Bab 3 — Dua Potong Kue (Mati Rasa dalam Pelukan Tanpa Nama)

Enam bulan berlalu setelah ibu meninggal. Usiaku masih enam belas tahun, sementara Kak Ara menginjak tiga puluh satu. Setiap berangkat dan pulang kerja, Kak Ara selalu tersenyum simpul. Namun, binar di matanya tak bisa berbohong—betapa rindunya ia pada Ibu. Pada Ayah juga.

“Ayah dan Ibu di surga, Ara ulang tahun.” Kak Ara menggenggam erat tangan. “Semoga Ayah dan Ibu tenang di sana.”

Mentari merangkak naik di khatulistiwa. Mengirim seberkas sinar menyusup jendela. Menyibak gorden, simpulku mengembang menatap burung-burung gereja. Lilin kecil dihidupkan Kak Ara. Bersiap duduk di lantai, sorai pun bertemu kala lilin tertiup bersama kesedihan.

Dua potong kue terhidang di hadapan foto Ibu dan Ayah. Kak Ara memakan kuenya perlahan. Jariku menarik kado yang semalaman kuhias. Takut ketahuan, kusembunyikan di bawah taplak meja.

“Buat Kakak.”

Secarik senyum terbit di wajahnya. Menggelitik simpulku kala tangannya menggapai hadiah. Sehelai benang ditarik, bungkusan pun terlepas. Matanya berbinar mengamati kertas berukir emas.

Sebuah foto wisuda, dengan keluarga lengkap. Tertulis "Kakak Terbaik!". Aku mengedit foto itu, mengingat kami tak memiliki foto bersama. Pun Ayah dan Ibu berhalangan hadir di wisuda Kakak.

Kekehan kecil terhembus dari bibir Kak Ara. Menghapus air mata yang sempat menjejaki pipiku. Pelukan berhamburan, pucuk kepalaku diusap. Mengurai pelukan, Kak Ara menyendok kue ke piringku.

“Kamu harus makan yang banyak, Dik. Biar kuat.”

Aku membenarkan posisi duduk, tersenyum ceria. Setidaknya, jika bukan untuk diriku, aku harus hidup untuk kakakku, bukan?

“Gimana kondisi rumah sakit, Kak?” tanyaku membuka percakapan. Bibirku sibuk mengunyah warna-warni kue, walau tak ada rasa yang tercap di lidah.

Alis Kak Ara terangkat, seolah mengingat-ingat. “Lumayan. Ada pasien PTSD—dia merasa anaknya belum meninggal. Kakak senang bisa membantu.”

“Apa sudah sembuh?”

“Belum. Tapi pelan-pelan.”

Termenung sejenak, pandanganku jatuh pada botol kopi pekat di samping Kakak. Terisi penuh.

“Kak … utang Ayah dan Ibu tinggal berapa?”

Lama tanpa jawaban. Rupanya tanyaku mengundang acakan gemas di poni. Gingsulnya terlihat kala ia tersenyum gigi.

“Kamu fokus belajar saja. Jangan dipikirkan.”

“Hm. Nanya aja. Kan Kakak yang bayar.” Segaris simpul terplester di wajahku. Kak Ara tergelak.

“Berapa, Kak?”

Alih-alih menjawab, Kak Ara bangkit dan mengambil topi pramuka. Tanpa permisi, topi tertata asal di kepalaku.

“Ah, Kak Ara!” protesku sambil tertawa menggelitik.

Ciuman bertubi-tubi mendarat di pipi, disusul cubitan pelan membuatku geli. Kak Ara cengar-cengir sambil menguncir rambutnya. Jahil, kutarik pelan ikat kudanya.

“Kakak berangkat ke RS dulu. Kamu jenguk Bu Dewi, titip salam Kakak,” ucapnya sambil menggendong tas hitam besar. “Titip dessert box buat Orion juga.”

Seusai mengikat tali sepatu, ia keluar. Kala aku menyusun kotak nasi dan dessert box di meja, Kak Ara menoleh di bibir pintu.

“Jangan lupa kunci rumah.”

Aku tersenyum gigi. Aku memang sering lupa, kumasukkan dessert box ke dalam tas.

Angin berhembus memeluk dingin. Menggodanya surya yang malu menampakkan diri. Kala sang bulan menunggu di balik mendung. Mencegah hujan menitik di muka bumi.

Aku berlari. Lengkap dengan sarung tangan dan syal, seperti siap berperang. Sepatuku menanjak di rerumputan basah. Menuju rumah Pak Orion, yang dipenuhi kambing dan sapi.

“Bu Dewi, Karina ngos-ngosan,” aduku menghampiri ibunya Pak Orion, yang terduduk di kursi roda di sebelah meja terhias bunga. Beliau sibuk menghias tas dengan dedaunan kering.

Lututku pegal. Sepanjang perjalanan, ilalang menempel di jaket. Kusapu dengan jari kala napasku terhembus disebar angin.

Bu Dewi menyambutku dengan pelukan. Lengkungan rembulan menghias wajahnya. Menyulut kumis kucingku bermekaran.

“Oh ya, Bu ….” Tas serut berisi dessert box kuserahkan. Matanya menyipit disusul cekungan manis di pipi, kala ia menerima pemberian.

“Kak Ara ulang tahun. Kakak titip salam sama Ibu dan Pak Orion.”

“Ah, jangan repot-repot, Nak. Duduk, duduk sini,” balas Bu Dewi sembari mempersilahkanku duduk di sebelahnya.

Mengangguk, aku pun duduk seraya mengamati sekitar.

“Pak Orion mana, Bu?” tanyaku seusai tak menemukan keberadaannya.

“Orion lagi cari pakan sapi.”

“Oh.”

Napasku kian berhembus. Rasanya gigiku mau menggigil. Menggosok-gosok tangan, aku mencuci mata. Menyaksikan sapi pun kambing yang asyik melahap rumput tinggi.

Takjub dengan pekarangan rumahnya yang tersusun rapi. Apalagi Pak Orion bekerja sebagai guru dan pembina lomba. Bagaimana caranya mengejar waktu?

“Bu … Pak Orion orangnya seperti apa ya, Bu?” tanyaku penasaran.

Bu Dewi tersimpul. Jemarinya merajut helaian bunga di bagian luar tas. Aku ikut merapikan.

“Orion orangnya itu keras. Mungkin dari luar dia nampak lembut. Namun, hatinya terbentuk dari batu. Dia pantang menyerah. Pun pandai menyembunyikan perasaan.”

Aku termenung, menatap kelopak bunga yang gugur. Sungguh, dia sama seperti Kak Ara.

“Oh, ya ... Orion juga titip sesuatu untuk Ara,” tutur Bu Dewi menyadarkanku dari lunaman. Tangannya menyentuh kotak terbungkus rapi di meja.

Sticky notes yang tertempel erat di kotak. Tulisan tegak sambungnya mencuri perhatian. ‘Untuk Ara, Dessert box, selamat ulang tahun.’

Kemuning surya mengalihkan atensiku. Melihat jam di layar ponsel, pukul enam lewat tiga puluh. Aku pun berpamitan.

“Bu, maaf. Karina enggak bisa temani Ibu lagi. Karina berangkat sekolah dulu. Mau kejar bus.”

Bu Dewi tersenyum maklum, diikuti usapan lembut di pucuk kepalaku.

“Sering-sering mampir ke sini, kakakmu juga. Kalian berdua sudah Ibu anggap seperti anak sendiri.”

Pelukan berhamburan. Mataku terpejam erat dalam pelukannya. Meresapi kasih sayang ibu yang kurindukan.

Berlari. Membuka buku. Berlari lagi. Rasanya aku tak cukup dua puluh empat jam dalam sehari.

Bel berdering keras. Tinta pulpenku habis kala menulis sepenggal kalimat di kertas ujian. Sedikit lagi. Belum usai, kertasku diambil pengawas.

Mataku mengikuti tumpukan kertas yang dibawa keluar ruangan. Tersenyum kecewa, aku menyisir poniku yang basah. Rugi rasanya berusaha mati-matian jika nyatanya waktulah yang jadi masalah.

Serentak, hiruk pikuk manusia keluar kelas. Aku berdiri hampa di antara wajah sibuk bercerita. Lembayung senja terbungkus angin keras. Sepatuku memijak halte yang hingar. Menyaksikan pesatnya kendaraan berlalu-lalang. Sibuk meraih cita sampai lupa nyawa jadi taruhan.

Poni basahku diterbangkan angin. Menyelipkan ke telinga, aku bersitatap dengan Pak Orion yang berlari mengejar bus. Senyumnya menyebar. Langkahnya melambat kala menaiki halte. Bertopang pada pembatas, ia menatapku sembari tertawa ngos-ngosan.

Keramaian halte membludak senada angin kencang dari bus yang menepi. Kami saling bertukar tawa dalam diam. Gemerlap lampu kota bermain manja dengan senja. Sebentar lagi, surya akan menjemput bulannya.

Bab Sebelumnya.... 

Bab Selanjutnya....

Comments

Popular Posts