Bab 1 — Platonis itu Sepaket Rindu (Mati Rasa dalam Teduh Saling Tatap)

Mentari memeluk sendu awan biru, mencurahkan sedihnya di balik rinai pilu, membasahi burung yang beterbangan lesu, mengicaukan resah ditiup angin rindu.

Sepatu basahku memijak—mengotori ubin, disusul bel berdering keras, menyulut keramaian pasar merajalela di kelas. Aku berdiri di depan pintu, memasukkan jaket dan syal ke tas. Menarik ritsleting, aku mematung. Kala mataku bersitatap dengan seorang pria.

Seragam putih basah kuyup, meneteskan air meluncur ke celana abu-abu, terjatuh dan terserap sepatu keruhnya. Rambutnya berkeringat meliuk mengikuti tiupan angin. Matanya berkaca-kaca, disamarkan dengan segaris senyum. Walau senyum merekah, rautnya tak bisa berbohong, betapa keras ia menyembunyikan luka.

“Libra, kamu enggak perlu nunggu di luar. Kamu boleh masuk kelas,” ucap Pak Orion yang datang dan menepuk pelan bahunya, mengajaknya masuk kelas. Aku mengekori di belakang.

Terduduk, aku menaruh tas di kolong, pun mengeluarkan buku biologi, saat Pak Orion menghapus papan tulis, mempersilakan Libra berdiri di depan. Wali kelas itu meletakkan penghapus di meja, matanya kian memandang lekat Libra.

“Kelas kita—X IPA 2 kedatangan murid baru. Namanya Libra...,” tutur Pak Orion. Perlahan ia menunduk, matanya berkaca-kaca. “Sekolah baru saja mendapat kabar duka ayahnya. Bapak harap kalian bisa menerima Libra sepenuh hati,” jelas Pak Orion sembari menatap ke atas, menahan hujan agar tak berderai. Pak Orion tahu betul bagaimana rasanya kehilangan ayah.

Dimas bangkit dari kursinya, melangkah maju ke depan, mengajak Libra salaman adu panco, lantas memeluk dan menepuk punggung basah itu berkali-kali.

“Enggak apa-apa, Bro. Yang sabar ya,” ucap Dimas lalu mengurai pelukan, dibalas senyum tegar oleh Libra.

Libra pun duduk di belakang Dimas, sebangku dengan Ratna, tepat di sebelahku.

“Hari ini Bapak mau bahas sistem koordinasi manusia: sistem saraf, hormon, dan indra,” ujar Pak Orion sembari menulis di papan tulis.

Sungguh, aku prihatin melihat kondisi Libra. Tangannya terkepal erat. Matanya terkejap-kejap menatap papan. Bibirnya seperti cemas menahan liur, berkali-kali jakunnya naik-turun seperti menelan air mata. Sungguh, aku tak bisa melihat seseorang menahan tangis. Mengingat dirinya yatim yang sama sepertiku, membuat hatiku tergerak.

Aku pun menghadap ke arahnya.

“Libra... kamu boleh menangis.” Kuberikan sapu tangan hitamku padanya. Aku takut kata yang tak kuinginkan terlontar lagi dari bibirku.

Perlahan, dia menerima sapu tanganku. Bibirnya bergetar untuk sekadar tertarik ke atas. “Terima kasih,” tuturnya tulus.

“Sama-sama,” sahutku sembari menarik tas di kolong. Tanganku mengobrak-abrik sesuatu yang terjepit di lipitan buku.

“Ini buatmu....” Tanganku memegang syal hitam. “Buat lap basah di seragammu.” Kugoyang-goyangkan syal itu. Aku tersenyum gigi. Mungkin kumis kucingku bermekaran.

Dia memandangku lekat. Perlahan tangannya menggenggam syalku erat.

“Boleh Bapak lanjutkan?” sela Pak Orion, menarik leherku untuk fokus ke papan.

“Boleh, Pak,” sahut serentak.

Skema sederhana tergambar di papan. Spidol berdecit menulis tiap judul: otak, sumsum tulang belakang, lalu cabang-cabang saraf, disusul tulisan tegak bersambung miring digarisbawahi di bawah gambar: reseptor – neuron – pusat saraf – efektor.

“Sistem koordinasi berfungsi mengatur dan mengendalikan seluruh aktivitas tubuh...,” jelasnya. “Ada yang tahu tujuannya?” tanya Pak Orion dengan spidol terangkat, disusul cepat teman sebangkuku—Maya mengangkat tangan.

“Agar respons tubuh terhadap rangsang berlangsung cepat, tepat, dan terkoordinasi,” jawabnya memicu Pak Orion mengangguk sembari menunjuk gambar otak.

“Sistem saraf bekerja melalui impuls listrik... mekanisme kerja sistem saraf?” Pak Orion mengetes lagi.

Aku membaca papan. “Rangsang diterima oleh reseptor, diteruskan ke pusat saraf, lalu direspons oleh efektor, yaitu otot atau kelenjar.”

“Angkat tangan ya,” tegur Pak Orion sembari tersenyum memicu tawa ringan kelas pecah ke awan.

Aku kira itu dibaca bersama karena sudah jelas tertulis di papan. Makanya aku tidak angkat tangan.

Perlahan, Libra mengangkat tangan. Bibirnya sedikit bergetar, “Respons itu lewat jalur rangsang yang diterima reseptor... dikirim neuron sensorik ke pusat saraf, lalu perintah balik lewat neuron motorik ke otot atau kelenjar.”

“Benar,” ucap Pak Orion disusul sorak-sorai berlebihan dari Dimas, bocah petakilan itu mengacak rambut Libra.

“Hebat banget kamu, Bro. Sehari di kelas sudah kayak Albert Einstein!” serunya meninju lengan Libra bertubi-tubi, membuat yang ditinju mengaduh sembari tersenyum.

“Albert Einstein itu fisikawan ya, bukan biologiwan,” Maya mengoreksi dengan alis terkerut.

“Yang penting sama-sama IPA." Dimas nyengir kuda.

Tak mengindahkan, Pak Orion tetap lanjut menjelaskan. “Makanya, saat seseorang terkejut, sedih, atau cemas, tubuhnya bisa bereaksi meski tidak diucapkan.”

“Ranking satu, dua, dan tiganya adalah....” Pak Orion membaca map, melirik murid-murid yang antusias. “Maya, Karina, Libra.”

“Hore!”

Bangku-bangku tersusun rapi menempel di dinding. Bendera merah putih tergantung menyilang di langit. Akhir bulan Juni—menjelang liburan dan persiapan lomba tujuh belas Agustus. Kelas X IPA 2 paling gawat urusan lomba. Kami bersorak-sorai kala ranking diumumkan Pak Orion. Maya memeluk tubuhku, saking bahagianya dapat ranking satu. Sedangkan di seberangku, Dimas dan Dion mencium pipi Libra, dua bocah gaib itu mengacak-acak si anak polos.

Aku tersadar, tatapan mata Libra begitu teduh kepadaku. Tak terasa, waktu terbius dalam teduh saling tatap. Pelukan dan ciuman di pipi membuat kami hanyut dalam senyuman.

AAA!

Tiba-tiba kami menjerit, saat Dimas menyalakan petasan di luar kelas. Berbondong teman dan Pak Orion keluar kelas. Wajah merenggang dan terkejut, disusul kekehan saat bocah petakilan dilihat kepala sekolah.

“Ampun, Bu!” teriak Dimas lari sprint.

“Oh ini toh biang keroknya!” tunjuk kepala sekolah, sembari kesusahan mengejar karena roknya sudah kekecilan. “Nyalain petasan di sekolah. Besok kamu bawa sedus. Ibu hidupin di depan wajahmu, biar kamu tahu rasanya jantungmu disko kelojotan,” canda kepala sekolah sembari unjuk gigi melihat ke jendela.

Garing kriuk, anehnya aku dan Libra tergelak, pun tak terasa sepatu kami mengikis jarak. Kelas hanya tersisakan kami berdua. Mata kami tak melepas pandang sedikit pun. Dada naik-turun dipenuhi rasa haru dan bangga. Pun napas rasanya sulit untuk berbicara.

“Selamat!” Aku mengulurkan tangan, yang sebelumnya kutahan—digenggam erat. “Jadi orang ketiga,” ucapku diselingi kumis kucing bermekaran.

Dia terkekeh, matanya memandang malu lantai, mengusap bibir pelan lalu matanya bertemu mataku.

“Selamat....” Dia mengulurkan tangan juga. “Aku bangga padamu,” tulus ucapannya, memandang mataku lekat.

Tangan kami sama-sama menganggur di udara. Sedikit pun ia tak menyentuh tanganku. Aku terkekeh lalu menjabat dan menggoyangkan keras tangannya, membumbung tawa kami kian terbang di atas awan.

Kemuning lampu pijar berpendar hangat di langit kelas. Aku tak tahu aku menemukan sahabat tulus sepertinya.

   ︎     

Sesi Sebelumnya....

Bab Selanjutnya....


Comments

Popular Posts