Bab 6 — Orang Baik Pintar Memelintirkan Bebenaran (Remang Bulan di Angkasa)
‘Kamu harus dengar sudut pandang istri berselingkuh
sepertiku agar mengerti. Sebuah hubungan terjaga bukan hanya saling percaya,
melainkan karena terbuka.’ Dara terisak di rekaman ponsel Bulan.
Bulan menguap, sedangkan Bara berkerut alis
mendengarkan rekaman sadapan itu.
‘Komunikasi itu dua arah. Jika kamu memendam semua
perasaanmu, aku bertanya apa arti diriku di sisimu? Jika kamu membenci
seseorang, maka buatlah aku ikut membenci, Angkasa.’
Suara kaleng soda terbuka beradu acara televisi
terdengar.
‘Aku gelisah setiap melihatmu pulang kerja. Kamu
selalu ke warung ibumu, minum melamun, tak menceritakan pada siapa pun. Setiap
aku bertanya, kamu tak pernah menjawab.’
‘Bagaimana bisa aku mengatakannya... jika orang yang
menjatuhkanku adalah Bara, orang terdekatmu.’ Ngebass Angkasa mengalun lirih.
‘Kamu harusnya bilang, maka seiris luka tak akan
menganga. Aku akan jauhi Bara, tak memberinya ruang mengisi gelisahku. Aku tak
sengaja lakukan itu sekali, dan Laras—anak kita melihat, di hari ia meninggal.’
Bulan mematikan rekaman. “Paman, hentikan drama ikan
terbang Paman. Paman kira 24 jamku seperti Paman? Duduk di kursi menabung iri,
sibuk cari kesalahan orang lain, sampai lupa koreksi diri.”
“Bukannya kamu masih punya utang sama Bayu...?” Bara
menyodorkan logam mulia di dashboard. “Terus dengarkan Angkasa... Aku
memberimu emas agar kamu melakukan kerjamu.”
‘G24-25-001919.’
Kode emas yang dibaca Bulan. Bulan tersenyum miris
melihat itu.
“Paman mau aku merusak kepala cabang itu?”
“Bagaimana kamu akan melakukannya?”
“Mungkin mengisi botolnya di pantry dengan
alkohol.”
Bara memegang setir. “Lakukan saja jika kamu bisa. Aku
mau lihat apakah kamu bisa melakukannya.”
Bulan membuka pintu mobil, lekas berjalan kaki ke
Cabang Kreneng. Ia membuka pintu tempat gadai keras, memicu staf dan nasabah
menoleh kaget. Bulan meletakkan logam mulia di meja, tepat di hadapan Dara.
“Aku penasaran seperti apa rupa wanita berselingkuh,
ternyata rupanya semenyedihkan ini.” Bulan menulis di kertas gadai.
Dara menunduk mendengar ucapan Bulan. Jarinya bergetar
memegang logam mulia. Sedangkan kasir dan nasabah berkerut alis menatap Bulan.
‘G24-25-001919.’
Mata Dara berkilat keruh membaca kode emas.
“Kirim ke BRI.”
Bulan meletakkan buku rekening di meja. Ponsel keluar
dari sakunya. Sebuah rekaman terputar.
'Kamu masih kecil. Mana tahu pilihan aman untuk
berselingkuh. Wanita bersuami tak akan mengumbar perselingkuhannya. Mereka tak
akan merengek saat putus dengan selingkuhannya,' suara Bara terdengar angkuh di
rekaman.
Tangan Dara tremor melipat kertas, membungkus logam
mulia. Kasir bekernyit melihat itu. Bulan mematikan rekaman lalu mengambil
surat gadai dari tangan Dara.
“Bibi, bangunlah. Sampah lebih baik dari Bibi. Sampah
masih bisa didaur ulang, sedangkan Bibi hanya kotori lingkungan....” Bulan
menarik ritsleting tas. “Pulanglah berdoa sebelum aku berbuat lebih jauh.”
Mentari bersinar tertutup awan kelabu. Bulan berjalan
keluar tempat gadai, meninggalkan Dara yang berdiri kaku.
☾ ☾ ☾
Mentari memanas. Jam berdetik di angka tiga. Cabang
Renon sepi. Satpam menempelkan papan “Close” di pintu. Earphone terpasang
di telinga Bulan. Ia merapikan surat gadai sembari menguping ponsel Angkasa
yang tersadap.
Tuk-tuk... ketukan sepatu terdengar disusul suara pintu tertutup.
“Selamat, Kakak Ipar....” Bariton Bara menggema. “Atas
menangnya cabang Kakak sebagai cabang terbaik.”
Ting-ting... Ting! Seperti suara menghitung mundur, disusul pintu
berderit terbuka.
“Aku perlu bicara denganmu di luar.” Ngebass Angkasa.
Bulan membawa surat gadai ke lemari belakang.
Tangannya membuka ikatan benang wol. Dibolak-balikkan kertas, Bulan membaca
surat gadai bernomor 3919, 1919, 3939. Dilihat tanggal gadainya.
“3 September, 1 September, 3 September.” Tiga tanggal
surat gadai itu. Lekas Bulan memasukkan surat gadai yang ia rapikan sesuai
nomornya.
Tuk-tuk... langkah kaki kian terdengar, terhenti di antara suara kendaraan
berlalu-lalang.
“Jauhi Dara.” Ngebass Angkasa terdengar samar.
“Aku tak ada hubungan apa pun dengan Dara, Kakak Ipar.”
“Aku sudah tahu semuanya sejak lama.”
“Kau benar-benar orang munafik, Angkasa!”
Bulan terhenti mengurutkan kertas. Matanya berkilat
dengki mendengar itu.
“Orang baik pintar memelintirkan kebenaran. Kau adalah
orang munafik yang selalu memendam perasaan pada orang yang kau benci. Kau tak
perlu ambisi sepertiku untuk mencapai puncak. Pada akhirnya kau akan merebut
segalanya dengan kebaikanmu itu. Itu sama saja kau tamak!” teriak Bara.
Bulan tak mendengar suara Angkasa.
“Orang baik itu manipulatif. Kau baik pada semua
orang. Semua sujud padamu. Bawahanmu tak merebut posisimu. Atasanmu rela
melepas jabatannya padamu karena kau baik. Kau lintah! Rebut saja posisiku!”
Bulan termenung mendengar teriakan Bara yang menusuk.
Lama Angkasa tak menjawab.
“Aku tak ingin merebut posisimu....” Ngebass Angkasa
mengalun letih. “Jauhi saja, Dara.”
“Lan, ambilkan air, Lan... jangan lupa siram tanaman
hiasnya,” panggil Feri dari bilik pelayanan.
Lekas Bulan memasukkan berkas yang sudah rapi ke
lemari, berjalan ke pantry, mengambil dua botol air. Bulan memberi
Feri lalu menuang pelan air ke tanaman hias.
“Lihatlah, kau saja merebut Dara dariku... Dara
sepupuku, aku mengenalnya dan menyukainya sejak kecil. Kau hanya orang luar
yang masuk ke lingkungan lalu merebut. Aku tak akan percaya padamu!”
“Kau tak akan menikahi wanita yang telah punya anak
seperti Dara, jadi lepaskan dia. Kau hanya akan membuatnya terluka. Itu saja
yang kumau,” tutur Angkasa pelan, disusul ketukan sepatu berjalan menjauh.
Bulan menutup botol air. Ia berjalan lesu mengambil
tas lalu keluar tempat gadai.
“Hei, Bulan! Aku masih mau menyuruhmu, kamu jangan
pulang!” teriak Feri dari bilik pelayanan. Bulan tetap melangkah pulang.
☾ ☾ ☾
Langit hitam. Lampu jalan meredup. Ribut kendaraan
berlalu-lalang mengirim polusi, dihirup Bulan yang memakai jaket lusuh. Ia
mengangkat keranjang ikan dari motor, membawa masuk ke toko pelanggan.
“Ini uangnya saya lebihkan, ambil saja, Nak.”
Bulan mengantongi uang dari pelanggan, lanjut
mengangkat keranjang ikan. Tali mengikat keranjang di belakang motor. Bulan
melajukan motor pelan di keramaian kota. Earphone tersumpal di
telinganya.
Pintu berderit pelan.
“Aku mau belanja, kamu ikut?” Ngebass Angkasa
terdengar.
Lama tak menjawab. “Iya... Aku ikut, Angkasa,” suara
Dara mengalun lirih.
Tuk... tuk, ketukan sepatu terdengar disusul pintu tertutup pelan. Suara mesin
berderu terdengar, pun pintu mobil menutup keras.
Mobil melaju di ributnya lalu lintas. Hening Angkasa
dan Dara tak berucap selama perjalanan. Hanya suara berita di radio mengisi.
Bulan memarkirkan motor di trotoar. Ia mengangkat
keranjang ikan lagi lalu masuk ke rumah makan. Pelanggan memilih-milih ikan
yang bagus.
“Kamu mau martabak?” tanya Angkasa disusul suara mesin
mati.
“Iya... boleh, Angkasa.”
Bulan mengangkat keranjang keluar warung makan. Diikat
keras tali di lubang keranjang pun besi motor. Bulan lanjut mengendarai motor
di kerumunan jalan.
Bruk! Terdengar
seperti suara kendaraan menubruk.
“Siapa itu, Angkasa?” tanya Dara terkejut.
Tuk-tuk! Ketukan
di pintu disusul pintu terbuka.
Bugh! Suara
pukulan terdengar.
Bulan menghentikan motornya di pinggir jalan, membawa
keranjang ikan lagi ke dagang. Tangannya kian bergetar. Darahnya seperti
berdesir keras.
“Apa yang diberikan Bulan padamu? Kenapa kau
memberinya uang, hah?” suara Bayu menggema disusul pukulan bertubi-tubi.
Dara terisak. “Hei, kenapa kau memukulnya, hentikan!”
suara Dara seperti melerai.
“Sudah-sudah, jangan berkelahi di pinggir jalan.”
Terdengar suara asing menengahi.
“Berapa utangnya?” Ngebass Angkasa.
“Apa kau akan membayarnya, hah?”
“Iya... aku akan membayarnya.”
“Sudah kau apakan saja, Bulan?!” teriak Bayu diikuti
isakan Dara kian mengeras.
“Pukul saja aku, jangan memukulnya.” Parau suara
Angkasa.
Bugh!
“Hei. Jangan berkelahi di pinggir jalan. Selesaikan
baik-baik.” Suara asing itu kian menengahi.
“Hei, menjauh, menjauhlah!” Dara kian melerai.
Hening. Tak ada kalimat terucap, hanya napas samar
yang seperti memburu.
“Kenapa... kenapa kau menyiksanya, hah?!” teriak
Angkasa.
Prang! Suara
kaca pecah disusul teriakan Bayu.
“Dia membunuh ayahku!”
Deg!
Jantung Bulan seperti berhenti berdetak. Tangannya
bergetar keras. Tubuhnya berdiri kaku di pinggir jalan. Ia tercenung menatap
lalu lalang bergerak pesat. Air mengumpul di mata merahnya.
Lama tak ada kalimat bersahutan, hanya ada isakan Dara
yang mengeras.
“Dia masih kecil saat ayahmu menyiksa ibunya, itu
pembelaan diri. Itulah sebabnya hukum melindunginya.” Ngebass Angkasa terdengar
serak.
“Bagaimana denganku! Apa aku orang dewasa? Aku juga
masih kecil saat ayahku direnggut begitu saja!” Bayu kian berteriak.
Bruk! Terdengar
seperti suara tubuh terjatuh, disusul pukulan bertubi, pun suara orang asing
kian melerai. Isakan Dara kian menggema.
Bulan membuka ponsel. Lokasi Angkasa berada di Pasar
Ketapian. Bulan lekas naik motor, menarik gas di turunan, di antara kendaraan
melaju. Angin bertiup kencang. Seiring dadanya sesak, motornya terpleset di
tikungan turunan.
Sret! Bruk!
“Kamu enggak apa, Dik?” kerumunan orang menolong
Bulan.
Motornya terjatuh. Ikan-ikan tercecer di jalan. Tubuh
Bulan bergetar hebat. Bulan diantar duduk di trotoar.
“Kenapa kau menyiksanya? Dia hanya perempuan yang
terluka," suara bass Angkasa mengalun perih.
Lengkungan sabit berpendar di antara angin tak
berarah. Bulan terisak memegang tangannya yang bergetar dan berdarah.
☾ ☾ ☾
Comments
Post a Comment