Bab 5 — Komunikasi Dua Arah (Remang Bulan di Angkasa)
"Paman tak akan bisa jebak orang selurus Pak Angkasa,
awas Paman kena jebakan Paman sendiri... kenapa juga aku harus menjebak kepala
cabang?" Bulan mengunyah Cheetos depan Bara.
Bara melipat tangan. "Kamu hanya perlu membuatnya
mengantarmu pulang. Hanya sampai gang, tak perlu ke kosan. Seseorang
mengantarmu pulang artinya dia menyukaimu."
"Bukankah itu hal biasa saat seseorang ingin
mendapatkan sesuatu? Seperti yang Paman lakukan." Bulan menyobek bungkusan
Cheetos, lanjut mengunyah tanpa peduli.
"Itu berbeda dengan Angkasa. Angkasa hanya
mengantar Dara pulang...." Ponsel disodorkan Bara di meja. "Pakai HP
ini, pasang saja aplikasi sadap di ponsel Angkasa, beritahu aku apa saja yang
ia rencanakan."
Bulan bangkit dari kursi. "Tampaknya Pinwil lebih
suka kepala cabang daripada deputi bisnis seperti Paman. Aku jadi khawatir
posisi Paman akan diambil Pak Angkasa."
"Jaga ucapanmu."
"Paman yang jaga posisi Paman. Pak Angkasa terus
menemui Pinwil. Aku yakin dia sudah bicara tentang jebakan gratifikasi
Paman."
Bulan meninggalkan Bara yang panik menelepon. Pintu
mewah tertutup. Bulan menuruni tangga, lanjut berjalan ke terminal GOR. Earphone
tersumpal. Matanya melamun menunggu bus di keramaian halte.
‘Kamu hanya perlu membuatnya mengantarmu pulang. Hanya
sampai gang, tak perlu ke kosan. Seseorang mengantarmu pulang artinya dia
menyukaimu,’ kalimat Bara terngiang di kepala Bulan.
Tuk-tuk.
Ketukan sepatu Angkasa sebulan lalu di tangga kosan terputar di pikiran Bulan.
‘Hati-hati,’ Angkasa bahkan menggendong ibunya ke
kamar.
‘Kamu... anak yang perhatian.’ Angkasa membenarkan
selempang tas depan kamarnya.
‘Terima... kasih.’ Angkasa melangkah lurus saat
kosannya terlihat. Semua memori tentang Angkasa terekam jelas, terngiang di
kepala Bulan akibat ucapan Bara.
‘Seseorang mengantarmu pulang artinya dia menyukaimu.’
‘Kamu... baru pulang kerja paruh?’ Angkasa berdiri
depan warung Chinese.
‘Mana... mana sepatu saya, Bulan! Apa saya tak cukup
baik menerima sepatumu?’ Angkasa bahkan mengejarnya di trotoar.
‘Saat orang memperlakukanmu baik, kamu harus
memperlakukannya sebaik itu. Tak kurang, tak lebih.’
‘Gratifikasi itu jebakan... saya belum pernah
menerimanya.’ Angkasa melangkah di depannya berjalan pulang.
‘Separuh dunia kerja dipenuhi manusia bermuka dua...
seseorang saling menjatuhkan bukan karena kesenangan, tapi karena ketakutan.’
‘Terima kasih... sudah menahan saya.’ Angkasa
membenarkan selempang tas depan gang Bulan.
Woosh!
Lamunan Bulan pecah saat bus tiba-tiba meninggalkan
halte. Angkasa yang termenung juga tersadar. Ia berdiri, pegang handle
bus, menatap Bulan terpisah jendela. Bus keluar terminal, Bulan berlari
mengejar.
“Pak, saya mau sekalian belanja. Bapak mau saya
belikan roti?” Angkasa menghampiri kernet dan sopir.
Sopir tersenyum memberi uang kernet. “Iya, sekalian
saja sama kernetnya, mau beli nasi bungkus.”
“Enggak, Pak... biar saya yang bayar.”
Angkasa dan kernet turun di halte Circle Q. Kepala
cabang itu berjalan lambat memilih roti sembari menelepon, membayar di kasir.
Matanya menatap jendela, trotoar kosong tak ada siapa.
“Dara, aku sudah buatkan nasi goreng untukmu...
kotaknya ketinggalan lagi di kamar almarhum anak kita.”
“Aku sudah ambil, Angkasa... terima kasih.”
”Jangan terlalu serius kerja, jaga kesehatan.”
Telepon Angkasa tertutup. Bulan berlari di perempatan
POLDA, ranting pohon menggores tangannya hingga berdarah. Angkasa dan kernet
masuk bus. Kepala cabang itu duduk memegang plastik ungu.
”Tunggu!”
Sopir menoleh saat Bulan menaiki halte. Nyaris bus
meninggalkan halte, sopir menekan tombol. Pintu terbuka otomatis, Bulan
ngos-ngosan masuk bus, lalu duduk sebelah Angkasa yang menatapnya sayu.
“Kamu... kenapa melamun?”
“Ibu... ibu sudah terdaftar di DTKS.”
“Gunakan BPJS PBI untuk rawat ibumu di RS... ibumu
akan lebih terjaga di sana.”
Woosh!
Bus jalan di aspal rusak. Mentari bersinar memantulkan
wajah Bulan yang termenung di jendela, ditutupi bayangan pohon gugur terlalui.
Tangannya memegang plastik ungu berisi Sari Roti dan Ultramilk plain.
☾ ☾ ☾
Tepuk tangan memenuhi ruang rapat. Serah terima logam
mulia hadiah untuk cabang terbaik. Perihal NPL gadai turun drastis. Pinwil
tersenyum senang menyalami Angkasa. Bara tersenyum palsu melihat itu.
“Orang baik akan selalu jadi terbaik....” Pinwil
menyerahkan logam mulia ke Angkasa. ”Saya ingin bertemu dengan anak magang yang
ikut membantu.”
Wajah-wajah petinggi difoto. Rapat selesai. Satu per
satu hadirin keluar aula. Angkasa balik ke cabang. Jam istirahat ramai di bilik
pelayanan. Mata Feri membulat melihat ponsel. Bibirnya tersimpul semringah.
“Pak Angkasa! Kita juara satu di penurunan NPL sama update
monev... wah hebat banget, NPL dari 12% jadi 2%.”
“Masa ya, Fer? Yee! Ada bonusan berarti.”
”Iya, Rat... jangan lupa minta jatah traktiran sama
Pak Angkasa.”
“Hebat kamu, Lan... bisa turunin NPL drastis sama
rajin upload monev....” Feri angkat jempol menatap punggung Bulan,
tiba-tiba jempolnya turun lagi. "Oh iya, kita kan musuhan."
Feri menggosok rambut. Bulan fokus copy-paste di
PC. Angkasa menepuk pundak Feri, meletakkan Betadine di meja, memicu telunjuk
Bulan yang tergores terhenti menekan mouse.
“Siap-siap.”
“Siap-siap apa, Pak?”
“Saya traktir Sushi Tei sekarang."
Semuanya happy merapikan berkas, meluncur ambil
kunci motor. Satu per satu staf dan anak magang keluar cabang. Komang mengepel
lantai saat Feri berdiri dekat pintu, sebelah Angkasa yang menoleh.
“Kamu enggak ikut, Bulan?”
Bulan tak menjawab, sibuk menyalin nomor dari aplikasi
sistem ke Excel.
“Nanti beliin saja kayak Komang, Pak... Bulan lagi
kumpulin nasabah gadai besar ke Excel saya. Buat kejar target Outstanding
Loan.” Feri membuka pintu.
”Kamu suka sekali suruh anak magang, Fer.” Angkasa
mendesah pelan memicu Feri berjengit gigi.
Mereka meninggalkan Bulan dan Komang di cabang. Komang
ke kamar mandi menaruh pel. Langkahnya terhenti melihat Bulan di bilik Angkasa.
“Kamu ngapain, Lan?”
“Aku enggak pernah celakakan orang baik.”
Bulan sibuk mengotak-atik ponsel Angkasa yang mengisi
daya di meja. Komang meletakkan plastik ungu di sampingnya. Tanpa password,
Bulan menyadap ponsel Angkasa, tersambung ke ponsel baru Bulan.
☾ ☾ ☾
Langit gulita. Angin berembus kencang. Bulan
mengendarai motor tempat kerja paruh waktunya. Motor terparkir. Bulan
membawakan keranjang ikan ke pembeli langganan. Earphone tersumpal di
telinganya.
Pintu berderit pelan.
“Aku... aku pernah berselingkuh darimu, Angkasa,”
suara Dara terdengar serak dari sambungan ponsel Angkasa yang tersadap ke earphone
Bulan.
“Aku sudah tahu, Dara,” ngebass Angkasa.
Langkah Bulan terhenti sejenak. Bulan meneguk ludah,
lanjut bekerja sambil menguping percakapan mereka.
“Itulah sebabnya aku tidak ingin rujuk... kenapa kamu
selalu mempertahankan hubungan yang sudah retak, Angkasa?”
“Jika aku tak mempertahankan pernikahanku, maka ke
depannya aku akan selalu bercerai.”
“Kamu harus dengar sudut pandang istri berselingkuh
sepertiku agar mengerti. Sebuah hubungan terjaga bukan hanya saling percaya,
melainkan karena terbuka,” Dara terisak.
Jalanan padat merayap, motor Bulan melaju pelan di
perempatan. Tangisan Dara kian memenuhi telinga Bulan.
“Komunikasi itu dua arah. Jika kamu memendam semua
perasaanmu, aku bertanya apa arti diriku di sisimu? Jika kamu membenci
seseorang, maka buatlah aku ikut membenci, Angkasa.”
Suara kaleng soda terbuka beradu acara televisi
terdengar.
“Aku gelisah setiap melihatmu pulang kerja. Kamu
selalu ke warung ibumu, minum melamun tak menceritakan pada siapa pun. Setiap
aku bertanya, kamu tak pernah menjawab.”
“Bagaimana bisa aku mengatakannya... jika orang yang
menjatuhkanku adalah Bara, orang terdekatmu,” ngebass Angkasa mengalun lirih.
“Kamu harusnya bilang, maka seiris luka tak akan
menganga. Aku akan jauhi Bara, tak memberinya ruang mengisi gelisahku. Aku tak
sengaja lakukan itu sekali, dan Laras—anak kita melihat, di hari ia meninggal.”
Motor Bulan terhenti di pinggir. Ia tercenung menatap
jalan.
Napas Angkasa tersengal. “Ja—jadi Laras tak meninggal
hanya karena kecelakaan?”
“Di—dia melihat aku berselingkuh di kamarmu lalu
berlari ke jalan tertabrak. Setiap melihatmu, aku hanya merasa bersalah. Aku
menyesal. Maafkan aku, Angkasa. Sungguh aku merasa seperti sampah.” Tangis Dara
kian menggema.
Mata Bulan merah berkilat dengki mendengar isakan
Dara.
“Maafkan aku, Dara... bisakah kamu ke kamar? Aku tak
ingin melukai siapa pun.”
Pintu berderit disusul acara televisi kian mengeras.
Samar terdengar Angkasa terisak tertahan.
Rembulan bersinar gelap di antara bintang. Bulan kian termenung di antara kendaraan berlalu-lalang.
☾ ☾ ☾
Comments
Post a Comment