(Remang Bulan di Angkasa)

Minggu kian berlalu, Bara dicopot dari jabatannya akibat penyalahgunaan wewenang. Kendra kembali ke ruangannya di kanwil menggantikan Bara. Sedangkan Angkasa diangkat menjadi deputi bisnis kedua.

“Selamat, Pak... Akhirnya ditraktir juga sama Deputi terbaik kita,” sorak Feri bersama staf dan anak magang lainnya membumbung haru ke langit di tempat yakiniku.

Feri amat bahagia karena naik jadi kepala cabang, sedangkan Ratna menjadi penaksir. Angkasa tersenyum tipis, dadanya berat akibat pencopotan Bara.

“Saya merasa bersalah pernah marah ke Bulan... saya pikir-pikir lagi Bulan seksi pas siram saya pakai air. Apalagi pas dorong pulpen saya pakai sepatu.” Feri nyengir kuda.

“Iya, rindu juga ternyata denger berisiknya Bulan ngetuk EDC ke meja atau paluin kemasan gadai,” celetuk Ratna.

Semua memuji Bulan akibat terbongkarnya rekaman Bara. Angkasa hanya tersenyum menanggapi ucapan mereka. Tak terasa langit sudah gulita, sebuah pesan menggantung di layar ponsel Angkasa.

“Pak, antar saya pulang ke kos, saya mau ambil barang sekalian tidur di sana, Pak.”

Lekas Angkasa pulang lebih dulu. Angkasa naik sarbagita, setiba di terminal gor, ketukan sepatunya kian melangkah membawa raganya bertemu Ibu dan Bulan depan warung, memicu Angkasa tersenyum.

“Bapak baru pulang?” Suara sopran Bulan mengalun teduh di telinga Angkasa.

Plastik jingga berisi capcay tersodor ke Angkasa. Bulan masuk ke warung untuk pamitan dengan Chandra.

"Ibu... Angkasa jadi deputi. Itu karena bantuan Bulan." Angkasa tersimpul menatap ibunya.

“Bulan yang masak capcaynya untukmu... kamu punya hubungan yang indah sama dia. Kamu sadari atau tidak, kamu mencintainya sebagaimana dia mencintaimu. Itu namanya platonis, Angkasa,” tutur Ibu.

“Ibu udah makan?” Angkasa menunduk, menyeluk saku mantel.

“Udah... kan ibu jualan sambil ngabisin dagang...,” ucap Ibu tersenyum saat Bulan datang. “Ibu mau lanjut masak ya, kalian hati-hati di jalan,” tutur Ibu melambai lalu masuk ke warung.

Angkasa melangkah mendahului, Bulan menyamai langkahnya. Jalan menanjak penuh lampu bersinar membawa langkah mereka memasuki kelokan ke kelokan, bertemu sejuknya angin di bawah bintang.

“Pertama kali saya lihat Bapak tanpa tas....” Bulan melangkah pelan mengikuti langkah Angkasa. “Bapak kelihatan berbeda.”

Angkasa terkekeh pelan sembari melangkah. “Saya memang berbeda.”

“Kalau saya terlahir kembali... saya pikir saya tak mau jadi batu atau pohon lagi....” Bulan mengalun pelan memicu Angkasa menoleh. “Saya mau lahir jadi manusia yang baik... agar bisa bertemu Bapak lagi.”

Angkasa tersimpul sembari menunduk. “Saya dengar kamu bertemu Pinwil ya?”

“Iya, Pak....” Langkah Bulan terhenti depan gang memicu langkah Angkasa ikut terhenti. “Saya dapat tawaran kerja jadi CRO di cabang Jakarta dari Pinwil, Pak... Setelah masa percobaan saya selesai, ibu saya juga saya ajak ke sana.”

Bulan tersenyum menatap Angkasa yang terkejut. Senyum luntur dari wajahnya.

“Jauh sekali.” Angkasa menyeluk saku mantelnya.

Bulan mengenggam erat tangannya sendiri. “Saya juga merasa begitu, Pak... saya tak bisa keluyuran lagi di jalan ini untuk sekadar lihat Bapak, memikirkannya saja buat saya enggan ke sana.”

Angkasa menaiki tangga kosan, Bulan mengikuti di belakang.

“Bapak sudah berjanji akan selalu bahagia dengan begitu saya juga akan ikut bahagia,” tutur Bulan.

Langkah Angkasa terhenti depan kamar. Angkasa menghembuskan napas sembari tersenyum. Ibu kos berdiri tersenyum menatap Bulan. Bulan berucap terima kasih pada ibu kos sudah menjaga kamarnya.

“Pak...” Bulan tersenyum menatap Angkasa. “Boleh saya memeluk Bapak? Untuk yang terakhir kalinya.”

Angkasa terdiam.

“Udah peluk aja dia... lagian kayak anak sendiri,” celetuk ibu kos ketawa-ketiwi.

Sepersekian detik Bulan mematung, hadir rengkuhan memejamkan mata berkaca-kaca, hanyut meresapi hangat mantelnya, disusul tepukan di punggung seirama detak jantung, merambat ke sela nadi, seiring Bulan memeluknya.

“Ibu ke kamar ya,” sela ibu kos pamit ke kamar, bersamaan pelukan terurai meninggalkan teduh yang tersisa di sepasang manik saling menatap.

“Terima kasih, Pak... Berkat Bapak saya bisa hidup lebih nyaman.”

“Mungkin kamu ditakdirkan tinggal sebentar di lingkungan ini untuk menyalamatkan saya....” Mata Angkasa berkaca-ketiwi, ia mengalihkan padangan. “Saya hampir mati, kehadiranmu buat saya bertahan.”

“Terima kasih... sudah menahan saya.”

Angkasa menyodorkan plastik jingga berisi yakiniku ke Bulan. Sedangkan plastik kuning untuk Dara tergenggam erat tangannya. Angkasa menuruni tangga kos lalu lanjut berjalan pulang ke rumah. Sedangkan Bulan masuk ke kamarnya.

Lima tahun berlalu... Sepulang kerja, Angkasa ke warung ibunya. Denting sendok dan hentakan gelas menyapa, cengkerama memenuhi segala penjuru. Angkasa makan ditemani Chandra dan Baskara.

“Bara ambisius sekali tanam pohon cabai di penjara... Bisa-bisa dia jadi pengusaha rawit nanti,” tutur Baskara sembari mengaduk teh.

“Itu bagus untuknya... lebih baik ambisius untuk kerja, daripada ambisius pada keirian,” sahut Angkasa sembari menyendok capcay.

“Dia tak ada menelponmu, Angkasa?” tanya Chandra.

“Dia siapa, Kak?”

“Bu—Bu—”

“Untuk apa dia menelponku, Kak?”

“Basa-basi tanya kabar, Angkasa.”

Ibu datang menghampiri meja Angkasa.

“Dara belum pulang?”

“Belum, Bu.”

“Dia giat sekali belajar di Australia.”

“Iya... Bu.”

Angkasa bangkit dari kursi. “Terima kasih makannya, Bu... Ibu jaga kesehatan. Maaf Angkasa merepotkan.”

Langkah Angkasa terseok-seok, membawa raganya ke pasar ketapian. Tangannya kosong, tak membawa plastik apa pun. Seiring layar ponsel menyala terang, matanya memincing, menatap kontak; Ibunya Laras.

“Kamu sehat di sana, Dara?” tanya Angkasa di telepon sembari memilih alpukat di pasar ketapian.

“Sehat, Angkasa... kamu gimana lancar di tempat gadai, Angkasa?”

“Aku dapat promosi jabatan lagi, Dara... kamu gimana kuliahnya?”

“Wah, selamat! Kuliahku lancar, sambil bantu nyusun matrikulasi... Doakan aku cepat lulus dan balik, Angkasa.”

“Iya, kamu hati-hati di sana... aku mau bayar dulu. Jaga kesehatanmu, Dara.”

Telepon tertutup kala Angkasa mengambil uang di saku. Ia terkejut melihat pria jangkung yang menimbang alpukat. Tak lain adalah Bayu dengan kemeja rapi, tak acak-acakan seperti dulu.

“Bapak pernah bertemu Bulan?” Bayu membungkus alpukat.

Angkasa menggeleng sembari memberi uang.

“Titipkan salamku padanya....” Bayu menyodorkan plastik hitam pada Angkasa. “Aku merindukannya.”

Langit gulita setiba Angkasa di rumah. Banyak alpukat mengetuk meja. Suara AC dan mesin penyedot debu menemani Angkasa di ruang keluarga. Semangkok alpukat tercampur ultramilk coklat ia santap.

“Harga emas hari ini sedang meningkat. Inflasi menyerang sektor ekonomi dunia.” Suara radio memenuhi ruang luas.

Angkasa makan tepat di hadapan bingkai foto keluarganya; Laras dan Dara memeluknya bahagia. Tiba-tiba air matanya jatuh bercampur ke mangkok. Dituang berkali-kali susu, alpukatnya terasa pahit di lidah.

“Hahshhssh.”

Angkasa terisak keras, matanya sembab diusap berkali-kali. Tangannya meremas rambut, dihidupkan TV memutar acara komedi, ia malah semakin terisak, tangannya memijat pelipis, matanya memerah basah.

Semoga Bapak bahagia dan sehat selalu.

Sama basahnya dengan mata Bulan di Jakarta. Setiap malam Bulan menuliskan doa untuk Angkasa. Selagi ibunya tidur di kasur, kertasnya penuh dengan kata, tak pernah bosan dan tak pernah mengirim doanya.

Ting-tong!

Hari kian berlalu, Angkasa terbangun di sofa sembari mengucek mata. Kantuk menguasai kala kakinya mendekati pintu, beberapa lembar surat mengisi kotak posnya; Acara gathering pusat, dan surat asing.

Saya sudah jadi penaksir sekarang... saya ingin mengantar Bapak pulang dan membelikan capcay jika bertemu. Berkat Bapak saya bisa makan tanpa mencuri. Terima kasih telah memupuk saya menjadi pohon yang kuat seperti Bapak.

Segaris senyum menghias wajah Angkasa. Ia kembali ke ruang keluarga, mengambil segelas air lalu duduk di sofa sembari membaca surat.

Saya sudah jadi Pinwil sekarang... Jika bertemu, saya senang melihatmu tersenyum bahagia. Terima kasih sudah pernah bertemu saya,” tulis Angkasa di selembaran kertas di meja.

Lembayung senja meramu rindu dengan semburat jingga keunguan, memeluk manja lampu kota yang berkelap-kelip di sepanjang jalan. Kantor pusat ramai akibat acara gathering. Riuh tawa membumbung haru berterbangan. Satu per satu orang keluar dari gedung pencakar langit.

“Da, Bulan! Hati-hati di jalan!” Sekumpulan perempuan muda tersenyum sambil melambai untuk berpisah.

“Da... Terima kasih,” balasnya.

Segaris senyum membingkai wajah pucat, tangan kurusnya melambai di udara. Sepatu putih bersihnya berpisah, mengais daun berguguran menuju halte TransJakarta. Ambien musik terdengar sekitaran jalan.

Senja menyambut kota yang lelah ini...” lagu Maudy Ayunda Jakarta ramai mengisi hiruk pikuk halte.

Langit menggelap seiring bintang berkedap-kedip, berjam-jam dirinya menunggu di halte, tak dinaiki bus yang terus melaju. Kepalanya menoleh kanan-kiri. Ia meninggalkan halte lalu berdiri di pinggir jalan.

Apa kabar mimpi-mimpimu?” lagu itu kian terputar ulang.

Lampu merah menyala terang, sejenak menghentikan laju kendaraan yang bergerak pesat, seiring suara lalu lintas menghitung mundur, meredam bisingnya keramaian, sepatu-sepatu menyeberang jalan.

Tuk...tuk, ketukan sepatu menggema di kepalanya.

Seseorang terlintas sembari menelpon di sebelahnya. Sepatu putihnya terhenti saat sepatu hitam mengkilap lewat, di antara sepatu-sepatu berlari, rambu lalu lintas kian menggema di angka terakhir.

Apa kau tinggal begitu saja?” putaran lagu mengetuk benaknya.

“Aku baru selesai gathering. Ini mau ke bandara, balik ke Denpasar... jaga kesehatanmu, Dara.” Suara bass merambat di telinga memicu matanya termenung di keramaian jalan.

Sepatu hitam melangkah lambat akibat ponsel nyaris jatuh dari saku. Lampu hijau menyala terang memicu kendaraan melaju tak peduli dua orang terhenti di tengah, di antara angin mengirim sejuk.

Saat orang memperlakukanmu baik. Kamu harus memperlakukannya sebaik itu. Tak kurang, tak lebih. Saya tak ingin saat bertemu di jalan, kamu pura-pura tak mengenal saya, begitu pun sebaliknya,” kalimat terngiang kembali di kepala.

Sepatu putih berbalik.

“Pak Angkasa.”

Sepersekian detik ketukan langkah terhenti, perlahan sepatu hitam berbalik, bertemu sepasang mata letih tersamarkan segaris senyum menghias wajah, menyulut bibirnya ikut tersenyum, memandangnya atas ke bawah seolah tak percaya. Seorang perempuan berpakaian blazer rapi sekarang.

“Bulan,” panggilnya.

Apa kabar angan-anganmu hari ini?” Lagu kian menggema di bisingnya kendaraan.

Plastik merah berisi kue gathering tergenggam erat tangan mereka. Lampu hijau benderang memantul ke hiruk pikuk kota, di bawah temaram sang rembulan, Angkasa tersenyum tak percaya, begitu pun Bulan.

Bab Sebelumnya....

Cerita Serupa....

Comments

Popular Posts