Makan Malam Hambar

Sepasang, suami istri. Duduk dengan garpu dan pisau emas. Menyantap steak hambar di atas meja kaca. Ditemani lilin pengharum ruangan. Pun serbet mewah di bawah piring jutaan harga.

Lidah mereka bosan, ingin mencicipi makanan lain yang masih segar. 

Satu sendok saus. Tiga sendok saus, tak mampu mengalahkan rasa bosan mereka. Jika lidah mereka sudah berkata bosan, mau semahal apa pun hidangan di meja, tetap terasa hambar. Jika hati mereka sudah berkata tidak suka, mau seberusaha apapun menawarkan cinta, tidak akan berarti apa-apa.

Istrinya sangat cantik. Anggun cara menguyahnya, pun tatanan rambutnya. Kontrasnya, tetap gagal merebut hati sang suami. 

Telaten, si istri menuangkan bumbu di piring sang suami. Sampai-sampai, steaknya sendiri pun tak ada rasanya. Telaten, dirinya menuangkan minuman di gelas sang suami. Gelasnya pun kosong, tak ada yang menuangi.

Kala perhatiannya teralihkan, menuangkan anggur di gelas kacanya sendiri. Si istri melirik ponsel sang suami yang berkedip menyala. Berderit seolah menuntut.

Garpu dan pisau tergenggam kaku di tangan. Makanan yang masuk ke mulut, dua kali lipat terasa hambarnya. Si istri memaksa meresapi makanan lebih dalam, yang terasa malah pahit di kerongkongannya.

Garpu dan pisau terlepas dari tangan sang suami. Mengambil kaca, jemarinya berselancar di layar bercahaya. Segaris senyuman terpancar, tak dilepaskan kepingan canggih itu seraya mengunyah pelan.

Lihai jemarinya mengetik di benda persegi panjang itu. Nafsu makannya kian bertambah. Pun steak di hadapan mata, bertambah sepuluh kali lipat rasa enaknya. Tak sabar mengoyak steaknya dengan garpu dan pisau, entah apa yang ada di kepala sang suami. Saat lidahnya bersentuhan dengan steaknya.

Masih dengan steaknya yang semakin terasa hambar. Tenggorokkan si istri terasa semakin serat. Pun minuman anggur malah membuat kepalanya penat. Seperti kehabisan nafas, si istri bangkit dari kursi emasnya. Berjalan ke dapur dengan hak kacanya, telinga mendenging pusing mendegar kata hatinya, kacau pikirannya walau senyum masih bisa bermekaran.

Sekeranjang buah segar mungkin bisa meredakan emosinya. Di hadapan sang suami, si istri berdiri tegar. Diberikan apel merah kepada sang suami. Tak melirik sedikit pun, mata masih berselancar di layar, sang suami mengunyah buah segarnya dengan lapar.

Kres. Hati si istri seolah tergigit. Bagaikan apel yang tak dipandang sekali pun. Bunyi ketikan berirama apel dikunyah, memenuhi hati, kepala, dan pikiran yang resah. Kata hatinya berkata usai disini. Namun, si istri malah duduk dengan wajah mensyukuri.

Hidungnya memerah. Kala apel merah itu bersentuhan dengan bibir menggigilnya. Apa sepuluh acnya hidup di ruang makan, kenapa hatinya merasa kedinginan?

Pun untuk mengginggit apelnya, gigi si istri melemah. Rasanya si istri hanya ingin memegang si apel saja, agar dirinya tak ditinggal sendirian.

Sudah selesai dengan apelnya. Sang suami lanjut menikmati steak. Sambil menyentuh layar terus menerus, ia tuang sendiri saus ke steaknya. Pekat rasa tercap di lidahnya. 

Rasa manis, asam, nan gurih tercipta kala matanya tersenyum melihat ponsel. Dituangkan anggur ke gelas langsing di hadapan, kepala sang suami melayang memikirkan daging steak kesukaan.

Tak bisa berbohong. Memang sungguh nikmat masakan istrinya. Persis seperti kesukaannya dahulu. Namun, kenapa baru saat melirik wanita lain, rasa itu bermunculan di pikiran?

Sang suami bangkit dari dudukannya. Tak sengaja, sausnya tersenggol dan tumpah ke kemejanya. Kain putih itu ternoda merah. Semakin diusap, semakin memanjang kebohongannya. Rambut di kepalanya semakin acak-acakan. Seolah berasap, tak kuasa ia menahan amarah. 

Piring berjatuhan. Makanan berhamburan. Pun minuman bertumpahan. Bagaikan air hujan, kesedihan istri yang tertahan, menetes deras di antara taplak meja.

Tak hanya itu. Lilin juga tak sengaja membakar jarinya. Sang suami berdiri, kesakitan. Si istri dengan sigap berlari ke dapur dengan haknya.

Dengan semangkok air es, dengan telaten si istri menyirami jemari sang suami yang terbakar. Dengan telaten si istri meredakan amarah sang suami. 

Mata berbinar kala memandang. Di bawah kilauan lampu bercahaya, sang suami jatuh kembali. Merasakan detik-detik hatinya mulai terisi, dengan segelas air putih yang diberikan si istri.

Sang suami meminum hingga tandas. Matanya tak pernah meninggalkan istri tercinta. Kala sang istri membersihkan keributan yang dibuatnya, sang suami ikut menunduk. Menyapu pelan reruntuhan-reruntuhan yang sudah dibangun itu.

Dengan cincin yang masih melekat di jari. Sang suami bersama si istri merapikan ruang makannya lagi. Tersusunnya piring-piring cantik nan gelas-gelas mungil, menghiasi meja kaca. Sederhana tapi berkelas. Mereka mulai makan lagi dari awal.

Cengkrama berseliweran kala mata memandang dan bibir saling tertawa mengunyah. Tak satu pun luka menghiasi di jemari kala pisau menusuk pelan steak.

Rasa manis, asin, dan gurih itu tercipta lagi. Saling tuang menuang dan juga suap menyuap, mengiring renyah tawa mereka menguar. Aroma steak pun tak bisa mengalahkan percakapan mereka.

Kala sang suami berdiri, mengambil piring-piring bersih nan gelasnya. Si istri duduk sendirian, menunggu suami dari menyelesaikan pekerjaannya. 

Tertiba dengan keringat dan busa di tangan. Sang suami yang gerah, mengelap kegelisahannya dengan serbet. Di matanya, tatapan istrinya berubah pun lidahnya kelu, merasa bosan.

Saat pihak ketiga datang. Hanya dengan derit yang memaksa. Hati sang suami langsung luluh, lupa akan janji-janjinya. Makanannya yang tertelan, hanya sekadar makanan.

Minumannya pun tak berarti apa-apa lagi. Di atas piring yang masih tersisa di meja. Lelaki itu gerah, jemarinya basah, pun cincin dilepaskan.

Tak sabaran senyum merekahnya menyapa. Tombol hijau tertarik ke atas. Suaranya mendadak halus, pun meninggalkan si istri sendirian di meja makan.

Termenung, si istri terduduk di kursi. Kilatan memori di kepalanya berputar, perutnya masih lapar. Ternyata, tak satu pun makan malamnya memenuhi isi hatinya. Bahkan jika jarinya teriris tajamnya pisau atau kelingkingnya terbakar panasnya lilin, suaminya tak kan datang menjemputnya.

Lelah menelan semua rasa yang menempel di lidahnya. Teraduk satu, rasa itu malah menjadi abu. Bagaikan warna yang diberi rasa, yang tak lain hanyalah hambar.

Si istri mengedipkan mata. Tak seharusnya malam ini ada hujan. Pun kilatan petir. Tangannya terulur ke depan. Telunjuk nan jempolnya mencabut sesuatu berharga.

Dengan ribuan perasaan, ditancapkan lingkaran berlian itu di meja. Makanan hambar sudah menghambarkan hidupnya. Pun dengan cincin yang semata berlian, tak ada apanya tanpa sebuah kesadaran.

Ia mundur dari kursi mahalnya. Turun dari tangga rumahnya. Ia tinggalkan ruang makan yang dingin itu. Tak ingin dia kembali. Tak ingin ia bertemu lagi.

Perempuan itu berdiri dan bertekad. Menelan semua yang sudah tertelan, pun air matanya. Dan, tak akan pernah ia jilat atau ludahkan kembali. Masih ada makan malam lain yang bisa menghargai.

End-

Comments

Popular Posts