Bab 2 — Puji Aku Walau Itu Dusta

“Selamat ulang tahun kami ucapkan.” Ibu bernyanyi bersama Bagas merayakan ulang tahun Sayu. Kala gerimis menari di sela temaram rembulan, Suar termenung menatap cahaya lilin yang seolah berpendar.

“Sekarang juga. Tiup lilinnya!” Tepukan kian mengeras seirama nyanyian Ibu dan Bagas semakin cepat membuat Sayu mendesah lalu meniup lilin.

“Udah….” Sayu bangkit dari lantai teras. “Sayu mau buat artikel dulu.” Anak sulung itu masuk ke kamar.

Bagas mengambil pisau. Ibu menyetop tangan Bagas saat ingin memotong kue. “Tunggu… kita rayakan ulang tahun Suar dulu.”

Mata Suar berembun. Apalagi ibu memantik korek di lilin bekas kakaknya. Bara menyala di kelamnya. Uapnya kian menusuk hidung Suar. Semakin terang, semakin perih matanya memerah.

“Selamat ulang tahun kami ucapkan.” Ibu dan Bagas bernyanyi sambil tepuk tangan menatap Suar.

Suar melamun melihat itu. Ia menggigit bibirnya keras. Seketika tangisnya pecah.

“Ibu….” Suar tersedu-sedu. “Aku tahu aku cuma anak tengah, tapi bukan berarti aku harus selalu mengalah… Jangan. Jangan undur ulang tahunku lagi, Ibu. Aku enggak mau dirayakan bersamaan kakak.”

Tepukan Ibu dan Bagas melemah mendengar ucapan Suar.

“Dari kecil sampai dewasa, aku merasa bukan anak siapa-siapa….” Mata Suar terpejam erat. “Kenapa kamarku bekas gudang? Sedangkan kamar Kak Sayu dan Bagas baru? Kenapa aku selalu dapat sisa kakak, dan saat ingin aku harus mengalah sama adik? Kenapa Ibu… kenapa?!” jerit Suar sambil terisak deras.

“Bahkan namaku aneh ‘Suara’ tak sebagus Kak Sayu dan Bagas!”

Senyum Bagas luntur melihat Suar tergagap di sela isaknya.

“Saat aku kecil, ayah selalu membanggakan si sulung sedangkan ibu selalu melindungi si bungsu. Walau aku tak pintar, tak bisakah ayah memujiku walau itu kebohongan….” Suar menatap ibunya yang terdiam. “Ibu… anggap aku anak manja agar ibu bisa melindungiku.”

Ibu menutup bibir, tak bisa bicara.

“Aku diam bukan berarti aku ingin diperlakukan seperti batu. Aku mengalah bukan berarti kalian bisa menyerah padaku. Tak memberiku ruang untuk mengobati perasaanku. Aku juga seorang anak, Ibu.”

Ibu menunduk merasa bersalah.

“Kenapa ayah meninggal saat aku masih kecil?” Suar bertanya lirih. “Lebih baik untuk diriku tak pernah melihat sosoknya daripada aku harus kehilangan di saat aku membutuhkannya.” Suar mengusap air matanya.

Ia menatap lilin. Semakin terang, semakin perih matanya memerah. Tepuk tangan ibu kian menggema, nyanyian Bagas kian menari-nari di telinganya. Mata Suar terkejap-kejap. Bahkan kakaknya keluar kamar.

“Kamu kenapa bengong? Mau dibeliin lilin baru?” tanya Sayu berdiri memegang pintu.

Ah, lucunya! Suar tersenyum saat sadar dia hanya melamun. Lekas perempuan itu meniup lilin. Bara melenyap menyulut gelap. Ia meramaikan tepuk tangan ibu dan adiknya walau matanya berkaca-kaca.

๐“…ฐ ๐“…ฌ ๐“…ญ ๐“…ฎ ๐“…ฏ

Mentari merangkak naik di langit lelap, memicu burung mengepakkan sayap lesu, di antara gerimis mengaduk manja dedaunan, embunnya merembes dari sela genting menampiasi kelopak sembab Suar.

‘Aku benci melihat diriku marah. Namun, aku juga lelah melihat diriku mengalah. Aku tak ingin terlihat lemah. Bisakah kau menyukaiku? Puji aku walau itu dusta. Pujalah diriku. Dukung aku untuk tumbuh.’

Tulis Suar di kertas lalu dirobek, bukunya terbasahi rinai dari jendela. Ia menarik tirai, dibiarkan jendela terbuka. Jarinya menekan tombol rekam di alat perekam real to real. Suar keluar kamar. Pintu dikunci, ia selipkan kertas di sela pintu.

“Kak, bayarin Bagas naik bus ya,” pinta Bagas sambil memakai sepatu menatap Suar.

Suar mengangguk sembari tersimpul pelan.

“Udah, ayok jalan.” Sayu bangkit dari lantai setelah sepatunya terikat sempurna bersamaan Cahya keluar kamar membuat ketiga saudara menoleh menatap Cahya.

“Kamu enggak izin kerja, Nak Cahya?” tanya Ibu sembari mengelus Miko—anjing pom lalu mengeluarkan sepeda penuh berisi cendol.

Cahya termenung menatap Suar. “Bentar siang, Bi,” sahutnya pada ibu Suar.

“Kalau kamu sedih, ajak Suar ke makam adikmu, Cahya… Kasihan kamu kesepian. Suar enggak akan menolak kok,” tutur Ibu membuat Suar mematung di tempat.

Cahya menggeleng. “Enggak apa, Bi… Aku udah biasa sendiri.”

“Ya udah, kalian hati-hati di jalan ya.” Ibu menaiki sepeda keluar rumah untuk berjualan.

Tiga bersaudara melambai berpisah dengan ibu dan berjalan kaki ke halte. Sedangkan Cahya mengekori di belakang. Mereka bertiga naik bus, meninggalkan Cahya yang jalan kaki ke rumah teman untuk nebeng motor.

“Halte RS!” teriak kernet kala bus menepi di pinggir jalan.

Sayu mendesah lagi, melambaikan tangan pada kedua adiknya. Anak sulung itu lekas memasuki wilayah RS, beberapa residen menyapanya. Ia balas anggukan sembari melihat ponsel, mengecek artikelnya.

“Artikelmu sudah submit?” tanya Baskara saat berpapasan. Chief residen itu menyeluk saku jas putihnya.

Sayu menggeleng. “Belum, Pak.”

“Oke… jaga kesehatanmu.” Baskara memasuki wilayah bangsal.

Sayu menghela napas menuju kamar residen. Berbeda dengan Bagas yang tersenyum manis di bus saat melihat perempuan berdiri di sebelahnya. Sedangkan Suar kian termenung memegang erat handle.

“Kayak pernah lihat… boleh kenalan?” Bagas mengulurkan tangan ke perempuan berambut keriting itu. “Aku Bagas… kamu?”

“Sa—sa… Bina…,” sahut perempuan itu mengalihkan pandangan. “Sialan, ketemu dia lagi,” gerutu kecil Sabina sambil memandang dongkol jendela.

“Oh, Bina….” Bagas mengeluarkan lembaran kertas dari tasnya. “Masa depan enggak ada yang tahu, Mbak Bina… aku punya produk asuransi terbaik—“

“Maaf, aku naik bus karena miskin ya,” ketus Sabina membuat Bagas merapikan rambut pomadenya lalu tersenyum maut.

Bagas menunjuk Sabina. “Mbak Bina suka makan? Boleh mampir ke rumah kos dekat halte pertama. Ibuku sering masak buat mukbang bareng di sana,” basa-basi Bagas membuat pipi Sabina merah padam.

Tiba-tiba Sabina mencengkeram kerah Bagas membuat semua terkejut. Bahkan bibir Bagas mengerucut heran melihat perempuan itu. Kernet datang menengahi mereka. Suar kian melamun menatap jendela.

“Kamu nyindir aku!” Mata Sabina membulat. “Kamu pura-pura lupa sama aku, kan?!”

Alis Bagas berkernyit. “Pura-pura? Kita baru pertama kali ketemu, kan?”

Mata Sabina terkejap-kejap. Cengkeramannya terlepas dari kerah Bagas. “Oh… lupa. Oke deh.”

Sabina mengalihkan pandangan. Bagas menatap wajahnya, kepalanya miring seolah mengingat-ingat. Sementara itu Suar bersiap-siap kala bus menepi. Suar melamun turun di halte, tak pamit pada adiknya.

“Suara Ayu!” panggil senior saat Suar memasuki rumah produksi. “Nanti siapkan rekaman hujan ya.”

Suar mengangguk dan tersenyum. Senior lekas memasuki ruang editing. Sedangkan Suar memasuki ruang pengarah suara. Suar tercenung melihat Cahya ada di ruangannya. Pria itu sama tercenungnya.

๐“…ฐ ๐“…ฌ ๐“…ญ ๐“…ฎ ๐“…ฏ

Langit menggelap beradu bintang, menyisihkan sinar menemani Suar melangkah letih ke rumah kos. Sepatunya memijak depan kamar. Ia menunduk, ambil kertas di bawah pintu. Lipatannya berbeda.

‘Aku menyukaimu—’

Alis Suar berkerut membaca sepenggal kalimat di kertas. Sisanya terbasahi rinai. Lekas Suar membuka pintu, masuk ke kamar, menekan tombol rewind di perekam pita real to real. Dua gulungan berputar pelan, memutar setiap suara yang terekam.

Tuk… tuk… tuk, suara ketukan sepatu terdengar dari rekaman yang terputar.

“Aku menyukaimu, Suar… aku kagum dengan diammu,” suara Cahya terdengar di rekaman, mengetuk benak Suar.

Mata Suar termenung memandang dinding triplek yang membatasi kamarnya dengan kamar Cahya. Bulatan rekaman kian terputar membuat Suar tersimpul. Suar menoleh. Senyumnya luntur saat melihat Cahya berdiri depan kamarnya.

“Namun, aku takut memujamu. Aku takut menyakitimu, Suar—“

Tak!

Perekam suara dimatikan lekas Cahya. Tangannya mengepal getar.

“Kamu adalah orang terburuk di dunia.” Cahya menatapnya dingin.

Suar menunduk, matanya memerah.

“Untuk apa kamu merekamnya?” Cahya menuntut balasan.

Sepatu Suar mengetuk meja. “Pengarah suara biasa hidupkan rekaman saat tinggalkan rumah. Untuk tahu gimana suara rumah saat ditinggal. Aku butuh untuk film.” Bibir Suar kian bergetar.

“Itu jika kamu tinggal sendiri—“

“Aku baru mendengarnya saat kamu pindah ke sini.”

“Tak seharusnya kamu merekam saat orang asing tinggal di sebelahmu....” Suara Cahya terdengar kasar. “Aku membencimu sekarang… kamu benar-benar orang terburuk di dunia.”

Tangis Suar pecah, napasnya tersengal.

Cahya masuk ke kamarnya sendiri. Sedangkan Suar terisak pelan di kamarnya. Telinganya mendengar suara langkah kaki mendekat. Bersitatap. Mata Sayu membulat melihat adiknya menangis.

“Kamu kenapa nangis, Suar?” Sayu menggenggam kaku sikat giginya. Residen psikiatri itu bahkan tak peduli busa masih menempel di pipinya.

Suar tersimpul sembari mengusap wajahnya. Ia merasa manusia tercengeng di dunia. “Aku enggak apa, Kak.”

“Eh! Cahya sialan! Bisa-bisanya kamu marahin anak pemilik kos. Cuma aku yang boleh marahin adikku!” Sayu meledak-ledak, tangannya kian bergerak ditahan Suar.

Bagas membuka pintu kamarnya sambil menguap. “Kenapa, Kak?” tanya pria itu mengucek mata.

Temaram bulan bersinar lemah di langit hitam hampa. Bagas menggedor kamar Cahya, tak terima kakaknya diejek orang selain dirinya.

๐“…ฐ ๐“…ฌ ๐“…ญ ๐“…ฎ ๐“…ฏ

Bab Sebelumnya....

Bab Selanjutnya....

Comments

Popular Posts