Bab 2 – Sebotol Obat Tergeletak (Mati Rasa dalam Pelukan Tanpa Nama)

Ibu terbatuk. Tak bisa bangun dari kasur. Aku bergegas mencari buku dan pulpen. Mengambil botol obat, lekas kubawa nampan berisi bubur dan air dari dapur ke kamar ibu.

"Nak, ke-kenapa belum berangkat sekolah?" tanya ibu tersendat kala batuknya semakin keras.

"Ini sebentar lagi Karina berangkat, Bu." Aku membantu ibu duduk di kasur. Memberi air dan menyuapi beberapa sendok bubur. Sesekali tanganku sibuk menulis tugas sekolah.

Setelah selesai menyuapi, aku pamit dengan ibu. Menyeluk saku seragam, kuberikan ponselku padanya.

"Ibu ... nanti telepon nomor Pak Orion ya kalau kenapa-napa. Karina pasti pulang kalau ibu perlu Karina."

Ibu menggenggam erat tanganku. Mata sayunya menatapku begitu lekat. "Kamu sudah banyak membantu, Nak. Maaf, Ibu selalu merepotkanmu."

Aku menggeleng, menolak ucapannya. Memeluk erat tubuhnya lalu aku bergegas berangkat sekolah.

"Karina, gimana kabar ibumu?"

Terlalu sibuk mengejar waktu, aku sampai tak sadar berlari melewati Pak Orion di depan ruang guru. Berbalik, aku memegang selempang tas erat.

"Baikan, Pak. Cuma batuk Ibu masih keras," tuturku, menunduk menatap sepatu putihku yang keruh.

Tak kusangka sepatu Pak Orion memangkas jarak. Tangannya mengobrak-abrik plastik hitam yang dibawa. Sebungkus nasi dengan sendok plastik pun ia genggam.

"Ibu saya titip salam, jaga kesehatanmu. Jangan terlalu kelelahan," tuturnya pelan. Bibirnya tersenyum begitu tulus. Matanya menatap mataku lekat.

Mengangguk tanpa suara, tanganku kaku untuk sekadar menerima nasinya. Teringat akan sesuatu, aku mengobrak-abrik tas.

"Ibu juga titip salam, Pak. Jaga kesehatan Bapak."

Kami bertukar senyum kala tanganku menghaturkan kotak nasiku padanya. Ia tak menolak sedikit pun, alih-alih ia terkekeh dan menggenggamnya erat.

"Bapak belum pulang?" tanyaku sekadar basa-basi.

"Belum. Masih ada urusan penting untuk lomba dan acara sekolah."

"Oh, iya, Pak. Ibu saya ada telepon nomor Bapak, enggak?" tanyaku sembari memeriksa tas.

Pak Orion menggeleng. Alisnya terangkat sempurna. "Kenapa?"

"Enggak. Saya cuma nanya aja ... Hm, saya juga lupa taruh botol obat Ibu di dapur." Aku mengerutkan alis. Mencoba mengingat-ingat di mana meletakkan botol obatnya.

Jarum jam di dinding mencuri atensiku. Pukul 3 sore teng. Lekas aku bersalaman dengan Pak Orion, aku takut ketinggalan bus.

"Pak, maaf, Pak. Saya pulang dulu ya. Mau kejar bus," ucapku buru-buru tanpa melihat responsnya.

Cepat, sepatuku berlari di sepanjang jalanan padat. Terik mentari membakar kulitku. Memijak di antara kepulan debu nan peluh berdesak. Macet dan keruwetan hidup tak berwarna. Berdiri lelah, menggantung asa di handle bus yang rapuh. Bersikap seolah tak ada hari esok, mati pun rasanya tak apa.

Setiba di rumah, aku terkejut bukan main. Tanganku bergetar, kakiku tak mampu berjalan. Wajah Ibu yang pucat, matanya terpejam erat. Jantungku berdetak keras. Botol obat tergeletak di meja. Jam dinding berdetik lekas. Pintu kamar terbuka.

Mataku memberat terasa panas. Bibirku terbuka, tak bisa berkata-kata.

"I-Ibu?" Tanganku bergetar kala mengusap busa di pipi Ibu.

Kupeluk kepala Ibu agar bisa mendengar napasnya. Namun, hanya napas tersengalku yang terdengar. Layar ponselku retak tergeletak di lantai. Jariku getir untuk sekadar menekan tombol.

Dering telepon menyambung. Aku menggigit kuku jariku sampai berdarah. Tak kunjung terangkat, nomor telepon Kakak tak bisa dijangkau. Aku bingung harus menelepon siapa.

"Iya, Karina. Ada apa?" Sedetik aku memanggil nomornya langsung terangkat. Mataku berkaca-kaca, aku tak ingin berbicara.

"Pak ...." Suaraku bergetar ingin tiada. "Pak, Ibu, Pak."

Tangisku pecah, batinku tersiksa. Bibirku tak kuat lagi untuk sekadar berbicara. Kuredam mati-matian isak walau bernapas pun terasa mati rasa. Ponsel tergeletak di lantai dengan panggilan terputus. Jari berdarahku menekan layarnya keras.

Tak bisa berpikir jernih lagi, aku langsung berlari keluar rumah. Tanpa sandal maupun alas kaki. Bermenit-menit di antara ratusan manusia dan kendaraan tak berhenti. Mataku mencari tumpangan terdekat untuk ke rumah sakit.

“Karina!”

Namaku terpanggil dari sebuah mobil hitam yang menepi. Pintunya terbuka dan Pak Orion muncul dengan wajah khawatir. Lekas, aku masuk ke mobil. Tanpa bertanya, Pak Orion memutar setir dengan cepat dan terkendali. Menjemput Ibu dan membawanya ke rumah sakit.

Setiba di rumah sakit, tak ada yang bisa dibicarakan lagi. Tanpa perlu masuk ke kamar, Ibu sudah tertidur rapi di kereta jenazah. Kepalaku terasa berat, mataku terkejap-kejap menatap langit. Tak henti-henti, kugigit kuku untuk menahan tangis.

“Kamu boleh menangis, Karina.”

Satu-satunya suara yang kudengar adalah suara Pak Orion. Ketukan sepatunya yang mendekat. Tangannya yang mengobrak-abrik tas. Sapu tangan hitamku ia kembalikan padaku.

Tak mampu menunjukkan kekacauanku di hadapannya, aku runtuh dan menangis di pundaknya. Tanganku terus mengusap keras air mata yang menghujani pipiku. Deras, rasanya kepalaku mau pecah. Perlahan, kurasakan tangan Pak Orion menepuk-nepuk punggungku tenang. Sayup-sayup, bisiknya terdengar mengalun di telinga.

“Ibumu sudah pergi ke tempat paling indah di surga. Melihat wajahmu, mendoakan namamu, bangga akan anak enam belas tahun yang kuat sepertimu, ibumu pasti tenang dan bahagia di sana," tuturnya yang semakin membuatku tersedu-sedu.

Malam yang kelam. Bintang di langit berpendar lemah. Pintu rumah duka terbuka lebar. Pakaian hitam-hitam memenuhi ruang. Banyak tetangga turut berduka atas kepergian Ibu. Termasuk Pak Orion yang ikut membantu.

Sungguh. Aku sungguh sedih melihat sekitar terutama kondisi Kak Ara. Kak Ara yang bekerja dua puluh empat per tujuh. Menghidupiku dan Ibu tanpa sedikit pun mengeluh. Lingkaran hitam di bawah matanya menjadi tanda betapa kerasnya dirinya. Tak menangis sedikit pun, mencoba tegar walau napasnya tersengal setiap kali tubuhnya dipeluk para pelayat. Hingga Pak Orion menghampirinya dan memeluknya. Kak Ara menangis terisak di pelukannya.

“Seharusnya aku perpanjang saja rawat inap Ibu di rumah sakit. Kenapa aku malah mendengarkan temanku?” Kalimat itu terus menjadi penyesalan Kak Ara. Berulang kali aku menepisnya, Kak Ara tetap menyalahkan dirinya atas meninggalnya Ibu.

“Seharusnya aku enggak jadi psikiater dan sibuk jaga shift di rumah sakit. Ibu akan bisa berbicara padaku, bukan?” Kak Ara mengurai pelukan. Matanya yang merah menatap Pak Orion seperti memohon jawaban.

Tak bisa menjawab apa pun, Pak Orion memeluk Kak Ara dan mengusap rambutnya. Meredakan hujan yang sempat deras itu dengan tepukan di kepala.

“Bukan salah siapa pun. Bukan salah siapa pun,” bisik Pak Orion menenangkan Kak Ara. Aku memegang erat tangan Kak Ara. Napasya tersengal.

“Tapi, sungguh. Aku masih ingin bicara pada Ibu. Tidak bisakah ia bicara padaku, kali ini saja. Walau untuk yang terakhir kalinya?”

Tak bisa berucap lagi, Pak Orion mengejap-ngejapkan matanya melihat ke atas. Seolah menahan air mata agar tak menetes. Pak Orion tahu persis apa rasanya ditinggalkan. Tanpa bertukar kata apa pun, mereka sama-sama tahu bagaimana rasanya.

Mereka saling bersandar, meniadakan kesedihan dengan pelukan. Mataku berkaca-kaca, tanpa mereka sadari mereka mati rasa dalam pelukan tanpa nama.

Bab Sebelumnya....

Bab Selanjutnya....

Comments

Popular Posts