Bab 4 – Kesenjangan dan Kuasa (Mati Rasa dalam Cinta dan Pikiran)
“Rina di-grooming sama ayah tirinya. Kami mohon panti asuhan menjaga Rina dua puluh empat jam,” pinta Kak Ara. Psikiater itu memandang lekat kepala panti.
Mentari mencekam panas. Ruang panti terasa pengap.
Meja jadi penengah antara Kak Ara, kepala panti, dan Pak Bisma—ayah tiri Rina.
Aku terduduk di pojok sebagai pelapor, sedangkan Ibu Dian—ibunya Rina—tak hadir
karena sibuk bekerja. Aku dan Kak Ara menindaklanjuti setelah kemarin Rina
bercerita bahwa dia berenang dengan Pak Bisma bisa sampai jam tiga pagi.
“Saya mohon maaf atas kesalahpahaman yang disebabkan
Rina...,” tutur Pak Bisma dengan mata berkaca-kaca. “Rina sendiri mengakui dia
bercanda. Ayah kandungnya sudah meninggal dan dia hanya remaja pubertas yang
rentan, meskipun tidak ada luka fisik di tubuhnya, saya akan bersungguh-sungguh
menjaga Rina,” sambungnya sembari menggenggam tangan erat, membuat kepala panti
menulis di kertas.
Pulpen ditutup, kepala panti berucap, “Sungguh, panti
asuhan turut prihatin. Kami bersedia menjaga Rina dua puluh empat jam. Namun,
berdasarkan aturan yang berlaku, kami perlu pendampingan dari dinas sosial
untuk penitipan sementara. Kami tidak berwenang memutuskan hak penuh. Kami juga
tak ingin pelaporan ini mengarah ke penuduhan tanpa bukti."
“Paling utama bukan tentang penangkapan pelaku, tapi
melindungi korban maupun calon korban. Apa kita bertindak setelah korban
mengalami trauma?” Kak Ara menjelaskan dengan hati-hati. “Karina sebagai
pelapor melihat Bisma mencium pipi Rina begitu lekat.”
Pak Bisma menunduk meminta maaf. “Mohon maaf
sebelumnya. Kami dulunya menetap di luar negeri, dan ciuman pipi lumrah di
sana. Kami mohon maaf jika kebiasaan itu terbawa saat kembali ke sini.”
Kepala panti menatapnya serius, namun tetap tenang.
Kak Ara menatap Pak Bisma di mata. “Lebih baik jika
Rina diasuh di panti, Pak, dengan pengawasan penuh dan pendampingan resmi.
Sehingga kebiasaan luar negeri tersebut memudar dan Rina bisa berbaur dengan
teman seusianya di sini... Saya mohon perhatiannya dan saya akan bertanggung
jawab atas proses pendampingannya.”
Tak menyahut, Pak Bisma menunduk sembari mengangguk
pelan, memicu kepala panti berdiri mengambil map.
Lembaran kertas tersusun di meja. Berita acara
penitipan sementara disiapkan. Cap dan tanda tangan tercetak di meterai. Hitam
di atas putih mengikat. Kak Ara menandatangani sebagai pendamping. Bu Dian
setuju lewat telepon, tanda tangannya menyusul sesuai prosedur.
Sebelum meninggalkan panti, aku melihat Rina. Gadis
tiga belas tahun itu terduduk sendirian di kamar. Tubuhnya terbalut kaus dan
celana pendek yang sama saat pemeriksaan. Ia tersenyum menatapku, aku balas
simpul menenangkan.
Mobil hitam menuruni jalanan belukar, semak-semak
terlindas kala menikung tajam, menyulut Kak Ara memutar setir sembari menilik
jam di pergelangan.
“Kakak mau bawa ini ke jalur hukum...,” tegas Kak Ara,
matanya fokus menatap jalan. “Walau enggak ada luka luar, dan Rina enggak
nunjukin emosi, tapi perubahan perilakunya terlihat jelas dari gerak-geriknya.
Dia lebih pendiam dan tampak bergantung. Itu tanda relasi yang enggak sehat,”
jelas Kak Ara, aku menyimak setiap ucapannya.
“Grooming adalah pola perilaku manipulatif yang
sulit dikenali. Korban bisa minor maupun dewasa. Kadang pelaku bisa sadar,
kadang tidak sadar. Pelaku melatih korban untuk ketergantungan emosional dengan
mengondisikan amigdala melalui kepercayaan dan kebahagiaan—melalui pelepasan
hormon dopamin dan oksitosin. Sehingga terjadi disonansi kognitif," tutur
Kak Ara, melirik spion.
"Pelaku menciptakan kebingungan di otak antara
amigdala—pemrosesan emosi—dan prefrontal cortex—bagian otak yang
mengambil keputusan. Di satu sisi pelaku terlihat baik, di sisi lain mulai
mengekang. Dilanjutkan dengan gaslighting, pelaku akan memutarbalikkan
fakta, membuat korban sulit percaya pada diri sendiri sehingga korban cemas.
Amigdala meningkatkan rasa takut, sedangkan hipokampus—yang penting untuk
membentuk ingatan—bisa terganggu, sehingga korban sulit mengingat dengan jelas."
"Kemudian pelaku mengisolasi korban, dilanjutkan trauma
bonding atau siklus kasih sayang yang diikuti pelecehan, menciptakan
kecanduan. Korban mendambakan validasi tanpa menyadari bahaya. Korban minor
yang tidak ditangani berisiko menjadi pelaku di masa depan, atau disebut Victim-to-Victimizer
Cycle. Rantai itu harus diputus... Sedangkan perilaku Orion terhadapmu itu
tidak termasuk grooming, tapi dia jelas melanggar relasi guru–muridnya.”
Aku tercenung saat mendengar kalimat akhirnya. Mataku
menatap lekat matanya.
“Untungnya Orion bisa jaga jarak dan hubungan kalian
terhenti di sebatas membimbing. Kakak enggak membenarkan Orion, tapi pas dia
dua puluh tujuh sedangkan kamu tujuh belas, dia sama rentannya denganmu
kehilangan orang tua. Kakak juga penyebabnya sibuk kerja sehingga lalai jadi
walimu. Dia membantumu, memperhatikanmu, dan kamu yang baik juga
memperhatikannya... lambat laun perasaan kalian tumbuh karena kasihan, bukan?
Dan di situ salahnya Orion.”
Aku tak bisa berkata-kata.
“Syukur kakak sadar dan Orion juga. Akhirnya Orion
mengambil keputusan terbaik dengan menjauh. Saat usiamu delapan belas tahun
kamu bisa hidup jauh mengejar cita-cita tanpa ketergantungan, bukan?”
Aku mengangguk pelan. Sepuluh tahun aku berpisah
dengan Pak Orion ternyata tak sesulit itu. Kami berpisah belajar di beda
negara, dan hanya bertemu sesekali. Kini usiaku dua puluh delapan tahun, dan
aku fokus bekerja. Walaupun masih ada rasa kagum padanya, tapi aku tak
seemosional dulu saat aku berusia tujuh belas. Aku juga tak terlalu bergantung
padanya. Aku lebih bergantung pada Kak Ara dan Dimas—saat kuliah. Aku bersyukur
hubunganku sebatas belajar dengannya.
“Sekarang keputusan di tangan kalian karena kalian
sudah dewasa, tapi kakak berharap kamu enggak sama dia. Karena kamu dari kecil
dekat dengannya, ada jejak relasi kuasa lama. Rumah tangga itu harus seimbang,
mau menerima masukan dan saling mendukung. Kalau kasusnya seperti itu, tanpa
disadari, yang lebih muda mungkin akan sering merendah di samping yang lebih
tua....” Kakak menatap lekat mataku. “Kamu masih suka sama Orion, Dik?”
tanyanya.
Belum sempat aku menjawab, ponselku bergetar. Nama
Ayu—perawat di RS—menggantung di layar.
“Iya, Ayu kenapa?” tanyaku, mengangkat telepon.
“Kak! Bu Sari—pasien dengan bipolar—butuh Kakak!”
jawabnya.
Mobil melaju cepat di jalan. Pohon-pohon terlewati,
angin kian berhembus kencang. Jantungku berdetak keras seiring klakson
bersahutan. Pintu mobil terbuka lekas. Pintu ambulans tertutup keras. Brankar
terdorong memasuki IGD. Lelah berhembus bersama langit, biru kian berganti
jingga. Dari ruang darurat ke bangsal, langkahku tak pernah berhenti. Tubuhku
berkeringat, napasku tersendat. Jam terus berputar, ponselku bergetar. Kontak
Libra muncul di layar.
“IGD!” isi pesannya.
Lekas kuberjalan di lorong RS. Kulihat Pak Orion
berlari menuju lift, mempercepat langkahku memangkas jarak. Sepatu keruhku
memasuki lift. Kosong. Kutekan satu. Pintu segera menutup. Terjepit! Sepatu dan
tangan menyangga pintu, menahan celah agar pintu terbuka.
Takdir dari mana, kami bertemu. Berkeringat, napas
ngos-ngosan. Lampu berkelap-kelip menerangkan gelap. Setelah hari panjang,
detak jantung memelan. Sepatu hitamnya memasuki ruang. Terpantul kaca senyum
mengembang. Berdiri di seberang tanpa aksara. Mata bertemu bekerja keras.
Dibalut lelah meniti kehidupan. Tangannya menekan tombol, badannya bersandar di
kaca. Wajahnya yang sama menoreh luka. Seragam yang sama lusuhnya.
Dia menunjuk, merapikan rambut comma basahnya.
Spontan, kurapikan poni berkeringatku. Pelan, lesung menghiasi wajahnya,
menyulut kumis kucingku bermekaran tipis-tipis. Aku mengembuskan napas. Embun
terhias di dinding kaca. Bak wanita payah tak pernah sisiran, ikat satu pendek
kurapikan. Perlahan menunduk, menyandar layu di kaca. Mataku tercenung memilin
jari. Kulihat sepatunya bergerak kanan-kiri lesu, kala kepalanya menyandar
ringkih di dinding tombol.
Tak sengaja, kepalaku ikut menempel di dinding pintu.
Bersitatap, tawa tipis beradu meredam sakit. Dia mendongak membuatku penasaran,
kulihat langit membumbung senyum, kian terbang ke angkasa. Sungguh, saat
bersamanya adegan singkat terasa lambat. Rasanya seperti perayaan mati rasa.
Pintu pun terbuka, kami berpisah tanpa menoleh ke belakang. Dia ke pintu
keluar, sedangkan aku belok ke koridor IGD.
Gemerlap malam terasa hangat di tengah hujan lebat. Aku tersenyum, kembali bekerja dan mengusap keringat.
⋆。 ゚ ☁︎。 ⋆。⚛︎ ゚ ☾ ゚ 。 ⋆
Comments
Post a Comment