, ia mengikutiku dengan raket di punggung. Baju olahraganya basah sepertiku. Iseng, aku mengeluarkan origami yang ia lempar kemarin, tertulis bebek di sayapnya.

“Ini burung. Kenapa tulisannya bebek?” tanyaku penasaran.

“Suka-suka saja...,” sahutnya kala melewati lorong. “Hm... kamu mau enggak bebek-bebekan sama aku?” tanyanya ragu sambil mengulum senyum.

“Hah?” aku kebingungan.

“Kamu bebek. Aku bebek. Jadi kita bebek-bebekan... Aku sukanya bebek,” jelasnya membuatku tambah bingung.

Tak mendapat jawaban, ia mendesah. Pintu ruang guru dibuka, ia melambaikan tangan pada Pak Orion.

“Pak, titip Karina, ya....” Membungkuk hormat, ia pun menepuk pundakku. “Jaga baik-baik bebek saya, Pak.”

Aku menoleh, menatap Dimas yang berjalan santai dan menjauh. Tak sadar, Pak Orion berjalan mendahului. Selempang tas tergenggam erat, aku pun mengejarnya.

“Pak... Bapak jadi kasih Karina kerja ngajar les?” Sepatu keruhku mengekor sepatu hitamnya.

Tak menyahut, Pak Orion tetap berjalan.

"Kalau Karina bantu Bapak ngajar les gimana? Gaji dikit enggak apa, Pak... lumayan pengalaman."

Desauku hanya diterbangkan angin.

Menyalip. Sepatunya terhenti kala sepatuku berjinjit. Kuambil setengah tumpukan buku di pelukannya.

"Biar saya bantu ya, Pak." Aku tersenyum.

Lanjut berjalan. Beberapa langkah, aku tersadar dia tak mengikuti. Menoleh, kulihat raut wajah diamnya.

"Kalau kamu bantu saya terus, nanti saya nyaman." Ia mengembuskan napas kala menatapku tepat di mata.

Aku terkekeh.

"Nyaman nyuruh-nyuruh ya, Pak?" candaku. Namun, ia tidak tertawa.

"Saya sudah biasa jadi kurcil kelas, Pak. Kurcaci kecil alias tukang bantu-bantu."

Tak menjawab candaanku, jakunnya naik turun, ia pun berjalan bersisian.

Bintang di langit mengerling nakal dengan si awan. Cahayanya memeluk manja lampu neon si halte. Biru-keunguan, Aish! Romantisnya. Menyulut senyumku mesam-mesem sendiri. Kala canda tawa terbang bersama angin. Sepulang mengajar les murid SMP.

"Dingin ya, Karina?" Merdu suara Pak Orion mengalun di telinga. Disusul cekungan manis di pipi membuatku terpanah.

Ah! Indahnya. Rembulan seolah tenggelam di wajahnya. Hidungku kembang kempis menahan malu. Kala tangannya memeluk saku jaket. Tanganku salting tak karuan, gosok-gosok mencari kehangatan.

Menikam penat di antara malam. Berbagai lara diterbangkan aksara. Dingin membuncah di antara rasa. Mengikis jarak untuk berbagi hangat. Jantungku berdegup kencang kala sepatunya juga mendekat.

Kelinci seolah melompat-lompat di dalam hatiku. Dia berdiri begitu dekat. Aku bahkan bisa mencium aroma tubuhnya. Aih! Aroma mint.

Kepalanya menunduk. Lengkungan sabit tak bisa bersembunyi di wajahnya. Berkali-kali ia menatapku membuatku malu-malu anjing. Simpul kikuk terplester di wajahku. Hingga ia membungkuk. Wajahnya mengerling nakal tepat di depan wajahku. Tak berekspresi, aku mati gaya. Mendesah, ia tersenyum dan menjauh.

Sorot lampu bus mendekat, entah kenapa aku merasa gundah kala pintu bus terbuka cepat.

Sepanjang perjalanan bus, hidupku serasa sunyi. Kami duduk jauh-jauhan padahal hanya kami penumpangnya. Kenapa duduk terpisah?

Bosan, kutatap nanar jendela bus. Penuh warna raut dewasa sibuk bekerja. Kuharap aku bisa cepat seperti mereka.

Bab Sebelumnya....

Bab Selanjutnya....

Comments

Popular Posts