Bab 3 — Sepasang Sepatu (Remang Bulan di Angkasa)
‘Buat saja kepala cabangmu mengantarmu pulang. Nanti
paman suruh orang foto dari belakang. Hanya rumor kepala cabang mengantar anak
magang. Itu saja, tak lebih,’ kalimat Bara mengganggu Bulan.
Bulan tercenung menatap Angkasa di hiruk-pikuk
terminal GOR. Sedangkan Angkasa melamun menatap tanaman gulma, merugikan nan
kering merambati pagar berkarat. Bunga terulak yang mekar tanpa sinar.
Woosh!
Bus tiba menerbangkan helaian rambut Bulan dan
Angkasa. Terhenti depan mereka, satu per satu penumpang masuk. Tatapan Angkasa
di moonflower terganti pantulan Bulan tercenung di jendela bus.
Sret.
Angkasa memegang selempang tas, menoleh, mereka
bersitatap. Jarak mereka jauh, juga dihalangi orang. Angkasa mengalihkan
pandang, melihat jendela lagi, pantulan Bulan masih menatapnya.
06.30
Garis merah jam digital menggantung di langit bus.
Mentari tertutupi gumpalan awan gelap. Bus dipadati mahasiswa belajar untuk
ujian. Berdesak-desakkan, tangan memegang handle, bus melaju di aspal
rusak.
“Kamu... melamun apa?”
“Ibu.”
“Apa ibumu tidak terdaftar di DTKS?”
Bulan termenung menatap Angkasa.
“Cari surat kurang mampu di kantor desa... ibumu layak
mendapat bansos.” Angkasa memegang erat handle.
Sarbagita terhenti di plang bus stop seberang
BI. Angkasa turun lebih dahulu disusul Bulan. Sepatu usang melangkah cepat,
sepatu keruh mengikutinya.
‘Menyalakan cahaya harapan untuk generasi emas
Indonesia,’ isi baliho BRI yang ditatap Angkasa sembari jalan, Bulan kian
melewati.
Gembok terbuka, pintu besi tertarik ke atas. Staf dan
anak magang masuk. Penaksir menggosok kemiri di batu. Sedangkan kasir
menghitung uang. Anak magang WA nasabah. Bulan mengetuk EDC keras di meja.
“Pagi, Pak.”
“Jangan sapa saya, Fer... saya jadi ngerasa dejavu.”
“Sama, Pak... saya juga dejavu di rutinitas
membosankan.”
Feri terkekeh, menuang cairan di batu. Angkasa masuk
ke biliknya. Kepala cabang itu berkernyit lihat kertas ditulis Bulan di
mejanya. Jam berdetik di angka delapan. Papan ‘open’ ditempel satpam di pintu.
‘3919, 1919, 3939, surat gadai terkait gratifikasi
emas 25 gram kode seri G24-25-001919,’ isi kertas dibaca Angkasa sembari
menelpon mantan istrinya.
“Dara, tadi aku siapkan nasi goreng untukmu...
kotaknya tertinggal di kamar almarhum anak kita.”
“Iya, aku sudah ambil, Angkasa. Terima kasih.”
“Jaga kesehatanmu, jangan sampai kelelahan kerja.”
Panggilan ditutup. Angkasa ke bilik pelayanan. Ia
meminjam PC Feri, mengetik cepat di aplikasi penaksir, sebelah Feri yang
terkekeh. Ketukan Bulan pada EDC memelan saat melirik layar yang dicari
Angkasa.
‘3919, 1919, 3939.’
“Saat suami saya balik ke saya, saya baru tahu suami
saya pernah selingkuh, Mbak Rat.”
“Melihat pasangan yang pernah selingkuhi kita pulang,
rasanya lebih menyedihkan dari perselingkuhan itu sendiri, Bu.”
“Iya, di situ tangis emosi saya meledak. Kalau saya
tidak marah, mungkin saya sudah jadi tuhan sekarang.”
Seorang nasabah curhat dengan Ratna. Kasir itu
mencetak struk perpanjangan. Nasabah keluar. Mata Angkasa letih saat tahu
ketiga nasabah SG dan emas 25 gram berasal dari cabangnya Dara, otorisasi Bara.
“Bapak rujuk lagi sama mantan istri bapak?”
“Iya, Fer.”
“Wah, Bapak memang berbudi pekerti luhur.”
Angkasa tak menanggapi candaan Feri. Wajahnya
tertekuk, ia ambil air dingin di pantry.
☾ ☾ ☾
Booth
cuci emas gratis berdiri di antara hiruk-pikuk pasar Ketapian. Anak magang
gosok emas dengan sikat gigi. Ikan berjejer rapi. Pedagang menawarkan
sayur-mayur. Sepatu keruh mengikuti sepatu usang.
“Pinjaman KUR bunganya kecil, Bu. 0,5% saja per bulan,
lebih kecil dari bank karena kuotanya sedikit... lumayan pakai putar usaha.
Misal pinjam sepuluh juta, bunganya lima puluh ribu saja per bulan.”
“Berarti harus cepet-cepetan ya, Dek?”
“Iya, Bu... ini mumpung lagi buka kuotanya.”
Terik mentari mencucurkan keringat. Banyak nama padati
daftar calon nasabah. Angkasa sibuk mengotak-atik ponsel, kian mengawasi anak
magang. Bulan cross selling pinjaman pun logam mulia.
“Dia kalau ke jalan, mulutnya sopan banget. Kalau di
cabang diem kasar kayak batu.” Tim CRO sampai heran melihat skill jualan
Bulan.
Bersitatap!
Bulan melihat Bayu dari kejauhan. Perempuan itu
langsung berlari di kerumunan pasar. Tim CRO terkejut. Angkasa melihat itu.
Bayu mengejar, menubruk pedagang.
“Kamu kenapa kejar dia?“ Angkasa memegang pundak Bayu.
“Pak Angkasa, Bulan kenapa lari?” Tim CRO menghampiri
Angkasa.
Bayu tersenyum saat mendengar nama ‘Angkasa’ disebut.
Alis Angkasa berkerut saat mata Bayu membeliak menatapnya.
Bugh!
Angkasa meringis kesakitan. Pedagang dan pembeli
terkejut melihat itu. Tim CRO menengahi mereka. Mata Bayu berkilat dengki
menatap Angkasa.
“Oh, jadi kau yang memberi emas 25 gram itu?”
“Apa maksudmu?” Angkasa memegang pipi.
“Bulan memakai emasmu untuk membayar hutang!”
Deg!
Napas Angkasa tercekat mendengar itu.
☾ ☾ ☾
Langit jingga. Plastik ungu tertentang di tangan.
Bulir asin memenuhi kening. Foto pipi Angkasa memar dibagikan ke WA cabang.
Pintu terbuka. Jam berputar di angka tiga. Satu nasabah terkejut melihat Bulan.
“Astaga, Pak Angkasa memar karena rentenir.” Mata Feri
membulat melihat WA grup, memicu Ratna melirik sambil menghitung uang.
Uang diserahkan ke nasabah. Nasabah keluar. Komang
masuk menempel papan ‘close’ di pintu. Satpam itu mengambil sapu melewati bilik
Angkasa. Ia lihat plastik ungu jatuh ke lantai dari tangan Bulan.
“Lan, jangan lupa siram tanaman hiasnya,” celetuk
Feri.
Bulan meninggalkan bilik Angkasa. Segelas air
tergenggam di tangan. Sepatu keruh berjalan ke ruang nasabah. Air mengucur
pelan ke tanaman yang menghiasi meja pelayanan.
“Malang banget nasib Pak Angkasa. Dituduh gratifikasi,
punya masalah sama istri, sama Deputi bisnis, kasihan banget, Fer.”
“Kalau aku jadi Pak Angkasa, aku bakalan terima suap.
Aku bakal teriak depan mukanya Pak Bara. Aku enggak sebodoh Pak Angkasa yang
mau direndahin Deputi bisnis!”
Byur!
Gelas terhentak di meja. Bersamaan dengan pintu
terbuka. Mata Angkasa membulat melihat wajah Feri basah kuyup. Mata Feri
terkejap-kejap. Bulan mengambil tas lalu meninggalkan tempat gadai.
“Apa-apaan itu tadi?” Feri melongo.
Ratna diam saja saat ditatap Angkasa. Sedangkan Komang
lanjut mengepel tetesan air di lantai.
☾ ☾ ☾
Langit menggelap. Hiruk-pikuk seolah berputar cepat.
Gelas terhentak di meja. Alkohol kian terteguk. Suara penggorengan beradu
desiran api. Mata Angkasa berkilat letih. Tangannya lemas di gelas.
‘3919, 1919, 3939,’ memori-memori terus terputar di
kepalanya, di keramaian warung Chinese.
‘Melihat pasangan yang pernah selingkuhi kita pulang,
rasanya lebih menyedihkan dari perselingkuhan itu sendiri.’
‘Dia menyukaimu. Mana ada anak magang peduli dengan
gratifikasi kepala cabangnya,’ kalimat Chandra—kakaknya seminggu lalu terngiang
di pikirannya. ‘Hebat sekali adikku, ada wanita muda menyukainya.’
‘Jangan seperti itu. Dia masih 19, terlalu rentan
disebut dewasa. Terlalu keras disebut remaja. Matanya berkilat benci. Dia hanya
remaja yang tumbuh terlalu cepat di kejamnya dunia,’ balas Angkasa.
“Kamu kenapa, Nak?”
Angkasa menoleh linglung, menatap ibunya yang memakai
celemek. Pemilik warung Chinese itu memucat menatap anaknya. Angkasa hanya
menggeleng sambil tersenyum pelan.
Drtt....
Pukul sebelas, pintu berderit pelan. Angkasa keluar
warung. Matanya bersitatap dengan Bulan. Sepatu keruh terhenti depan sepatu
usang, di keramaian bersanding lampu jalan.
“Kamu... baru pulang kerja paruh?”
“Belikan saya capcay, Pak.” Bulan melepas earphone,
tersenyum pelan.
Senyum Bulan luntur saat melihat pipi Angkasa memar.
Bahkan Angkasa tak menatapnya.
‘Bulan memakai emasmu untuk membayar hutang!’
“Lain kali saja,” ngebassnya mengalun letih.
Angkasa menyeluk saku mantel, sepatu usang
meninggalkan sepatu keruh. Kelokan ke kelokan menanjak. Lampu jalan menipis.
Sepatu keruh menyalib sepatu usang. Bulan terhenti saat melihat.
Cekrek!
Seseorang bersembunyi di balik dinding dengan kamera.
Sepatu keruh berbalik. Sepatu usang terhenti. Mata Bulan menatap dengki
Angkasa.
“Kenapa kamu marah lagi?”
Bulan mendekatinya.
“Saya marah karena Bapak tak pakai sepatu pemberian
saya.” Bulan melepas topi jaket lusuhnya.
‘Siapa yang kasih saya sepatu, Komang?’ Angkasa
menenteng plastik ungu sore tadi.
‘Bulan kayaknya, Pak... tadi saya lihat dia jatuhin di
bilik Bapak,’ sahut Komang sambil menyapu.
Angkasa menatap sepatu baru di plastik ungu. Ia
menatap ke bawah, sepatu usang pemberian Dara. Loker ia tutup sempurna.
“Saya bertanya-tanya kenapa saya keluyuran malam-malam
untuk sekadar melihat Bapak.”
Mata Angkasa tercenung mengalihkan pandang. “Pulang,
kenapa kamu berkeliaran!”
Sepatu usang lanjut jalan, sepatu keruh mengikutinya.
“Bapak harus tanggung jawab!”
Angkasa tak menoleh, Bulan terus menuntut balasan.
“Pukul kepala saya, Pak... agar saya bisa redam rasa
suka saya dengan kebencian!”
Angkasa terhenti. Matanya memerah menatap Bulan.
“Kau... kau.”
“Kau apa?!”
“Kau tak waras!”
Angkasa lanjut berjalan, Bulan menariknya.
“Kalau Bapak tak pukul saya....” Bulan menunduk, mata
merahnya menatap tanah. “Saya anggap Angkasa Putra menyukai Bulan!”
Bugh!
Napas Angkasa memberat melihat Bulan di tanah.
Tangannya mengerat di selempang tas. Bulan bangkit. Sepatu keruh memijak cepat.
Tatapan Bulan penuh dengki melewati pria yang sembunyi dengan kamera.
Rembulan seolah dimakan kegelapan. Angkasa menoleh menatap Bulan. Angkasa berjalan turun di tanjakan.
☾ ☾ ☾
Comments
Post a Comment