Bab 5 — Memindahkan Rindu ke Banyak Wajah
Tirai bertiup pelan, meredam dinginnya sang angin,
kala gerimis membisikkan rindu di jendela, menidurkan pasien yang nyenyak
bermimpi, bertemu seorang terkasih di rembulan.
“Bu, tidur yang nyenyak ya.” Aku merapikan selimut Bu
Sari. Seorang ibu yang mengidap bipolar karena anaknya meninggal.
“Nak, Ibu rindu kamu, Nak. Kamu tenang di sana ya.
Jangan rindukan Ibu....” Lirih suaranya mengalun di telinga, disusul usapan
lembut di rambutku.
Aku menahan napas, kugenggam pelan pergelangan
tangannya, menurunkannya perlahan.
“Bu Sari, rindunya terasa berat ya…,” tuturku lembut.
“Kalau rindu datang, Ibu boleh ceritakan ke saya. Tapi sekarang, Ibu istirahat
dulu. Saya ada di sini.”
Ayu mengintip dari balik tirai. “Dok, obat malam Bu
Sari sudah diminum,” gumam perawat baru itu.
Aku mengangguk. “Terima kasih, Ayu. Tolong pantau
tidurnya ya.”
Sungguh. Wajah Bu Sari mengingatkanku pada almarhum
Ibu. Sentuhannya, suaranya, pun raut sedihnya. Mataku terpejam kala tangannya
mengusap telapakku. Pelan, Bu Sari terlelap dalam tidurnya.
Bu Sari memindahkan kerinduannya ke tubuhku. Aku bukan
anaknya. Dan aku membiarkan itu terjadi. Bukan karena aku tak tahu batas, tapi
karena aku ingin menggantikan yang hilang, ingin menenangkan luka yang sulit
sembuh. Inilah yang disebut transference. Luka lama mencari rumah baru.
Di luar tirai, aku menulis cepat di lembar
perkembangan: mood sedih, rindu anak, tidak ada ide bunuh diri, tidur
terganggu.
Jam di nurse station menunjuk pukul tujuh.
Waktu jaga terasa lebih panjang dari biasanya.
“Ayu, Kakak pulang dulu ya. Bu Sari tolong dipantau,”
pintaku pada Ayu.
“Hati-hati ya, Kak.” Ayu tersenyum lembut.
“Iya.”
Ah. Aku tak profesional. Saat jam pulang, aku mengunci
diri di toilet staf. Suara air meredam isakku. Kuusap pipi, aku keluar toilet.
“Na?” Dimas muncul di bibir pintu dengan wajah
khawatir. “Kamu kenapa nangis?” tanyanya, bisik-bisik menghampiriku.
Aku menunduk, berusaha membelakanginya.
“Matamu sama hidungmu merah, lo,” tuturnya, wajahnya
semakin mendekat menyimak ekspresiku.
Tersenyum gigi, kusipitkan mata sembabku, aku angkat
jempol.
“Cerita, Na… Walau kita cuma sahabat, aku enggak mau
lihat kamu sedih,” tuturnya pelan. Matanya menatapku dalam.
Sejak SMA, aku tak pernah melihat tatapannya selembut
ini. Pun caranya bicara begitu teduh, menenangkan sesakku. Berbeda dari sifat
aslinya yang petakilan dan suka bercanda. Dia selalu membantu dan menemani saat
kuliah dan kerja.
Kehadirannya terasa begitu nyaman, menenangkan
tangisku seiring gerimis mereda. Aku seolah meminjam raganya untuk menambal
lubang yang tak terobati. Rasa kehilangan yang mencari tubuh lain untuk
ditumpangi. Inilah displacement.
“Kamu… sibuk enggak atau ada janji sama konsulen?”
tanyaku ragu.
“Enggak… kenapa?” Dia memandangku lekat.
“Aku besok libur… kamu mau enggak makan es krim sambil
lihat pancoran?” tanyaku, sembari menyeluk saku erat.
Tersimpul, ia mengangguk pelan.
Partisi jalan ditumpuk batu koral. Sebelah RS dan
dekat rumah. Terang lampu taman indah menghiasi. Tubuh terbalut jaket pun
celana panjang. Aku dan Dimas berdiri di depan pancoran. Menikmati dinginnya
air yang terpecik di kolam, seolah bercanda menghibur kami setelah hujan. Ah,
aku bernostalgia. Rasanya seperti kenangan, saat tubuh kecilku tergendong
tinggi di awan.
“Ini enak, loh,” ujar Dimas menyadarkanku dari
lamunan. Tangannya memegang es krim raksasa. Cone, rasa taro.
Bungkusan dibuka. Ia sodorkan es itu padaku.
“Warnanya terlalu cantik buat dimakan,” tuturku jujur
sembari merapikan poni yang tertiup angin.
“Dikit aja.”
Aku menggeleng sembari tersimpul gigi, kuusap air yang
membasahi pipi.
Tiba-tiba sudut bibirnya tertawa. Entah apa isi
kepalanya, aku penasaran.
“Tutup mata biar kamu enggak lihat warnanya.”
Perlahan manikku terpejam. Sekeliling gelap. Menyulut
hampa kian terasa. Hanya berisik plastik beradu gemercik air terdengar.
Dinginnya angin seolah membasahi wajahku.
Detik demi detik melaju, napasku memelan, saat hadir
benda kenyal menyentuh bibirku. Melumat dan mengulum lembut. Tak menuntut, aku
mabuk kepayang. Dingin dan lengket membasahi bibirku. Sensasi taro melebur dan
menyesap sela bibirku. Napas kian berembus menerpa wajahku. Mataku terbuka
pelan, kulihat Dimas terkekeh usil di depan wajahku.
“Matamu udah enggak merah lagi….” Ia tersenyum maut.
Rembulan seolah tenggelam di wajahnya. “Malah pipimu yang merah… kaya kepiting
rebus.”
Tanganku menangkup pipi. Rasanya begitu hangat.
“Pasti kamu mikirin yang enggak-enggak, ya?”
Dimas menggoyang-goyangkan Yupi terlumuri es krim. Pun
plastik Yupi yang tersobek gigi. Alisnya naik turun menyulut tawa kecilku
membuncah. Desiran air menyejukkan kulitku dan kulitnya. Tak terasa hujan
benar-benar lenyap saat bersamanya.
Ia memberikan es krim itu padaku. Lengket mencair ke
tanganku, aku bingung cara menghabiskannya.
“Kamu mau?” tanyaku, mulutku kedinginan memakan es
itu.
Dia menggeleng sembari tersenyum. “Kalau aku ikut
makan, secara enggak langsung kita...” Ucapnya terputus saat ponselnya
berdering.
Dimas mengangkat telepon.
“Maaf, Pak… iya, datanya masih di komputer RS. Saya ke
sana sekarang,” ucap Dimas, wajahnya berubah tegang.
Kilat beradu di langit, menghantarkan gerimis
membasahi tanah. Es kian mencair pun jaketku sedikit basah. Spontan, tangan
Dimas membendung kepalaku. Rambutnya dibiarkan basah terkena hujan.
“Karina, maaf ya. Aku dipanggil konsulen terkait
artikel,” tuturnya, penuh rasa bersalah.
“Eh, enggak apa-apa. Aku udah seratus persen happy
karena kamu, Dim,” tuturku jujur, aku unjuk gigi lagi. Bersungguh-sungguh
menghiburnya agar ia tak kasihan. Walau mataku terkejap-kejap karena hujan.
“Maaf, ya, Karina... aku ke RS. Nanti aku suruh orang
jemput kamu.”
Sangat disayangkan esnya masih banyak. Dimas sudah
berlari meninggalkanku di tengah rinai. Aku berjalan pulang sendirian, tak
terasa langkahku sudah dekat pantai. Sepatuku melangkah di trotoar, bibirku
kedinginan mengulum es. Kubiarkan sekali saja tubuhku terbasuh hujan. Tak
seberapa, hanya titik-titik kecil, aku tak akan sakit.
“Karina.”
Tiba-tiba terang lampu mobil menyorotku. Rodanya
menepi dan pintunya terbuka. Payung tersemat kala pengemudi keluar.
Menghampiriku, sepatu hitamnya memijak di hadapanku. Payungnya membendung
kepalaku, tak peduli kemeja lusuhnya terbasuh rinai, pun wajah letihnya yang
berusaha tersenyum.
“Kenapa hujan-hujan makan es krim?” pertanyaan pertama
yang ia pilih, diselingi dua lesung di pipinya, disusul kekehan kecil menguar
dari bibirnya.
“Biar serasa di kutub, Pak.” Tak lucu, anehnya kami
tertawa. Lebih parahnya lagi gerimis mereda, membuatku dan dia terheran menatap
langit.
“Aneh, Pak… kok kayak sinetron,” ucapku menyulut
tawanya kian terbang bersama awan.
“Dimas suruh Bapak buat jemput kamu…. Ayo pulang.”
Payungnya turun ke bawah, kesiur angin menerbangkan
rambut pendekku pun rambut comma-nya. Mata saling memandang, diterpa
temaram lampu jalan. Tersadar, tanganku kesemutan. Es membasahi pergelanganku.
“Pak, bantu habisin, Pak,” pintaku sembari menjilat
es.
Dia hanya menggeleng sambil tersenyum.
“Enak, loh, Pak.”
“Bapak enggak suka warnanya, terlalu mencolok.”
“Tutup mata biar Bapak enggak lihat warnanya.”
Perlahan, aku memangkas jarak. Sepatuku berjinjit
memicu matanya terpejam. Tanganku belum sempat menutup maniknya. Hening, mataku
mengamati wajahnya. Tak berekspresi, napasnya seolah berhenti bersamaku.
Ragu, kusentuh bibirnya dengan esku.
“Udah.” Sepatunya menjauh saat dingin membasahi
bibirnya.
Di dekat Pak Orion, ada bagian kecil dalam diriku yang
ingin kembali—mencari figur yang tenang seolah bisa melindungi. Ini bukan hanya
tentang dia. Ini tentang diriku yang belum selesai berduka. Karena Bu Sari, aku
menyadari betapa perasaanku ikut terseret. Luka pasien membangunkan luka yang
kupendam. Inilah countertransference.
“Pak….” Aku menatap lekat matanya. “Temani Karina naik
ayunan kali ini saja.”
Cone
tergenggam erat tanganku, es kian mencair di bawah sinar lampu. Mataku terasa
berat akibat menangis. Susah payah aku berusaha tersenyum menunggu responsnya.
Mata teduhnya menelisik wajahku, pun mata sembabku.
“Karina ingin ketemu Bapak…. Karina rindu Bapak,”
desauku bagai daun yang jatuh diterbangkan angin. “Karina hanya ingin balik
seperti dulu, Pak,” pintaku lirih.
Ia terdiam, lalu mengangguk ragu. “Sebentar saja.”
Lampu neon menyilang berkelap-kelip. Dedaunan
melingkar di tiang ayunan. Sepatuku mengais di antara pasir, kala kekehan
terbang tinggi bersama raga. Lara ditiup kencang angin. Terasa seperti Ibu
mendorongku. Kami terbang bersama tawa. Teredam suara ombak yang seolah menari.
Pun Pak Orion di sebelahku, senangnya tak bisa ditahan lagi, kian melengking
seiring ayunannya terdorong keras.
“Yang paling jauh dan paling tinggi menang… satu pinta
dikabulkan,” pintaku berteriak di udara. Sekeliling sepi, hanya aksara kami
yang mengisi.
“Oke.” Dia tertawa.
Awan berembus bersama angin, disusul ayunan melengkung
tinggi, menggemakan tawa dan teriak. Kami melompat bersamaan. Mata kian
terpejam erat. Semua terasa melambat. Ragaku seperti melayang, kakiku mengais
di udara. Andai jiwaku bisa terbang, membumbung tinggi ke surga.
Hingga tubuhku terjatuh, tawa terpingkal beradu
rintihan. Kelopak mataku perlahan terbuka, pun kelopak matanya. Bersitatap,
kami terkekeh. Tak sengaja, aku terjatuh menimpa tubuhnya. Pun sikuku menekan
dadanya, membuatnya merintih kesakitan.
“Punggung Bapak sakit, Bapak enggak bisa bangun.” Dia
tertawa, tangannya terlentang jauh.
Tubuhku terasa remuk, aku merebah ke pasir, rambutku
terjepit.
“Ah, rambut saya, Pak,” suaraku parau dengan tawa
melengking, membuatnya berbalik seketika.
“Kamu enggak apa-apa?” tanyanya masih tertawa
menelisik wajahku.
Lampu berkelap-kelip, seolah memabukkanku. Sikunya
bertopang di pasir, mengikis pernapasanku. Jarak kami begitu dekat, jantungku
berdegup kencang. Suara ombak membius sekitar. Bibirku kian terkekeh, kala
mataku mengamati setiap inci wajahnya. Rambut comma-nya yang ditiup
angin. Mata sayunya yang teduh, bersanding sempurna kumis tipis-tipisnya, alis
tebal membingkai rahang tegasnya. Pun bibir merah menggumpalnya. Purnama seolah
terlukis di wajahnya.
“Kamu… kenapa?” Ngebass-nya merambat di
telinga.
Deru napasnya menerpa wajahku, seolah meniru embusan
napasku. Berkali-kali matanya memandang mataku pun bibirku. Bibirnya melamun
tawa sama sepertiku. Kami terhanyut dalam purnama, terbius waktu meredam sakit
yang seolah meluruh.
“Karina baru sadar Bapak punya kumis tipis....”
Desauku menipis seperti ditelan kencangnya angin. “Keren... Pak.”
Spontan, telunjukku menyentuh kumisnya, menyulut
kekehan canggungnya menguar pun lekas terbangun. Ia tampak merasa bersalah dan
menjauh dariku.
Mataku terkejap-kejap, dadaku naik-turun. Entah apa
yang menguasaiku sampai berani menyentuhnya. Terasa salah tapi terasa benar.
Kenapa rasanya sangat menyenangkan tapi sangat menyakitkan?
“Enggak pernah dengar orang muji kumis,” ujarnya
seolah mencairkan suasana, kala bibirnya tertawa kikuk. Ia menarikku terbangun.
Tangannya membersihkan pasir di lengannya. Kuikuti
gerak-geriknya. Sunyi, tak berucap. Angkasa terhabisi alunan angin, menenangkan
napas yang merindu akan kehadiran seseorang. Kehilangan dua orang terkasih
merenggut jiwa kami yang terduduk di tengah pasir, di hadapan rintihan ombak,
memandang lekat sang purnama yang dipeluk gumpalan awan kelabu.
Malam kian menutup hari, satu hal yang mulai kusadari,
aku memindahkan rindu itu ke banyak wajah.
Berlarut-larut remang bintang terlelap di lengkungan rembulan. Segala cara kulakukan. Namun, rinduku tak bisa terhapuskan. Ibu dan Ayah, aku ingin bertemu kalian.
⋆。 ゚ ☁︎。 ⋆。⚛︎ ゚ ☾ ゚ 。 ⋆
Bab lanjutan novel ini dihapus karena akan dicetak. Ditunggu ya bukunya<3 Terimakasih banyak sudah membaca, mohon saran dan dukungannya di kolom komentar, kalau suka boleh dishare link ceritanya ya, semangat selalu semuanya<3
Comments
Post a Comment