Bab 1 — Lingkaran Arus Tak Berujung (Metafora Biru)
Mata membiru itu. Desiran ombak menggiggit jari kuku. Telapak kaki terhisap pasir. Raga mematung terpekur. Tubuh kian tenggelam. Terombang-ambing di laut kelam. Telapak itu menjauhi bibir pantai.
“Huhhhh.” Berusaha
mati-matian kuredam suara.
Dari penyitas untuk
sesama penyitas. Namaku Biru Kenanga. Usiaku dua puluh dua. Aku tak butuh harga
untuk dibayarkan. Aku hanya ingin mendengar tiga kata biasa. Aku ragu seseorang
akan mengatakan.
Ting-ting!
Denting sendok
mengaduk susu dan sereal. Entah sudah berapa kali aku minum susu. Rasanya aku
mau muntah. Ponsel tergelatak mati di lantai. Jarum jam kian berdetik keras,
pikiran itu menghantuiku lagi.
“Untuk apa tamat
cepat, kalau ujungnya menganggur?” Kak Nadi tertawa di sela memasukkan baju ke
mesin cuci. “Merah sampai bilang mana mungkin kamu beli baju, semua baju kan
kakak tinggal di sini.”
Segaris senyum
kulayangkan kala kakak menatapku. Sungguh. Atas dasar apa seseorang bisa
merendahkan, apakah materi yang jadi acuan? Semakin mahal seseorang membayar,
semakin ia berhak?
Tak. Sendok mengetuk
meja, cairan putih menitik ke kayu coklat. Lekas kuteguk susu hingga tandas.
Satu tarikan cepat, tanganku mengusap cairan keruh di meja. Mesin cuci kian
berputar, napasku kian terjeda.
Tik-tok-tik-tok....
Bunyi jarum jam kian
menggema. Berangsur-angsur mentari dimakan gelap. Putih lengket menjejaki
dinding, lalat hinggap mengitari bibir, gelas kian tak tercuci di meja. Kakak balik
ke rumah suaminya.
“Aku sendirian di
rumah... aku merasa aneh.” Rekaman di ponselku terputar, suaraku terdengar
nyaris tertawa.
Jariku menyelip di
sela rambutku yang basah. Segaris senyum menghiasi wajah. Terpantul di telivisi
hitam, bibirku tersenyum bersanding resah kantung mata. Kilatan memori itu
terpantul di TV.
“Janji, jangan
sedih.” Dua pasang remaja duduk di sofa bersanding cekikikan menimpa lara,
sepasang telapak saling membagi pasir terpantul di layar tv yang menghitam.
“Aku benci diriku
sendiri... aku tak ingin seperti ini.” Rekaman di ponsel kian terputar, suara
tawaku silih berganti menjadi isakan.
Lekas kumatikan ponsel
dan bangkit dari lantai. Tapak kakiku menjejak keluar rumah. Membawa raga entah
kemana. Kala bulan bersinar redup, bayangan daun menggantung di batang kurus.
Daun itu jatuh.
“Tahan, jangan
nangis.” Napas remaja berantakan seiring air mata menggebu-gebu ingin keluar.
Daun itu tenggelam ke
air membiru. Entah sudah berapa menit terlewati. Kakiku tak kunjung
meninggalkan jembatan. Hiruk-pikuk jalan seolah memperingatiku. Denging klakson
kian bersahutan.
“Jangan teriak,
sedikit lagi.” Hujan meluruh membasahi pipi kala arus keringat membanjiri
pelipis, kuku mengikis kulit seiring suara ombak diredam bibir.
Jariku meremas
rambutku yang berkeringat. Senyum gelisah membingkai wajah. Berkilat di air
membiru, bibirku tersimpul di bawah mata cekung. Memori kelam itu terpantul di
air yang beriak biru.
Byur! Tubuhku jatuh
tenggelam ke lautan gelap. Hiruk pikuk kendaraan bergerak pesat. Suara klakson
kian mendengingkan telinga. Aku meluruh. Biarkan sekali saja aku meluruh... Aku
sudah tak tahan lagi.
Tanganku mengerat di
pembatas jembatan. Mata terpejam erat, menahan isak agar tak tumpah. Kubungkam
mati-matian detak jantungku. Aku bahkan tak bisa membedakan mana ilusi dan
kenyataan.
“Biru?” Teduh suara
sopran merambat di telinga, terpancar bayangannya di air. Sepasang mata biru
mewarnai wajah putih pucat, tersenyum amat ramah, anehnya wajahnya begitu mirip
dengan wajahku.
“Kenapa melamun di
pinggir jalan?”
Aku menoleh seketika bersitatap
dengan Bu Githa Jingga. Senyumnya kian merekah tulus meramaikan pipi merah sendunya,
senada tinggi semampainya dihiasi rambut hitam legam panjang.
“Kenapa malam-malam berdiri
di jembatan...?” tanya guru SMA itu lagi. “Kamu... kehilangan siapa?”
Alisnya terangkat disusul
kesiur angin menerbangkan helaian rambutnya, membuat ragaku meninggalkan
raganya. Ujung kelokan tepat kendaraan berlalu-lalang, langkahku terhenti mendadak.
Aku... menoleh.
“Saya... kehilangan
seseorang, Bu.” Suaraku tipis seperti ditelan angin.
Anehnya raganya
menghilang di antara ramainya kendaraan beradu di kegelapan. Sama hilangnya seperti
ragaku.
π π π π π
Mentari merangkak naik
di khatulistiwa, sinarnya menyusupi peron, kala kereta tiba menyulut sepatu
kian merapat. Satu per satu manusia meninggalkan peron. Aku berdiri,
menggantung tangan di handle.
“Pulanglah, Jingga...
Aku merindukanmu,” tutur seorang pria tak asing sembari menelpon, tangannya kian
mengerat di handle membuatku
merasa aneh, aku merasa berada di lingkaran yang tak berhenti.
Pria itu menoleh. Matanya
mengawang di lamunan. Bersitatap. Seketika aku menunduk. Tangan getarku mengerat
di handle. Terpantul bayangannya di lantai, punggungnya juga sama merunduk sepertiku.
“Perhatian. Kereta tiba di stasiun tujuan.
Harap turun dengan tertib, dan selalu awasi barang bawaan Anda.” Suara pengumuman dari speaker tua menggema,
tenggelam di antara langkah-langkah tergesa.
Satu per satu sepatu keruh
memijaki peron. Menaiki tangga lalu meninggalkan stasiun. Sepatuku mengikuti pria
itu. Melewati bising kenderaan melaju di pesatnya jalan. Penuh polusi, penuh kesibukan.
“Pagi, Pak.” Seorang satpam
menyapanya ramah, menyambutnya memasuki lobi.
Segaris senyum
membingkai wajah lesunya. Terpantul dari dinding kaca. Tangannya
merogoh saku, mengeluarkan kartu akses, menempelkannya pada mesin. Bunyi bip
terdengar seiring gate kaca terbuka.
“Pagi, Pak Cakra.” Seorang
pegawai menghampiri pria itu. “Mata Bapak biru banget. Jangan sedih, Pak...
saya yang bawahan aja bisa bahagia. Masa manajer kaya bapak enggak bisa?”
Segaris senyum terbit
di wajah Pak Cakra, terpantul di keramik kaca. “Saya bahagia, Danan.”
“Lidah bisa bersilat,
wajah tak bisa berkelit...,” tutur pegawai yang dipanggil Danan sembari nyengir
lebar. “Semangat, Pak... Jangan lupa move on. Semua orang berhak bahagia,”
lanjut Danar kembali.
Pak Cakra memasuki
ruang sedangkan Danan menghampiriku yang berdiri di bibir pintu.
“Pagi...,” sapa Danan
ramah. “Kamu yang mau interview jam sembilan ya?” tanya karyawan pria itu.
Aku mengangguk, menyembunyikan
tangan yang bergetar keras di balik celana
“Boleh tunggu di lobi
dulu. Nanti dipanggil ya....” Dia mengantarkanku ke sofa di sudut ruang. “Untuk
yang melamar teller boleh ikut saya,” tuturnya lagi di dekat sofa.
Belarut-larut menit berlalu.
Sofa yang awalnya ramai pelamar kini menyepi. Peserta keluar ruang dengan beragam
wajah. Berlomba-lomba berharap, agar bisa lolos bertaruh hidup di kerasnya dunia,
di usia dini.
“Kamu pelamar akuntan...
Biru Kenanga yang dikirimi wa sama Mbak Mirah ya?”
Aku mengangguk kala
Danan menghampiriku lagi.
“Boleh ikut saya nanti
bertemu dengan Pak Cakrawala.”
Tuk... tuk, ketukan
sepatuku menggema di sepanjang lobi. Langkah Danan terhenti tepat di hadapan
ruang besar dengan pintu tertutup sempurna. Terang lampu menyulut jantungku
berdegup kencang.
“Semangat.” Danan
mengepalkan tangan menatapku, aku kian menunduk memasuki ruang.
“Biru Kenanga Ayu?”
Suara bass merambat di telinga memicu kepalaku perlahan mendongak.
Sepersekian detik aku
mematung, mataku bersitatap dengan mata letih Pak Cakra di ruang dingin
dipenuhi deru AC.
π π π π π
“Pintar akademis saja
tak cukup di dunia kerja...,” tutur Pak Cakra menunduk sembari membaca CV. “Dunia
kerja penuh dengan kerjasama tim, pengalaman sosial dan soft skill sangat
dibutuhkan di sini.”
Pintu tertutup rapat.
Sepatu keruhku berdiri di keramik putih pucat. Dinding kaca memantulkan wajah
pegawai. Tampak akrab sesama rekan. Telapak basahku meremas celana lecak. Keringat
terasa mencair.
“Biru Kenanga Ayu...”
Suara bariton itu terngiang lagi di pikiran. “Janji, jangan nangis lagi...
Jangan takut. Telapakmu basah itu artinya kamu semangat bukan ketakutan.”
“Eh, pak bos akhirnya
pulang juga dari audit di luar kota....” Kekehan Danan menguar antusias, terlihat
sepatunya menghampiri seseorang yang keluar dari lift. “Ngapain balik ke sini
lagi, Pak Bos?”
“Aku balik karena rindu...
rindu seseorang,” balas suara bariton itu terdengar sendu.
Deg!
Napasku tercekat.
Jantungku seperti berhenti berdetak. Suara bariton itu terdengar mirip. Bahkan
kalimatnya tak berubah dari lima tahun lalu. Saat usiaku tujuh belas sedangkan
dia dua puluh.
“Rindu Merah ya...?” tanya Danan, wajah mereka tertutupi tangga,
hanya sepatu mereka yang bisa kulihat. “Sanggup banget LDR. Masih cinta atau lagi
cuti? Kasih aku aja Merah Merpatinya pasti kujaga.”
“Masih. Aku masih
sayang... sayang, aku kasihan,” tutur bariton itu di sela tawanya.
Mataku membiru
mendengar itu. Kalimat yang sama dikatakan untuk orang yang berbeda.
“Saya akan mengajukan
ke direktur... posisi dibuka untuk dua orang. Apabila direktur menerima, nanti dihubungi
lebih lanjut.” Pak Cakra bangkit dari kursi, tangannya terulur. “Terima kasih kehadirannya.”
Kakiku getir untuk sekadar
memijak. Sekuat tenaga kujauhi mata agar tak bersipandang. Ketukan sepatu itu
bergema mengikutiku dari belakang. Kekehan Danan terhenti seolah sadar ada yang
aneh.
“Terima... kasih.”
Ragu aku menjabat tangan Pak Cakra, mataku hanyut dalam mata redupnya.
Tuk-tuk... tuk!
“Biru?” suara
bariton itu kembali memanggil namaku membuat langkahku terhenti di bibir pintu.
Terpantul di dinding
kaca, matanya yang mebiru bersitatap dengan mataku yang sama birunya. Langit biru
bersinar terang, kulihat bayangan Kak Laut di lantai... kuharap itu hanya ilusi.
π π π π π
Comments
Post a Comment