Bab 1 — Sebatang Logam Mulia (Remang Bulan di Angkasa)
Mentari merangkak naik di khatulistiwa. Gembok terbuka
disusul pintu besi tertarik ke atas. Staf masuk ke bilik. Bulan hidupkan EDC.
Kasir hitung uang sedangkan penaksir gosok kemiri di batu.
“Pagi, Pak,” sapa Feri pucat sembari menuang cairan di
batu.
Angkasa tersenyum. Kepala cabang itu menaruh tas di
loker.
“Kalau sakit, harusnya kamu istirahat, Feri.” Angkasa
masuk ke bilik pelayanan.
“Berarti boleh istirahat di rumah ya, Pak?”
“Boleh, asal targetmu terpenuhi.”
“Hadeh, benar-benar menyelesaikan masalah tanpa
masalah.”
Mata Angkasa menatap Bulan. “Ibumu... sudah baikan?”
“Ibu saya enggak ada musuhan, Pak.” Feri yang berdiri
di dekatnya malah menoleh bingung.
“Jaga kesehatanmu.” Angkasa pergi ke pantry, mengambil
sebotol air.
Staf dan anak magang berceloteh ria. Mesin EDC tak
kunjung hidup. Bulan mengetuk-ngetuk keras EDC di meja.
“Bakar saja sekalian EDC-nya,” Feri risih mendengar
ributnya Bulan.
EDC terketuk, seketika layarnya menyala. Bulan pergi,
duduk di ruang tim micro, membaca satu per satu nomor gadai, mengotak-atik
ponsel cabang, WA nasabah yang gadainya jatuh tempo.
“Anak magang, cross selling ya.” Ratna
mengambil tumpukan brosur. Kasir itu menghampiri Bulan dan anak magang lainnya.
Bulan bangkit mengambil brosur itu.
“Mana biar saya bantu.” Angkasa mengambil setengah
tumpukan brosur.
Feri terkekeh melirik. “Kapan lagi lihat kepala cabang
cross selling.”
“Kamu bicara seakan-akan saya enggak pernah bantu,
Fer.”
“Bapak memang kepala cabang terbaik.”
“Sudah lanjut kejar outstanding loan, Fer...
Biar positif. NPL turunkan.”
Angkasa keluar tempat gadai. Bulan dan anak magang
mengikutinya. Tim CRO sudah menunggu di luar.
“Kita menyebar. Dua orang, CRO bawa brosur, anak
magang bawa daftar calon nasabah.”
Lapangan Renon ramai hiruk pikuk jalan santai.
Balon-balon berbaris di setiap dagang. Angkasa membagikan brosur ke UMKM,
mempromosikan pinjaman KUR. Bulan hanya mengamatinya.
“Bunga 6% per tahun, pinjaman maksimal sepuluh juta,
Bu.”
“Enggak bisa pinjam seratus juta, Pak?”
“Bisa top up sampai seratus juta kalau rajin
bayar angsuran, Bu.”
Ibu yang ditawari tampak antusias. Nomor dan namanya
dicatat Bulan di kertas. Ibu itu berterima kasih lalu memberikan balon pada
Angkasa dan Bulan. Mereka lanjut berjalan di keramaian.
“Kamu tak seperti anak magang lainnya. Kamu ingatkan
saya sama anak saya... Dingin. Pendiam. Saya khawatir saat anak saya tak
bicara. Lambat laun risau saya terjawab, saya jatuh sejatuhnya.”
Bulan tak menjawab sedikit pun, langkahnya mengikuti
Angkasa. Balon kuning cerah digenggam lemas Angkasa.
“Mungkin anak saya sekarang akan seumuranmu. Saya
terlambat memahaminya.... Hiduplah seperti remaja seusiamu. Bicara pada teman,
itu dasar jika kamu mau hidup di keramaian manusia.”
Balon kuning terlepas di antara balon terbang ke atas.
Sorak jalan santai membumbung haru ke langit. Bulan menatap balon itu. Balon
biru di tangannya tak dilepaskan.
☾ ☾ ☾
Jarum menunjuk pukul tiga. Mentari masih terik
menyengat, membakar aspal di depan kantor. Ratna mencetak transaksi dari EDC.
Bulan menempelkan struk di kertas bersih. Tangannya keruh akibat lem.
“Lan, carikan surat gadai nomor 1919,” suruh Feri.
Bulan membuka laci, mengambil tumpukan surat gadai,
mengobrak-abrik kertas. Ia membuka tali, mengeluarkan surat itu dari tali yang
mengikat. Surat diberikan pada Feri.
“Kancingkan emas sama salin nomor dari HP cabang ke
buku, ingat siram tanaman hias.”
Barang gadai buku diambil Bulan dari meja Feri. Bulan
berjongkok di lantai, mengambil palu lalu mengetok keras pengait besi gadai,
menjaga kemasan emas agar tertutup sempurna.
“Pakai tang aja. Berisik tahu,” Ratna mendengkus
mencetak kertas membuat Feri terkekeh.
Barang gadai disodorkan ke meja Feri. Semua terkancing
sempurna. Bulan mengambil sebotol air. Diteguk lekas. Ia ke depan, menyiram
bunga. Matanya melirik kotak tertinggal di kursi nasabah.
‘Untuk kepala cabang Angkasa. Terima kasih sudah
membantu saya,’ tulisan di tutup kotak, sebuah gratifikasi terang-terangan.
Bulan mengambil kotak setelah membaca, masuk ke
lorong. Pintu tertutup. Kotak itu masuk ke tasnya. Angkasa datang ambil tas
dari loker. Mereka bersiap untuk menutup tempat gadai.
“Terima kasih untuk hari ini. Walau outstanding
loan minus, kalian sudah bekerja keras.” Angkasa tepuk tangan, menyemangati
pegawai.
Pintu besi tertarik ke bawah. Gembok terkunci. Angkasa
menepuk pundak satpam berterima kasih. Staf lanjut ke area, termasuk Angkasa
yang menoleh melihat Bulan jalan kaki pulang.
“GOR.”
Bulan menaiki Sarbagita di depan BI. Terduduk di
belakang, Bulan membuka kotak. Emas Galeri 24 25 gram tertutup sempurna. Bulan
memasukkan kotak ke tas. Jalan macet, lekas ia turun di Terminal GOR.
“Ini aku bayar hutang ayahku.”
Setiba di Pasar Ketapian, kotak tersodor di meja. Bayu
meletakkan kopi panas sebelah berkas. Matanya berkilat tak percaya melihat
kilauan emas. Dilihat nama di tutup kotak membuatnya tersenyum sinis.
“Angkasa.”
“Cepat tanda tangani bukti lunasnya.”
“Kamu nyuri kan?”
Bulan menarik keras, mencoba merebut kotak. Bayu tak
melepaskan sedikit pun. Gelas tersenggol, kopi panas menyiram punggung tangan
Bulan. Kulitnya memerah seketika. Bulan meringis, Bayu tertawa.
“Karenamu ayahku tak sadarkan diri!” geram Bayu.
Bulan keluar ruang. Sepatu keruhnya lekas menuruni
tangga. Hiruk pikuk pasar menyambut. Bulan mendorong Scoopy Bayu hingga jatuh.
Tukang parkir bingung. Alarm Scoopy berdering.
Tit-tit-tit!
Bayu terkejut mendengar itu, ia menghampiri jendela
melihat motornya jatuh di bawah. Pria itu cepat menuruni tangga. Sedangkan
Bulan naik dari tangga lain. Bayu menghampiri tukang parkir.
“Cewek yang dorong Scoopy-nya... saya kira dia yang
punya,” tutur tukang parkir.
Seringai terbit di wajah Bayu. Matanya berkilat dengki
seolah tahu Bulan dalangnya. Balik ke ruang. Ia tersenyum tak percaya. Kotak
itu lenyap dari meja. Hanya tutupnya tertinggal.
“Sialan!”
Tutup kotak terhentak di meja. Pelan matanya melirik
lokasi dan nama kepala cabang.
Lengkungan bulan bersinar remang di antara angkasa berpendar. Terlihat di jendela, Bulan berlari di keramaian pasar.
☾ ☾ ☾
Comments
Post a Comment