Bab 11 — Manusia yang Bekerja di Perusahaan (Remang Bulan di Angkasa)
“Kamu tidak magang? Kenapa kamu mematung di sini?”
Alis Chandra berkerut pelan melihat Bulan menggendong ransel besar dan berdiri
di depan warung Chinese.
“Apa saya boleh bantu tanam pohonnya?”
“Boleh, kalau kamu mau.”
Bulan berjongkok membantu Chandra mengisi pot dengan
pupuk. Bulan menaruh kartu XL di tanah. Sekop menimbun tanah. Pohon kamboja
tanpa daun disiram. Berharap tumbuh dan bisa berbunga.
“Beginilah kehidupan wanita empat puluh tahun tanpa
suami, menyibukkan diri, kadang nanam, kadang masak, lumayan menguras keringat
daripada harus menguras pikiran.” Chandra tersenyum.
Bulan tak menjawab, lanjut memupuk tanaman terulak
yang tak mekar.
“Kamu hiduplah seperti tanaman moonflower ini. Namamu
Bulan sama seperti tanaman ini. Walau dia menutup di pagi hari, saat mentari
tenggelam, dia mekar... Dia berbeda, indah dengan caranya sendiri.”
Berjam-jam Bulan bantu Chandra. Bulan bangkit mengelap
tangannya di jaket. Ia berjalan meninggalkan Chandra. Langkah Bulan tampak
linglung.
Tuk... tuk. Suara ketukan sepatu terdengar dari ponsel
Angkasa yang tersadap tersambung ke ponsel dan earphone di telinga Bulan.
“Coba telepon Bulan, kenapa dia enggak masuk?” Suara
bass Angkasa menggema khawatir beradu berisik suasana gadai di siang hari.
Hening, tak ada bicara.
“Enggak diangkat, Pak,” tutur Ratna.
Huhhhh, Angkasa menghembuskan napas diikuti ketukan
sepatu kian melangkah.
Bulan menaiki Sarbagita dari Terminal Gor. Tubuh kurus
keringnya berdiri di antara hiruk-pikuk bus. Tangannya menggenggam erat handle,
menahan tubuhnya agar tak limbung. Ia turun di halte Jimbaran.
Pintu berderit diikuti ricuh suara deputi saling
menyapa.
“Siang, Pak... Siang, Pak.”
Terik mentari membakar kulit Bulan saat berjalan kaki
di antara pohon gersang. Sudah jauh-jauh hari ia persiapkan pindah. Bulan
meletakkan tas di kos dekat H&S, lalu lanjut ke fotokopian dekat rektorat.
“Kita lanjut bahasannya.”
Tampak sebuah rapat terjadi, bermenit-menit membahas
kualifikasi Angkasa sebagai deputi. Nama Bulan ikut terseret.
“Saat saya cari riwayat kepolisian Bulan, kamu tahu
kan Bulan punya masa lalu, Angkasa?” tanya Deputi Logistik.
Tak terdengar suara Angkasa menjawab.
“Bulan pernah membunuh orang.”
Ricuh seketika menggema, suara Angkasa seperti
teredam.
“Setelah kamu tahu dia pernah bunuh manusia. Kenapa
kamu masih biarkan dia magang di sini, Angkasa?”
Napas Angkasa samar memburu. “Ibunya disiksa rentenir,
dia terpaksa melakukan itu saat usia 15 tahun... Kenapa kita meributkan masa
lalunya di sini? Hukum saja mencoba melindunginya.”
“Karena ini perusahaan,” tepis Deputi Logistik.
Angkasa mendesah. “Bapak pikir mesin bekerja di
perusahaan? Manusia yang bekerja di sini.”
Bulan bantu-bantu bekerja di fotokopian milik teman
sepupunya, melakukan scan dan copy berkas, mengotak-atik mesin besar berkilat
hijau.
“Kamu seharusnya enggak bela dia, Angkasa... nanti
Pinwil malah mengira kamu punya hubungan sama Bulan,” tutur Deputi Operasional.
Angkasa mendesah pelan. “Saya selalu bela staf dan
anak magang saya, Pak... Itu tidak adil untuk mereka.”
“Oh, iya... kamu benar juga, Angkasa.”
Rapat berakhir diikuti ketukan sepatu berjalan. Tampak
Angkasa balik ke cabang, ramai suara nasabah berlalu-lalang.
“Komang, kamu tahu di mana Bulan?”
“Bulan bukan orang yang kasih tahu ke mana dia pergi,
Pak.”
Terdengar suara Angkasa menghembuskan napas pelan.
☾ ☾ ☾
Bintang beradu rembulan memancarkan sinar di langit
gulita, membagi remang ke angin yang tertiup resah, menerbangkan daun
berguguran di sepanjang trotoar, terseok-seok langkah Bulan memasuki kos.
Tuk... tuk. Ketukan sepatu terdengar lekas di
hingar-bingar kendaraan disusul pintu berderit, seketika keramaian denting
sendok dan hentakan gelas beradu cengkerama.
“Kamu kenapa, Angkasa... kenapa wajahmu gusar? Kamu
ada masalah lagi sama mantan istrimu?” Suara Chandra terdengar mendekat disusul
derit kursi pun hentakan gelas di meja.
“Enggak apa, Kak... Angkasa baik-baik aja.” Napas
Angkasa kian berhembus.
Bulan terduduk di lantai kosnya membuat kopi. Denting
sendok melarutkan air panas dengan hitam pekat. Bibirnya menyeruput kopi yang
masih panas tanpa ditiup.
“Ada yang temani kakak tanam kamboja tadi pagi.”
Chandra bergumam lirih.
Suara kunyahan beradu dengan cairan tertuang ke gelas.
Beberapa kali minuman terteguk lekas.
“Dia baik... dia bilang dia nyaman tinggal di jalan
perumahan ini....” ucap Chandra menggantung diredam bising warung makan. “Tapi
kayaknya... dia bilang dia nyaman denganmu, Angkasa.”
Bulan terhenti meneguk kopinya. Matanya menatap
rekaman yang menyala di ponsel.
Angkasa tak menjawab, suara kunyahan terdengar lekas.
Hentakan gelas kian terketuk meja.
“Ini, Angkasa... plastik kuning isi puyunghai buat
mantan istrimu... Plastik jingga isi capcay,” ucap Chandra samar, suara plastik
tergesek di meja.
Ketukan sepatu melangkah diikuti pintu berderit.
Hening, tak ada kata. Hanya lalu-lalang lalu lintas
yang mengisi.
Bulan melamun menatap ponselnya. Kepalanya bersandar
di dinding. Kopi di tangannya kian tak terteguk.
Pintu berderit lagi.
“Kamu nungguin siapa berdiri di trotoar, Angkasa?”
Suara Chandra terdengar samar.
Angkasa tak menjawab, hanya ketukan sepatu beberapa
kali mengetuk.
“Plastik jingga di tanganmu buat siapa?” tanya Chandra
lagi.
Angkasa mendesah. “Untuk Bulan.”
“Loh, bukannya Bulan udah pindah? Dia enggak bilang
sama kamu?”
Tak ada jawaban dari Angkasa.
“Yang tadi kakak ceritain itu Bulan. Dia bantu kakak
tadi pagi... Dia nitip plastik hijau isi tas buat kamu, Angkasa.”
Ketukan sepatu terdengar melangkah lekas bertemu
hiruk-pikuk jalan kian menggema. Langkahnya kian berlari seiring napasnya
memburu, di antara kerikil yang tergesek samar, menaiki tangga cepat.
“Bulan! Bulan!” Ketukan di pintu kian mengeras disusul
pintu berderit.
“Bulannya sudah pindah... kayaknya buru-buru,
barangnya ditinggal semua.” Suara ibu kos mengalun pelan.
Suara gemerincing kunci terputar diikuti derit pintu.
Tak ada suara, kian hening. Terdengar samar napas
Angkasa bergejolak.
“Ini saya kasih uang, Bu... tolong disimpan barangnya
Bulan, kabari kalau dia kembali, ini nomor HP saya, Bu.”
Hhhhh, napas Angkasa memberat, ketukan sepatunya
berlari, menuruni tangga, kian berlari di sepinya jalan. Suara pagar terdengar,
disusul pintu mobil terbuka dan tertutup keras.
"Kamu di mana... Bulan?"
Drrttt! Drrt!
Ponsel Bulan bergetar memicu lamunannya pecah.
Angkasa mendesah. "Saya tahu kamu mendeng—"
Bulan mengangkat telepon sembari melepas earphone.
"Kenapa?" Bulan bicara di telepon.
“Gawat, Bulan! Laptop sama flashdisk rekamannya dicuri
semua... tadi aku lihat orangnya Kendra, Lan....” Suara Komang terdengar panik
di telepon. “Kamu harus kabur dari sana... alamat kos barumu kesimpen di
laptop.”
Lekas Bulan menggendong ranselnya, tak dipedulikan
kopinya tumpah. Ia berlari meninggalkan kos saat melihat sopir Kendra dan orang
asing bicara pada ibu kos. Tak ada bus lewat memicu Bulan terus berlari.
Tak-tak!
Ketukan sepatu Bulan kian menggema. Napasnya
ngos-ngosan. Sejam lebih ia berlari ke perempatan PNB, ia mau pingsan.
Kepalanya pening. Ia linglung memandang sekitar. Hiruk-pikuk bergerak pesat.
Deg!
Jantungnya seperti berhenti berdetak. Matanya membulat
saat pandangannya memburam. Samar terlihat Angkasa menyilang di perempatan.
Kepalanya memberat, kakinya lekas kabur menyeberang.
Tin! Bruk!
Klakson berdenging keras. Bulan ambruk di aspal saat
tubuhnya ditubruk mobil.
Binar bintang samar di kegelapan. Merah mengalir bercucuran di antara kerumunan.
☾ ☾ ☾
Comments
Post a Comment