Bab 4 — Separuh Dunia Kerja (Remang Bulan di Angkasa)

“Kepala cabang memukulku, aku baru bilang suka. Bisa-bisa aku dipanggang kalau minta diantar pulang,“ Bulan mengunyah Beng-Beng sebelah Bara.

“Apa kamu merekamnya?“ Bara menilik jam tangan.

Ponsel keluar dari saku. Sebuah rekaman terputar.

‘Pukul kepala saya, Pak... agar saya bisa redam rasa suka saya dengan kebencian!’ suara serak Bulan di rekaman membuat alis Bara berkerut. Bulan kian mengunyah.

‘Kau... kau,’ napas Angkasa tersengal.

‘Kau apa?!’

‘Kau tak waras!’

Langkah kaki terdengar.

‘Kalau Bapak tak pukul saya....’ Suara serak Bulan berteriak. ‘Saya anggap Angkasa Putra menyukai Bulan!’

Bugh!

Bulan mematikan rekaman di ponsel.

“Suaramu terdengar jujur... kamu menyukainya, kan?“

Ponsel dimasukkan ke saku. “Nilai magangku akan D kalau terus telat. Aku sibuk, tak punya waktu duduk di sini.“

“Tanpa nilai, kamu bisa kujadikan pegawai tetap.“ Bara tersenyum. Deputi Bisnis itu memberi Bulan seikat uang.

Bulan mengambil uang lalu membuka pintu mobil.

“Dara menyukainya. Semua menyukainya. Apa yang membuatmu menyukainya?“ tanya Bara mencegat gerak Bulan.

“Dia terlalu baik, aku ingin orang baik menderita sepertiku....“ Bulan menoleh menatap Bara. “Sadarlah, Paman... Kenapa Paman suka bibi tua yang punya suami? Masih banyak karyawati seumuran Paman.“

“Kamu masih kecil. Mana tahu pilihan aman untuk berselingkuh. Wanita bersuami tak akan mengumbar perselingkuhannya. Mereka tak akan merengek saat putus dengan selingkuhannya.“

Bulan memasukkan uang ke saku jaket. “Lebih baik Paman fokus kerja. Pak Angkasa sudah tahu gratifikasi otorisasi Paman, pun lihat tukang foto Paman. Jangan sampai Paman dipecat Pak Angkasa.“

Bulan meninggalkan Bara yang memegang erat setir. Perempuan itu melangkah ke Pasar Ketapian. Hiruk-pikuk manusia melingkar. Mentari bersinar tertutupi mendung. Bulan menatap lantai dua dari parkiran.

“Belikan saya capcay, Pak.” Kejadian kemarin terngiang di kepala Bulan.

“Lain kali saja,” ngebass Angkasa menggema, bahkan Angkasa tak menatapnya.

Bulan menaiki tangga, memasuki ruang, uang tersodor di meja. Bayu meringis memegang luka, menatap uang, pria itu terkekeh.

“Apa Angkasa yang memberimu?“

“Aku kerja paruh waktu, catat saja sisa utangku.“

“Apa dia tahu kau pernah mencelakai orang?“

Bulan menatap sekitar. “Kau tahu, kan, aku seperti itu.“

Bayu menoleh, melihat ke arah tatapan Bulan.

“Jangan ganggu Pak Angkasa.“ Bulan menatap pisau di meja.

“Apa kau menyukainya?“

Bulan mendekati pintu. “Ya.“

Mata Bayu membeliak mendengar itu. Pria sembilan belas tahun itu tersenyum dengki.

Pintu terbuka. Nasabah di ruang tunggu menoleh saat Bulan masuk ke lorong, menaruh tas di loker. Angkasa terhenti melihat papan KPI, matanya menatap punggung kepala Bulan. Bulan melewatinya.

“Baru berkokok ayammu, Lan.“ Feri melirik jam menunjuk pukul 9 pagi.

Bulan menyalakan EDC. Sekali ketuk langsung menyala, lanjut unggah surat gadai di monev. Angkasa ke bilik pelayanan, membaca daftar jatuh tempo. Feri gosok emas di batu, menyenggol pulpen hingga jatuh.

“Lan, ambilkan pulpenku, Lan.“

Kedua tangan Bulan mengotak-atik ponsel.

Tuk!

Feri menunduk, wajahnya memanas, melihat sepatu Bulan mendorong pulpen ke sepatunya.

”Kurang ajar, kamu enggak diajarin di rumah....” Feri mengetuk pintu laci keras, memicu mata nasabah membulat. ”Bisa-bisanya anak magang kayak gini ke pegawai tetap.”

Selesai upload monev, Bulan ke bilik tim micro. Sedangkan Feri mengacak rambut. Angkasa yang melihat itu menatap Ratna yang menutup bibir sembari menghitung uang.

”Ada masalah apa kemarin, Rat?“

”Coba tanya Feri, Pak.“

”Kenapa, Fer?“

Feri diam lanjut melayani nasabah. Angkasa mendesah pelan.

“Feri, saya harus ketemu Pinwil, tolong turunkan NPL.”

“Siap, Pak.”

Angkasa keluar cabang, menghampiri satpam, memberi beberapa lembar merah.

”Komang, tolong beli jajan untuk stok pantry sama nasi bungkus untuk pegawai, kembaliannya untuk kamu, ditabung... Bulan ada buat masalah sama Feri kemarin, Komang?“

”Saya juga enggak tahu, Pak... tapi kayaknya kemarin Bulan nyiram air ke muka Feri karena ucapan Feri, Pak.“

”Feri bilang apa, Komang?“

Komang menatap Angkasa prihatin.

“Kalau Feri jadi Pak Angkasa, Feri bakal terima suap, teriak depan Pak Bara. Feri enggak sebodoh Pak Angkasa yang mau direndahin Deputi Bisnis,’ jelas Komang tak enak.

Angkasa terdiam mendengar itu.

”Bukankah Bulan sepupumu, Komang... apa hubungannya dengan Bayu?“

”Ayah Bulan sudah meninggal, punya hutang banyak di Pak Merta—ayahnya Bayu. Pak Merta sering memukul Bulan sejak kecil, pun ibunya karena tak bisa bayar... saya kasihan tapi saya juga kurang, Pak.”

Angkasa tercenung, menepuk pundak Komang berterima kasih. Lekas ia bertemu Pinwil.

Gadai sedang sepi. Feri dari pantry melewati bilik tim micro. Ragu pria itu menyuruh Bulan.

“Lan, turunkan NPL.”

Bulan tak jawab. Sudah mengirimi WA nasabah jatuh tempo jauh-jauh hari. Feri berdecak, melenggang dengan sebotol air ke bilik pelayanan. Matanya membulat melihat nasabah ramai di ruang tunggu.

“Astaga, kaget saya, Mbak Rat... saya pikir gadaian saya udah jatuh tempo loh. Udah dikejar-kejar aja.”

“Iya, Bu... hanya pengingat saja, kita bakal disorot pusat soalnya kalau nasabah telat bayar.”

“Oh, gitu ya, Mbak... yang ngirimi WA siapa sih? Beda ketikannya, singkat jelas sama gercep banget sekarang.”

Nasabah berceloteh ria dengan Ratna. Sementara Feri tersenyum riang menawarkan produk gadai sembari menaksir emas. Bulan ke bilik pelayanan mengambil tumpukan surat gadai, langkahnya terhenti.

‘Loker Angkasa.’

Plastik ungu berisi sepatu baru dibuang ke tong sampah. Satpam melihat wajah Bulan berkilat dingin.

Mentari tenggelam di barat. Setelah bertemu Pinwil, Angkasa balik ke cabang. Feri tersenyum lebar seperti biasa, sedangkan Bulan mengambil tas lalu berjalan kaki ke plang bus stop seberang BI.

“Sore, Pak.”

”Komang sudah kasih tahu saya kenapa kamu disiram Bulan.“

Feri langsung menunduk berkali-kali pada Angkasa. ”Pak, maaf, Pak... saya enggak bermaksud, Bapak kepala cabang terbaik! Maju jaya, Pak Angkasa Putra!”

“Saya enggak minta pujian atau maaf. Kalau kamu punya uneg-uneg, katakan langsung sama saya, jangan bicara di belakang, agar saya bisa koreksi diri.“

“Siap, Pak.“

Angkasa melangkah ke pantry. Langkahnya terhenti kala melihat lokernya terbuka. Matanya berkilat letih melihat plastik ungu itu hilang.

”Mana... mana sepatu saya, Bulan!”

Langkah Bulan terhenti saat mendengar namanya terpanggil. Angkasa ngos-ngosan, sepatu usangnya terhenti di depan Bulan.

”Apa saya tak cukup baik menerima sepatumu?” Angkasa menuntut jawaban di hadapannya.

Bulan termenung menatapnya.

”Saat orang memperlakukanmu baik, kamu harus memperlakukannya sebaik itu. Tak kurang, tak lebih. Saya tak ingin saat bertemu di jalan, kamu pura-pura tak mengenal saya, begitu pun sebaliknya.”

Bulan tak menjawab sedikit pun.

”Besok saya mau lihat sepatu itu kembali.” Angkasa menaiki Sarbagita.

Sepersekian detik Bulan mematung, lekas sepatu keruhnya menaiki bus.

19.00

Garis merah jam digital menggantung di langit bus. Jalanan padat merayap. Lampu kian meredup ditelan kegelapan. Angkasa duduk sebelah Bulan. Wajah terpantul di jendela dipenuhi bayang pepohonan gugur.

”Saya sudah dengar apa yang dibilang Feri.” Angkasa mendesah pelan. ”Seharusnya kamu enggak siram dia, ini bukan sinetron... Kadang manusia terbiasa berkata kasar tanpa maksud negatif.”

”Tapi terima kasih... kamu sudah membela saya.”

Bus tiba di Terminal GOR. Sepatu usang turun mendahului sepatu keruh.

”Gratifikasi itu jebakan... saya belum pernah menerimanya.“

Temaram rembulan mengirim dingin. Sepatu usang melangkah cepat di depan, sepatu keruh kian menyamai langkah.

"Separuh dunia kerja dipenuhi manusia bermuka dua... seseorang saling menjatuhkan bukan karena kesenangan, tapi karena ketakutan."

Jalan rusak dan menanjak. Lampu jalan berkarat.

"Ketakutan... bisakah dirinya bertahan untuk hidup atau menolak tekanan itu sendiri."

Tangan menyeluk saku mantel pun jaket, bertahan dari dingin yang mencabik kulit.

"Terima kasih... sudah menahan saya."

Remang Bulan berpendar di antara bintang. Angkasa berjalan lurus sambil membenarkan tas selempang, sedangkan Bulan berjalan memasuki kelokan gang.

Bab Sebelumnya....

Bab Selanjutnya....

Comments

Popular Posts