Prolog (Metafora Biru / Bukan Prioritas Siapa-Siapa)
Satu sentuhan makin menjadi-jadi di bibir pantai. Biru berteriak keram. Ombaknya keras terbungkam. Dia kian terendam. Derai hujan
runtuh menyatu di biru kelam.
Tak ada seorang pun tahu. Kala langit jingga mulai
biru menggelap. Tapak sepatunya melangkah lambat. Di antara ribuan mobil melaju
pesat. Jejaknya tercetak di sepanjang trotoar. Dua kaki mengekorinya dari
belakang.
Gelisah. Keringatnya kian bercucuran. Tiang lampu
terlewati begitu saja. Polusi motor tetap beterbangan. Nafasnya meronta
menghirup ribuan debu. Bola matanya bergerak ketir ketakutan.
Aroma keringat menyeruak mendekat. Jalanan menyepi
sekecil kelokan gang. Rangkulan memeluknya paksa. Tasnya kian terjepit sesak.
Kepangannya penuh keringat basah. Seragam putihnya beradu peluh. Rok birunya
diterbangkan angin yang membiru.
Pita suaranya seolah dijepit. Satu jeritan seribu
makian. Tubuhnya terombang-ambing entah ke mana. Ditarik paksa dan diseret
layak binatang. Tubuhnya dihempaskan jauh jatuh ke dasar kasur. Gelap seperti
laut. Sedih seperti biru.
Seribu sentuhan makin beringas di bibirnya.
Teriakannya menjadi-jadi kian tenggelam. Laut itu semakin karam. Suaranya bak
ombak tersakat. Bibirnya sakit tersiksa. Ia merintih, hujan kian menitik di
pipinya. Air matanya membiru menyatu dengan kegelapan lautan.
Dia memohon-mohon pada manusia besar di hadapannya.
Tangan kecilnya kian terperangkap jaring. Dengan kapal raksasa, manusia itu
menghujam tubuhnya rengas. Terombang-ambing entah tak menentu. Dibolak-balik
mengikuti kuatnya arus. Desahan angin malam mencabik kulitnya. Jemarinya meruas
kedinginan berendam di dasar lautan.
Bergesekan. Peluhnya bergesekan jatuh ke air laut.
Bercampur asin perih luka. Tersenggol keras. Terumbu karangnya pecah. Darah
mengalir di antara biru laut. Bibir pantainya terkikis robek. Nafasnya
terpenggal di antara kesiur malam. Ia merasa terlalu muda luruh ke dalam
lautan.
Langit malam kian membiru. Lembayung bulan seolah
tersedu-sedu. Ia berjalan pulang dengan rok biru penuh air mata laut. Tubuhnya
asin penuh keringat aras rambut. Ia tinggalkan terumbu karangnya. Kakinya
menapak gemetar, meninggalkan bibir pantai kegadisannya.
Sampai rumah, Sepatu berpasir ia bawa pulang. Ibunya
terduduk lesu di sudut ruang. Biru di matanya tak kunjung menetes. Ia tahan
habis-habisan. Demi tak ada mata biru yang lainnya.
Ia menutup kamar dengan tangan penuh pasir. Melihat
kasur, kepalanya mengawang-awang ke lautan. Menghempaskan diri jatuh ke kasur,
perempuan itu tenggelam ke dalam lautan.
Kepalanya penuh air tak bisa bernafas. Seragam
putihnya bercampur biru penuh luka. Rok birunya tersingkap derasnya gelombang.
Dia tenggelam. Tak bisa berenang. Membiarkan nafasnya menipis di tengah air
bergeming. Kejadian itu. Kejadian itu melumpuhkan syarafnya, mengerahkan
gelombang kuat ke kepalanya. Seolah kepalanya mau pecah, meledak di antara air
lautan yang terdiam.
Kuning matahari bangun dengan warna biru. Langit juga
terlihat biru. Semua di matanya nampak membiru. Tasnya penuh pasir. Titik demi
titik pasir terus berjatuhan. Kegelisahan, ketidakstabilan, tumpang tidih
pasang surut ia bawa ke kelas.
Terlalu biru untuk berbicara. Pasir seolah memenuhi
mulutnya. Teman-temannya merasakan biru sepinya. Perlahan ikut menyepi,
lama-lama menjauh seiring pasir kian menitik. Dia yang selalu menyepi,
lama-lama terlelap sunyi desiran ombak terus menggentayangi.
Pasir di tasnya malah terasa semakin berat. Nilainya
jatuh, penampilannya seperti awan mendung. Guru-guru tidak memberi kesempatan.
Malah menceramahi diamnya yang seperti malam.
Dia terlalu muda untuk mengerti. Apa yang sebenarnya
terjadi padanya. Benar salah baik buruk, dia merasa terombang-ambing di lautan
luas. Tak bisa bicara, ada rasa takut sedih dan buta di tengah malam. Butuh
teman untuk curhat rasanya percuma. Malah datang nasehat, bagai angin malam
yang lewat saja.
Tak ada yang mengalami malam itu selain dirinya
sendiri. Tak ada yang menghirup udara dingin itu selain paru-parunya. Otaknya
masih terlalu kecil. Dia merasa terjebak. Dia tak bisa lolos dari biru air yang
menggenang. Baginya, ia hanya perlu seseorang. Seseorang pendengar bukan
penasihat. Ketika pita suaranya habis, ia bisa berteriak sekeras ombak. Ketika
air matanya mati, ia bisa buat badai pun petir.
Dia butuh seseorang. Seseorang yang memberinya
kesempatan. Butuh waktu lama untuk memproses apa yang terjadi pada dirinya.
Sakitnya masih menjejal malam remangnya.
Dia mengunci pintu kamar berpasirnya. Dia menatap
kasurnya yang penuh dihinggapi pasir. Menatap ke langit-langit lampu yang
membiru, nafasnya sesak seolah ingin mati. Perlahan, tubuhnya luruh ke tengah
lebatnya lautan.
Laut itu diam. Ombaknya tenang seperti bungkam. Saat
sentuhan makin menjadi-jadi di bibir pantainya. Dia tetap diam. Rintik hujan
runtuh menyatu di biru airnya
Manusia itu mencuri semuanya. Menguras air mata
menjadi biru. Rakus tamak haus higga gelap mata lautan. Dirinya telah terjatuh
dalam. Jatuh di antara luasnya lautan yang gelap. Dia menyatu. Luruh ke dalam
biru yang menyedihkan.
Air matanya tak pernah jatuh. Ia redam matian-matian.
Ia belajar menyatu dengan biru. Matanya berwarna biru. Tenggelam ke lautan itu,
dan aku tahu satu hal pahit. Aku... yang bermata biru.
𓆝 𓆟 𓆞 𓆝 𓆟
Comments
Post a Comment