Prolog (Mati Rasa dalam Pelukan Tanpa Nama)

Lampu biru keunguan halte menyala terang, bersanding sempurna dengan adiwarna bintang di langit malam. Mengundang pipiku berseri kala tawa merdu Pak Orion memecah sunyi. Sepulang mengajar les murid SMP.

"Dingin ya, Karina?" tanyanya terkekeh dengan kedua tangan di saku jaket. Hidungku kembang kempis menahan salting, tanganku sibuk menggosok, mencari kehangatan.

Angin terus berhembus dibawa mobil yang melaju. Mengirim sejuk yang kian mencabik-cabik kuku dan kulit. Menarik sepatuku untuk memangkas jarak. Ragaku membeku, bibirku terkatup. Kala sepatunya juga ikut memangkas jarak.

Rasanya aku ingin memejamkan mata. Jantungku terasa diobok-obok, aku ingin mati di tempat. Jaraknya begitu dekat, indraku bahkan bisa mencium aroma yang menguar dari napasnya. Aish! Aroma permen.

Sorot lampu bus mendekat, entah kenapa aku merasa gundah kala pintu bus terbuka cepat.

Namaku Karina. Usiaku tujuh belas tahun. Aku dekat dengan guruku yang berusia dua puluh tujuh tahun, Pak Orion. Bolehkah aku menyukainya?

Bagaimana kami bisa dekat? Mungkin ini perlu diceritakan.

Bab Selanjutnya....


 


Comments

Popular Posts