Bab 2 — Meninggalnya Orang Tua (Mati Rasa dalam Teduh Saling Tatap)
—Meninggalnya orang tua itu menguatkanku, bukan
melemahkan. Aku jadi lebih menghargai segalanya dan waktu. Merencanakan semua
sejak dini karena probabilitas yang siap pasti lebih besar daripada yang tidak,
tutur Libra pada Karina. Usia mereka baru enam belas tahun.—
Gerimis merembeskan dingin, memicu kakiku kesemutan
berdiri di peron, menunggu kereta yang tak kunjung datang. Kepalaku
celingak-celinguk mencari kakak, yang hilang entah ke mana membeli Pop Mie.
Kereta datang dengan kepulan asap tebal dari cerobong,
menusuk mataku yang terkejap-kejap, pun suara bisingnya mendengingkan telinga.
Tubuhku terdorong masuk di antara kerumunan, pahit keringat membasahi jaketku.
Berdesak-desakan, nyaris aku sesak napas.
“Karina.”
“Libra.”
Terkejut, senyumku kian mengembang kala bertemu Libra.
Pakaian kami senada seperti mau berperang. Hitam tebal lengkap dengan syal dan
sarung tangan, mencegah angin mengoyak tubuh kami.
“Apa kabar?” Pertanyaan pertama yang ia pilih saat
kami menyibak keramaian, mencari tempat duduk. Kami pun duduk berhadapan.
“Baik, kamu?” tanyaku balik sembari melepas sarung
tangan.
“Lumayan.” Ia mengembuskan napas, tangannya menyeluk
saku, segaris senyum menghiasi wajahnya.
Sudah sebulan tak bertemu dengannya, aku rindu sekali.
Sejak ayahnya meninggal, ia sibuk sekali mengikuti lomba KIR—Karya Ilmiah
Remaja. Menang di berbagai provinsi pun internasional, membawa piala dan hadiah
jutaan. Ia seorang diri bekerja keras di umur enam belas tahun, menghidupi
ibunya yang tunarungu; aku bangga sekali dengannya.
Ia memandangku teduh. Tatapan itu lagi yang selalu
membuatku salah tingkah.
“Maaf aku enggak sempat datang ke pemakaman ibumu,”
tuturnya begitu tulus. “Aku sudah mau pulang saat itu, tapi ada pengumuman
lanjutan lomba.”
Aku meneguk ludah, tak bisa berkata-kata. “Sudah
terbang bersama awan. Enggak usah diangkat-angkat lagi,” ucapku sembari
tersenyum pelan.
Tiba-tiba tangannya mengeluarkan gantungan kecil dari
sakunya. “Aku nemu di jalan, pas lihat itu ingat kamu, Karina.”
“Beneran atau borongan?” tanyaku dengan nada jenaka.
Kumis kucingku mungkin bermekaran.
Tanganku meraih bola mini dipenuhi manik-manik
bintang. Saat ditekan, bola itu menyala terang memancarkan gambar rasi bintang;
Ara, Carina, Libra, Orion. Pun glosarium biologi tertulis di sana. Setiap
diusap, gambarnya berganti, disusul tulisan terakhir: ‘Jadi kita bisa
bersaing secara sehat di sekolah.’
Pipiku mengembung, senyumku acak-acakan tak tertahan.
Bisa-bisanya dia memberikan hadiah selucu itu, membuatku jadi ingin terus
belajar melihat bola glosarium terang itu.
“Astaga, kalian di sini ternyata.”
Terkejut, kami menoleh—mendapati Kak Ara dan Pak Orion
dengan lima buah Pop Mie di tangan.
Pop Mie terbuka terhidang di meja, kuahnya kian
menguar membuat hidung berkerut gatal. Kak Ara sibuk menyeruput sedangkan
garpuku menggulung mi keriting, kala Pak Orion tersedak minum air, disusul tawa
ringkih Libra.
“Satu lagi buat siapa?” tanyaku kebingungan, melihat
Pop Mie yang tak tersentuh.
“Ratna, dia masih BAB.”
“Oh.” Aku memperbaiki syal, mencegah dingin mencabik
leherku.
“Oh, ini dia yang habis BAB. Awas bau kentutnya
menguar-nguar,” celetuk Libra kala Ratna datang, mengundang senggolan di
lengan, pun kotak tisu menimpuk kepalanya.
Ratna duduk di sebelah Libra lalu meletakkan kotak
tisu di meja. Tak sengaja, kotak itu menyenggol mieku hingga tandas, basah
tumpah ke rokku. Aku mandi kuah kari panas. Lututku memerah, tapi kutahan mati
rasanya.
“Maaf,” tuturnya, panik mau mengelap lututku dengan
jaket. Cepat, aku mengambil tisu di meja.
“Enggak apa-apa,” ucapku sembari menekan-nekan tisu di
meja yang basah, pun lututku.
“Kalian juara berapa?” tanyaku sekadar basa-basi
sembari mengeringkan rok.
“Juara satu,” jawab Ratna tersenyum lebar.
Takjub, aku ikut senang. Lekas kujabat keras
tangannya, pun Libra, dan Pak Orion. Hingga Pak Orion terkekeh nyaris tersedak
lagi akibat kugoyang-goyangkan keras lengannya.
“Kalian kenapa naik kereta?” tanya Pak Orion, masih
dengan senyum mengembang membingkai wajahnya, memandangku dan Kak Ara
bergantian.
“Hadiri nikahan teman,” ucap Kak Ara, bibirnya
terangkat tipis.
“Kamu kapan nikahnya?” tanya Pak Orion. Bibirnya
terangkat ke atas, nyaris aku tergelak. Basa-basi macam apa ini? Apa mereka
sedang PDKT?
“Sudah umur tiga puluh satu tahun loh,” sambung Pak
Orion lagi dengan nada bercanda.
“Belum ketemu yang pas. Kalau enggak nikah juga tidak
apa-apa. Jangan dipaksakan,” sahut Kak Ara tenang.
⋆。 ゚ ☁︎。 ⋆。⚛︎ ゚ ☾ ゚ 。 ⋆
Sepatuku mendaki terjal penuh kotoran sapi, menuju
rumah Libra di ujung bukit. Tanganku memeluk parsel kian erat. Tak melepas,
takut roti buaya itu hanyut ke sungai.
Terpeleset, tubuhku terperosok, tergantung di
rerumputan miring hijau akibat sepatuku berselancar di kotoran itu. Nyaris
tubuhku terjatuh. Namun, tanganku digenggam kuat, pun jaketku tersangkut di
batu berlumut.
“Kamu enggak apa-apa?”
Aku meneguk ludah kala mendongak. Bersitatap. Wajah
Pak Orion yang khawatir diterpa silau mentari membuat nadiku terasa berhenti.
Belum lagi rambut comma hair-nya yang diterpa angin membuat lenganku
mati rasa.
“Pak, tolong, Pak...” Menoleh ke bawah, tiba-tiba aku
takut ketinggian. “Saya belum siap mati, Pak.” Aku menangis.
Mataku terpejam erat kala tanganku ditarik keras,
memicu bibirku berkedut saat tubuhku sudah sampai di atas. Membuka mata, aku
terkejut. Semudah itu Pak Orion menarikku. Aku yang kekurusan atau dia yang
terlalu kuat?
“Sudah, sudah, jangan menangis.”
Pak Orion melipat lengan sweater-nya. Kain
tebal itu mengusap pipiku, menghapus rinai yang sempat menjejaki. Angin tertiup
kencang, menerbangkan helaian rambutku pun rambutnya. Pemandangan senja yang
bersembunyi di balik gunung jadi latar adegan kilat ini. Pipiku mengembung
memanas. Perasaan macam apa ini? Kenapa jantungku senam aerobik?
“Kamu kenapa?” tanya Pak Orion kebingungan menatapku
yang mematung.
Tersadar, kupeluk roti buaya erat.
“Enggak, Pak. Saya kira ada yang hanyut tadi.” Aku
gelagapan, celingak-celinguk ke sungai. Pura-pura bodoh bilang ada yang hanyut.
Nyatanya, hatiku yang hanyut.
“Bapak mau ke mana?” tanyaku mengalihkan pembicaraan.
Pak Orion berjalan. Sepatu hitamnya mendahului sepatu
keruhku, menapak di rerumputan basah.
“Bapak mau ke rumahnya Libra.”
“Eh, kok sehati—eh, samaan,” ralatku kikuk.
“Kan memang diundang pas di kereta,” balas Pak Orion
membuatku mengangguk-angguk.
Setiba di rumah Libra, Bu Gita menyambut kami. Roti
buaya berpindah tangan ke tangannya. Aku mengangguk sembari tersenyum.
“Oleh-oleh dari rumah sakit Kakak,” ucapku yang
dibalas simpul semringah.
“Eh, kalian sudah datang?”
Libra muncul di balik tirai, membawa penggorengan
besar berisi ayam terbumbu. Uapnya kian mengepul. Aroma gurih membuat hidungku
berkerut gatal. Bergegas menghampiri, aku pun membantunya menghabiskan masakan.
Piring-piring kotor menumpuk. Botol sirup melon tandas
tak bersisa. Kami terduduk di bebatuan rumah, memandang senja yang kian
berlarut malam.
“Kalau ini artinya metal?” tanyaku kala Libra melipat
jari tengah dan manisku, menyisakan tiga jari terangkat ke atas.
“Bukan, ini artinya... I love you.”
Aku mengangguk-angguk, lalu menunjukkan tangan metal
ke Bu Gita. Sungguh menyenangkan bisa belajar bahasa isyarat.
Pak Orion bangkit dari duduknya, mengambil sweater
dan sarung tangannya yang menggantung di pohon.
“Pak, mau ke mana?” tanyaku penasaran.
“Bapak pulang ya, sudah larut,” sahutnya sambil
tersenyum menatapku dan Libra bergantian.
Aku mengangguk. Kakinya melangkah lambat menjauh
menuju aula. Keluargaku sudah biasa gotong royong dengan tetangga malam hari,
jadi aku tidak takut jika ditinggal sendirian.
“Kayaknya aku suka Pak Orion,” ucapku pada Libra yang
terduduk di batu bawah.
Matanya sempat membulat. Namun, segaris senyum
membingkai wajahnya. Tangannya merapikan helaian syal di lehernya. “Oh.”
“Tapi cuma kagum saja,” sambungku lagi berkata jujur.
Tak menyahut, Libra melipat jariku lagi, menyisakan
telunjuk, lalu dimasukkan ke hidungku.
Tak terasa, malam semakin larut di bawah lengkungan
sabit yang indah. Tawa kami membumbung terbang bersama angin resah.
⋆。 ゚ ☁︎。 ⋆。⚛︎ ゚ ☾ ゚ 。 ⋆
Comments
Post a Comment