Prolog
Suar adalah anak
tengah. Baginya anak tengah selalu mengalah karena ayah sibuk membanggakan si
sulung dan ibu melindungi si bungsu. Selalu dapat sisa kakak, dan ketika ingin
harus mengalah sama adik.
'Aku cemburu dengan
kakak dan adikku. Cemburu sebelas dua belas dengan iri. Iri garisnya tipis
dengan kagum. Aku kagum dengan mereka. Begitulah aku menamai perasaanku,' tulis
Suar di kertas.
Senyum kecil terbit di
wajahnya, seiring tas menyampir di lengan, telunjuknya mendorong pintu menarik
sinar menyapa pipi pucatnya, seirama Sayu dan Bagas panik keluar kamar.
“Anjir kakak udah
telat, Suar.” Mata Sayu membulat, rempong jemarinya mengikat tali sepatu.
“Cepet, Kak! Nanti
busnya kabur!” Bagas memakai sepatu sembari lari.
Suar tersenyum sembari
menghidupkan perekam suara. Rekaman aktif merekam segala percakapan dari
kamarnya. Suar mengunci pintu lalu meletakkan kertas yang terlipat rapi di
bawah pintu kamarnya.
“Nanti kamu bayarin
Bagas naik bus ya. Kasihan dia gagal jadi raja asuransi,” tutur ibu pada Suar.
Suar mengangguk sambil
tersimpul bersamaan Cahya keluar dari gudang—kamar di sebelah Suar.
“Eh, Nak Cahya... kamu
mau kerja juga ya?” tanya Ibu sambil mengelus anjing pomnya.
Cahya termenung
menatap Suar. “Iya, Bi,” sahutnya pada ibu Suar.
“Ya udah, kalian
hati-hati di jalan ya.”
Ibu melambaikan tangan
seiring Bagas dan Sayu lari ke halte. Suar berjalan pelan diekori Cahya di
belakangnya dengan kamera. Kesiur angin menyejukkan rambut Suar yang terurai
sedang.
Cekrek!
Suar memotret langit
membiru yang begitu cerah dengan ponselnya. Dikirim ke WA pribadinya. Suar
mengetik sebuah pesan.
‘Langit membiru
merekah membagikan tangis bahagianya. Aku harus bisa seperti mereka,’ ketik
Suar di bawah foto.
Sayu memasuki bus
sambil memakai name tag residennya, disusul Bagas yang langsung basa-basi asik
dengan penumpang bus. Suar berdiri linglung sembari memegang handle, di antara
hingar-bingar bus.
“Jalan, Pak!” Kernet
mengetuk logam di besi menyulut sopir menginjak gas, melajukan bus di aspal
gradakan.
Suar memakai earphone
di telinga kala bus meninggalkan Cahya yang berjalan kaki. Terlihat di jendela,
pria itu menyeluk saku jaketnya sembari memakai earphone, di antara kemacetan
jalan padat merayap.
ð“…° ð“…¬ ð“… ð“…® ð“…¯
Comments
Post a Comment