Prolog (Remang Bulan di Angkasa)

Bulan lekas mendorong troli ke luar supermarket tanpa membayar. Buru-buru sepatunya berlari menyeberang perempatan. Rem berdecit keras, sebuah motor menabraknya.

Brak!

Lamunan pecah, langkah Angkasa yang baru pulang terhenti mendengar itu. Ia menoleh melihat Bulan tersungkur. Troli terjatuh, popok tercecer. Satpam dan pengendara khawatir menanyakan keadaan Bulan.

“Kamu enggak apa?”

Bulan bangkit pelan, lanjut mendorong troli, lekas menyeberang lampu hijau terang. Klakson mobil bersahutan. Kendaraan kian berhenti mendadak, Bulan terus berlari seolah tak peduli mati.

“Bulan!” panggil Angkasa di trotoar. Lalu lalang kendaraan membawa angin begitu kencang.

Angkasa mengambil popok dan tisu di aspal. Raga Bulan menjauh seiring lalu lintas menghitung mundur. Lampu merah, Angkasa mengejarnya sambil terus menelepon. Bulan tak mengangkat.

Tut-tut-tut....

Angkasa kehilangan jejak Bulan di komplek perumahan kumuh. Pria itu menoleh mencari Bulan. Menit kian terhabis, kilauan bintang meredup, rembulan berpendar seolah termakan kegelapan.

Tak!

Suara berisik dari rumah kosan memicu Angkasa menoleh. Terlihat Bulan kesusahan melangkah mundur, menurunkan troli di tangga. Angkasa membenarkan selempang tas lalu menaiki tangga.

“Kamu mau ke mana?” Getar ngebass merambat di telinga memicu langkah Bulan berhenti.

Tangannya kian mengerat di troli tertutup selimut tebal. Kepalanya tak menoleh sedikit pun. Hanya punggung berjaket lusuh yang dapat dilihat Angkasa.

Srett!

Roda tergelincir, nyaris Bulan terjatuh. Angkasa menahan troli. Selimut tersingkap, Angkasa terkejut. Lansia tersenyum pucat bersembunyi di balik selimut. Bulan menunduk mendesah letih.

“Pelan, hati-hati,” Angkasa membantunya menurunkan troli.

Setiba di anak tangga terakhir, Bulan menarik troli keras, melepaskan genggaman Angkasa di troli. Perempuan itu mendorong troli lagi meninggalkan Angkasa.

Krek-krek....

Berlarut-larut waktu berlalu. Suara roda di jalan rusak terdengar. Keringat mengalir. Langkah Bulan terhenti melihat Angkasa masih berdiri depan kosan. Angkasa melihat obat di genggaman Bulan.

Tuk-tuk....

Ketukan sepatu usang Angkasa menaiki tangga. Sekuat tenaga pria itu menggendong ibunya Bulan. Bulan hening menatap mantel lusuh pria itu. Popok, tisu, dan obat tergenggam erat tangannya.

“Hati-hati.”

Setiba di kamar, Bulan menarik ibunya. Angkasa melangkah mundur di bibir pintu. Pria itu menatap kamar sempit tak layak huni. Bulan menidurkan ibu di kasur tipis dengan selimut lalu keluar kamar.

“Kamu... anak yang pengertian.”

“Kamu... orang dermawan.”

“Saya... pulang.”

Angkasa membenarkan selempang tasnya lalu menuruni tangga. Bulan termenung depan kamar. Angkasa balik ke supermarket, mengembalikan troli dan membayar barang yang dicuri Bulan.

Menu Sebelumnya...

Bab Selanjutnya....


Comments

Popular Posts