Bab 1 - Sapu Tangan Hitam (Mati Rasa dalam Pelukan Tanpa Nama)

Dua tahun yang lalu, saat usiaku masih lima belas tahun ....

Pintu rumah duka terbuka lebar. Pakaian hitam-hitam memenuhi ruang. Banyak tetangga turut berduka atas kepergian ayah Pak Orion. Termasuk aku yang mewakili keluargaku.

Keluargaku dengan keluarga Pak Orion sangatlah dekat. Kami sering bahu-membahu satu sama lain. Pak Orion juga teman masa kecil Kak Ara, kakakku. Namun, karena Kak Ara sibuk kerja dan ibu sakit, aku pun datang sendirian.

Sungguh. Aku sungguh prihatin melihat kondisi Pak Orion. Matanya sembab, tubuh kurus kering bak kelelahan, Pak Orion bangkit dari dudukan. Menepi dari keramaian, ia termenung sendirian di pojokan. Mengingat dirinya yatim yang sama sepertiku membuat hatiku tergerak.

Aku pun menghampirinya.

"Pak, Bapak boleh menangis, Pak." Kuberikan sapu tangan hitamku padanya. Aku takut kata yang tak kuinginkan terlontar dari bibirku.

Pak Orion bergeming, tak bergerak sedikit pun. Aku bingung harus berucap apa untuk mengubah suasana hatinya. Memegang syal, suaraku bergetar untuk sekadar menyemangati.

"Setidaknya Bapak bisa bersyukur karena pernah bertemu ayah Bapak," tuturku pelan memicu jakunnya naik turun.

Mata sayunya yang merah menatap mataku. "Kenapa saya harus bersyukur?"

"Dibandingkan dengan saya yang tidak pernah bertemu ayah saya." Aku mencoba untuk tersenyum.

"Menurutmu saya harus bersyukur kehilangan ayah saya?" tanyanya.

Batinku terketuk, ragaku terkutuk. Bibirku getir untuk sekadar tersenyum.

"Kamu kira hidup ini hanya seputar dirimu?" final ucapan Pak Orion menusuk telingaku.

Sejak saat itu, pintu rumah Pak Orion tertutup rapat. Ia pergi meninggalkan rumah bersama ibunya tanpa kabar apa pun dan aku sungguh menyesal atas ucapanku.

6 bulan berlalu tanpa kabar. Pintu bus terbuka lebar. Hiruk pikuk manusia disiram terik mentari teramati mata. Tak sengaja, mataku bersipandang lagi dengan mata Pak Orion. Terhalang jendela bus, kami saling memandang. Ia bersama ibunya desak-desakan keluar dari bus.

"Biar saya bantu, Pak." Aku menolong Pak Orion yang kesusahan mendorong kursi roda ibunya menuruni halte.

Ketika rodanya menginjak tanah, Pak Orion tersenyum lega menatapku. Begitu pun denganku. Banyak kalimat memadati pikiran. Namun, satu pun tak terlontar. Kami hanya saling pandang dengan senyuman, tanpa kata yang bertukar.

"Nak, mampir ke rumah ibu dulu, Nak," pinta ibunya tersenyum tulus. Kedua tangannya mengusap lembut tanganku. Sungguh, aku tak sanggup menolak.

Rumah berdinding kayu yang rapi. Permadani dan buku-buku tersusun simetris. Secangkir teh panas terhidang dengan beberapa lembaran serbet. Aku melepas sarung tangan.

Duduk hadap-hadapan dengan Pak Orion membuatku kikuk. Ibunya baru saja tertidur di kamar. Entah apa yang harus kuucapkan pada Pak Orion, aku takut salah ucap lagi.

"Karina."

"Pak."

Satu kata terlontar bersamaan, tawa kecil pun melumbung ke langit. Pak Orion mempersilahkanku untuk berucap dahulu. Namun, aku mempersilahkannya.

Menarik napas, Pak Orion berucap, "Karina, saya minta maaf, ucapan saya terlalu kasar saat itu—"

"Enggak, Pak. Saya yang harusnya minta maaf karena salah ..." Aku memotong ucapannya. "Saya seharusnya bisa lebih simpati saat itu tentang ayah Bapak. Saya sungguh-sungguh minta maaf, Pak."

Pak Orion terdiam mendengar ucapanku. Matanya sempat berkaca-kaca. Namun, ia kedipkan. Meneguk ludah, ia menatap mataku sejenak.

"Sudah terbang bersama awan. Jangan diangkat-angkat lagi." Ia mengembuskan napas. Aku menghirup sembari menatapnya lekat.

Memakai sarung tangan, aku mengalihkan percakapan, "Bapak ke mana, tanpa kabar? Ibu saya titip salam buat Bapak."

"Bapak jadi pembina olimpiade psikologi di luar kota. Maaf tidak sempat mengabari ... Oh, ya kamu dapat di SMA mana, Karina?" tanya balik Pak Orion sekadar membuat percakapan.

"Saya dapat di SMA 3, Pak," sahutku tersenyum simpul.

Alisnya terangkat terkejut. "Kamu mau ambil peminatan apa?"

"IPA, Pak."

"Hati-hati sama mapel biologi atau seperti psikologi sosiologi. Kamu bakal sering ketemu saya berarti. Saya guru killer lo." Pak Orion terkekeh sembari mengaduk tehnya.

Terkejut mendengar Pak Orion dilabeli guru killer, aku hanya tersenyum gigi, tak bisa berkata-kata. Jarum jam di dinding kayu mencuri atensiku. Pukul 3 sore, aku harus bergegas ke rumah membantu ibu.

Teh yang hangat tandas sekali teguk. Mengelap bibir, aku bangkit dari dudukan. Pamit pada Pak Orion dan ibunya yang tertidur.

"Titip salam sama ibumu dan juga Ara ... kakakmu," pinta Pak Orion berdiri di bibir pintu.

Aku berjalan mundur sembari mengangguk. Tanganku kikuk memegang syal.

"Hati-hati, rajin belajar, jaga kesehatan ... -mu, Karina."

Tersenyum gigi, aku melambaikan tangan bersarung hitam. Segaris senyuman membingkai wajahnya. Kedua tangannya berayun keras di udara menarik sudut mulutku untuk tertawa.

Tak terasa, jantungku berdegup kencang kala kuberlari pulang. Ternyata mengakui kesalahan tak sesulit dan serumit yang kupikirkan.

Bab Sebelumnya....

Bab Selanjutnya....

Comments

Popular Posts