Bab 2 – Sebotol Obat Tergeletak (Mati Rasa dalam Pelukan Tanpa Nama)
Ibu terbatuk. Tak bisa bangun dari kasur. Aku bergegas
mencari buku dan pulpen. Mengambil botol obat, lekas kubawa nampan berisi bubur
dan air dari dapur ke kamar ibu.
"Nak, ke-kenapa belum berangkat sekolah?"
tanya ibu tersendat kala batuknya semakin keras.
"Ini sebentar lagi Karina berangkat, Bu."
Aku membantu ibu duduk di kasur. Memberi air dan menyuapi beberapa sendok
bubur. Sesekali tanganku sibuk menulis tugas sekolah.
Setelah selesai menyuapi, aku pamit dengan ibu.
Menyeluk saku seragam, kuberikan ponselku padanya.
"Ibu ... nanti telepon nomor Pak Orion ya kalau
kenapa-napa. Karina pasti pulang kalau ibu perlu Karina."
Ibu menggenggam erat tanganku. Mata sayunya menatapku
begitu lekat. "Kamu sudah banyak membantu, Nak. Maaf, Ibu selalu
merepotkanmu."
Aku menggeleng, menolak ucapannya. Memeluk erat
tubuhnya lalu aku bergegas berangkat sekolah.
⋆。 ゚ ☁︎。 ⋆。⚛︎ ゚ ☾ ゚ 。 ⋆
"Karina, gimana kabar ibumu?"
Terlalu sibuk mengejar waktu, aku sampai tak sadar
berlari melewati Pak Orion di depan ruang guru. Berbalik, aku memegang
selempang tas erat.
"Baikan, Pak. Cuma batuk Ibu masih keras,"
tuturku, menunduk menatap sepatu putihku yang keruh.
Tak kusangka sepatu Pak Orion memangkas jarak.
Tangannya mengobrak-abrik plastik hitam yang dibawa. Sebungkus nasi dengan
sendok plastik pun ia genggam.
"Ibu saya titip salam, jaga kesehatanmu. Jangan
terlalu kelelahan," tuturnya pelan. Bibirnya tersenyum begitu tulus.
Matanya menatap mataku lekat.
Mengangguk tanpa suara, tanganku kaku untuk sekadar
menerima nasinya. Teringat akan sesuatu, aku mengobrak-abrik tas.
"Ibu juga titip salam, Pak. Jaga kesehatan
Bapak."
Kami bertukar senyum kala tanganku menghaturkan kotak
nasiku padanya. Ia tak menolak sedikit pun, alih-alih ia terkekeh dan
menggenggamnya erat.
"Bapak belum pulang?" tanyaku sekadar
basa-basi.
"Belum. Masih ada urusan penting untuk lomba dan
acara sekolah."
"Oh, iya, Pak. Ibu saya ada telepon nomor Bapak,
enggak?" tanyaku sembari memeriksa tas.
Pak Orion menggeleng. Alisnya terangkat sempurna.
"Kenapa?"
"Enggak. Saya cuma nanya aja ... Hm, saya juga
lupa taruh botol obat Ibu di dapur." Aku mengerutkan alis. Mencoba
mengingat-ingat di mana meletakkan botol obatnya.
Jarum jam di dinding mencuri atensiku. Pukul 3 sore
teng. Lekas aku bersalaman dengan Pak Orion, aku takut ketinggalan bus.
"Pak, maaf, Pak. Saya pulang dulu ya. Mau kejar
bus," ucapku buru-buru tanpa melihat responsnya.
Cepat, sepatuku berlari di sepanjang jalanan padat.
Terik mentari membakar kulitku. Memijak di antara kepulan debu nan peluh
berdesak. Macet dan keruwetan hidup tak berwarna. Berdiri lelah, menggantung
asa di handle bus yang rapuh. Bersikap seolah tak ada hari
esok, mati pun rasanya tak apa.
Setiba di rumah, aku terkejut bukan main. Tanganku
bergetar, kakiku tak mampu berjalan. Wajah Ibu yang pucat, matanya terpejam
erat. Jantungku berdetak keras. Botol obat tergeletak di meja. Jam dinding
berdetik lekas. Pintu kamar terbuka.
Mataku memberat terasa panas. Bibirku terbuka, tak
bisa berkata-kata.
"I-Ibu?" Tanganku bergetar kala mengusap
busa di pipi Ibu.
Kupeluk kepala Ibu agar bisa mendengar napasnya.
Namun, hanya napas tersengalku yang terdengar. Layar ponselku retak tergeletak
di lantai. Jariku getir untuk sekadar menekan tombol.
Dering telepon menyambung. Aku menggigit kuku jariku
sampai berdarah. Tak kunjung terangkat, nomor telepon Kakak tak bisa dijangkau.
Aku bingung harus menelepon siapa.
"Iya, Karina. Ada apa?" Sedetik aku
memanggil nomornya langsung terangkat. Mataku berkaca-kaca, aku tak ingin
berbicara.
"Pak ...." Suaraku bergetar ingin tiada.
"Pak, Ibu, Pak."
Tangisku pecah, batinku tersiksa. Bibirku tak kuat
lagi untuk sekadar berbicara. Kuredam mati-matian isak walau bernapas pun
terasa mati rasa. Ponsel tergeletak di lantai dengan panggilan terputus. Jari
berdarahku menekan layarnya keras.
Tak bisa berpikir jernih lagi, aku langsung berlari
keluar rumah. Tanpa sandal maupun alas kaki. Bermenit-menit di antara ratusan
manusia dan kendaraan tak berhenti. Mataku mencari tumpangan terdekat untuk ke
rumah sakit.
“Karina!”
Namaku terpanggil dari sebuah mobil hitam yang menepi.
Pintunya terbuka dan Pak Orion muncul dengan wajah khawatir. Lekas, aku masuk
ke mobil. Tanpa bertanya, Pak Orion memutar setir dengan cepat dan terkendali.
Menjemput Ibu dan membawanya ke rumah sakit.
Setiba di rumah sakit, tak ada yang bisa dibicarakan
lagi. Tanpa perlu masuk ke kamar, Ibu sudah tertidur rapi di kereta jenazah.
Kepalaku terasa berat, mataku terkejap-kejap menatap langit. Tak henti-henti,
kugigit kuku untuk menahan tangis.
“Kamu boleh menangis, Karina.”
Satu-satunya suara yang kudengar adalah suara Pak
Orion. Ketukan sepatunya yang mendekat. Tangannya yang mengobrak-abrik tas.
Sapu tangan hitamku ia kembalikan padaku.
Tak mampu menunjukkan kekacauanku di hadapannya, aku
runtuh dan menangis di pundaknya. Tanganku terus mengusap keras air mata yang
menghujani pipiku. Deras, rasanya kepalaku mau pecah. Perlahan, kurasakan
tangan Pak Orion menepuk-nepuk punggungku tenang. Sayup-sayup, bisiknya
terdengar mengalun di telinga.
“Ibumu sudah pergi ke tempat paling indah di surga.
Melihat wajahmu, mendoakan namamu, bangga akan anak enam belas tahun yang kuat
sepertimu, ibumu pasti tenang dan bahagia di sana," tuturnya yang semakin
membuatku tersedu-sedu.
⋆。 ゚ ☁︎。 ⋆。⚛︎ ゚ ☾ ゚ 。 ⋆
Malam yang kelam. Bintang di langit berpendar lemah.
Pintu rumah duka terbuka lebar. Pakaian hitam-hitam memenuhi ruang. Banyak
tetangga turut berduka atas kepergian Ibu. Termasuk Pak Orion yang ikut
membantu.
Sungguh. Aku sungguh sedih melihat sekitar terutama
kondisi Kak Ara. Kak Ara yang bekerja dua puluh empat per tujuh. Menghidupiku dan Ibu
tanpa sedikit pun mengeluh. Lingkaran hitam di bawah matanya menjadi tanda
betapa kerasnya dirinya. Tak menangis sedikit pun, mencoba tegar walau napasnya
tersengal setiap kali tubuhnya dipeluk para pelayat. Hingga Pak Orion
menghampirinya dan memeluknya. Kak Ara menangis terisak di pelukannya.
“Seharusnya aku perpanjang saja rawat inap Ibu di
rumah sakit. Kenapa aku malah mendengarkan temanku?” Kalimat itu terus menjadi
penyesalan Kak Ara. Berulang kali aku menepisnya, Kak Ara tetap menyalahkan
dirinya atas meninggalnya Ibu.
“Seharusnya aku enggak jadi psikiater dan sibuk
jaga shift di rumah sakit. Ibu akan bisa berbicara padaku,
bukan?” Kak Ara mengurai pelukan. Matanya yang merah menatap Pak Orion seperti
memohon jawaban.
Tak bisa menjawab apa pun, Pak Orion memeluk Kak Ara
dan mengusap rambutnya. Meredakan hujan yang sempat deras itu dengan tepukan di
kepala.
“Bukan salah siapa pun. Bukan salah siapa pun,” bisik
Pak Orion menenangkan Kak Ara. Aku memegang erat tangan Kak Ara. Napasya
tersengal.
“Tapi, sungguh. Aku masih ingin bicara pada Ibu. Tidak
bisakah ia bicara padaku, kali ini saja. Walau untuk yang terakhir kalinya?”
Tak bisa berucap lagi, Pak Orion mengejap-ngejapkan
matanya melihat ke atas. Seolah menahan air mata agar tak menetes. Pak Orion
tahu persis apa rasanya ditinggalkan. Tanpa bertukar kata apa pun, mereka
sama-sama tahu bagaimana rasanya.
Mereka saling bersandar, meniadakan kesedihan dengan
pelukan. Mataku berkaca-kaca, tanpa mereka sadari mereka mati rasa dalam
pelukan tanpa nama.
⋆。 ゚ ☁︎。 ⋆。⚛︎ ゚ ☾ ゚ 。 ⋆
Comments
Post a Comment