Bukan Alur, Tapi Diksi Yang Sedang Kubuat (Short Story)
Lembayung senja bermain manja di antara lelapnya langit. Melebur sang surya dengan rona jingga pekat. Dibalut mesra gulungan awan biru kesepian. Merindukan sang bulan untuk segera menebar. Ramuan ketenangan dan perasaan cintanya. Aih. Romantisnya.
Sebentar lagi kesibukan kota kan berhenti sesaat. Menidurkan jiwa-jiwa yang sibuk bekerja. Sekadar bermimpi hidup normal. Seperti manusia tua yang tersesat. Tersesat untuk memikirkan. Di kemudian hari akan makan apa.
Di antara jalanan yang bergerak pesat. Sepatu putih melangkah begitu lambat. Trotoar jadi tempat terhangat. Sudah jadi kebiasaan tidak wajar. Cara melepas penat. Sepulang dari kerjaan tercinta. Walau hidung terasa basah. Menghirup segar ribuan polusi yang berterbangan. Mata terasa perih memerah. Menikmati raut indahnya macet ibu kota. Bibir masih bisa menyunggingkan tawa. Untuk sekadar menghargai diri sendiri. Tak apa-apa orang melihat gila. Yang penting bisa berbahagia. Yang penting tak mengusik kebahagiaan seseorang.
Kala bus kota menampakkan batang spionnya. Sepatu putih memijak di dataran besi. Halte cilik, yang nongkrong di dekat perempatan. Mendadak ramai kala transport lebar mulai mendekat.
Sepatu putih lanjut menginjakkan sol karet, di antara debu-debu lantai biru bus.
Pukul 18.30. Tercetak di angka bergaris merah. Jam digital bus. Menempel paling atas. Lurus menjurus di tengah muka bus.
Melihat ke segala penjuru. Air muka lelah menyapa di sepanjang kursi. Hadap-hadapan. Ada remaja pria berjaket hitam. Tertidur memeluk korannya. Nenek dengan gitar kayu sederhananya. Ada juga bapak bertopi biru dengan bunga-bunga di tangan.
Tak ada kursi kosong. Mau tak mau, kaki harus kuat berdiri. Tangan memegang kuat handle kuning. Punggung bersandar nyaman di pembatas kaca. Kala bus mulai menancap gas. Melaju pelan tak seimbang di aspal gradakan.
"Turun di mana?" Sang kernet datang menyapa. Garis hitam di bawah mata merana. Namun, senyum tetap bermekaran. Merapikan kertas. Menghitung logam-logaman.
“Pemberhentian terakhir.” Aku membalas senyum. Memberi lima keping logaman. Lalu. Aku bersandar lagi di pembatas kaca. Sedang sang kernet menghampiri penumpang lainnya.
Seiring jalanan menanjak tajam, lagu bus silih berganti. Irama petikan gitar memelan dibumbui dentingan lembut piano. Yang dinikmati tiap-tiap alunan chord-nya oleh si sopir, yang sibuk memutar setir.
Jazz klasik. Terputar dari tablet yang tergantung di dashboard bus. Merdunya berhasil menyihir para penumpang yang terkantuk. Terlelap. Meringankan saraf yang bersitegang akibat bekerja. Mengobati lara yang lelah bercucuran di tiap keringat. Setelah beraktivitas sepanjang hari. Sedari pagi.
Hingga angka bergaris merah menunjuk pukul 19.30. Satu per satu penumpang tak henti keluar masuk menginjakkan debu. Awan menggelap terus bergerumul memenuhi langit. Lampu kota semakin bergeming memancarkan warna. Terang penuh kesibukan tak terhentikan, di antara sunyinya kebutan malam masih mencari uang.
Ada satu kursi kosong. Kontan, sepatu putih memijak di lantai bus yang sempit. Penuh sepatu-sepatu kotor berwarna-warni. Hingga tiba di sebelah sepatu biru tua usang. Sepatu putih berhenti memijak.
Aku duduk. Sepatu putihku beristirahat di sebelah sepatu biru tua. Berdebu, usang, penuh peluh.
Lama terdiam seiring tubuh bergejolak mengikuti laju bus. Lantunan syair lembut terdengar. Di antara merdu mesin bus berderu. Dan dentingan piano dari tablet bus.
Bapak bertopi biru. Yang terduduk di sebelahku. Dengan sepatu biru usangnya. Dan bunga berwarna-warni di tangan. Samar-samar ia menyanyikan sebuah irama. Napasnya tak beraturan. Seperti berbisik-bisik. Terdengar syahdu. Lagu lama.
"Ismail Marzuki?"
Di antara tubuh yang tertidur lelap. Tak ada kata yang berseliweran. Aku menatap bapak itu. Suaraku tak sengaja terlontar dari bibir merekah. Kala terlalu bersemangat menikmati senandung lariknya.
Lantunannya terhenti seketika. Bapak itu terpaku padaku. Matanya yang berkilat keruh, seolah tersenyum padaku. Perlahan, garis bibirnya melengkung seindah lamunan senja.
Bapak itu mengangguk takzim. Beberapa getaran tawa keluar kecil dari bibirnya. "Saya terharu. Tumben saya dengar, anak muda tahu lagu lansia." Bapak itu memegang dadanya. Ia terkekeh lagi. Gigi bawahnya, yang berantakan, menampak. Kala bibir gelapnya sedikit terbuka.
"Sering dengar ...," sahutku, tersenyum. "Dulu. Seseorang ... Setiap pagi, pasti selalu mutar lagu itu," sambungku putus-putus. Seiring laju bus melika-liku di sepanjang kelokan jalan.
"Seseorang terindu?" Giginya tersenyum, seolah bercanda.
Takzim. Aku mengangguk. Simpulku semakin mengembang.
Lantunannya pelan. Tidak terlalu berbisik. Masih kecil suaranya. Sedikit mengeras kala maniknya menatap manikku.
Aku melihat ke depan, ke luar jendela. Lalu lintas padat merayap. Tak terarah, naluriku tiba-tiba tergugah. Ragu-ragu, lidahku ikut berbisik menyambung syairnya.
Dia berjengit. Gigi berantakannya makin tersenyum lebar. "Bagus ...." Satu kata dari pita suaranya. Rasanya aku mau terbang.
"Suaramu bagus." Matanya berkilat, memandang. Penuh takjub.
Aku menunduk. Melihat sepatu putihku di antara sepatu-sepatu berwarna keruh. Ah. Aku malu.
Kala mataku menelisik, menerawang jendela bus di hadapan, sekadar mengalihkan pandangan. Tak sengaja. Manikku bersipandang dengan manik nenek, pembawa gitar. Ia tersenyum manis sambil malu-malu memegang alat musik bersenarnya.
"Saya bisa main gitar ...," bapak bertopi biru kembali bersuara. "Mungkin gitar-gitaran saya acak-adul. Makanya kurang peminat," bisiknya lagi di samping telingaku. Tak mau mengganggu tidur penumpang lain, dia tertawa kecil, menertawakan dirinya sendiri.
Tak menyangka. Aliran tawanya menyebar. Sang nenek yang memeluk gitar ikut terkekeh kecil, diselingi lesung pipit manis, dan gigi rontoknya yang tersenyum cantik.
Tak terduga. Nenek itu menyodorkan gitarnya. Si bapak menggeleng-geleng. Malu-malu kucing. Aku terkekeh saja, menyaksikan mereka.
“Ya sudah,” ucap si bapak. Ia serahkan bunga-bunganya padaku. Kala telapaknya menerima bidang senar itu dengan setengah rasa.
Perlahan. Napasnya terhembus. Saat jemarinya mulai memetik. Alunan merdunya mengalir dari bibirnya. Ah. Setengah rasanya, jadi bersungguh-sungguh dan tulus.
Dawai bergetar. Diselipi bass kromatik. Mengundang alis berkerutku. Terpetik aneh. Chord palang naik turun terlihat acak. Campur aduk. Keroncong. Terdengar nge-jazz.
Mata mengantuk terbuka pelan. Remaja pria berjaket hitam, dengan setumpuk koran di pangkuan, membenarkan dudukan. Maniknya yang sayu terkejap-kejap, menatap limpung permainan dawai si bapak.
Ria senandung si bapak. Kepala ke kanan ke kiri. Amat mendalami. Tatapannya terpejam-pejam pelan, sambil menatap si remaja, sambil menikmati alunannya sendiri. Tak peduli beberapa penumpang yang terbangun.
Bersamaan. Sang nenek dan si bapak menyanyi bersama.
Suara bergema merdu memenuhi bus. Awan terus berhembus. Angin terus berlalu. Beberapa burung berterbangan di gelapnya langit. Kemacetan kota sedikit mereda, beberapa roda dua melaju lambat. Seiring jari bapak mulai pelan memetik senar. Berganti lagu. Sang kernet mematikan lagu di tablet. Si sopir menikmati alunan gitar si bapak.
Chord mayor tujuh diselingi beberapa minor tujuh. Terdengar lembut seperti dentingan piano klasik. Masih jazz, terasa pelan. Mengaduk melodi nostalgia dan melankolis. Mengajak kepala mengingat rekaman memori tempo dulu.
Terkantuk-kantuk. Menyihir para penumpang untuk kembali tertidur. Bermimpi bertemu kembali dengan orang-orang yang dirindukan. Ah. Aku melihat jendela. Menghitung satu per satu mobil hitam yang terlewati, di antara lampu jalan yang bersinar indah. Kala bus akan sampai di pemberhentian terakhir.
Beberapa penumpang menuruni bus. Beberapa juga masih membenahi barang bawaan.
Pukul 20.00. Tercetak di angka bergaris merah.
Langit sudah menggelap. Menyisihkan remang rembulan tersendu-sendu. Manusia-manusia tak saling kenal akan berpisah. Sepatu berwarna-warni keruh menginjak di dataran halte. Sepatu putihku melangkah lambat paling belakang.
Gitar sudah di pelukan sang nenek. Nenek itu berjalan pulang. Menjauh. Bersisian. Bersama remaja berjaket hitam dengan setumpuk koran. Kulihat, tangan sang nenek mengelus rambut hitam si remaja.
Aku tersenyum.
“Besok naik bus lagi?”
Aku menoleh. Mendapati si bapak dengan sepatu biru tua usang. Topi biru keruh berlubang. Jemarinya yang berdebu, mengelap di kaos putihnya. Dia menatap padaku seorang.
“Iya, Pak,” sahutku. Aku mengangguk pelan.
“Kalau besok tidak bertemu. Jangan menangis ya.” Bapak itu terkekeh.
Aku tersenyum. Membalas candanya. Tersadar. Bunga-bunga beragam warnanya di tanganku. Langsung kukembalikan padanya.
“Boleh saya beli krisan kuningnya?”
Kami bertukar. Bunga krisan dari tangannya ke tanganku. Lembaran uangku terulur ke telapak tangannya.
Bapak itu melihat lembaran kertas dan beberapa bunga di tangannya. “Terima kasih …,” pelan kalimatnya terucap. “Sungguh. Saya terharu.”
Awalnya. Kukira kalimat itu bercanda. Namun, kutatap lamat-lamat matanya, penuh dengan remang bintang yang berkaca-kaca. Ia memegang dada. Napasnya tak teratur.
Perlahan. Ia mengelus pucuk kepalaku. Diberikan setangkai bunga mawar padaku. Bapak itu pergi, melangkah lambat dengan sepatu birunya.
Aku menatap punggungnya menjauh. Aku menghembuskan napas. Kadang. Hidup itu acak. Alur itu tak menentu. Dipertemukan tiba-tiba dan dipisahkan mendadak. Yang dilakukan manusia, hanya mempertahankan diksinya, agar tetap indah, dan bisa melanjutkan hidup tanpa ada rasa resah.
Di antara kelamnya malam. Sang bulan terus bersinar remang. Perlahan-lahan kulihat dirinya menghilang di antara gelapnya keramaian, dengan sepatu biru tuanya. Ah. Melihatnya, aku jadi teringat ayah.
Letihnya rembulan silih berganti menjadi hangat sang mentari. Kuning bunga krisan tersenyum tergeletak manis. Tak lupa setangkai mawar merah menemani. Rumput-rumput hijau bermain sendu di tanah. Mendoakan namanya, aku melihat ke atas. Langit berwarna kesukaan. Ah. Biru terang.
End-
Comments
Post a Comment