Bab 2 –Andai Emosinya Bisa Kuterawang
Manusia tak terhingga. Banyak hal yang belum
kuketahui, termasuk emosi. Tersenyum dikaitkan senang, menangis diartikan
sedih, membentak disamai marah. Namun, emosi bukan struktur biologis tetap.
Merujuk Barrett (2017), emosi hanyalah dugaan yang dibuat otak. Satu manusia
tidak dapat mendeteksi emosi manusia lainnya hanya dari ekspresinya. Emosi
tidak sepenuhnya sama. Itu yang kupelajari selama di RS, kadang korban
tersenyum untuk menutupi kekerasan.
“Ayah!”
Saat aku mau berangkat jaga malam, langkahku terhenti
ketika melihat Rina tertawa lebar. Gadis tiga belas tahun itu memeluk Pak
Bisma—ayah tirinya, yang baru pulang. Rina adalah remaja yang kutemui di pantai
dan dia ternyata tetangga baru. Mereka dulunya menetap di luar negeri.
“Wah, lihatlah Rina tertawa lebar. Dia sangat senang
denganmu,” ujar Bu Dian—ibu kandung Rina. Wanita cantik itu menepuk pundak
suaminya.
Aku termenung, menatap bagaimana eratnya Pak Bisma
memeluk Rina, pun mencium lekat pipi gadis SMP itu, sampai Rina terkekeh geli.
Terlalu dekat untuk seorang ayah. Membuat bulu kudukku berdiri sendiri.
Bu Dian tersadar aku menatap mereka. Wanita tinggi itu
tersenyum tipis. Alisnya sedikit berkerut. Mungkin aku harus memberitahunya di
saat yang tepat.
⋆。 ゚ ☁︎。 ⋆。⚛︎ ゚ ☾ ゚ 。 ⋆
Bunyi ambulans bercampur suara pasien, disusul langkah
kaki pun kasur terdorong, cahaya terang seolah menusuk mataku, mengusik tidurku
yang putus-putus.
“Karina, bangun,” getar ngebass mengalun di
telinga, disusul bantalan buaya merengkuh leherku.
Mataku terbuka pelan, mendadak rasa kaku menjarah
leherku. Kupegang bahu, keningku berkenyit. Kenapa ada bantal? Sorot mataku
mengerucut pada Libra yang duduk di sebelah.
“Kalau ngantuk langsung istirahat. Jangan dibiasakan
maksa buat riset. Kasihan lehermu tertekuk ke bawah,” tutur residen psikiatri
itu, menutup laptopku, pun laptopnya.
"Aku udah istirahat kok tadi." Kantuk masih
menguasaiku, mataku terkejap-kejap berusaha fokus.
Kulepas bantal di pundakku. Bentuknya lucu, buaya
hijau dengan ekor melingkar, melenyapkan kantukku seketika.
“Dapet ide dari mana kasih bantal buaya?” tanyaku
iseng. Kugoyangkan bantal buaya di depan matanya.
“Dari hadiahmu pas aku menang lomba... roti buaya
itu.” Bibirnya terangkat tipis, matanya menatap terang lampu di langit.
Pipiku mengembung. Itu sudah dua belas tahun lalu dan
Libra masih ingat, apalagi itu oleh-oleh kakakku, bukan aku yang membelinya.
Aku berdiri, senyumku kian mengembang malu-malu monyet.
Buaya bersarang di lokerku, di atas tumpukan buku
neurologi, pun origami bebek-bebekan Dimas. Aku pun keluar kamar residen.
Buru-buru Libra mengekor di belakang.
“Kayaknya beberapa hari lagi ada riset remaja di
panti,” ujarnya kala kami memasuki lift.
Teringat, mataku berbinar menatap nomor lift yang
berkelip. “Oh, untuk riset keintiman emosional?”
Libra mengangguk, tersimpul teduh. “Maaf ya,
ngerepotin,” tuturnya tulus. Jempol kuangkat, aku unjuk gigi.
Pintu terbuka, kami keluar lift, disambut lelah wajah
penjenguk di ruang tunggu. Pun Ratna di nurse station, tangannya sibuk
merapikan kertas di map.
“Ratna....” Ragu Libra menghampiri residen obgyn itu.
“Artikelmu sudah selesai?”
“Belum,” sahut perempuan berambut panjang itu. Letih
matanya menatap lekat Libra.
Beberapa perawat keluar-masuk, jam dinding menunjuk
tujuh pagi. Aku jadi obat nyamuk sembari celingak-celinguk. Perbincangan mereka
mengalir di psikologis ibu melahirkan. Mereka memang sering seprojek sejak SMA.
Tak heran Libra dekat dengannya. Sepertinya mereka juga saling suka.
Tak ingin mengganggu, aku pun keluar RS. Sekadar
berdiri di depan minimarket menunggu jam briefing, mulutku menguap lagi,
kupandangi kesibukan orang berlalu-lalang. Tiba-tiba, mataku menatap Maya,
sahabat SMA-ku.
“Maya!” teriakku memanggilnya.
Rem berdecit keras, perempuan berkacamata itu
plonga-plongo, pun Dion yang duduk di belakangnya. Hingga Maya menatapku, ia
senyum gigi di balik kaca helm bogo-nya. Kaki langsingnya mengais-ngais aspal,
mengajak Scoopy-nya sejajar denganku.
“Cie, kalian pacaran ya?” Suaraku meninggi seiring
senyumku terbang. Kupegang gelang di pergelangan Maya. Dua bocah arsitek itu
pakai gelang couple-an.
“Iya, Maya nembak aku duluan,” sahut Dion, tawanya
pecah saat helmnya dibogem Maya.
“Kok enggak cerita, May?” tanyaku tertawa lebar
menatap Maya. Pipinya merah padam. Bibirnya kian mengulum bahagia. Aku tak
pernah lihat Maya sebahagia ini.
“Kamu kapan? Sampe ubanan masih saja jomblo,” Dion
mengejekku, membuat tawaku nyungsep di pohon.
“Enggak ada yang mau, ya sudah aku fokus kerja saja,”
sahutku pelan.
“Bukannya Dimas nembak kamu?”
“Enggak ada.” Aku tersenyum gigi, menatap heran Dion
dan Maya yang kompak berkenyit.
“Selamat buat kalian ya.” Baru saja tanganku mau
menjabat tangannya, tiba-tiba Dion panik memukul Maya.
"Jalan, May. Ada Dimas!" ribut Dion.
“Sorry, Na! Kita duluan ya....” Gas motor ditarik
kencang, Scoopy itu loncat di trotoar. “Titip salam sama Dimas, nanti aku ganti
sandalnya,” ucapnya langsung ngebut.
Motor itu ugal-ugalan di jalanan kosong, membuat
hidungku kembang kempis menahan tawa. Aku ngakak lihat pasangan absurd itu.
“Na, Karina!”
Aku menoleh saat mendengar suara Dimas. Bersitatap.
Perlahan semuanya terasa melambat. Di antara keramaian penyeberang jalan, Dimas
melambai-lambai sembari menyeberang. Siapa sangka bocah petakilan itu jadi
residen patologi klinik. Tubuhnya tinggi, rambut klimisnya tersisir rapi,
dipadu celana panjang dan scrub super bersih. Aku tak menduga dia bisa
serapi itu.
“Aku bawain ini buat kamu.” Dimas tersenyum usil.
Tangannya terkepal erat di depan mataku.
Kala tangannya terbuka, sebuah gantungan berantai
terlihat, diakhiri bebek kuning di bawahnya.
“Kenapa bebek?” tanyaku mengulum senyum.
“Mukamu mirip bebek.”
Tawaku pecah ke awan. Pun alisnya naik-turun
meledekku. Dimas gemar sekali bercanda bebek-bebekan, membuatku tak bosan
bercanda dengannya. Gigiku kering akibat terlalu senang. Lekas, kuambil bebek
jadi-jadian itu.
Ia pun ikut berdiri di sebelahku. “Pak Orion udah
nyampe ya?” tanyanya sekilas.
“Belum kok,” sahutku sembari menyimpan rapi
bebek-bebekkan Dimas di saku.
⋆。 ゚ ☁︎。 ⋆。⚛︎ ゚ ☾ ゚ 。 ⋆
“Selamat Pagi, Dokter dan Rekan. Perkenalkan, saya
Orion, Staf Penelitian di RS Pendidikan ini. Usia saya tiga puluh delapan.
Latar belakang Sarjana Biologi yang kemudian saya
lanjutkan dengan program Bachelor dan Master of Science di bidang
Neuroscience. Sebelum bergabung
di sini, saya mengabdi selama sepuluh tahun sebagai pendidik Biologi. Mohon
bantuan dan kerja samanya."
Aula RS diramaikan pegawai, menyambut hangat
kedatangan Pak Orion di RS. Dimas jadi yang paling heboh, tolah-toleh sembari
cuap-cuap. Libra dan Ratna tersenyum lekat. Aku cengir pepsodent saat ditatap
Pak Orion. Sungguh, rasanya seperti reuni SMA.
“Enggak nyangka Pak Orion bakal ikutin saranku untuk
jadi staf riset di sini,” tutur Dimas saat semua ke depan, untuk foto bersama
para staf baru.
“Oh, kamu yang nyaranin Pak Orion ke sini, Dim?”
tanyaku pelan.
“Iya... kan lumayan kita jadi setara sama guru killer.
Bisa balas dendam deh.” Ia cengir kuda.
Tukang foto mengatur posisi kamera. Dokter-dokter
berbaris sembari basa-basi. Residen menyempil di tengah, di antara dokter dan
staf. Aku berdiri di sebelah Libra. Cowok polos itu masih sibuk berbincang
jurnal dengan Ratna. Dimas berdiri di belakang, entah apa tujuannya.
“Sini, Mas Orion. Jangan berdiri jauh-jauh,” celetuk
Dimas sembari tersenyum jahil, menarik Pak Orion yang mojok sendirian.
Perlahan, Pak Orion berdiri di sampingku. Alisnya naik
turun kala bibirnya tersenyum gugup. Membuatku tak tahan ingin tertawa.
“Selamat, Pak. Atas banting setirnya,” candaku sembari
tersenyum gigi. Tanganku terulur menyapa angin.
Terkekeh, sudut matanya tersenyum indah. Tangannya
menjabat pelan tanganku.
“Janji jangan kikuk saat riset bersama. Jangan sungkan
menjelaskan atau koreksi saya....” tuturnya tersenyum tulus membuatku menahan
napas. “Kamu sama seniornya dengan saya... Dokter Karina," sambungnya.
"Janji." Aku memandang lekat matanya.
Tersenyum gigi, kami mengurai jabatan. Tukang foto
sudah siap grak dengan posenya. Berbaris rapi, semua mata menatap kamera.
Gigiku tersenyum indah.
“Siap ya! 1—2—3!”
Sebuah tangan mengalung di pundakku. Menoleh, kami
bersitatap.
Cekrek!
Foto tercetak. Ternyata, tangan Dimas merangkul
pundakku dan Pak Orion. Semua orang tersenyum melihat ke kamera. Hanya aku dan
Pak Orion yang tidak.
Langit berseri memeluk mentari yang tersenyum riang.
Tak berekspresi, aku dan Pak Orion malah saling pandang.
Sungguh, andaikan emosinya bisa kuterawang.
⋆。 ゚ ☁︎。 ⋆。⚛︎ ゚ ☾ ゚ 。 ⋆
Comments
Post a Comment