Bab 4 – PTSD (Mati Rasa dalam Pelukan Tanpa Nama)
“Psikologi. Walaupun rumpunnya lebih ke sosial
daripada biologi, Bapak mau bahas tentang PTSD.”
Buku terbuka, pulpen bersiap. Kupandangi punggung Pak
Orion dari belakang. Decitan spidol di papan memenuhi ruang. Merengkuh suara
jarum jam yang berdegup. Tulisan tegak sambung menarik mata, ‘Post Traumatic
Stress Disorder.’
“PTSD adalah salah satu gangguan mental dari rumpun
gangguan stres dan trauma,” jelas Pak Orion. “Gangguan ini menyerang kondisi
psikologis setelah terjadinya peristiwa traumatis. Tidak selalu berupa luka
fisik, tapi luka yang tersimpan di ingatan.”
Mati-matian memusatkan perhatian pada pelajaran,
fokusku terganggu. Dimas, bocah petakilan yang duduk di seberang, rusuh melipat
kertas entah untuk apa. Kepalaku menunduk kala pulpen sibuk menulis, tiba-tiba
saja origami bebek-bebekan terlempar ke mejaku.
Menoleh, mataku membesar. Berulang kali Dimas
komat-kamit berucap, suaranya tak terdengar. Bibirnya terus saja megap-megap
seperti ikan.
“Pulpen. Pulpen.”
“Apa?”
Berdeham sejenak, Dimas mengencangkan kerah. “Pulpen.
Pinjam pulpen.”
Semua atensi tertuju pada kami. Kala suara ngebass
Dimas bergema di kelas, memutus materi Pak Orion yang serius. Mengundang
tatapan bingungnya, melihat kami secara bergantian.
Aku mati kutu menahan malu. Bisa-bisanya Dimas pinjam
pulpen setiap hari. Saat jam kelas pula. Tak tahan jadi pusat perhatian,
wajahku bersembunyi di balik lebarnya buku.
Buku ditepuk, kepala diketuk. Pak Orion mengetuk meja
Dimas dengan pulpen.
“Lain kali beli dulu, Dimas. Jangan cuma modal tinta,”
celetuk Pak Orion dengan nada jenaka. Mengisi kekosongan yang sempat
merajalela. Menyulut tawa seantero kelas.
“Boleh saya lanjut?” tanya Pak Orion.
“Boleh, Pak,” sahut serentak.
Beberapa subtipe PTSD tertulis di papan.
“PTSD dibagi beberapa subtipe ...,” lanjut Pak Orion.
“Ada Gangguan Stres Akut, PTSD Tanpa Komplikasi, (CPTSD) Kompleks, PTSD Onset
Tertunda, dan PTSD Komorbid.”
Aku membuka buku psikologi yang kucolong di rumah,
milik Kak Ara. Berlari ke halaman tengah. Mataku membulat menyaksikan rekaman
dua dimensi, wajah-wajah terluka. Sticky notes terlepas.
Tertulis, ‘Pengidap CPTSD, merasa anaknya belum meninggal.’
“Pak! Kalau sakit harus ke mana ...?” tanya Dion,
teman sebangku Dimas, memecah konsentrasiku. Tangannya menepuk Dimas sembari
berakting tersedu-sedu. “Ini Dimas kasihan, Pak. Obatnya sudah habis.”
Tak sengaja, aku mengikik. Keadaan kelas seperti pasar
saat dua bocah beradu nasib. Pak Orion menutup mulut, tak bisa menengahi.
Bibirku terkulum gemas melihat Dimas menimpuk Dion dengan buku biologi.
“Ke psikiater. Bapak serius kalian bisa ke psikolog
atau psikiater,” tunjuk Pak Orion dalam mode serius. Menyudahi adegan pasangan
saling adu buku.
Maya, teman sebangkuku, angkat tangan. Gadis ranking
satu itu selalu penasaran. “Pak ... apa psikiater juga bisa sakit?”
Termenung, mendadak telingaku berdengung. Mataku
memandang jendela berembun. Bicara tentang psikiater, aku jadi memikirkan Kak
Ara. Apa Kak Ara pernah sakit dan mengobati dirinya sendiri?
“Psikiater juga manusia ...,” jawab Pak Orion.
“Kelelahan emosional, tekanan pekerjaan, lingkungan pertemanan, bahkan
kehidupan rumahan bisa membuat siapa pun mengalami depresi atau trauma,"
sayup-sayup penjelasan itu berlalu-lalang di kepala. Andai saja telingaku tak
bisa mendengar.
“Mereka yang sakit tidak hanya sembuh dari dirinya
sendiri tapi juga dari dukungan orang tua maupun kasih sayang sekitar.”
Bel berdering keras. Menyulap kelas yang sunyi menjadi
berisi. Menyihir buku di meja menjadi bersih. Jejak spidol dihapus lekas.
Mempercepat langkah murid mengumpul tugas. Tumpukan buku tersusun rapi. Pak
Orion menatap sekitar.
“Jadi ... anak baik mana yang mau bantu saya?” segaris
senyum terplester kala tangannya menepuk dua susun buku, tinggi-tinggi.
“Yang ulang tahun, Pak. Karina.”
Lamunanku hanyut kala namaku disebut Dimas. Tersenyum
gemas, aku keluar meja. Kuselipkan poni basahku ke telinga.
⋆。 ゚ ☁︎。 ⋆。⚛︎ ゚ ☾ ゚ 。 ⋆
Gumpalan awan membiru membantu langit. Mendengar
curah, melukis senja, rinai pun menitik. Kala sepoi angin membawa sejuk.
Menemani surya yang setia menghangatkan kulit.
Aku berjalan dengan Pak Orion di lorong kelas. Membawa
setumpukan buku menuju ruang guru. Ramai seliweran murid berjalan dengan
tongkat pramuka. Memforsir keringat untuk persiapan lomba.
“Kamu enggak dipilih lomba?” tanya Pak Orion sekadar
basa-basi.
“Hm.” Aku tersenyum, menjawab ala kadar.
Tak sengaja, sepatu putihku menginjak becek. Menyerap
kotor, putih pun mengkeruh. Tetap berjalan, Pak Orion tak menoleh. Sepatu
keruhku mengekori sepatu hitamnya.
“Pak ...” aku memanggilnya. “Kenapa Karina bosan ya?”
Tak menyahut, Pak Orion menatap perpus di seberang
ruang guru.
“Pak...” panggilku lagi. “Karina bosan sekolah. Mau
kerja."
Secercah sinar memantulkan bayangan kami yang berjalan
di tanah. Tinggi kami sangat jauh, jarak kami tak dekat, mungkin suaraku tak
kedengaran.
"Kalau ngajar di tempat les Bapak, mau?”
"Mau, Pak."
Sepatuku berdecit kala sepatu Pak Orion terhenti.
Nyaris jidatku menubruk punggungnya. Pak Orion menoleh dengan kening
berkernyit. Entah apa isi pikirannya, aku ingin menerawang.
⋆。 ゚ ☁︎。 ⋆。⚛︎ ゚ ☾ ゚ 。 ⋆
“Bukunya taruh di mana, Pak?”
Buku-buku tersusun rapi. Foto ayahnya terbingkai di
sudut meja. Satu buah laptop menyala terang, di sebelah botol kopi terisi
penuh.
Sepertinya Pak Orion akan berdiam lama di sekolah.
Terlihat dari artikelnya yang masih acak. Tumpukan buku di tanganku berpindah
ke tangan kirinya. Pak Orion melihat sekeliling. Tangan kanannya memasukkan
foto ke dalam laci.
Meneguk ludah, aku mengamati sekitar. Guru yang lain
sudah pada pulang. Hanya tersisa kami berdua. Kebiasaan Pak Orion, mengajar
sampai larut, memaksa murid ikut les gratis. Anehnya, semua murid menyukainya.
Termasuk aku. Hanya sebatas seorang murid yang suka
pada guru. Mungkin. Sebatas itu.
Alisnya terangkat kala senyumnya mengembang. Tangannya
menyentuh kursi kala ia berbicara, “Kenapa masih di sini?” Ia menatapku
keheranan.
“Pak ... saya bantu edit artikel ya,” pintaku,
memelas.
“Bukannya kamu dipilih ikut lomba pramuka?”
“Hehe ... saya enggak suka pramuka, Pak.” Tak bisa
berbohong, kumis kucingku bermekaran.
Tumpukan kertas di atas meja bersanding sempurna
dengan gawai lipat. Kukuku acak-acakan akibat kucubit dengan jari, kala
menunggu Pak Orion yang sibuk mengobrak-abrik laci.
“Pulpen saya dibawa Dimas. Harusnya saya tagih tadi,”
jelasnya yang langsung duduk di kursi. Lututnya menutup pelan laci.
“Dimas memang begitu anaknya, Pak ... pelupa. Pulpen
saya saja setiap hari dipinjam dan sering hilang,” aduku.
Pak Orion terkekeh. Aku baru sadar dia punya lesung
pipi.
“Jangan-jangan pulpenmu dijual lagi,” sahutnya, tawa
kian menyebar. Aku hening sejenak. Benar juga.
Menyeluk saku jaket, pulpen pun tergenggam di
tanganku. “Ini, Pak. Pakai punya saya.”
Pak Orion menggeleng sembari membuka laci. “Enggak,
saya terbiasa pakai milik saya sendiri ....” Mengeluarkan lembaran formulir, ia
menyambung lagi, “Saya kalau sudah nyaman, enggak mau sama yang lain.”
Kertas di genggamannya ia serahkan padaku. “Kecuali
benar-benar terpaksa...” Matanya menatap mataku. “Kamu kerjakan ini saja ya.”
Aku terpaku kala lututku tak sengaja mengetuk
lututnya.
“Terus ... kamu suka apa ...?” Tatapannya begitu
lekat. Nyaris aku tercekat. “Tadi kamu bilang kamu enggak suka pramuka.”
Salting. Senyumku acak-acakan, kumis kucingku mungkin
berhamburan. Kupegang pipi dengan kedua tangan. Pipiku memanas, rasanya seperti
mau meledak.
“Enggak tahu,” jawabku sembari terkekeh.
Jujur saja, aku selalu bingung setiap ditanya hal
seperti hobi, kesukaan, atau cita-cita. Sungguh, aku tak punya jawaban, atau
mungkin aku memang tak berhak punya jawaban.
Menatap lembaran kertas di tangan. Judulnya menarik
perhatian. Myers–Briggs Type Indicator. Berlembar-lembar. Berisi pertanyaan
tentang kepribadian diri. Skala Likert pilihan jawabannya.
“Untuk apa, Pak?”
“Kepala sekolah minta tolong untuk membantu murid
memilih pekerjaan yang sesuai minat dan keterampilan mereka. Karena kalau
pekerjaan tidak sesuai minat atau keterampilan, alhasil mungkin kurang
memuaskan.”
Aku mengangguk. Ini mudah, hanya jujur tentang
kepribadian, siapa yang tidak bisa? Kututup pulpen dahulu sebelum menjawab.
⋆。 ゚ ☁︎。 ⋆。⚛︎ ゚ ☾ ゚ 。 ⋆
“Karina!”
Berniat ke perpus untuk mencari Wi-Fi, namun langkahku
terhenti kala namaku terpanggil.
Menoleh, seketika semua melambat kala kami bersitatap.
Sorai pramuka tak terdengar di telinga. Sekeliling memburam, dan jiwaku hanyut
padanya. Tatapan teduhnya membuat jantungku berdegup. Pak Orion menyeberang
rinai, menghampiriku yang berdiri di tengah. Tangannya memegang pucuk kepalaku,
membendung hujan agar tak membasahi.
“Untukmu,” ucapnya dengan simpul mengembang. “Selamat
ulang tahun.”
Sebuah kotak mini terbungkus bintang tergenggam di
tangan. Menggelitik sudut bibirku untuk tertarik ke atas. Pipi memerah kala
menggapai hadiahnya. Tanpa kata terjelaskan, tawa terbang ke awan dalam teduh
saling tatap.
Tak terasa, hujan tersulap menjadi pelangi. Namaku
Karina, usiaku menginjak tujuh belas tahun. Esok pagi, mungkin aku takkan bisa sebahagia
ini.
⋆。 ゚ ☁︎。 ⋆。⚛︎ ゚ ☾ ゚ 。 ⋆
Comments
Post a Comment