Bab 2 —Disosiatif Biru (Metafora Biru)

 Aroma ikan menusuk hidung. Asin keringat memenuhi pelipis kala mataku melihat laut. Senyum getir kulayangkan di kacaunya desiran ombak. Tanganku bergetar saat tubuhku diduduki di meja dapur.


Tik-tok-tik-tok....


Jarum jam berdetak keras. Sekeliling bergerak pesat. Tanganku meremas rambut. Entah sudah berapa banyak buku yang kubaca. Perasaan itu terus membuatku gelisah. Jariku bergetar mengambil pulpen.


“Aku bingung... Aku benci diriku sendiri. Aku tak suka perasaan ini.” Napasku tercekat seiring tinta kian tersendat menulis di kertas lecak. “Sepertinya aku... aku.”


Setetes air membasahi kertas putih, basahnya terserap dan mengaburkan tinta hitam. Jempolku bergetar menggosok tulisan. Lekas kuhapus air yang menjejaki pipi. Terpantul di cermin, hitam mengotori pipiku.


“Huussshh.” Susah payah kubungkam suaraku, pergelanganku kesakitan merasakan ujung tinta menusuk nadiku, merah berkilat tersinari cahaya mentari yang menyusup jendela.


“Biru...?” Suara sopran mengejutkanku, menyulut pulpen terjatuh dari genggaman, merah bercampur hitam, lekas kusembunyikan dibalik lengan panjang. “Kamu kenapa sendirian di perpus?” tanyanya.


Aku menoleh bersitatap dengan mata membirunya.


“Dunia kecil ya... kita ketemu terus di mana-mana. Ibu pikir kamu bakal masuk jurusan sastra atau seni setelah tamat SMA. Ibu enggak nyangka kamu masuk akuntansi.” Bu Githa Jingga duduk di sebelahku.


Lekas kututup buku saat ia melihat sebait kalimat dengan tinta buram.


“Kamu enggak ketinggalan sesuatu?” tanya guru SMA itu kala aku beranjak menjauh dari kursi, buku-buku dipelukanku tergenggam erat. “Kamu tak melupakan seseorang kan?”


Ketukan sepatuku berhenti. Sepersekian detik aku mematung di antara ramai pengujung perpus berlalu-lalang. Kuputar leher perlahan untuk bersitatap mata sendunya. Aku melamun membayangkan raganya.


“Saya... Sa—saya lupa nama saya, Ibu.” Napasku terpenggal di antara angin malam mengoyak tubuh.


Mata membiru itu seolah menarikku ke dalam ilusi. Rak buku di belakang kian menjauh. Suara pengunjung melebur ke denging klakson. Aku berkedip, lantai perpustakaan runtuh jadi aspal basah. 


“Biru....” Serak suara Bu Githa memanggil. “Ibu harap kamu tak lupa namamu... Lepaskan ibu, Nak. Biarkan ibu meluruh.” Napasku tersengal kala tangannya melepas genggamanku di pembatas jembatan.


Aku hanyut terjatuh ke dalam mata redup itu.


Byur! Tubuh jatuh tenggelam ke lautan. Desir ombak seolah melahap raga. Ramai langkah terhenti pun wajah tercekat. Biru bercampur merah menyeruak. Dimakan habis gumpalan awan menghitam kelam.


Ting-ting. Gelap hitam saat suara menyusupi telingaku. Terang cahaya seolah menusuk mata, alisku berkedut merasakan detak jantungku memelan. Bunyi oximeter merasuki kepala. Perlahan kubuka mata.


Aku mematung menatap kampu yang menggantung di langit. Gorden putih bersih memanjang sampai lantai. Selimut menutupi tubuhku, keringat memenuhi kening saat aku terbangun di kasur asing.


“Kamu sudah bangun?” Seorang dokter menyibak gorden sembari membawa kertas, ia tersenyum ramah menatapku yang temenung.


“Kenapa....” Ragu aku bertanya. “Saya bisa di rumah sakit?”


“Seorang pria yang mengantar.” Dia membaca kertas di tangannya. “Dia tinggi semampai. Katanya kamu pingsan setelah interview kerja... Oh iya. Namanya Danan,” tutur dokter itu dengan alis terangkat.


Kalimatnya terasa tak asing di telingaku. Aku melihat ponsel di meja. Sebuah pesan menggantung di layar.


“Jaga kesehatanmu.” Isi pesan itu membuat mataku berkilat getar, pengirimnya adalah orang yang tak ingin kurasakan, tak lain adalah Kak Laut.


Berangsur-angsur jam berlalu. Dokter menanyakan beberapa pertanyaan. Kian dicatat diselembaran kertas. Kepalaku terasa memberat. Tak satu pun tanya yang kuingat. Tak satu pun tanya kujawab jujur.


“Pasien atas nama Biru Kenanga Ayu ada?” Suara bass merambat di telinga kala aku terbangun dari kasur.


“Ada di sana,” sahut suara dokter itu seiring aku memakai sepatu keruhku.


Tuk. Sepatuku mengetuk besi kasur kala bersitatap dengan Pak Cakrawala. Gorden putih bersih membatasi kami. Dia menunduk menatap sepatu keruhku sebelum akhirnya bersitatap kembali.


“Maaf... jika kalimat saya kasar selama interview.” Sepatu Pak Cakra memangkas jarak selangkah, sepatuku mengetuk mundur. “Katanya kamu henti napas, saya merasa bersalah dan langsung kesini.”


Tanganku bergetar, semua kalimat itu terdengar sama di saat usiaku delapan belas.


Aku menunduk, menyembunyikan tangan getar di balik celana. “Terima kasih pada Danan, Pak... Karena sudah mengantar saya.”


“Bukannya Laut yang mengantarmu?” Alis Pak Cakra tertaut.


Aku mematung mendengar itu. Memori kelam itu kembali menghantui kepalaku.


“Biru....” Suara bariton memanggil, langkah kakinya seolah mengikuti, pria dewasa itu membuatku panik tak tahu harus kemana saat sepatuku mengetuk bibir pintu. “Biru... kakak mau bicara.”


Napasku berhenti saat merasakan hangat tubuhnya seolah mendekat. Napasku terkikis di antara kesiur angin yang menusuk. Alisku berkerut saat dinding kaca bergetar. Lantai keramik runtuh. Aku... meluruh.


Byur! Entah sudah berapa pasukan oksigen habis. Detak jantungku seolah mati. Tubuhku semakin dalam tenggelam ke cahaya biru seperti lautan. Samar hadir sebuah tangan tergesa menyibak air merangkulku.


Entah aku sakit atau kantuk menguasaiku, mataku terasa berat untuk sekadar terbuka. Tubuhku lemas untuk bertahan tegar. Paru-paruku sesak ingin mengakhiri pernapasan. Saru Pak Cakra menghampiriku.


“Kamu enggak apa...?” Suara bassnya seperti risau, hadir tangan memegang pundakku seiring napasku berhenti, wajahnya dipenuhi khawatir sama seperti Laut. “Biru... bangun.” Serak baritonnya bergema.


Guncangan pelan di pundak kurasakan, disusul sentuhan di leher dan hidung. “Dok... Dok!” teriak suara bass itu disusul ketukan sepatu tergesa menghampiri, derit gorden tertarik, suara oximeter kian merapat.


“Biru, bangun....” Suara bariton kian memanggil, diikuti tepukan pelan di pipi seperti takut, buram wajah remaja meredup di bawah lampu menyilang. Sentuhan di leher nan hidung memanas. “Maafkan, kakak.”


Rasanya aku tak sepenuhnya pingsan. Suara masih terdengar beradu aliran dasar laut. Jauh. Putus-putus. Dingin menempel di dadaku. Lalu… hentakan. Tubuhku tersentak seperti ditarik ombak keras.


“Kakak minta maaf, Biru....” Samar Kak Laut menumpu tangannya di dadaku, menekan beberapa kali hingga aku terbatuk, menumpahkan air ke pasir basah, tak kunjung membaik. “Kakak menyesal.”


Dadaku terasa sesak. Kepalaku terasa begitu berat. Entah jantungku berhenti berdetak atau aku akan mati. Sesuatu menusuk punggung tanganku. Cairan terasa mengalir bak arus merayap masuk ke tubuhku.


“Aku minta maaf, Biru.” Serak baritonnya saat menutup hidungku, membuka mulutku, sayup  staf menjerit saat wajah dewasa memangkas jarak, hadir napas memaksa masuk ke mulutku, pandanganku membiru.


Tak. Mataku terbuka lebar kala tubuhku tersentak duduk di kasur. Pandangan membiru silih berganti cerah lampu kamarku, mentari belum muncul di jendela. Napasku terasa berat beradu keringat di kepala.


Tik-tok-tik-tok... Dadaku naik turun senada detak jam bergema di ruang. Aku mematung, terpaku pada jarum jam yang mengetuk angka tiga.


Aku mengambil buku di laci, membuka halaman tengah. Kulirik pintu kamar tertutup rapat. Kubaca tulisan rusak yang mengukir buku. Air menetes dari mata. Jari bergetar untuk sekadar genggam pulpen.


“Pertama kali tenggelam. Bunga baru dua belas saat berenang di gelapnya lautan berusia lima belas tahun. Pikirnya bercanda. Pasir membuat kakinya geli menggelitik ke bibir pantai. Bunga terdiam di sofa.”


Tulisan bercetak miring dengan tinta hitam beradu bercak merah.


“Aroma alkohol menyeruak di lautan luas berusia delapan belas, bunga baru lima belas berguguran di halaman sekolah kehilangan mahkota. Tangkainya bergetah bercampur merah. Kian tenggelam jauh.”


Noda putih susu membasahi tulisan hitam. Aku menuliskan kalimat baru di bawah rentetan kalimat buram. Napasku tersengal setiap kali memori itu terputar. Keningku kian berkerut, mataku bergetar.


“Ia minta maaf, janji jaga jarak, tapi usia dua puluh hampir mengulang di meja dapur sedangkan usiaku tujuh belas. Dia juga memberi napas buatan saat usiaku delapan belas di kantornya. Aku... baru ingat.”


Mataku melamun menatap garis-garis merah di tangan, seiring alisku semakin berkerut, aku merobek kertas. Napasku berantakan, dadaku naik-turun kala mataku bersitatap dengan foto Bu Githa di buku.


“Ibu harap kamu tak lupa namamu.” Tulisan Bu Githa terjepret rusak di foto itu.


Merah bersimbah, tanganku gemetar, memori-memori gelap itu kian merasuki kepalaku.


Tak. Lekas aku menaruh buku di meja. Bibir tergigit sempurna, menahan isakan agar tak menggema. Tanganku menyelinap ke rambut berkeringat. Aku menatap langit-langit kamar, kian menjambak rambut.


“Line!” Dering ponselku menyulut layar bekedip menyala, susah payah kuatur gejolak di dada.


Aku mengambil ponsel dari nakas. Napasku masih tak beraturan. Sebuah pesan iklan menggantung di layar. Terang layar menusuk mataku yang berkilat letih. Jempolku kian tremor menggulir bilah notifikasi.


“Yth. Saudari Biru Kenanga Ayu. Terima kasih telah mengikuti tahap interview pada posisi Staf Akuntansi. Kami informasikan bahwa Anda dinyatakan lolos dan bergabung di perusahaan kami.” Isi sebuah email.


Entah aku harus sedih atau senang membaca email itu.


“Jaga kesehatanmu.”


Deg!


Napasku tercekat membaca pesan dari Kak Laut. Kulirik tanggal di sudut layar. Sudah seminggu terlewati setelah aku interview staf akuntan. Itu bukan ilusi. Aku... seperti kehilangan sebagaian memori.


“Apa sungguh... aku ini nyata...?” bisikku, melihat sekeliling. “Aku harap aku sedang bermimpi... semoga aku tak terbangun dari mimpiku.”


Langit bersinar begitu cerah merangkul awan, aku terisak sendirian di kasur memeluk lengan.


𓆝 𓆟 𓆞 𓆝 𓆟


Bab Sebelumnya....

Bab Selanjutnya....

Comments

Popular Posts