Bab 1 — Lautan Manusia Terjebak di Akuarium Kecil
‘Pagi memanggil kota
yang lelap ini. Dia bertanya, Bagaimana harimu?’ lagu Jakarta Ramai milik Maudy
Ayunda terputar di ponsel Suar, ia menggendong tas berisi setumpuk cita sama
seperti penumpang lainnya.
Tangan Suar kian
mengerat di handle. Matanya tercenung menatap keramaian yang melingkarinya.
Seperti lautan manusia terjebak di akuarium kecil. Cengkerama mengalir di arus
tawa. Anehnya, Suar merasa... asing.
‘Apa kabar
mimpi-mimpimu? Apa kau tinggal begitu saja?’ lagu kian menggema menyusupi
telinga Suar mengalir dari earphone.
“Halte RS!” teriak
kernet memicu satu per satu sepatu keruh menuruni bus.
Sayu mendesah sembari
melambaikan tangan pada kedua adiknya. Lekas perempuan itu menuruni halte lalu
berlari memasuki wilayah RS. Dipenuhi sirine ambulans disusul brankar keluar
dari ambulans.
“Kenapa telat, kamu
sakit?” tanya Baskara. Chief residen itu mendorong brankar memasuki RS.
Sayu berlari,
mengambil alih brankar. “Saya telat bangun tadi, Pak. Semaleman selesaiin
artikel.”
Mata Sayu kian terbuka
lebar, emosinya naik-turun beradu kelelahan di RS. Berbeda dengan Bagas yang
nyengir kuda di bus. Bibirnya kian manis memuja-muji penumpang bus.
“Weih, ibu hobi
makan... Sama, Bu. Saya juga.” Bagas mengeluarkan lembaran kertas dari tasnya.
“Ayo, Bu ke rumah kos dekat halte pertama. Kita makan bareng, isi penghuni kos
cuma anak-anak ibu kos kayak saya.”
Bagas membuka tutup
pulpen. “Habis makan, jangan lupa kita bicara tentang asuransi... Kita enggak
pernah tahu lo apa yang akan terjadi di masa depan. Asuransi itu tabungan masa
tua bisa dicairkan, Bu.”
Si Ibu tampak antusias
membaca lembaran-lembaran yang disodorkan Bagas. Sedangkan Suar bersiap-siap
kala bus menepi di pinggir jalan. Suar melambai pada Bagas yang sibuk. Suar
menuruni bus.
’Langitnya abu, hatiku
biru. Banyak hal baru tapi kulesu.’ Suar melepas earphone, perempuan dua puluh
tujuh itu menuruni halte.
Tangannya menyetop
lalu lintas untuk menyeberang. Kaki Suar kian melangkah saat matanya melihat
Cahya turun dari motor teman. Suar memasukkan earphone ke saku. Ia memasuki
rumah produksi.
“Suara Ayu!” Seorang
senior menepuk pundak Suar di lorong. “Bentar malam kita mau ke pantai untuk
syuting. Siapkan perekam suaranya ya.” Senior memasuki gorden hitam setelah
memberitahu Suar.
Suar mengangguk dan
tersenyum walau tak dilihat. Perempuan itu memasuki ruang pengarah suara.
Berbeda dengan Cahya yang memasuki ruang editing. Sedangkan Bagas menuruni bus
sambil nyengir.
“Basa-basi manis
memang paling cocok untuk dapet pelanggan.” Bagas berdiri depan gedung
asuransi, matanya berbinar menatap lembaran kertas tertanda tangani.
ð“…° ð“…¬ ð“… ð“…® ð“…¯
Langit berbintang
mengaduk adiwarna hitam, membagikan remang Cahya berpendar di antara ombak,
desiran angin keras menerbangkan helaian rambut Suar, terlilit di headphone
yang menutupi telinganya.
Sshhh… wuuush...
Tangan Suar memegang headphone, matanya kian terpejam meresapi suara ombak yang
membasahi pasir.
Suar duduk sendiri di
pasir paling jauh di antara keramaian syuting. Tiang microphone merekam
bisingnya malam teredam ombak. Suara kendaraan berlalu-lalang dari kejauhan
tertangkap samar di mic.
Tuk...tuk...tuk,
langkah kaki menyusup memicu leher Suar tertekuk untuk menoleh, bersitatap
dengan Cahya yang sedang mengambil fokus bulan di kameranya.
“Aku...." Cahya
menoleh pelan. "Lagi rekam langit.” Cowok itu berdiri kaku memegang
kamera, ia lanjut merekam bintang tanpa basa-basi.
Setelah selesai
merekam, peralatan film lekas dikemasi lalu mereka balik ke rumah produksi.
Cahya pulang nebeng di motor teman. Sedangkan Suar naik bus lalu turun di
halte.
“Kamu baru pulang,
Dik?” tanya Sayu saat Suar tiba di rumah kosan, residen psikiatri itu memegang
sikat gigi.
“Bawa jajan gak? Kakak
butuh manisan nih.” Sayu lanjut gosok gigi tanpa peduli dilihat tetangga.
Suar tersenyum
mengambil cokelat batangan dari tasnya. “Ini, Kak.”
Suar memberi cokelat
pada Sayu yang berdiri depan kamar mandi. Setelah itu Suar balik berjalan letih
ke kamar.
“Eih, enggak
bilang-bilang pesta.” Bagas keluar dari kamar mandi dengan rambut basah, cowok
itu cengengesan lalu mencuri cokelat dari tangan Sayu.
“Eh! Kutu kupret!”
teriak Sayu saat Bagas ketawa-ketiwi kabur mau masuk ke kamar.
Kesal Sayu melempar
sikat gigi ke arah Bagas.
Tak!
Mata Sayu membulat
sedangkan Bagas mulutnya menganga saat sikat gigi mengetuk keras punggung
kepala Suar. Busa mengotori rambut Suar menyulut langkahnya terhenti depan
kamar. Ia terdiam, matanya memerah.
“Dia... enggak marah
kan? Kakak sih,” cicit Bagas pada Sayu.
Sayu mati kutu
sedangkan Bagas memegang handuk, menatap Suar masuk kamar. Bersamaan Cahya tiba
di depan gerbang. Pria dua puluh tujuh itu melihat Suar berkaca-kaca dari celah
pintu terbuka.
Lengkungan bulan
bersinar cerah di jendela. Perlahan Suar menutup pintu kamarnya.
ð“…° ð“…¬ ð“… ð“…® ð“…¯
Comments
Post a Comment