Bab 12 — Kebaikanmu Adalah Hukuman Untukmu (Remang Bulan di Angkasa)
Mentari merangkak naik di khatulistiwa, menyinari
burung yang bertebangan lesu, menitipkan rindu di sela angin bertiup, menerbangkan
rambut Angkasa risau melihat sekitar, mencari sosok Bulan di halte.
06.30
Garis merah jam digital menggantung di bus, menyulut
Angkasa memandang sekeliling bus, penuh hingar-bingar penumpang, memicu tangan
Angkasa mengerat di handle, menahan tubuhnya agar tak limbung, kala bus melaju
di aspal rusak, selagi tangan kirinya memegang ponsel, menghubungi nomor.
“Nomor yang Anda tuju tidak dapat menerima panggilan.”
“Nomor yang Anda tuju tidak dapat—”
“Nomor yang Anda tuju tidak—”
“Huhh.” Angkasa mendesah saat turun di seberang BI.
“Menyalakan cahaya harapan untuk generasi emas
Indonesia,” isi baliho BRI yang diturunkan di jalan, membuat Angkasa kian
mendesah.
Gembok terbuka disusul pintu besi tertarik ke atas.
Staf dan anak magang masuk ke cabang. Feri menggosok kemiri di batu, sedangkan
Ratna menghitung uang. Anak magang WA nasabah jatuh tempo.
“Pagi, Pak...,” sapa Feri. “Muka Bapak kenapa pucat?
Bapak belum BAB ya?”
Angkasa tak menjawab, masuk ke lorong, menaruh tas di
loker. Plastik kuning di lokernya memicu alisnya kian berkerut. Mantel baru
terlipat rapi di plastik itu. Disertai tulisan yang membuat dada Angkasa sesak.
“Bapak kepala cabang bukan anak magang seperti saya.
Setidaknya Bapak harus berpakaian rapi meskipun dunia sedang tidak baik-baik
saja.”
Loker tertutup sempurna, seiring derap langkah Angkasa
mendekati lemari belakang, mengambil tumpukan surat gadai, tak sengaja ia
melirik bilik tim mikro, menatap kursi merah plastik hampa, biasanya diduduki
Bulan.
Semua kalimat Bulan terngiang di kepalanya.
“Apa saya boleh memeluk Bapak untuk terakhir kali?
Untuk memberi dukungan.”
“Jangan... saya sudah merasa terdukung,” jawab
Angkasa.
“Andai semua akan baik-baik saja.” Angkasa mendesah
saat tahu Dara—mantan istrinya berselingkuh lagi setelah rujuk.
Sedetik itu Bulan mengirim pesan. “Semua akan
baik-baik saja.”
Angkasa meletakkan surat gadai di lemari, berjalan
melewati bilik pelayanan.
“Bapak mau ke mana, Pak?” tanya Feri.
Angkasa tak menjawab seiring langkahnya lekas
meninggalkan cabang, naik taksi menuju ke rumah, ia mengeluarkan mobil.
Mobilnya lekas melaju ke tempat ahli penyadapan.
“Saya mau periksa apa ada yang aneh dengan perangkat
saya.” Angkasa melepaskan smart watch-nya, meletakkan ponsel, pun laptop di
meja.
Berjam-jam Angkasa duduk termenung menunggu di ruang
tunggu. Ahli penyadapan mengotak-atik ponselnya di balik ruang tertutup kaca,
mengetuk kaca, memicu Angkasa lekas berdiri menghampiri.
“Ponsel anda disadap....” Tulis si ahli di selembar
kertas. “Bapak mau hapus aplikasi sadapnya?”
Angkasa mengambil spidol dan kertas di meja.
“Jangan... biarkan saja.”
Ponselnya dikembalikan, Angkasa mengecek nomor asing
di log panggilannya.
“Telepon.” Bulan mendadak memberinya ponsel padahal
sebelumnya tidak pernah, saat ada tiga panggilan dari nomor IM3 asing beruntun
tak terjawab. Kejadian itu terngiang lagi di kepala Angkasa.
Angkasa meminta bantuan Baskara untuk melacak nomor
tersebut. Beberapa jam kemudian, koordinat dikirimkan; sebuah titik di
Jimbaran, lokasi terakhir nomor itu aktif setelah berpindah dari Denpasar.
☾ ☾ ☾
Setiba di kantor wilayah, Angkasa menghampiri counter
menitipkan ponsel untuk mengisi daya. Lekas kepala cabang itu memasuki ruang
tertutup, dihadiri deputi dan Kendra yang sudah duduk berwacana.
“Ponsel saya disadap, Pak,” tutur Angkasa sambil
menunduk di hadapan deputi yang mendukungnya.
Kendra mendesah. “Sudah saya duga... pasti ini
kerjaannya Bara.”
“Bukan, Pak. Sepertinya anak magang di cabang saya...
Bulan.” Angkasa kian menunduk.
“Astaga!” Mata Deputi Operasional membulat. “Berarti
dia menusukmu dari belakang?”
Deputi HR berkerut alis. “Bisa saja Bulan dibayar Bara
untuk menjatuhkan Angkasa dan Kendra?”
“Jika Bulan menyadap ponsel Angkasa?” Deputi
Operasional memijat pelipis. “Kenapa dia tak bocorkan suaranya? Dia tampak
melindunginya... bukankah dia seperti mata-mata yang luluh pada lawannya,
seperti narasi FTV.”
“Ambil ponselmu dan teror Bulan, suruh kembali,” suruh
Kendra pada Angkasa.
“Saya akan coba menghubungi Bulan, Pak.”
“Dia penjahat, Angkasa.”
Angkasa menunduk. “Saya... Saya dekat dengan Bulan,
Pak.”
“Huhhh... Sudah saya duga....” Kendra mendesah. “Dia
sudah menjatuhkanku dan menguping percakapanmu, Angkasa... Kamu harus gunakan
kesempatan ini untuk balas dendam ke Bara,” tegasnya.
Angkasa kian menunduk tak menjawab.
“Kendra! Kendra!” panggil Deputi Operasional saat
Kendra keluar ruang menahan napas.
Deputi bubar sedangkan Angkasa menunduk dengan napas
berat. Kepala cabang itu lekas ke parkiran mengeluarkan mobilnya, mengikuti
mobil Bara yang keluar dari kantor wilayah, menuju UPC Kreneng.
Bruk!
Mobil Angkasa menubruk keras mobil Bara dari belakang.
Bara menghentikan mobilnya di pinggir jalan, lalu keluar, Angkasa
menghampirinya. Hiruk pikuk penyeberang memandang mereka kebingungan.
”Di mana Bulan?”
“Mana kutahu. Kau kira aku kenal dengannya?”
“Di mana Bulan?!”
Napas Angkasa memburu membuat wajah Bara merah padam.
“Kenapa? Kau jatuh hati padanya? Kau bilang Dara
berselingkuh denganku. Nyatanya hatimu mulai berselingkuh dengan Bulan!”
Angkasa mencengkeram kerah Bara.
“Hei! Aku korban, aku yang paling dirugikan di sini.
Jabatanku akan dicopot, Dara minta putus denganku. Bulan memerasku karena tahu
perselingkuhan kami... Dia bilang akan menghilang, tak membongkar
perselingkuhan agar namamu tak tercemar. Keponakan itu lintah sejak kecil. Dia
pernah membunnuh—!”
Angkasa mendorong Bara ke pintu mobil. Cengkeram di
kerah kian mengeras. “Bisa-bisanya kau manfaaatkan perempuan semuda Bulan!”
“Kau harus lihat dari sudut pandangku. Mencintai seseorang
sedari kecil tak bisa digapai, musuhku sukses padahal tak bekerja sekeras
diriku... Dara akan kembali padamu. Jabatan deputiku akan kau ambil. Pada
akhirnya kau yang dapat segalanya. Bagaimana kau bisa empati padaku? Kau tak
pernah merasakannya!”
Angkasa mendorong Bara ke mobil. Tangannya menjauh
dari kerah Bara. “Keirianmu menutupi matamu sampai hitam, kau tak bisa
membedakan mana putih dan berwarna keruh.” Napas Angkasa memburu mengatur
gejolak di dada.
“Pukul aku agar kau masuk penjara....” Mata Bara
membeliak merah. “Jika kau mau sekaligus, orang tak akan marah padamu karena
kau baik. Kau bahkan bisa mengencani Bulan yang usianya dua puluh tahun lebih
muda darimu!”
Brak! Wiiingg-wiiiing!
Dada Angkasa naik turun. Ia lepas kendali melempar
bata ke spion Bara. Spion patah turun ke bawah seiring alarm mobil terus
berdering, sekitar melerai mereka, mengundang Dara keluar dari tempat gadai.
“Sudah-sudah jangan bertengkar di pinggir jalan,”
lerai para pedagang dan penyeberang.
Dara menutup mulut, menahan isakan yang kian mengalir,
melihat Bara dan Angkasa di pinggir jalan.
“Jika aku memukulmu, apa bedanya aku dengan sampah
sepertimu,” ucap Angkasa pada Bara.
Angkasa menatap Dara, tangannya mengeluarkan beberapa
lembar merah. “Kau pasti lebih peduli pada perawatan mobilmu daripada kesehatan
mentalmu... Lekas ke psikolog, aku khawatir padamu, kau sakit.”
Lembaran merah mengetuk kap mobil Bara. Lekas Angkasa
memasuki mobilnya, meninggalkan Dara yang terisak dan Bara yang merapikan
kerah. Angkasa kembali ke kanwil mengambil ponsel.
☾ ☾ ☾
Siang yang terik, membakar derap langkah Angkasa yang
balik ke cabang, seiring pintu terbuka lekas, menyulut nasabah melihatnya
berjalan memasuki lorong, Angkasa melihat sekeliling di bilik pelayanan.
“Coba telepon Bulan, kenapa dia enggak masuk?”
suruhnya pada Ratna.
“Enggak diangkat, Pak,” tutur Ratna setelah mencoba
menelepon.
Berangsur-angsur mentari tenggelam. Setelah rapat,
rambut Angkasa basah berkeringat, mobilnya lekas pulang. Ia termenung di sofa
setiba di rumah, di depan TV hitam yang memantulkan wajahnya pucatnya.
“Kamu... kenapa?” Dara terisak melihat Angkasa seolah
tak bernyawa.
Angkasa kian mematung.
Dara kian terisak. “Kalau kamu mau, aku siap
membongkar perselingkuhanku dengan Bara. Dengan itu Bara tak akan mengganggumu
lagi... dan kita pindah ke luar negeri, memulai hidup baru dan kerja baru. Dari
dulu kukatakan, kita tak cocok bekerja di tempat gadai, hidup kita seperti
digantung di sana.”
Terbesit bayangan perselingkuhan Dara dan Bara di
kepala Angkasa. Bahkan kematian putrinya akibat perselingkuhan itu. Dada
Angkasa bergejolak menahan isak. Lekas Angkasa bangkit dari sofa.
“Maafkan aku, Dara. Aku tak ingin melukai siapa pun...
aku butuh ibuku. Jika kamu mau bertemu ibumu, ingat pulanglah, pintu kamar
anakmu terbuka lebar untukmu.”
Angkasa meninggalkan rumah, mengunjungi warung ibu.
Berlarut-larut gelas terhentak di meja. Mata Angkasa berpendar lelah. Kepalanya
pening. Pikirannya tak konsen diajak bicara Chandra—kakaknya.
"Bapak pasti menyesal jadi orang baik. Kebaikan
Bapak adalah hukuman untuk Bapak sendiri," ucapan Bulan kembali menghantui
benak Angkasa. Angkasa berkerut alis menatap ponselnya yang tersadap.
Kilatan memori terputar di kepalanya.
“Gimana caranya aku bilang, kamu rapuh seperti tak
bernyawa. Kita akan hancur sehancur-hancurnya... Aku ingin mempertahankan
pernikahan sepertimu, Angkasa. Aku tetap tegar di sampingmu, menghiburmu, dan
itu kesalahanku membiarkan Bara yang membuatku tegar.” Dara terisak.
“Kenapa kamu harus berselingkuh dengan Bara? Dia yang
menjatuhkanku... Kenapa harus dia?!” teriak Angkasa, isaknya pecah.
“Orang baik pintar memelintirkan kebenaran. Kau adalah
orang munafik yang selalu memendam perasaan pada orang yang kau benci. Kau tak
perlu ambisi sepertiku untuk mencapai puncak. Pada akhirnya kau akan merebut
segalanya dengan kebaikanmu itu. Itu sama saja kau tamak!” teriak Bara.
Angkasa keluar dari warung. Plastik kuning dan jingga
tergenggam di tangan. Ia mematung di trotoar. Hingar-bingar lalu lintas
bergerak pesat melingkarinya. Ia menoleh menatap trotoar yang kosong.
“Kamu nungguin siapa berdiri di trotoar, Angkasa?”
tanya Chandra keluar warung. “Plastik jingga di tanganmu buat siapa?”
“Untuk Bulan.”
“Loh, bukannya Bulan sudah pindah? Dia enggak bilang
sama kamu?”
Lekas Angkasa berlari ke kosan Bulan. Kamarnya dingin
tanpa penghuni, hanya barang-barang tertinggal. Kepala cabang itu pulang ke
rumah mengambil mobil.
"Kamu di mana... Bulan?" Angkasa mendekatkan
ponsel ke bibirnya. "Saya tahu kamu mendengarkan saya, Bulan... kembali,
Bulan. Saya akan melindungimu."
Sejaman lebih Angkasa mengendarai mengikuti koordinat
IM3.
Deg!
Jantung Angkasa berdetak kencang. Ia lihat Bulan
berlari linglung di perempatan PNB. Mobil Angkasa terparkir di pinggir jalan.
Angkasa keluar, ia berpijak tepat di rambu lalu lintas menyilang dari Bulan.
Bersitatap!
Darahnya berdesir keras saat Bulan terkejut
menghindarinya. Sepersekian detik Angkasa mematung. Semua terjadi begitu cepat.
Tin! Bruk!
“Bulan!”
Kerumunan orang melingkar. Angkasa berlari menyibak
keramaian. Bulan terkapar di aspal dengan tubuh penuh merah.
“Bulan... bangun, Bulan!” Angkasa menepuk-nepuk
pipinya, darah mengalir dari kepalanya.
Gumpalan awan kelabu menutupi rembulan yang bersinar remang. Angkasa kian memanggil namanya dengan mata berkilat linang.
☾ ☾ ☾
Comments
Post a Comment