Bab 1 – Cinta Romantis atau Cinta Platonis
Manusia suka bercinta. Menurut Stephanie Cacioppo
dalam buku Wired for Love, cinta adalah kebutuhan biologis, sama seperti
makan dan minum. Namun, dari mana perasaan cinta berasal? Mungkinkah dari otak?
Aku suka belajar tentang otak. Ukuran otak tak besar,
namun berperan penting dalam kehidupan. Aku paling menyukai amygdala, bagian
otak yang berperan penting dalam pemrosesan emosi, terutama rasa takut dan
kewaspadaan. Semakin aku belajar memahami emosi, semakin aku mencintai dan
menyayangi seseorang.
Aku dan Libra sering melakukan riset neuropsikologi
bersama. Kedekatan kami sangat emosional. Tipe platonis rekan laboratorium.
Kami keliling tempat, tidur di van riset lapangan terpencil, dan kami juga
sama-sama yatim piatu.
Aku menyayangi Libra sama seperti aku menyayangi semua
orang. Namaku Karina, ini ceritaku sebagai residen psikiatri di usia dua puluh
delapan tahun.
Hari libur, kami membawa van ke pantai dekat rumah.
Desiran ombak keras membuatku dan Libra berlari mengejar ombak, membumbung tawa
terbang tinggi ke langit. Kala aku terjatuh tersangkut rumput laut, kutarik
kaus Libra hingga kami pun terseret ombak.
“Kakak, boleh enggak Rina ikut main?”
Tiba-tiba perempuan remaja tersenyum gigi mendekati
kami. Tangannya tergenggam erat. Tubuh kurusnya terbalut kaus lengan panjang,
pun kakinya tertutup sempurna, seolah menghalangi surya mengoyak kulitnya.
Aku terkekeh melihat gigi mengkilapnya, lekas kakiku
mengais air, kami pun menghampirinya.
“Orang tuamu mana, Dik?” tanyaku sembari menunduk
menatap wajahnya.
Tak menjawab, dia hanya terkekeh, membuatku dan Libra nyengir
kuda.
“Kamu sendirian ke sini? Kamu tinggal di mana, Dik?”
tanyaku lagi.
“Dekat sini,” sahutnya.
“Maaf ya, Rina ganggu kalian…,” ucap seorang pria
tinggi yang menghampiri, tangannya mengusap poni Rina. “Saya ayahnya,”
jelasnya.
Aku dan Libra angguk-angguk sambil tersenyum.
Masih unjuk gigi, Rina melambaikan tangannya pada
kami. Ayahnya menggenggam tangannya, mengajak Rina pulang. Saat mereka jalan,
alisku terkerut menatap punggung mereka. Rina tampak kesusahan berjalan.
Kakinya tampak mengangkang.
“Kenapa, Karina?” tanya Libra, menatapku lekat.
“Enggak, enggak apa,” sahutku, alisku berkerut keras.
Ada sesuatu yang aneh. Namun, aku ragu, betapa
bahayanya menuduh tanpa bukti.
⋆。 ゚ ☁︎。 ⋆。⚛︎ ゚ ☾ ゚ 。 ⋆
Senja berkesiur menidurkan Si Abu di jendela. Kemuning
lampu bersinar hangat di lab kecil rumah. Tablet menyala terang di meja bersih,
bersanding dengan laptop terbuka lebar. Kak Ara sibuk menulis di tumpukan
kertas, sedangkan Libra mengetik cepat di laptop.
Kak Ara memimpin dan menentukan arah riset. Libra
mengurus data dan teknis. Aku membantu analisis dan penulisan. Pak Orion
mengerjakan referensi dan penyusunan bahasa. Peran kami jelas di atas kertas,
meski dalam praktik batasnya sering terasa kabur.
Artikel yang kami kerjakan bagian dari studi afeksi
yang harus melewati persetujuan etik. Di atas kertas, semuanya rapi: definisi,
kuesioner, batasan. Di lapangan, emosi manusia jauh lebih liar.
Aku garuk-garuk tengkuk. Mendadak tubuhku keringetan
saat Kak Ara menyuruhku edit artikel bersama Pak Orion.
Pak Orion berusia 38 tahun. Dia guru SMA-ku dulu, dia
yang mengajariku. Dia dulunya sarjana biologi dan baru lulus sarjana
neurosains, sedangkan aku sudah lulus neurosains dan medical school
lebih dulu darinya. Aneh rasanya aku menjadi seniornya sekarang. Tentang riset
platonis dan romantis pula. Bagaimana caranya aku menjelaskan? Duduk sebelahan
lagi. Astaga!
“Ini bagian pembahasan, bukan metode. Kita
sederhanakan bahasanya, tapi jangan sampai menyesatkan,” Pak Orion menunjuk
layar.
Aku mengangguk. Aku pun mulai menjelaskan yang ia
tunjuk.
“Ada perbedaan yang dilepaskan otak, Pak….” Aku
meneguk ludah. “Kalau cinta platonis, otak melepaskan oksitosin—hormon cinta
pemicu rasa nyaman, dan vasopresin—pemicu hubungan jangka panjang. Namun,
kurang neurotransmitter yang memicu gairah seperti romantis,” jelasku
tidak karuan.
“Terus referensi love is a primitive need itu
siapa?” Pak Orion menggulir tablet di meja.
“Doctors Richard Schwartz and Jacqueline Olds, 2015,
Pak,” jawabku kikuk.
Pak Orion mengetik, menambahkan referensi yang lupa
kumasukkan. “Coba jelasin lagi.”
Stylus pen
kugenggam erat. “Kalau cinta romantis jantung berdebar dan berkeringat karena
adrenalin, kortisol naik di fase awal sehingga tegang. Daerah otak seperti caudate
nucleus sama ventral tegmental area—pemenuhan kebutuhan seperti
lapar-haus aktif, keduanya terlibat dalam primitive neural network
sehingga kita terus mencari seseorang yang kita cintai.”
“Apalagi?”
“Nucleus accumbens yang tanggung jawab
aktivitas tujuan-imbalan baik itu makanan, s(e)ks, atau pengelolaan stres. Prefrontal
cortex dan amygdala tanggung jawab untuk nilai seseorang, tapi saat jatuh
cinta wilayah ini menurun, sehingga ada istilah cinta itu buta.”
Pak Orion menatap layar. “Tandai bagian dopamin,
serotonin, oksitosin, sama vasopresin. Bapak mau edit.”
Apa aku harus menjelaskan lagi?
“Dopamin dilepaskan—pusat penghargaan, serotonin
menurun sehingga seseorang lupa makan, oksitosin selama kontak fisik atau yang
memperdalam setelah s(e)ks….” Aku menahan napas menatap matanya.
“Vasopresin—keterikatan jangka panjang, sehingga menenangkan gelisah. Namun,
cinta itu juga bisa adiktif, bisa bahaya—”
“Tandai aja, jangan dijelasin.” Pak Orion menutup
mulut, sudut bibirnya tak bisa menahan tawa kala memperhatikanku yang kikuk di
tempat.
Oh, dia enggak minta dijelasin? Ah! Aku enggak fokus.
Mendadak tanganku grogi, stylus pen rasanya mau
jatuh. Pun lengan jas putihku kepanjangan sampai menutupi jari. Kesusahan aku
menulis, entah karena apa.
“Jasmu lipat dulu.” Dia menggaruk tengkuk.
“Apa, Pak?” Bahkan suaranya pun sulit kudengar.
“Lipat.” Dia menunjuk tanganku.
Kebingungan, kutaruh stylus pen di meja.
Kutatap tanganku kikuk.
Tiba-tiba tangannya menyentuh tanganku. Lututku tak
sengaja mengetuk lututnya. Dilipat rapi kain jas yang menutupi jariku, aku
terdiam mengamatinya. Semuanya terasa melambat.
“Kamu enggak seperti biasanya,” getar ngebass mengalun
di telinga.
Jantungku terasa diobok-diobok. Matanya memandangi
jasku. Sentuhannya pada pergelanganku. Suaranya yang merendah. Aroma mint yang
menguar tubuhnya. Pipiku memanas seperti mau meledak.
“Kamu buat saya enggak nyaman… Karina.” Dia kembali
pelan menatap layar.
Aku mengambil stylus pen, melirik Kak Ara dan
Libra. Semua sibuk bekerja, lekas kugaruk kepala yang tak gatal.
⋆。 ゚ ☁︎。 ⋆。⚛︎ ゚ ☾ ゚ 。 ⋆
“Ara, tidak bisakah kita perbaiki rumah tangga kita…
Menikahlah denganku,” sayup-sayup terdengar suara.
Malam yang dingin, tak sengaja kulihat pantulan Pak
Orion dan Kak Ara di kulkas. Mereka bicara depan kamar. Kututup mulutku erat,
tak seharusnya aku mendengar percakapan mereka.
“Aku enggak bisa,” sahut Kak Ara, samar wajahnya penuh
rasa bersalah.
“Kenapa? Itu yang terbaik buat kita. Terbaik untuk
Karina,” jelas Pak Orion, alisnya seperti terkerut sempurna.
“Aku masih punya luka bekas trauma. Aku enggak mau
lukaku menyebar ke anakku nanti.”
“Semua orang punya luka. Kita bisa sembuhkan bersama.”
Pak Orion memandangnya lekat.
Kak Ara menggeleng. “Enggak, aku enggak bisa.”
“Ara.”
Tak merespons, kakak masuk kamar.
Lekas, kuambil kopi di kulkas. Keluar dapur, aku
terkejut. Nyaris kulempar kopi ke bajunya, kala tak sengaja aku hampir menubruk
Pak Orion di bibir pintu.
Dia hanya memberiku segaris senyum lalu pergi
menghindariku.
Aku meneguk ludah, entah kenapa aku merasa lelah.
Balik ke kamar, kupeluk erat Kak Ara yang terpejam di kasur, pun Si Abu—kucing
Bu Dewi.
Lamunan bintang berlinang di gumpalan awan kelabu.
Ayah dan ibu, aku rindu. Andai aku bukan yatim piatu.
⋆。 ゚ ☁︎。 ⋆。⚛︎ ゚ ☾ ゚ 。 ⋆
Comments
Post a Comment