Bab 13 – Semoga Kami Terlahir dan Bertemu Kembali (Remang Bulan di Angkasa)

Tit... tit... tit...

Suara oximeter mengalun pelan, merambat ke telinga Bulan yang berdarah, memicu kelopak matanya terbuka perlahan, seiring sinar lampu menyusupi matanya. Satu tarikan napas, Bulan terkejut.

Ssshh!

Napas Bulan tersengal, tubuhnya bergetar ketakutan, spontan ia duduk di kasur seolah ingin kabur, kala mata merahnya bersitatap dengan Angkasa.

“Ba—Bapak... kenapa di sini?” Bulan menunduk ketakutan, wajahnya tertutupi rambut berantakan. “Saya sudah peringatkan jangan baik sama saya. Bapak terlalu baik, itu sebabnya hidup Bapak menyedihkan.”

Angkasa berdiri kaku dekat kasur. Matanya berkaca-kaca menatap Bulan.

“Bapak pikir saya hanya membunuh orang. Saya melakukan lebih dari itu, bahkan saya menyadap ponsel Bapak. Saya merasa hina dengan diri saya sendiri.” Bulan menggigit bibir keras menahan isak di matanya.

Angkasa meneguk ludah. “Terima kasih... sudah berada di sisi saya.”

Bulan tercenung mendengar itu.

“Kamu mendengar hidup saya yang menyedihkan, tapi kamu tetap berpihak di saya....” Angkasa mendesah pelan. “Perempuan muda sepertimu mengalami hidup yang begitu berat buat saya terluka.”

Mata Bulan kian sembab, seiring isaknya pecah. “Ba—Bapak sungguh tidak membenci saya?”

“Berjanjilah kamu akan selalu bahagia, dengan itu saya juga akan bahagia....” Angkasa menunduk, memegang selempang tasnya. “Usiamu terlalu muda untuk mengasihani dewasa seperti saya.”

Bulan memejamkan matanya, merapalkan memori di kepalanya. “Saya... saya suka melihat Bapak membenarkan selempang tas. Bapak seolah berpegang teguh pada pendirian Bapak.”

Angkasa termenung mendengarkannya.

“Saya menyukai semua suara yang Bapak buat.” Suara Bulan mengalun lirih disusul rinai luruh di sela kelopak terpejamnya.

Memori Bulan kian terputar di kepala.

Tuk...tuk. Suara langkah sepatu Angkasa terngiang di benak Bulan.

“Saya suka ketukan sepatu Bapak saat Bapak berjalan pelan.”

“Kamu... baru pulang?” Suara Angkasa menggema di pikirannya.

“Saya suka suara bass Bapak saat bertemu di bisingnya jalan.”

“Huhh, menjadi baik tak pernah salah... Orang jahat juga berasal dari orang baik yang gelisah.”

“Saya suka hembusan napas Bapak dengan ucapan baik Bapak. Suara Bapak buat saya tenang. Untuk pertama kalinya saya merasa melihat manusia sesungguhnya.”

Angkasa terdiam mendengar itu.

“Sungguh... saya menyukai Bapak.”

Tak menjawab, Angkasa menunduk, membenarkan selempang tas.

Mobil Angkasa mengantar Bulan dari RS menuju warung Chinese. Chandra yang berdiri di depan terkejut melihat Angkasa dan Bulan keluar dari mobil. Kepala Bulan terbalut perban, pun tangan kirinya tergips.

“Apa kakak dapat teman tidur baru?” Chandra tersenyum semringah.

Angkasa tersenyum mendengar itu. “Jaga Bulan baik-baik, Kak.”

“Kamu diterima dengan pintu terbuka lebar, Bulan.” Chandra menggenggam tangan Bulan.

Langkah Bulan terhenti saat diajak Chandra. Bulan menoleh melihat Angkasa berdiri di depan mobil.

“Aplikasi penyadapnya....” Tangan Bulan kaku memegang ponsel, bibirnya tak tersenyum. “Saya akan menghapusnya."

Angkasa mengangguk menatap Bulan. “Jaga kesehatanmu—”

“Eish, lebay! Rumahmu cuma beberapa menit dari sini,” sela Chandra nyengir kuda memicu Angkasa tersenyum pelan.

Chandra melambai kala mobil Angkasa pamit. Chandra dan Bulan lekas masuk ke dalam.

Lantai dua yang dingin diselimuti kasur tipis. Ibu sudah tidur lelap. Chandra dan Bulan duduk di teras melihat bintang.

Tuk...tuk. Ketukan sepatu Angkasa terdengar dari ponsel Angkasa yang tersadap merambat ke earphone di telinga Bulan.

“Aku lagi di pasar... kamu mau martabak, Dara?” Suara bass Angkasa mengalun pelan menelpon mantan istrinya.

Hening, tak ada kata bersahutan.

“Aku enggak mau martabak, Angkasa... Aku mau makan mi.”

Bulan menatap ponselnya, matanya berkaca-kaca menghayati ketukan sepatu dan napas Angkasa, beradu sepinya pasar. Jarinya mengetuk tombol hapus. Loading seiring derap langkah kaki bergema.

Hening. Suara Angkasa melenyap. Aplikasi terhapus sempurna.

Bulan memejamkan matanya yang basah, diterpa kesiur angin di bawah temaram sang rembulan.

Setiba di rumah, Angkasa membuka pintu, disambut Dara yang terisak. Selempang tas terlepas dari tubuhnya. Ia menghampiri mantan istrinya, merengkuhnya perlahan sembari mengusap punggungnya.

“Seberapa keras kamu coba menutupi celah, celah itu pasti akan melebar, Angkasa... Biarkan aku memberitahu ibumu, kakakmu, dan semua orang bahwa aku pernah berselingkuh.” Dara kian terisak.

Angkasa menahan napas, kian menepuk mantan istrinya.

“Kamu adalah sosok terbaik di hidupku, Angkasa... Maaf, aku pernah melukaimu. Aku janji akan perbaiki semuanya.”

Angkasa mengurai pelukan, menepuk pundak Dara. “Kamu temanku dari kecil, Dara... Aku tak bisa melihatmu terluka. Maafkan aku dulu tak bisa terbuka padamu.”

Angkasa menghapus rinai mantan istrinya.

Mentari bersinar cerah, menerpa siluet mobil terpakir depan POLDA, Angkasa keluar disusul Bulan yang duduk di belakang, menghampiri Dara yang berdiri tersenyum depan gerbang bersama Komang.

“Jaga Bulan baik-baik, Dara...,” tutur Angkasa. “Kamu juga jaga kesehatanmu, Dara.”

Dara melambai seiring mobil Angkasa meninggalkan POLDA. Wanita itu tersimpul memandang Bulan saat mereka memasuki ruang tunggu. Mereka duduk menunggu Baskara.

“Kamu jangan khawatir....” Dara memegang tangan Bulan pelan. “Terima kasih sudah perbaiki semuanya.”

Bulan menatap Dara. “Kenapa semua berterima kasih padaku? Padahal aku sangat membenci diriku sendiri... Kenapa juga bibi baik padaku? Padahal aku sangat membenci bibi.”

Tangan Dara bergetar mendengar itu.

“Aku iri pada Bibi setiap Pak Angkasa keluar selalu menawari bibi martabak... bahkan Pak Angkasa bawa puyunghai tiap malam, entah bibi pulang ke rumah atau tidak. Jika aku jadi bibi aku akan melahapnya.”

Mata Dara berkaca-kaca mendengar itu.

Baskara datang mempersilahkan Bulan masuk ke ruang, berhadapan dengan Bara dibatasi kaca.

“Paman tidak punya kata-kata terakhir untuk bibi tua?”

Bara menggeram, wajahnya memanas.

“Aku punya pesan terakhir untuk Paman....” Bulan tersenyum menatap Bara. “Semoga paman bisa tumbuh menjadi pohon di penjara.”

Bara terdiam mendengar itu.

Pasar Ketapian ramai pelanggan, laptop tercolok beberapa flashdisk sekaligus, mata Bayu membelalak mendengarkan rekaman sadapan dengan headset. Temannya mencari sosok Bara lewat ponsel.

“Dia seorang deputi... Wow, pasti dia ketar-ketir cari rekaman ini. Kalau kita jual ke dia pasti 100 gram emas kita dapat,” teman Bayu terkekeh.

Bayu tak menjawab. Ia masih fokus mendengar semua percakapan Bulan dan Angkasa saat berjalan kaki pulang bersama.

“Bolehkah saya memeluk Bapak untuk terakhir kali. Untuk memberi dukungan,” ucap Bulan.

Bayu tersenyum dengki mendengar itu.

“Jangan... saya sudah merasa terdukung,” jawab Angkasa.

Bayu memutar rekaman dari awal.

“Dulu... Bayu sering gendong ibu saya saat dipukuli ayahnya. Setelah saya menikkam ayahnya, Bayu mulai menyiksa saya.” Suara Bulan mengalun serak merambat di telinga Bayu.

Bayu mematung menatap durasi di laptop.

Brak!

“Sial!” ucap Bayu saat hadir komplotan Kendra mendobrak ruangan rentenir.

Lekas Bayu mencabut flashdisk, meraup laptop dan banyak flashdisk di meja, lekas ia melompat dari jendela ke tangga pasar. Komplotan Kendra menahan temannya, mencari file rekaman itu.

“Hei, kau jangan kabur! Jual saja pada mereka!” teriak temannya. Namun, Bayu tetap berlari.

“Itu dia!” tunjuk komplotan Bara.

Bayu berlari di sepanjang kelokan dagang dan pembeli, menubruk meja hingga sayur-mayur terjatuh. Kaosnya ditarik oleh komplotan Bara, Bayu melempar laptop keras sampai hancur.

Brak!

Lekas Bayu kabur menaiki Scoopy, ngebut oleng menuju Renon. Tepat di depan tempat gadai saat jam istahat, tutup kotak dengan banyak flashdisk menampar tangan satpam baru.

“Antarkan ke Angkasa Putra... kalau sampai salah orang, aku panggang kau!” Bayu mengepalkan tangan membuat satpam kebingungan.

Sebuah nama di tutup kotak memicu satpam masuk ke cabang menemui Angkasa.

“Pak, ada kiriman, Pak.”

Angkasa dan Feri terkejut melihat banyak flashdisk di meja pelayanan. Sedangkan Bayu mematung sembari mengendarai Scoopy-nya. Knalpot omprengnya membuat polusi mewarnai langit membiru.

“Matanya berkilat dengki karena tak bisa meredam rasa suka bercampur amarah... Dia sama sepertiku. Remaja baik yang terluka akibat hilangnya figur orang tua. Semoga kami terlahir kembali dan bertemu di keadaan yang lebih baik. Aku rindu sosoknya sebaik dulu,” ucapan Bulan di rekaman terngiang di kepala Bayu.

Mentari tertupi gumpalan awan mendung. Bayu berjalan di hiruk-pikuk pasar ketapian sembari termenung.

 

Bab Sebelumnya....

Cerita Serupa....

Bab lanjutan novel ini dihapus karena  akan  dicetak. Ditunggu ya bukunya<3 Terimakasih banyak sudah membaca, mohon saran dan dukungannya di kolom komentar, kalau suka boleh dishare link ceritanya ya, semangat selalu semuanya<3


Comments

Popular Posts