Bab 2 — 3919, 1919, 3939 (Remang Bulan di Angkasa)

Mentari terbit. Emas curian 25 gram terlalai di lantai. Air hangat tertuang ke gelas. Denting sendok melarutkan kemiri. Bulan siapkan nasi dan obat sebelah ibu. Ibunya lumpuh tak bisa jalan dan bicara.

‘Bu, makan nasi dan minum obatnya. Bulan pamit ke tempat magang.’ Tangan Bulan memberi isyarat.

‘Kamu tidak capek, Bulan?’ Tangan ibu bergerak pelan di kasur, simpul membingkai wajah pucat.

‘Ibu jangan khawatir.’

Bulan mengambil emas lalu menggendong tas. Kamarnya dikunci rapat. Ia menuruni tangga kosan, berjalan kaki ke terminal GOR, berdiri memegang handle Sarbagita, turun di plang bus stop depan BI.

‘Menyalakan cahaya harapan untuk generasi emas Indonesia,’ isi baliho BRI yang dilewati Bulan.

Gembok terbuka, pintu besi tertarik ke atas. Tempat gadai dipenuhi bau kecoak. Staf dan anak magang masuk. Penaksir mencari kemiri untuk gosok batu, kasir merapikan uang, anak magang WA nasabah.

“Kamu lihat kemiri, Lan?” tanya Feri. Penaksir itu kehilangan kemiri di lacinya.

Bulan tak menjawab. Anak magang itu menghidupkan EDC. Tak kunjung hidup, EDC diketuk keras di meja.

“Hadeh,” Feri menggosok kepala, tambah pusing bertanya dengan Bulan.

“Kamu kehilangan apa, Fer?” ngebass Angkasa bertanya. Kepala cabang itu masuk ke lorong, meletakkan tas, mengambil sebotol air di pantry.

“Kemirinya hilang, Pak... kayaknya ada yang nyuri.”

“Mana ada orang di sini nyuri, Fer,” celetuk Ratna.

“Ada, Rat... pasti tikus makan kemirinya,” balas Feri.

Gerak Bulan terhenti mendengar itu. Mata cekungnya menatap saku kemejanya. Kerikil coklat mengotori. Bulan lanjut mengetuk EDC keras. Feri mengacak rambut. EDC menyala, Bulan ke pantry.

“Komang, tolong belikan Feri kemiri sama saya nasi bungkus ya.” Angkasa memberi lembaran merah ke satpam yang membersihkan rak. Lekas satpam belanja di warung Madura sebelah.

Tuk!

Angkasa menoleh saat pintu kulkas mengetuk dinding. Bulan mengambil Beng-Beng sangat banyak. Tegukan Angkasa terhenti, botol dingin tergenggam di tangannya, melihat Bulan bak kerasukan melahap.

“Kalau kamu magang... siapa yang jaga ibumu di kos?”

“Ibu kos.”

“Benarkah?”

Angkasa tak kunjung mendapat jawaban, seiring satpam meletakkan plastik hitam di meja.

“Jaga kesehatanmu, jangan sampai kelelahan.”

Plastik itu tersodor ke Bulan. Angkasa pergi ke bilik pelayanan. Bulan terhenti mengunyah Beng-Beng. Matanya menatap nasi bungkus di plastik hitam.

“Aaaa!” teriak Feri di bilik pelayanan mengejutkan semuanya. “Kan bener tikus yang makan kemirinya.”

“Komang, bunuh tikusnya! Aku takut tikus!”

“Sabar, Ratna.”

Tikus keluar dari lemari, meloncat ke sepatu Feri, lalu kabur ke meja kasir. Ratna meloncat ke kursinya. Komang cari tikus dengan sapu. Tikus cilukba numpang lewat, Komang dan Feri kompak menjerit.

“Takut juga loh,” Komang nyengir kuda, membuat Angkasa menghampiri si tikus yang lari sprint ke bilik tim mikro.

Tikus bersembunyi di celah dinding dan meja telepon. Anak magang ribut dorong meja, menjepit si tikus. Seiring telepon berdering, Bulan ke bilik tim mikro, mengangkat telepon, tak peduli dengan si tikus.

“Nomor surat gadai Ibu berapa?”

“3919, 1919, 3939, tolong difotokan, Dik... sama emas 25 gram tertinggal di kursi, hadiah untuk kacab Pak Angkasa karena sudah membantu saya.”

Bulan menulis di kertas. “Sebentar akan saya fotokan lewat WA dan carikan, Bu.”

Telepon ditutup. Bulan jongkok, mengambil tikus yang terjepit. Tangannya memegang tikus. Semua wajah jijik-jijik ngeri melihatnya. Angkasa mengambil tikus dari tangan Bulan lalu melepaskan di jalan.

“Yah, Pak... kok enggak dibunuh sih?”

“Kasian. Dia sudah tinggal di jalan malah dibunuh... bukan mereka yang harusnya dibunuh, tapi lingkungannya yang harusnya dibersihkan.”

“Wah, bapak memang berbudi pekerti luhur.” Feri tersenyum melihat kepala cabangnya.

Mereka kembali ke bilik pelayanan, saat Bulan sibuk dengan telepon dan surat gadai. Tiba-tiba tim area datang masuk ke cabang. Staf dan anak cabang berkerut alis kala dokumen di bilik Angkasa disita.

“Lah, kenapa surat gadainya diambil? Itu penting,” Feri menahan tumpukan berkas Angkasa.

“Bapak ikut kami.” Tim area menghampiri Angkasa.

Mata Angkasa berkilat lelah. “Kenapa berkas saya disita? Saya tak ada melakukan kesalahan.”

“Bapak ikut kami.”

Angkasa tetap berdiri di tempatnya. Tim area tak punya pilihan dan menarik Angkasa. Bulan meninggalkan ponsel, rekaman menyala di bilik pelayanan, berjalan ke lorong, emas keluar dari tasnya.

“Saya yang ambil, bukan Pak Angkasa,” Bulan menyerahkan emas ke tim area, memicu semua staf menganga.

Tim area lekas mengamankan emas. Nafas Angkasa tertahan, melihat Bulan dibawa tim area keluar cabang. Jarum jam mengetuk angka delapan, pintu terbuka lekas, Angkasa berlari mengejar mereka.

“Anak magang di bawah kepala cabang. Saya yang bertanggung jawab atas mereka.”

Mentari bersinar cerah di langit membiru. Angkasa menghentikan langkah mereka. Perlahan Bulan menoleh termangu.

Ruang sempit dengan satu meja dan kursi. Berkas dan laptop bersanding sempurna. Bulan dimintai keterangan tim area.

“Bulan, apa kamu disuruh kepala cabangmu mengambil gratifikasi itu?”

“Tak ada sangkut paut dengan Pak Angkasa. Saya tak tahu isi kotak itu awalnya. Saya ambil dan sudah kembalikan.... Seseorang telepon, minta difotokan surat gadai 3919, 1919, 3939. Saya cek, ketiganya dari nasabah berbeda. Saya telepon ulang, nomornya sibuk. Anda bisa lacak nomornya.”

Bulan menyerahkan selembaran kertas yang ia catat. Tim area membaca nomor di kertas lalu lekas menghubungi seseorang. Sedangkan di ruangan berbeda, Angkasa terus dicurigai tim area lainnya.

“Emas 25 gram tertinggal di kursi, hadiah untuk kacab Pak Angkasa karena sudah membantu saya....” Tim area memutar rekaman telepon cabang. “Bukankah itu gratifikasi?”

“Saya tak ada terima. Dari CCTV, yang meninggalkan bukan nasabah....” Angkasa menunjuk rekaman CCTV di laptop. “Kemarin dia duduk di ruang tunggu akhir jam pulang, pakai masker, lalu sengaja meninggalkan kotak, kami kira kosong. Bulan ambil saat cabang tutup dan sudah dikembalikan.”

Berlarut-larut mentari tenggelam. Jarum jam terus berputar di dinding. Mata sayu Angkasa menatap Bulan saat keluar ruang. Tak bersalah, Bulan balik ke cabang lanjut magang, sedangkan Angkasa naik lift lanjut kerja.

“Apa kabar, Kakak Ipar?” sapa Bara. Deputi bisnis itu tersenyum pada Angkasa di lift.

“Baik.”

“Jaga NPL cabangmu, Kak... agar tak disorot pusat.” Bara tersenyum. Sepupu mantan istri Angkasa itu membuat Angkasa tak tersenyum.

Pintu lift terbuka, mereka berpisah. Angkasa ke ruang pimpinan wilayah sedangkan Bara ambil tas di ruangannya. Deputi bisnis itu pulang. Mobil hitam keluar dari parkiran. Bara menuju kosan ponakannya.

Tak terasa langit sudah gulita seiring langkah Bulan melambat di trotoar. Earphone tersumpal di telinga, layar ponsel menunjuk pukul sepuluh, rekaman di bilik pelayanan kian terputar.

“Anak magang kayak dia serem banget,” ucap Feri.

“Diem-diem suka nyuri ternyata,” imbuh Ratna.

“Kamu... dari mana?” Getar ngebass merambat di telinga memicu sepatu keruh Bulan terhenti.

Bulan lepas earphone dan berbalik, menatap sepatu usang Angkasa. Pria itu membawa dua bungkus capcay panas di plastik hitam, depan keramaian warung makan Chinese, lampu meredup di bawah temaram rembulan.

“Kamu dari mana?” tanya Angkasa lagi.

Bulan tercenung. “Kerja... paruh waktu.”

Kian melangkah. Kelokan ke kelokan menanjak. Lampu jalan menipis di kegelapan. Sepatu usang melangkah cepat mendahului sepatu keruh. Dingin menyusup mantel dan jaket keruh. Sebuah kosan terlihat.

“Terima... kasih,” ngebassnya mengalun letih.

Angkasa membenarkan selempang tas, lanjut berjalan lurus, sedangkan Bulan ke kelokan gang kumuh. Musik berdentum, pesing menusuk hidung. Bulan masuk rumah kosan, menaiki tangga, membuka pintu.

“Baru pulang?”

Bulan menaruh tas dan plastik hitam di meja. Kabel rice cooker terpasang, panci berisi air mendidih. Bungkusan kopi tersobek, tertuang ke gelas. Denting sendok mengaduk kopi dengan air panas.

“Kata ibumu kepala cabangmu baik.”

Bulan terhenti meneguk saat mendengar ucapan Bara. Pamannya itu menunjukkan selembaran kertas yang ditulis ibu. Ibu tertidur lelap di kasur tipis.

‘Bulan punya kepala cabang baik... dia menolong Bulan saat kakak sakit, Bara,’ isi kertas itu.

“Sudah sampai mana Angkasa menolongmu, Bulan?”

“Tempat gadai.”

“Dia menolong seperti apa?”

“Cross selling.” Bulan lanjut meneguk kopi sembari upload logbook—tugas kuliah magangnya lewat ponsel.

Bara bangkit dari kursi lalu menyodorkan uang pada Bulan. “Kamu belum bayar kos, kan?”

Bulan tak menjawab.

“Pantas ayahmu memohon-mohon untuk menyekolahkanmu. Umur 19 kamu sudah magang di tempat bagus, ternyata kamu memang sepintar ini... Diammu itu seperti taktik.” Bara tersenyum.

Bulan lanjut meneguk kopi tak peduli.

Bara mendekati pintu. “Buat saja kepala cabangmu mengantarmu pulang. Nanti paman suruh orang foto dari belakang. Hanya rumor kepala cabang mengantar anak magang. Itu saja, tak lebih.”

Lengkungan sabit berpendar di redupnya bintang. Mobil Bara meninggalkan kelokan gang. Bulan menatap meja yang berisi seikat uang.

Bab Sebelumnya....

Bab Selanjutnya....

Comments

Popular Posts